PART IX : THE FIRST LOOP
๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐
Pukul 17.47.
Gedung Mystic belum mengenal kesunyian yang mencekam.
Koridor-koridor kelasnya masih dihidupkan oleh derap langkah kaki. Tawa hangat para siswa berdesakan menggema dari lantai bawah. Di beberapa sudut, beberapa guru tampak masih sibuk melintas membawa tumpukan buku menuju ruang guru.
Namun jauh di lantai tiga, ada satu ruangan yang perlahan mulai sepi dan ditinggalkan.
Ruang 3-B.
Lima orang siswa masih berada di dalamnya. Empat laki-laki dan satu perempuan.
Mereka bukan Jelvan.
Bukan Julian.
Bukan Miguel.
Bukan Kaede.
Dan bukan pula Razka.
Mereka adalah kelompok pertama. Kelompok pionir yang nama-namanya telah dihapus secara paksa dari hampir seluruh catatan sejarah Gedung Mystic.
Seorang siswa laki-laki tampak duduk santai di atas meja guru sambil membalik-balik halaman sebuah buku tua yang agak berdebu.
โGue nemu ini di gudang tadi,โ ujarnya santai.
Buku itu memiliki sampul hitam polos, keras, dan tanpa judul sama sekali.
Seorang perempuan yang duduk di dekat jendela menatap benda itu dengan raut curiga yang tak tertutupi.
โBuang.โ
Siswa itu mendongak, alisnya bertaut. โHah?โ
โGue bilang buang benda itu.โ
โKenapa sih? Cuma buku tua.โ
Perempuan itu tidak langsung menjawab. Matanya terkunci pada warna hitam pada buku tersebut seolah-olah ia pernah melihatnya di suatu tempat sebelumnya, padahal jauh di dalam hatinya, ia yakin belum pernah menemukannya.
Masih di ruang yang sama, seorang siswa lain sedang sibuk mengemas barang-barangnya ke dalam tas, ingin bergegas pulang karena gedung sekolah mulai sepi. Ia kemudian berucap, โUdah hampir jam enam sore, nih. Kalau kalian masih mau ngerumpi, gue pulang duluan ya.โ
โSebentar dulu,โ cegah siswa yang memegang buku. Jemarinya kembali membuka halaman berikutnya.
Di atas kertas kusam itu, tertera sebuah tulisan tangan bergaris tebal. Satu kalimat instruksi.
DO NOT ANSWER THE FIFTH KNOCK.
Ia tertawa kecil meremehkan. โApaan nih? Gak jelas banget.โ
โJangan dibaca keras-keras!โ bisik perempuan tadi, suaranya mendadak berubah jauh lebih tegas dan menekan.
Namun peringatan itu terlambat. Kalimat itu telah terucap lurus dari mulutnya.
โJangan menjawab ketukan kelima.โ
Satu detik berlalu. Tidak terjadi apa-apa.
Mereka saling bertukar pandang dalam hening, lalu tertawa bersamaan. Seseorang bahkan menceletuk bahwa buku itu pasti cuma lelucon konyol buatan siswa angkatan terdahulu.
Tidak ada satu pun dari mereka yang menyadari bahwa jarum jam dinding di atas papan tulis baru saja mendadak membeku.
17.59.
Jarum panjangnya bergeser tipis, memutus waktu.
18.00.
DENG!
Bunyi bel sekolah berdenting nyaring dari kejauhan. Hanya sekali.
Tepat saat gaung bel itu memudar, seluruh lampu kelas padam total.
โHah?! Kenapa nih?โ
Seseorang berdiri dari bangkunya dalam kegelapan. โMati listrik?โ
Koridor di luar pun meredup hampa. Namun beberapa detik kemudian, pendar lampu kembali menyala mendadak.
Dan saat itulah, mereka mendengar teror pertama.
TOK.
Seseorang mengetuk pintu kayu dari luar.
Kelima siswa itu mendadak bungkam.
โSiapa?โ seru salah satu dari mereka.
Tidak ada jawaban.
TOK.
Ketukan kedua merambat di daun pintu.
Mereka mulai saling memandang dengan raut yang tak lagi tenang.
TOK.
Ketukan ketiga.
Anak laki-laki yang memegang buku tadi mulai mengukir senyum gugup, berusaha mencairkan suasana yang kian berat. โPalingโฆ paling juga satpam sekolah.โ
TOK.
Ketukan keempat.
Perempuan di dekat jendela mendadak berdiri tegap. โJangan jawab.โ
โKenapa?โ
โGue bilang jangan buka pintunya!โ
โKenapa sih lu?โ
Perempuan itu menunjuk buku hitam di atas meja dengan telunjuk gemetar.
Halaman kusam yang sebelumnya hanya berisi satu kalimat pendek, kini telah berubah. Tulisan-tulisan baru merembes muncul secara perlahan.
FOUR IS SAFE.
Lalu, sebuah baris kalimat lain terukir tepat di bawahnya secara dingin.
FIVE IS NOT.
Raut wajah kelimanya berubah pucat pasi.
Karena pada saat yang persis sama,
TOK.
Ketukan kelima.
Tidak ada yang berani menjawab. Mereka menahan napas dalam-dalam, mematung di tempat.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
Keheningan melingkupi ruangan. Tidak ada hal aneh yang menyusul.
Salah satu dari mereka mendesah lega, lalu terkekeh pelan. โKan? Cuma gertakanโโ
BRAK!
Pintu kelas terhempas terbuka lebar dengan sendirinya!
Angin dingin membekukan kulit menerobos masuk secara brutal. Koridor di luar sana tampak kosong melompong, benar-benar hampa.
Tetapi di atas lantai, tepat di depan ambang pintuโฆ timbul jejak kaki basah secara bertahap.
Satu.
Dua.
Tiga.
Jejak basah itu terhenti pas di ambang pintu kelas. Tidak ada jejak yang mengarah keluar.
Seolah-olah ada sosok tak kasat mata yang kini sedang berdiri tegap tepat di hadapan mereka.
Perempuan itu beringsut mundur, suaranya bergetar hebat. โDiaโฆ dia udah masuk.โ
โSiapa?!โ
Tidak ada jawaban.
Jam dinding di atas papan tulis berdetik kembali, namun memamerkan angka yang sama: 18.00.
Anak laki-laki yang memegang buku tertawa gugup, keberaniannya dipaksa. โJamnya rusak kali ya.โ
Ia nekat melangkah mendekati pintu. Namun sebelum jemarinya sempat menyentuh gagang kayuโ
Perempuan di dekat jendela mencengkeram lengannya kuat-kuat. โJangan!โ
โKenapa lagi sih?!โ
โKarena kitaโฆ kita udah pernah melakukan hal ini sebelumnya!โ
Semua orang membeku.
โPernah? Maksud lu gimana?โ
Perempuan itu memejamkan matanya rapat-rapat, meremas jemarinya sendiri. Untuk beberapa detik, rona wajahnya diliputi kebingungan yang sangat dalam.
Kemudian ia membuka matanya kembali, pandangannya mendadak kosong. โGueโฆ gue nggak tahu.โ
Dan pada detik itu juga, realitas di sekitar mereka terdistorsi.
Koridor di luar pintu tak lagi menyerupai lorong sekolah yang mereka kenali beberapa menit lalu. Dindingnya tampak jauh lebih tua dan aus, sorot lampunya temaram janggal, cat temboknya mengelupas hebat, bahkan papan pengumuman di ujung koridor telah lenyap.
Seorang siswa berbisik histeris, โKitaโฆ kita ada di mana sekarang?!โ
Tidak ada yang mampu menjawab.
Mereka mencoba berlari keluar ruangan.
Satu langkah.
Dua langkah.
Tiga langkah.
Namun begitu melintasi pintu, mereka secara ajaib kembali berdiri di dalam ruang 3-B.
Mereka mencoba lagi. Hasilnya tetap sama.
Sekali.
Dua kali.
Lima kali.
Mencapai sepuluh kali usaha sia-sia.
Sampai akhirnya, kesadaran pahit menghantam pikiran mereka: tempat ini tak lagi memiliki jalan keluar.
Pukul 18.00 tak pernah berganti. Waktu membeku di angka yang sama. Setiap pintu yang diterobos hanya membawa mereka berputar kembali ke ruangan awal.
Dan yang paling mengerikan, setiap kali mereka dipaksa mengingat bagaimana semua kekacauan ini bermulaโฆ satu demi satu ingatan mereka terkikis hilang.
Nama seorang teman deret belakangan.
Wajah seorang guru favorit.
Suara hangat orang tua.
Alamat rumah tempat mereka pulang.
Hingga pada akhirnya, mereka bahkan lupaโฆ berapa jumlah persis diri mereka yang terjebak di sana.
โLimaโฆโ bisik salah satu dari mereka ragu. โBukannyaโฆ bukannya kita dari tadi cuma berempat?โ
Tidak ada yang langsung merespons.
Mereka mulai menghitung jumlah kepala di dalam ruangan.
Satu.
Dua.
Tiga.
Empat.
Lalu pandangan mereka membentur kursi kelima di dekat jendela.
Kosong. Selalu kosong.
Namun di atas meja kayu kursi itu, terukir sebuah nama yang amat dalam.
RAZKA.
Mereka sama sekali tidak tahu siapa sosok bernama Razka itu. Tetapi anehnya, mereka merasakan kedukaan yang sama di dalam dada, nama itu terasa seperti seseorang yang pernah mereka sayangi. Seseorang yang pernah mereka kenal. Seseorang yang telah hilang ditelan kegelapan.
Malam yang panjang itu, mereka mencoba mencari petunjuk. Mereka membalik halaman demi halaman buku hitam tersebut hingga menemukan sebuah catatan bergoreskan tinta merah kental.
THE LOOP DOES NOT WANT FIVE.
Di baris bawahnya tertulis:
THE LOOP WANTS A FIFTH.
Salah satu siswa berbisik bingung, โBedanyaโฆ apa?โ
Tidak ada jawaban.
Secara mendadak, halaman terakhir buku itu terbuka dengan sendirinya. Tertera lima deretan nama di sana.
Empat nama pertama masih tercetak jelas.
Namun nama kelimaโฆ telah dicoret tebal-tebal.
Meskipun begitu, lelehan tinta merah di bawah coretan itu masih sangat basah, seolah seseorang baru saja selesai menorehkannya beberapa detik lalu.
Perempuan itu menyentuh permukaan kertas bertinta merah tersebut.
ARGH!
Seketika, rasa sakit luar biasa menghantam kepalanya bagai ditusuk ribuan jarum. Sebuah kilasan ingatan yang terkunci mendadak menyeruak paksa.
Ia melihat bayangan ruang kelas yang sama, namun atmosfernya jauh lebih pekat dan gelap. Ia melihat empat temannya berdiri mengelilinginya sambil menangis histeris.
Dan di hadapan mereka, berdiri seorang anak laki-laki. Wajah sosok itu samar terhalang bayangan, tetapi suaranya bergema sangat jernih di kepala.
โKalau salah satu dari kita harus tetap tinggal di siniโฆโ
Anak laki-laki itu jeda sejenak, lalu melanjutkan berbisik:
โโฆbiar gue.โ
Perempuan itu tersentak hebat, menarik tangannya dari permukaan buku seolah habis tersengat api. โGueโฆ gue ingat!โ
Keempat teman lainnya menatapnya penuh harap. โIngat apa?!โ
โAda seseorang di antara kita!โ
โSiapa?!โ
โGue nggak tahu siapa namanya!โ
โLu bilang lu ingat!โ
โGue cuma ingat suaranya!โ jerit perempuan itu frustrasi, air mata mulai mengalir deras membasahi pipinya saat matanya mengarah pada kursi kosong dekat jendela. โDia bilangโฆโ
Ia menarik napasnya yang berburu.
โโฆjangan biarkan mereka mengingat gue.โ
CTEK!
Seluruh pendar lampu padam seketika.
Dan, ketika penerangan kembali menyala sesaat kemudian, perempuan itu telah lenyap tanpa jejak.
Empat orang yang tersisa mematung kaku. Mereka saling menatap dengan pandangan hampa.
Anehnya, tidak ada satu pun dari mereka yang ingat siapa yang baru saja menghilang dari hadapan mereka.
Salah seorang siswa menunjuk kursi kosong di dekat jendela dengan polosnya. โBukannyaโฆ bukannya dari tadi kita memang cuma berempat?โ
Mereka sama sekali tidak menyadari bahwa beberapa detik sebelumnyaโฆ jumlah mereka masih berlima.
๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐
Loop kedua resmi bergulir.
Buku hitam secara otomatis kembali ke halaman paling depan. Lima deretan nama kembali terukir, dan salah satu di antaranya kembali dicoret hingga tak berbekas.
THE FIFTH MUST REMEMBER.
Namun kali iniโฆ sosok The Fifth tak lagi orang yang sama.
Sebab sistem loop itu telah mempelajari. Ia mulai menyeleksi. Ia mulai menukar korban-korbannya. Ia mulai menghapus keberadaan mereka satu demi satu tanpa ampun.
Hingga akhirnya, setelah bertahun-tahun putaran siklus yang memakan korban berulang kaliโฆ sebuah nama baru terukir mantap di halaman paling akhir.
RAZKA.
๐๐ข ๐๐๐ฅ๐๐ฆ ๐ซ๐ฎ๐๐ง๐ ๐ค๐๐ฅ๐๐ฌ ๐๐๐๐ฎ๐ง๐ ๐๐ฒ๐ฌ๐ญ๐ข๐ ๐ฉ๐๐๐ ๐ฆ๐๐ฌ๐ ๐ค๐ข๐ง๐ข.
Miguel mendadak membuka matanya lebar-lebar. Ia masih terbaring lemah di atas lantai dingin.
Jelvan, Julian, dan Kaede berdiri mengelilinginya dengan raut cemas.
โGueโฆ gue baru aja lihat sesuatu,โ bisik Miguel parau.
โLihat apa, El?!โ seru Jelvan.
Miguel menatap lurus ke arah buku hitam yang terbuka lebar tak jauh dari mereka. โTahun 1998.โ
Jelvan mengerutkan kening. โKelompok pertama itu?โ
Miguel mengangguk pelan. โMerekal yang pertama kali mengalami semua kegilaan ini.โ
โTerus?โ
Miguel terdiam sejenak, tangannya gemetar hebat. โSelama ini gue pikirโฆ Razka adalah orang pertama yang jadi korban loop ini.โ
Ia mengalihkan pandangannya pada kursi kosong dekat jendela. โTernyata bukan.โ
Kaede melangkah mendekat. โTerusโฆ siapa dong yang pertama?โ
Miguel menatap baris tulisan di halaman terakhir buku hitam. Perlahan, lelehan tinta baru membentuk sebuah kalimat utuh di sana.
THE FIRST FIFTH IS STILL HERE.
Jelvan membaca kalimat tersebut berulang kali, hingga raut wajahnya mendadak berubah pucat. โMasihโฆ masih ada di sini?โ
Julian mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang gelap dengan panik. โMaksudnyaโฆโ
TAK. TAK. TAK!
Suara langkah kaki mendadak berderak dari balik lorong koridor luar.
Satu langkah.
Dua langkah.
Tiga langkah.
Empat langkah.
Mereka semua menahan napas dalam-dalam, ketakutan melumpuhkan lidah.
Langkah kelima tidak pernah terdengar berjejak.
Namun, seseorang mengetuk pintu dari luar.
TOK!
BAM! Buku hitam di atas meja menutup rapat dengan sendirinya.
Dan dari balik celah pintu kayu yang terkunci, terdengar seruan suara seorang perempuan. Suaranya terdengar sangat parau dan serak, namun anehnyaโฆ terasa begitu familiar di telinga mereka.
โSudah waktunya mengembalikan yang pertama.โ
Jelvan berdiri perlahan, tubuhnya menegang. โSiapa lo?!โ
Hening sejenak.
Lalu suara perempuan dari balik pintu itu menjawab pelan:
โGue?โ
Sebuah kekehan kecil yang dingin terdengar menyusul.
โGue adalah orang pertama yang kalian semua lupakan.โ
Cklek.
TOK.
Pintu kayu kelas itu terbuka sedikit secara perlahan.
Dan untuk pertama kalinya sepanjang malam ituโฆ mereka melihat sosok yang berdiri tepat di baliknya.
Seorang perempuan berbalut seragam sekolah lusuh khas tahun 1998. Wajahnya pucat pasi, matanya hitam hampa tanpa sinar kehidupan.
Dan tepat di bagian dadanya, terukir sebuah nama bergoreskan tinta merah darah yang pekat.
KADE.
Kaede mendadak membeku di tempat, dadanya sesak luar biasa.
Sebab nama yang terukir di dada sosok ituโฆ terasa seperti namanya sendiri.