NETRA

NETRA

Keenjie Madhava Azarenka
Keenjie
Narael
Harsa, Jean, Ren (abaikan tokoh Jaeminnya)


Seorang anak dengan rambut hitam legam nya duduk dibangku taman belakang rumahnya. Tangannya menggenggam erat tongkat bantu berjalannya. Memandang apapun juga rasanya tak ada bedanya. Gelap, itu yang dirasakan anak bernama Keenjie. Tapi ada satu hal yang lebih Keenjie pikirkan. Sahabatnya Narael, sudah satu minggu ini tak ada kabar semenjak keduanya mengalami kecelakaan.

"ppssttt . . Jie" suara itu, Jie buru-buru berdiri. Mencari sekiranya dimana suara itu berasal. Tongkatnya mulai bergerak-gerak untuk membantunya berjalan. Ya, kecelakaan yang terjadi antara Jie dan Narael merenggut penglihatan Jie. "Nana!! dimana? Sini dong, Jie ga bisa lihat kamu ihh" Jie mengerucutkan bibirnya. Mulai merasa kesal karena yang dipanggil hanya tertawa kecil.

Jie merasakan tangannya digenggam oleh seseorang. Sentuhan itu, Jie hafal betul siapa pemiliknya. Narael, sahabatnya yang sangat ia rindukan. "Nana? Nana kemana aja? Jie kangen banget" Jie menyunggingkan senyumnya. Merasa senang akhirnya dapat bertemu dengan Nana. "Maaf . . " suara itu begitu lirih, namun Jie masih dapat dengan jelas mendengarnya. Jie menggeleng pelan "penglihatan ku ya? It's okay Na, Jie gapapa. Nana baik-baik aja? ini kan salah Jie juga karena Jie waktu nyebrang jalan ga hati-hati sama Nana". "Jie mau main ga? Nana juga kangen banget sama Jie" ucap Nana. Jie mengangguk senang. Setidaknya Nana membuat Jie kembali merasa hidup setelah satu minggu Jie hanya berdiam diri karena kehilangan penglihatannya.

Dengan semangat Nana menarik tangan Jie. "Pelan Na, nanti jatuh astaga. Kamu nih ceroboh, sekarang Jie juga ga bisa lihat. Jie kan mengandalkan penglihatan Nana doang sekarang" cicit Jie yang kemudian mendengar suara tawa Nana. "Hahaha, baiklah maafin Nana. Kita ke taman ya Ji? ada banyak street food disana" ajak Nana. Jie hanya mengangguk-angguk setuju. Toh, menolak pun dia tahu apa karena buta.

Keduanya sampai di taman. Banyak kios jajanan street food disana. Nana mengajak Jie untuk menghampiri kios strawberry caramel. Sebenarnya Jie tak menyukai strawberry, tapi itu Nana yang meminta. Jie tak bisa menolak permintaan Nana. Selesai dari kios strawberry caramel, giliran Jie yang meminta Nana mengantarnya menuju Kios corndog. Mereka berdua sangat menikmati jajanan disana.



"Jie, buta tuh rasanya gimana?" tanya Nana disela-sela menikmati makanannya. "Gelap lah Na gimana lagi?" Jie memukul lengan Nana yang berada disampingnya. "Ihh ya kan Nana tuh penasaran. Tapi Jie bestt banget!! ga sedih gitu waktu penglihatannya hilang?" Nana memiringkan kepalanya, menatap sosok sahabatnya yang masih menikmati corndog. "Jie bakalan lebih sedih kalau Jie kehilangan Nana" Nana terdiam mendengar ucapan Jie. Dirinya tersenyum tipis kemudian melanjutkan makannya. "malam ini Nana nginep dirumah Jie ya? Kangen berat nih hehe" Jie mengangguk antusias setelah Nana menyelesaikan kalimatnya. Tangannya mencoba meraba memeluk tubuh sahabatnya itu. "BOLEHH!! BOLEHH BANGET MALAHAN HAHAHA" teriak Jie.



Mereka berdua berada dikamar Jie sekarang. Jie sibuk bercerita tentang ia yang kehilangan penglihatannya selama satu minggu dan itu tanpa Nana. Rasanya hampa, sedih, kosong. Sebenarnya mereka berdua merasa lelah hari ini. Karena setelah pulang bermain dari taman, Nana dengan semangatnya mengajak Jie menonton film kartun meskipun Jie tak dapat melihatnya. Menarik tubuh Jie untuk pergi ke ruang keluarga Jie. Nana menceritakan semua detail peristiwa dikartun yang mereka tonton. Sesekali Jie tertawa kecil ketika dirasa penjelasan sahabatnya amat lucu.

"Jie, bobo yuk? Jie capek kan dengerin ocehan Nana waktu nonton film kartun tadi?" Nana mengerucut lucu. Meskipun Jie tak dapat melihatnya. Jie dapat membayangkannya. "Capek apanya? Kamu tuh emang kayak anak kucing tau ga Na? cerewet terus. Ya udah, ayo bobo. Biar besok kita main lagi" Jie merebahkan dirinya diatas kasur dengan Nana disebelahnya. "Ga bisa, kita besok ga bisa main lagi Ji" Jie menolehkan kepalanya kearah kanan. Netra menatap Nana meskipun hanya gelap yang Jie lihat. "Kok gitu? Jie pukul kamu kalau ngilang lagi Na" ancam Jie pada Nana. "Jie ihh!! masa tega mau mukul Nana. Jie besok kan operasi mata. Biar bisa lihat dunia lagi. Ga enak kan pasti gelap terus" Nana mencubit gemas pipi Jie. Jie mengangkat sebelah alisnya "Iya? Kok bunbun belum bilang ke Jie kalau Jie udah dapet donor mata?". Nana terkekeh kecil, menatap sahabatnya dengan tulus sembari merapihkan surai depan Jie yang sedikit berantakan. "Berarti bunbun mau kasih kejutan buat Jie. Ahh, Nana ngerusak kejutan bunbun nih jadinya. Besok Jie pura-pura ga tau aja ya?" Jie terkekeh kecil, baginya Nana ini sangat-sangatlah seperti anak kecil. Jie mengangguk lalu mengajak Nana untuk menyelami Alam mimpi.

Nana bangun dari tidurnya. Berjongkok disamping tempat tidur. Menatap wajah damai sahabatnya yang tengah bermain dialam mimpi. Nana menahan air matanya yang hendak tumpah. Menggigit bibir bawahnya cukup kuat untuk menahan isakan. "Jie harus tahu kalau Nana sayang Jie. Jie jangan lupa ya sama Nana. Jie besok udah bisa lihat dunia lagi. Nana seneng banget pokoknya. Jangan sedih-sedih lagi. Jangan juga diem aja kalau Nana ga ada. Ren, Harsa, sama Jean bakalan nemenin Jie kok" air mata Nana tak dapat terbendung. Pipinya basah karena menangis disertai sesenggukan kecil. Takut Jie terbangun.

"Udah? yuk Na kalau udah" seseorang duduk jendela kamar Jie. Melipat kedua tangannya didepan dada sembari menatap Nana. Nana mengusap kasar wajahnya. Menatap datar kearah yang menanyainya. "Bentar dong, ketemu bunda dulu. Nana belum sampaikan pesan Nana sama bunda buat Jie. Anterin ya?? kan Raviel bisa teleportasi wushhh . . jadi ga usah capek-capek" Nana mengepalkan kedua tangannya didepan dada, menatap memohon kepada Raviel. Raviel berdecak sembari merotasikan kedua bola matanya "Ck, ya udah ayo. Kamu nih mau pergi aja ngerepotin ya". Raviel turun dari jendela. Berjalan mendekati Nana dan menggenggam tangan Nana.


"Udahkan?" tanya Raviel kepada Nana. Nana mengangguk kecil, helaan nafasnya terdengar sangat pasrah. "Nana bakalan masuk surga atau neraka?" Narael bertanya balik kepada Raviel. Raviel mengedikkan bahunya "sesuai amal perbuatan sih Na. Dah ah ayo, aku mau istirahat habis ini". Raviel dan Nana berjalan entah kemana dimalam itu. "Terimakasih banyak" ucap Nana sambil tersenyum manis.

"Buat?"

"Udah kasih Nana banyak kesempatan untuk ketemu Jie"

"Kamu manusia paling ngerepotin yang pernah aku temuin"

"Huhh . . dasar, nyebelin banget"


"Jie . . janji ya sama Nana? Jie ga boleh sedih kalau udah bisa lihat dunia"



Pagi ini, penciuman Jie sudah diganggu oleh desinfektan, obat-obatan, alkohol dan lainnya. Jie sudah berada diruang operasi. Subuh tadi, bunda Jie sudah sibuk membangunkan orang serumah, menelpon teman-teman Jie, tak lupa pula bundanya Narael. Setelah ini, Jie sangat berharap bisa melihat dunia seperti sediakala.

Di depan kaca besar ruang operasi, berjajar bunda Jie, bunda Nana, dan teman-teman Jie. "Kayaknya bener yang ibu bilang waktu itu . ." kata Bunda Nana. Bunda Jie menoleh menatap Bunda Nana yang sibuk melihat jalannya operasi mata Jie. "Yang Jie ketawa sendiri sambil nonton film kartun ya? Padahal Jie ga bisa lihat apa-apa. Jie juga sempat pergi jalan-jalan ke taman" senyum getir terlihat pada rupa ayu Bunda Jie. "Di taman kota juga Jie bicara sendirian sambil ketawa juga. Persis banget kayak waktu dia sama Nana, Bun" itu Ren yang bicara. Ia memang tak sengaja melihat Jie berada di taman kota dan mengunjungi kios street food kemarin. "Nana ketemu sama Jie. Lalu sampaiin ini tengah malam sebelum jiwa nya benar-benar pergi" nada bicara Bunda Nana terdengar bergetar. Tangannya menggenggam sepucuk surat yang sepertinya dari Nana. Teman-teman Jie dan Bunda Jie hanya bisa menenangkan Bunda Nana.



Ini 3 hari setelah operasi donor mata Jie selesai. Dokter akan membuka perban dimata Jie. "Pelan-pelan buka matamu . . jangan terburu-buru" tuntun dokter pada Jie. Yang Jie lihat pertama adalah cahaya yang sangat terang. Netra nya mencoba menyesuaikan cahaya yang masuk. "Bagaimana penglihatan mu?" tanya dokter. Jie mengedipkan matanya beberapa kali. Menatap satu persatu orang di ruangan itu. Bunbun, Bunda Nana, Ren, Harsa, Jean. Jie mengangguk kepada dokter sambil tersenyum. Dokter melakukan beberapa pemeriksaan pada Jie. Lalu pamit meninggalkan ruangan.



"Nana dimana? Kok ga ada?" tanya Jie. Yang Jie dapati hanya keheningan. Jie sudah mulai panik, tangannya menggoyang-goyangkan lengan bunda Nana. "Bun, Nana dimana? Jie mau bilang sama Nana kalau Jie udah bisa lihat lagi nih" ucap Jie. Bunda Jie mengusap lembut rambut anaknya. Bunda Nana sendiri sudah menangis. Teman-teman Jie sibuk menenangkan Bunda Nana. Jie menatap bundanya yang masih tersenyum. Dibelainya rambut anaknya itu kemudian turun ke pipi. Bunda Jie mensejajarkan diri dengan Jie. "Nana nya tidur sayang. Maafin Nana ya, ga sempet pamit ke Jie. Nana ngantuk banget makanya dia tidur terus"

Jie paham betul apa yang dikatakan bundanya. Tangisnya pecah saat itu juga. Nana, sahabat yang amat ia sayangi kini tertidur untuk selamanya. "Bunbun jangan bercanda. Bunda . . Nana ga meninggal kan? Nana masih hidup? Nana tidur sebentar kan?" baju rumah sakit yang Jie kenakan sudah basah karena air mata. Bunda Nana menggeleng pelan "Nana sempat koma lama banget Ji. Jiwa nya sempat tersesat sampai dia ketemu kamu. Nana juga sampaiin kalau Nana ingin mendonorkan matanya untuk kamu".

Tangis Jie makin menjadi ketika mengetahui bahwa penglihatan yang ia dapat sekarang berasal dari sahabatnya. "ENGGAK BENER!! NANA MASIH ADA. JIE MAU KETEMU NANA. JIE MAU MAIN SAMA NANA HIKS BUNDAAA NANA MASIH ADA, NANA BELUM MENINGGAL" Jie meracau tak jelas, tak percaya bahwa sahabatnya sudah berpulang. "Ji, kamu emang sayang Nana. Tapi Tuhan lebih sayang sama Nana Ji. Nana bakalan sedih kalau kamu gini" Harsa yang sedari tadi menahan tangis akhirnya itu menangis. Berbicara sambil sesenggukan kepada Jie. "Nanti kita ke tempat Nana istirahat ya? bilang makasih sama Nana" Bundanya kembali mengusap lembut kepada Jie.



"Permisi Na, masih tidur ya? maaf ya Jie ganggu" nada bicara Jie terdengar seperti menahan tangis. Jie berjongkok disamping makam sahabatnya. Netra nya masih memandang tak percaya pada nama yang tertulis di batu nisan itu. Tangan nya sibuk membersihkan makam sahabatnya itu kemudian menaburkan bunga diatasnya. Meletakkan buket bunga pula. "Nana tidurnya nyenyak banget ya? Ga mau bangun Na? Jie kangen loh" air mata kembali membasahi pipi Jie. "Bangun dong Na, masa tidur terus. Udah sore nih, biasanya kita jajan street food. Penjual strawberry caramel nya bakalan nyariin kamu nanti Na" Jie mendongakkan kepalanya sebentar. Menahan air matanya agar tidak jatuh semakin banyak. Tapi nihil, ia tak bisa. Air matanya terus saja menetes.

"Na, makasih banyak. Makasih udah jadi sahabat yang paling baik. Kalau aja hari itu aku hati-hati nyebrang jalannya. Kita ga akan kecelakaan. Kita masih bisa jalan-jalan bareng" Jie berhenti sejenak. Dada nya terasa amat sesak. "Dan makasih juga udah pinjemin penglihatan kamu ke aku. Karena ini peninggalan terakhir kamu, bakalan aku jaga baik-baik kok Na. Nana istirahat yang tenang ya? Jie bakalan sering-sering main kesini biar Nana ga kesepian. Ini udah sore, aku pamit ya Na? Gapapa kan ditinggal sendiri? Jangan takut okay? Nana kan anak pemberani. Sekali lagi makasih Narael" Jie tersenyum ditengah-tengah air matanya yang menetes. Sebelum pergi ia mengusap nisan sahabatnya itu sebentar.


Nana dan Jie


"Na, buat hari terakhir kita. Aku ga bakalan pernah lupain itu. Hari paling bahagia dalam hidup aku. Meskipun waktu itu aku ga bisa ngelihat kamu. Aku tetep bisa bayangin gimana senyum bahagia kamu".


END


A Little Memory From Nana And Jie


"Jie ga bisa belajar bareng Nana lagi. Tapi Jie bakalan berusaha belajar sendiri. Jie pastikan nanti Nana bakalan bangga karena Jie sukses. Jie bakalan jadi dokter spesialis mata besok"



"Kita udah ga bisa rayain ulang tahun bareng lagi Na. Nana pasti bakalan dapet kue yang lebih besar disana. Ga ada lagi yang maksa jie makan cake strawberry waktu ulang tahun Nana"



"Jie bakalan ke street food tanpa Nana ya sekarang? Na tau ga? Penjual strawberry caramel nanyain kamu, kan biasanya kamu yang borong strawberry caramel hahaha"



"Ga ada Nana rasanya ga asik kalau jalan-jalan. Tapi Jie masih ada temen-temen lain. Cuma ya gitu Na, rasanya bakalan beda tanpa kamu. Tapi gapapa, makasih udah kenalin Jie ke tempat-tempat yang super super menakjubkan. Tapi tau ga Na? Kamu lebih menakjubkan buat Jie"


Makasih sahabat tersayang Jie. Netra yang kamu pinjamkan kepada Jie akan Jie gunakan sebaik mungkin. Jie sayang kamu, yang tenang ya disana. Sampai jumpa besok di Surga.

Report Page