One Day, Without You.

One Day, Without You.

Jameela Camilla

08.00 PM, Saturday Night.

Tidak seperti malam sebelumnya, malam ini sungguh terasa begitu hangat. Di atas meja kayu vinyl itu, secangkir teh hijau yang mulai mendingin bersanding dengan sepotong strawberry cheesecake yang masih nampak cantik. Itu adalah kudapan favorit sang kekasih, Sabrina. Stevan menatap dengan dalam dunianya itu.

"Bee, makasih ya malam ini sudah luangkan waktu kamu buat aku."

Sabrina tersenyum. Senyum itu merekah seperti fajar pukul enam pagi; tulus, cerah, dan tanpa beban. Stevan membalasnya dengan senyum tipis yang tak sampai ke mata. Tatapannya kemudian jatuh, kosong, menembus piring kue di hadapan mereka.

"Oh iya, kamu hari ini kegiatannya apa aja bee? Kamu seharian nggak ada kabar, aku sedih tau kamu nggak kabarin aku" katanya penuh dengan semangat, sambil memasukan kudapan manis ke dalam bibir mungilnya.

"Tapi sekarang udah nggak sedih lagi! Pas kamu chat ajak ke Café, aku langsung happy. Soalnya aku akhirnya bisa nge-date bareng ka-"

"Sabrina."

Suara Stevan rendah, hampir seperti bisikan, namun cukup tajam untuk memutus kalimat Sabrina. Merasa terpanggill, Sabrina mendongak. Pipinya masih sedikit menggembung karena kue, matanya berbinar penuh cinta yang murni. Ia begitu menikmati waktu bersama sang kekasih, moment menghabiskan waktu bersama seperti ini cukup dibilang sangat jarang mereka lakukan dikarenakan begitu banyak kendala yang harus mereka berdua lalui terlebih dahulu.

"Iya, sayang?"

"Aku capek, Na"

Seketika, denting sendok yang beradu dengan piring porselen terdengar begitu nyaring di telinga Sabrina. Dunia seolah berhenti berputar. Sabrina mematung, mencoba mencari celah candaan di wajah kekasihnya, namun ia hanya menemukan dinding es yang tebal. Ia memaksakan senyum, mencoba berpikir positif walau dadanya mulai berdenyut nyeri. Sabrina terus berusaha tersenyum yang ia pikirkan hanyalah "mungkin rasa lelah biasa saja." Sabrina menaruh kedua tangannya diatas meja dan menatap mata Stevan dengan lembut.

"Eheum... capek kenapa, Bee? Kerjaannya lagi numpuk ya?" Sabrina berusaha meraih tangan Stevan, mencoba menyalurkan kekuatan namun Stevan mengelak begitu cepat.

"About us."

Dunia Sabrina runtuh saat itu juga. Oksigen di sekitar mereka seolah tersedot habis, meninggalkan sesak yang menghimpit paru-parunya. Jantungnya berdegup kencang, menghantam rusuk dengan irama yang menyakitkan. Sabrina termenung dengan ucapan Stevan, "apa arti dibalik semua ini?" Sabrina bertanya-tanya dengan keadaan mereka sekarang.

"Kamu mau kita... masing-masing? Kamu mau buang semua yang udah kita laluin gitu aja?" Sabrina menjawab penuh dengan emosi, api terasa membara diatas kepalanya, Sabrina bicara dengan napas yang tersenggal, menahan isak tangis yang mendesak keluar dari sela bibirnya yang bergetar.

Stevan mendongak, menatap Sabrina dengan sorot mata yang tajam namun hancur. Ia terkejut mendengar kalimat itu keluar dari mulut Sabrina—kata-kata yang sebenarnya ingin ia ucapkan sudah diwakilkan oleh sang kekasih, namun saat mendengarnya langsung, hatinya terasa seperti disayat sembilu. Mereka duduk berhadapan, namun jarak di antara mereka terasa lebih jauh dari jutaan kilometer.

Stevan menarik napas panjang, sebuah usaha sia-sia untuk mengisi paru-parunya yang terasa menyempit. Ia tidak membalas amarah Sabrina dengan ledakan yang sama. Sebaliknya, ia justru memberikan keheningan yang jauh lebih mematikan.

​"Bukan aku yang buang, Na," bisik Stevan, suaranya parau dan nyaris hilang ditelan udara malam. "Kita sudah kehilangan ini sejak lama. Kita sedang berpura-pura."

​Sabrina menggeleng keras, air mata kini benar-benar luruh membasahi pipinya. "Kamu sebut tahun-tahun yang kita lewati itu berpura-pura aja? Aku berjuang buat kita, Stevan! Aku bertahan untuk kita, aku kurang apa dimata kamu?"

Stevan tertawa kecil—sebuah tawa getir yang terdengar seperti pecahan kaca yang begitu menyakitkan. Ia berdiri, membuat kursi kayu yang didudukinya berderit ngilu di lantai.

​"Itu masalahnya. Kamu berjuang demi 'kita', bukan demi aku. Kamu mencintai kenangan kita, Na, tapi kamu benci kenyataan tentang siapa aku sekarang." Stevan merasa gagal, karena berhasil mengucapkan kata-kata tersebut tanpa berpikir ribuan kali, hatinya terluka saat melihat air mata terus mengalir dengan deras tiada henti dari hazel eyes milik Sabrina.

​"Lepasin, Na. Sebelum kita berdua benar-benar saling membenci sampai tak ada sisa rasa sayang sedikit pun." Sabrina terkejut, dunianya terasa sangat hancur. Serpihan kaca telah merobek hatinya yang begitu murni. Stevan terdiam mematung.

Sabrina meraih tangan Stevan, menggenggamnya dengan jemari yang gemetar hebat, memohon tanpa kata-kata. Namun, untuk pertama kalinya, Stevan idak membalas genggaman itu. Tangannya terasa dingin, mati rasa, dan lemas.

​"Tatap aku, Bee... bilang kalau kamu nggak sayang lagi sama aku. Bilang!" jerit Sabrina di tengah isak tangisnya yang pecah.

​Stevan mendongak. Di bawah lampu temaram, Sabrina bisa melihat bahwa mata Stevan sudah tidak lagi memancarkan binar yang dulu selalu menjadi rumahnya, rumah untuk tempat ia berpulang. Hanya ada kekosongan yang gelap dan sunyi.

​"Aku masih sayang," ucap Stevan datar. "Tapi sayang aja ternyata nggak cukup buat bikin kita selalu ada."

Stevan menarik tangannya perlahan, melepaskan diri dari kaitan jemari lentik Sabrina yang mulai melemah karena syok. Tanpa sepatah kata pamit lagi, Stevan berbalik dan melangkah menuju pintu keluar. Suara langkah kakinya bergema di lorong sunyi, diikuti bunyi pintu yang tertutup dengan dentuman pelan namun bersifat final. Di dalam ruangan itu, Sabrina jatuh terduduk di lantai, mendekap dadanya yang terasa dihantam ribuan pisau yang telah menancap hatinya.


​"Kita dipertemukan dengan tidak disengaja, hanya untuk saling menghancurkan dengan cara yang paling terencana."


Copyright 2025, by Jameela Camilla.

Report Page