PART VIII : THE MEMORY

PART VIII : THE MEMORY


Jam dinding di atas papan tulis terus bergerak.

18:01.

18:02.

18:03.

Untuk pertama kalinya sejak kejadian aneh itu dimulai, tidak ada suara detakan keras yang merambat di dinding seperti ancaman mati.

Tidak ada ketukan misterius dari balik pintu.

Tidak ada bisikan serak yang menggema sepanjang koridor.

Tidak ada pula suara tak kasatmata yang memanggil nama mereka satu per satu.

Hanya keheningan. Sebuah keheningan pekat yang seharusnya terasa seperti embusan napas melegakan.

Namun entah kenapa, Jelvan justru merasakan firasat aneh yang kian membakar dadanya. Rasa tidak nyaman itu justru merayap makin membabi buta.

Ia berdiri terpaku di tengah kelas, memandangi banyaknya deretan meja dan kursi yang tersusun rapih di ruang kelas, namun dirinya kini terfokus pada:

Empat meja.

Empat kursi.

Semuanya tampak lengkap.

Tapi ada sesuatu yang salah. Sangat salah.

“Gue…” Julian mengusap tengkuknya yang mendadak meremang dingin. “Kenapa rasanya kayak kita baru aja kehilangan sesuatu yang penting?”

Miguel tidak langsung menjawab. Begitu pula dengan Kaede.

Ketiganya justru secara refleks melempar pandangan ke titik yang sama: sebuah kursi kosong di dekat jendela.

Kursi yang sama. Kursi yang sejak awal malam misterius ini bergulir tidak pernah benar-benar mereka sadari keberadaannya.

Jelvan melangkah pelan mendekati meja tersebut. Tangannya perlahan terulur, menyentuh permukaan sandaran kursinya.

Dingin. Terlalu dingin untuk ukuran furniture kayu di ruangan tertutup.

“Ini… kursi siapa?”

Tidak ada jawaban. Kesunyian menggantung berat.

Julian mengernyitkan dahi, mencoba mengingat-ingat kembali. “Bukannya dari tadi kursi itu memang kosong?”

Kaede menggeleng pelan, raut wajahnya diliputi kebingungan yang mendalam. “Nggak tahu…”

Miguel menatap bangku itu lama, matanya menyipit penuh kecurigaan. “Gue juga nggak tahu.”

Jelvan menarik napas panjang, berusaha menenangkan detak jantungnya yang kian terpacu.

Lalu, terdengar sebuah suara tipis memecah keheningan.

Srek.

Semua kepala serta-merta menoleh. Suara itu datang dari atas meja guru.

Buku hitam.

Buku yang seharusnya sudah tertutup rapat itu kini secara mendadak terbuka dengan sendirinya. Halaman demi halaman terakhirnya perlahan bergerak dan terbalik, seolah ditiup oleh angin tak kasatmata yang hampir tak terasa oleh kulit mereka.

Satu halaman.

Dua halaman.

Tiga halaman.

Sampai akhirnya gerakan kertas itu terhenti secara drastis.

Di sana, di tengah kertas yang menguning, hanya tertera satu kalimat singkat namun menekan.

REMEMBER.

Julian menelan ludah, tenggorokannya terasa seketika kering. “Siapa… siapa yang nulis itu?”

Miguel mendekat perlahan ke arah meja. “Bukan itu yang harus kita tanyakan.”

“Lalu apa?”

Miguel tidak menjawab secara lisan. Ia hanya menunjuk bagian bawah halaman kertas tersebut.

Di sana, sebuah tulisan lain perlahan muncul. Seolah tinta hitam pekat sedang merembes keluar dari serat-serat kertas yang melapuk secara ajaib.

17 SEPTEMBER 1998.

Kaede refleks mundur satu langkah, tangannya gemetar. “Tanggal itu lagi…”

Jelvan menatap tulisan bertinta hitam itu tanpa berkedip. “Kenapa tanggal itu selalu muncul di setiap kejadian?”

Belum sempat ada yang merangkai jawaban—

TOK.

Keempatnya mendadak membeku di tempat.

TOK.

Julian langsung menoleh tajam ke arah pintu kayu kelas yang tertutup rapat.

TOK.

Kaede dengan cepat menutup mulutnya sendiri, menahan jeritan yang nyaris lolos.

TOK.

Miguel mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

Jelvan secara tak sadar berbisik dengan suara hampir tak terdengar, “Empat…”

Keheningan kembali merayap. Tidak ada ketukan kelima yang menyusul.

Beberapa detik berlalu dalam tensi yang kian mencekam.

Lalu, sebuah suara melintasi celah bawah pintu. Bukan suara asing yang bergema parau. Bukan pula suara makhluk menyeramkan.

Itu adalah suara samar seorang anak laki-laki.

“Jangan buka…”

Mereka saling bertukar pandang dalam keraguan dan ketakutan yang memuncak.

Suara kecil itu kembali terdengar dari balik pintu.

“Kalau kalian buka… dia masuk.”

Julian melangkah mundur, keberaniannya terkikis habis. “Siapa?”

Hening sejenak.

Kemudian

“Yang kelima.”

BZZT!

Lampu ruangan berkedip hebat. Dalam hitungan detik, atmosfer di dalam kelas berubah drastis secara mengerikan.

Bukan berubah menjadi gelap gulita. Melainkan… ruang dan waktu di sekitar mereka seolah terdistorsi.

Dinding kelas yang semula berwarna kusam perlahan memudar dan mengelupas. Meja-meja modern menghilang digantikan perabotan kayu lama. Papan tulis di depan kelas bertransformasi menjadi papan kayu tua yang berderit. Jendela-jendela bergeser menjadi lebih kecil dan berdebu.

Udara mendadak pekat oleh bau debu tebal dan aroma kayu terbakar yang menusuk hidung.

Kaede ternganga, bibirnya bergetar ketakutan. “Ini… ini bukan kelas kita yang tadi.”

Miguel menatap sekeliling dengan napas yang makin memburu. “Gedung Mystic…”

“Mustahil!” seru Julian.

“Nggak mungkin kita pindah tempat!”

Jelvan mendongak menatap jam dinding. Jarumnya tidak lagi berada di angka 18:04.

Angka itu membeku.

18:00.

Lalu, suara langkah kaki terdengar merayap dari arah belakang mereka.


Satu langkah.

Dua langkah.

Tiga langkah.

Empat langkah.

Langkah kelima terhenti tepat di belakang kursi kosong dekat jendela.


Jelvan perlahan berbalik, mengumpulkan sisa keberaniannya.

Tidak ada siapa-siapa di sana.

Namun, secara mendadak, kursi kosong itu bergerak sendiri. Tergeser mundur beberapa sentimeter, lalu kembali maju secara perlahan, persis seperti pergerakan saat seseorang baru saja menarik bangku dan duduk di atasnya.

Kaede mulai meringis, rasa takut melumpuhkan seluruh tubuhnya. “Jangan bilang…”

Miguel menggeleng kuat-kuat. “Jangan…”

Tetapi Jelvan sudah keburu menangkap sebuah hal ganjil di atas kayu meja tersebut.

Sebuah bekas telapak tangan muncul perlahan di permukaannya. Masih baru, seolah menyisakan embun dingin.

Dan tepat di bawah bekas telapak tangan itu, ukiran tulisan perlahan terbentuk.

RAZKA.

Jelvan membeku seketika.

Nama itu, saat matanya membaca deretan huruf yang muncul, mendadak membuat sesuatu di dalam kepalanya berdenyut sakit luar biasa. Sakit yang menyerang tiba-tiba dan tidak masuk akal.

Ia menekan kuat pelipisnya, meringis menahan hantaman di pikirannya. “Kenapa… kenapa nama itu terasa familiar banget?”

Julian ikut memegang kepalanya yang mendadak berat. “Gue… gue juga kerasa begitu.”

Kaede menatap kedua temannya dengan mata yang penuh genangan air mata. “Siapa Razka?”

Pertanyaan itu menggantung tebal di udara.

Dan untuk pertama kalinya sepanjang malam penuh teror ini, Miguel terlihat benar-benar kehilangan kendali atas dirinya, ia ketakutan setengah mati.

“Gue…” Miguel menggantung kalimatnya, matanya membelalak.

Seolah ada sebuah gembok ingatan yang dipaksa mendobrak keluar dari kedalaman kesadarannya.

“Gue tahu nama itu!”

“Dari mana, El?!” seru Jelvan.

Miguel memejamkan matanya rapat-rapat, meremas rambutnya sendiri.

Dan secara tiba-tiba, sebuah suara berbisik sangat jelas di dalam kepalanya. Suara milik sosok bernama Razka.

“Jangan jawab ketukan kelima.”

Miguel mendadak membuka matanya lebar-lebar. “Dia… dia pernah bilang kalimat itu ke gue!”

Jelvan menatapnya panik. “Kapan?! Kapan dia bilang begitu?!”

Miguel tidak membalas pertanyaan Jelvan secara langsung. Ingatannya yang selama ini terkunci rapat kini merembes keluar bagaikan air bah.

Bukan cuma satu bayangan. Bukan dua. Melainkan puluhan potongan memori yang menyiksa.

Ia melihat gambaran dirinya berdiri di dalam ruang kelas yang sama.

Melihat Julian berteriak histeris.

Melihat Kaede menangis ketakutan.

Melihat Jelvan berusaha keras mendobrak pintu yang terkunci.

Melihat sosok Razka berdiri kaku di depan mereka.

Dan yang paling mengerikan… ia melihat dirinya sendiri—serta mereka semua—mati berulang kali.

Satu demi satu. Gugur secara tragis. Delapan belas kali putaran yang terlintas.

BRUK!

Miguel tersungkur berlutut di lantai, menahan kepalanya yang serasa mau pecah. “Berhenti… tolong berhenti…”

Jelvan langsung bergerak mendekat, memegang bahu Miguel. “Miguel! Lu kenapa?!”

“Gue ingat…” bisik Miguel bergetar.

“Ingat apa?!”

Miguel mengangkat wajahnya yang kini dipenuhi air mata, tatapannya kosong penuh trauma mendalam.

“Bukan kita yang terjebak di dalam loop ini…”

Jelvan terdiam kaku.

Miguel perlahan mengarahkan jarinya yang gemetar ke arah pintu. “Loop ini… diciptakan khusus buat seseorang.”

“Siapa?!”

Miguel mengalihkan pandangannya, menatap lurus ke arah kursi dekat jendela. “Razka.”

Lampu di langit-langit kembali berkedip hebat.

Satu kali.

Dua kali.

Tiga kali.

DUK!

Buku hitam di atas meja guru itu membanting menutup dengan sendirinya.

Keempatnya tersentak hebat, napas mereka berburu.

Namun sebelum ada satu pun dari mereka yang sempat melangkah atau bersuara, sebuah bisikan dingin terdengar tepat dari belakang tengkuk mereka.

Sangat pelan. Sangat dekat.

“Bukan.”

Jelvan perlahan berbalik dengan tubuh kaku.

Kursi dekat jendela itu kini tak lagi kosong.

Seorang anak laki-laki kini duduk kaku di samping meja. Seragam yang dikenakannya tampak usang dan berbeda dari seragam sekolah mereka. Wajahnya pucat pasi tanpa rona kehidupan, dan di bagian dadanya terpatri noda darah tua yang mengerak.

Anak itu menatap mereka dengan manik mata yang hampa.

“Bukan Razka yang membuat loop ini.”

Julian membeku di tempatnya, suaranya tercekat di tenggorokan, dan bertanya takut-takut kepada anak misterius itu. “Kalau begitu… siapa?”

Anak laki-laki itu tidak menjawab dengan kata-kata. Tangannya yang pucat hanya terangkat, menunjuk ke arah buku hitam.

“Dia.”

SREK.

Buku hitam itu kembali terbuka secara ajaib. Halaman pertama yang awalnya bersih polos, kini tak lagi kosong.

Sebuah tulisan terukir di sana.

Bukan nama Razka.

Bukan nama Jelvan.

Bukan Julian.

Bukan Miguel.

Maupun nama Kaede.

Tulisan itu tertulis dengan sapuan tinta merah tua yang kental, menyerupai darah.

THE FIFTH.

Anak laki-laki di dekat jendela itu perlahan mengukir senyum dingin yang mengerikan.

“Dan kalian… baru saja mengingatnya.”

CTEK!

Lampu padam total. Kehalusan kegelapan menyelimuti seluruh sudut ruangan secara mendadak.

Dalam kegelapan yang pekat dan berdebu itu, irama ketukan kembali terdengar secara berturut-turut.

TOK!

TOK!

TOK!

TOK!

Lalu, suara yang sama seperti sebelumnya kembali berbisik. Namun kali ini, bisikan itu tidak lagi terdengar dari balik pintu kayu luar.

Bisikan itu bergema, tepat dari arah belakang mereka sendiri.

Ia tidak memanggil nama siapa pun. Ia hanya berucap singkat—

“Lima.”

Diikuti desah napas dingin di tengkuk mereka.

“Sudah lengkap.”

Report Page