Nanotechnology Management Style

Nanotechnology Management Style

Firman Elhakim

Nanotechnology Management Style, Bagaimana Menyehatkan Penyakit Ketuaan pada Perusahaan dan Menyelamatkan Perusahaan Keluarga? | Suara Ekonomi
https://www.suaraekonomi.com/nanotechnology-management-style-bagaimana-menyehatkan-penyakit-ketuaan-pada-perusahaan-dan-menyelamatkan-perusahaan-keluarga/

Kutipan dari halaman 13-16

Sebuah perusahaan atau organisasi sesungguhnya seperti makhluk hidup.

Perusahaan juga dapat mengalami proses kelahiran, menjadi dewasa, menjadi tua, berpenyakit, dan mengalami kematian, karena unsur manusia di dalam sebuah perusahaan sangat menentukan.

Manusialah yang menjalankan tugas usaha, kerja, dan berurusan dengan keuangan perusahaan. Dengan kata lain, unsur manusia, unsur tugas pekerjaan, unsur cara bekerja, dan unsur uang, ibarat atom-atom di dalam suatu perusahaan atau organisasi.

Dan Operation Line merupakan molekul yang mencakup keempat atom tersebut dalam sebuah perusahaan. Keempat unsur di atas (manusia, tugas, cara kerja, dan uang) dapat diibaratkan sebagai empat basa pembangun DNA, sedangkan Operation Line adalah rantai DNA yang meliuk-liuk itu (double helix).

Kita ambil contoh sebuah pabrik. Sebuah pabrik harus melalui berbagai production line untuk memproduksi sesuatu. Sementara itu, dalam sebuah kantor, kegiatan melalui berbagai operation line dimaksudkan untuk memproses segala kegiatan administrasi. Baik production line maupun operation line, masing-masing dapat digunakan untuk melakukan pemetaan terhadap workflow chart sehingga dapat diperoleh informasi apakah workflow chartnya sudah ramping, tidak zigzag, atau ada overlapping.

Tahap selanjutnya adalah menentukan job description yang jelas bagi setiap petugas/operator pada setiap pekerjaan, sekaligus berupa informasi tentang tata kerja pada setiap tahap pekerjaan. Ketiga tahap tersebut pada dasarnya memiliki tujuan yang berbeda. Workflow bertujuan menjelaskan "who to do", job description bertujuan menjelaskan "what to do", sedangkan cara kerja setiap tahap pekerjaan berfungsi menjelaskan "how to do".

Kita ambil contoh lainnya, yaitu dalam administrasi kantor sebuah perusahaan kegiatan administrasi kantor harus melalui berbagai Operation Line untuk memproses segala kegiatannya, sedangkan di dalam sebuah pabrik, untuk memproduksi sebuah barang harus melalui berbagai Production Line. Baik operation line maupun production line masing-masing mengandung empat unsur ini:
1. Worklow Chart, yang menjelaskan who to do (menyangkut unsur manusia);
2. Job description, yang menjelaskan what to do (menyangkut unsur tugas pekerjaan);
3. Komponen cara kerja, yang menjelaskan how to do;
4. Obyek benda (merchandize, uang, atau dokumen).

Keempat unsur tersebut ibarat atom-atom yang ada di dalam operation line, sebagai molekul dari sebuah perusahaan. Kita memerlukan cara me-manage keempat unsur tersebut agar bisa berfungsi dengan lebih selaras/harmonis satu dengan lainnya. Hal ini merupakan faktor utama dalam menciptakan kegiatan sebuah perusahaan menjadi lancar dan aman, serta transparan. Operation line juga dapat berfungsi sebagai mapping workflow chart sebuah pekerjaan untuk meneliti apakah work-flownya sudah streamline dan tidak zigzag atau overlapping, overdoing, dan sebagainya. Operation line harus diterapkan pada semua unit kerja, dari tingkat terbawah sampai ke tingkat tertinggi. Dengan demikian, dapat dipastikan semua kegiatan perusahaan akan lancar dan aman.

Operation line sebagai double helix bagi keempat unsur yang berinteraksi dengan harmonis dalam unit kerja, akan menimbulkan sifat, fungsi, dan manfaat yang berbeda jika struktur molekul serta komposisi penggabungan unsur juga berbeda. Ada 10 macam fungsi operation line yang berbeda dan dapat dimanfaatkarn oleh sebuah perusahaan atau organisasi. Kesepuluh fungsi operation line itu sebagai berikut:
1. Membedakan (general check up) penyakit orang tua di setiap unit kerja dan memberi solusi pengobatan;
2. Menjadi tolok ukur jumlah jam kerja yang dibutuhkan setiap unit kerja;
3. Menjadi tolok ukur jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan setiap jenis pekerjaan;
4. Menjadi tolok ukur jumlah biaya yang diperlukan setiap unit kerja;
5. Menjadi dasar perkiraan cost of production di setiap jenis produk
6. Menjadi dasar perkiraan dalam pembuatan budget;
7. Menjadi dasar sebagai user requirement dalam proses digitalisasi;
8. Menjadi patokan dalam pengawasan dan monitoring kinerja setiap unit kerja;
9. Menjadi dasar penerapan cara kerja CBS (Conveyor Belt System):
10. Menjadi dasar perkiraan Neraca Harian.

Setelah menguraikan manajemen ala nanoteknologi (Nanotechnolog Management Style), kiranya perlu memperkenalkan satu buku berjudul "The Principles of Scientific Management" yang ditulis oleh Frederick Winslow Taylor (1856-1915). Dalam tulisannya, Taylor menjelaskan teori-teori Operation Line dan Time and Motion, serta Conveyor Belt Assembly Line. Teori-teori tersebut sesungguhnya merupakan dasar dari Nanoscientific Management yang sangat bermanfaat bagi kita untuk melaksanakan reformasi cara kerja guna meningkatkan produktifitas nasional. Perlu juga diketahui bahwa penerapan ilmu manajemen dengan konsep nanoteknologi perlu melalui empat tahapan berikut:
1. Menata dan menentukan jumlah Operation Line di setiap seksi;
2. Membedah dan menganalisis setiap Operation Line;
3. Menata dan menyusun semua macam cara kerja menjadi komponen;
4. Mengelompokkan jenis Operation Line yang ada kaitannya menjadi seksi atau bagian.

Operation line yang benar merupakan peta dasar untuk melakukan otomatisasi (komputerisasi) suatu perusahaan atau organisasi secara sempurna, dan hal ini akan mempermudah pengawasan. Penjabaran selengkapnya mengenai operation line dan nanotechnology management style dapat dipahami pada Bab 2.


Report Page