NEGERI TANPA KORUPSI
BLACKOPIUMPada tahun 2095, Indonesia resmi menjadi negeri tanpa korupsi.
Pengumuman itu disampaikan tepat pukul delapan pagi oleh Presiden di halaman Istana Kejujuran. Ribuan pegawai negeri mengenakan pakaian putih. Drone-drone berbentuk burung garuda terbang sambil menaburkan melati sintetis, sedangkan layar raksasa di seluruh kota menampilkan angka yang membanggakan:
TINGKAT KORUPSI NASIONAL: 0,00 PERSEN.
Rakyat bertepuk tangan selama tiga menit, sesuai durasi yang ditentukan pemerintah.
Tidak ada lagi pejabat menerima suap. Tidak ada anggaran yang digelapkan. Tidak ada jabatan yang diperjualbelikan. Bahkan, kata korupsi telah dihapus dari Kamus Besar Bahasa Indonesia karena dianggap tidak lagi mewakili kenyataan.
Sebagai gantinya, pemerintah memperkenalkan beberapa istilah yang lebih sopan.
Suap disebut hadiah percepatan pelayanan. Nepotisme menjadi distribusi kesempatan berbasis kedekatan emosional. Penggelapan anggaran dinamai penyesuaian dana tanpa pemberitahuan publik.
Sementara itu, jika seorang pejabat memakai uang negara untuk membangun kolam renang pribadi, peristiwa tersebut dicatat sebagai pemindahan aset cair ke lingkungan strategis keluarga.
Sejak kata-katanya diganti, kejahatannya dianggap lenyap.
Mahesa Putra termasuk orang yang membantu keajaiban itu terjadi.
Ia bekerja sebagai penyunting bahasa di Kementerian Keluhuran Nasional. Tugasnya memeriksa dokumen, berita, buku pelajaran, dan percakapan publik agar tidak mengandung kosakata yang dapat merusak citra negara.
Setiap pagi, Mahesa duduk di hadapan layar bening yang mengambang di udara. Sistem bernama SUCI akan menandai kata-kata berbahaya dengan warna merah.
Korupsi.
Suap.
Pencurian uang rakyat.
Satu sentuhan jarinya dapat menghapus kata-kata itu dari jutaan layar di seluruh Indonesia.
Mahesa selalu bekerja cepat. Ia tidak pernah bertanya apakah kenyataan ikut lenyap ketika sebuah kata dihapus.
Sikap patuh itu diwarisinya bukan dari keluarga, melainkan dari ketakutan.
Ayahnya, Ki Praba, adalah dalang dari Bantul. Ketika Mahesa masih kecil, ayahnya kerap memainkan lakon carangan—cerita pewayangan yang diciptakan sendiri untuk menyindir orang-orang berkuasa.
Dalam salah satu pertunjukan, Ki Praba memainkan kisah seorang raja yang membangun seribu gapura, padahal rakyatnya tidak memiliki rumah.
“Kenapa Paduka membuat gapura sebanyak itu?” tanya Petruk dalam lakon tersebut.
“Supaya rakyat tahu jalan masuk menuju kemakmuran,” jawab sang raja.
“Lha, rumahnya saja tidak punya. Mereka mau masuk ke mana?”
Penonton tertawa. Para pejabat yang duduk di barisan depan tidak.
Tiga hari kemudian, izin pertunjukan Ki Praba dicabut. Sanggar wayangnya ditutup karena dianggap menyebarkan kegaduhan melalui humor.
Sejak saat itu, Mahesa belajar bahwa kebenaran dapat membuat seseorang kehilangan pekerjaan, sedangkan kebohongan yang disampaikan melalui konferensi pers justru menghasilkan tepuk tangan.
Ki Praba meninggal beberapa tahun kemudian. Ia meninggalkan kotak kayu berisi wayang, seperangkat gamelan tua, dan satu nasihat yang tidak pernah dilupakan Mahesa.
“Ngono ya ngono, ning aja ngono.”
Begitu boleh begitu, tetapi jangan begitu.
Mahesa memahami artinya, tetapi tidak pernah memiliki keberanian untuk menjalankannya.
Sampai ibunya jatuh sakit.
Pada suatu sore di bulan Sura, Mahesa menerima panggilan dari rumah. Napas ibunya melemah akibat gangguan jantung. Dokter mengatakan operasi dapat dilakukan, tetapi Jatah Waktu Kesehatan miliknya tidak mencukupi.
Di Indonesia masa itu, uang telah digantikan oleh waktu.
Setiap warga menerima sejumlah jam kehidupan dari negara. Waktu itu digunakan untuk berobat, memperoleh pendidikan, menggunakan transportasi, bahkan mengurus surat kematian. Orang miskin tidak lagi kehabisan uang. Mereka hanya kehabisan waktu.
“Operasinya membutuhkan seribu dua ratus jam,” kata petugas rumah sakit. “Ibu Anda hanya memiliki tiga ratus.”
“Bagaimana cara mendapatkan sisanya?”
“Menunggu alokasi tahun depan.”
“Ibu saya mungkin tidak bertahan sampai tahun depan.”
Petugas mengangkat bahu. “Kalau begitu, beliau tidak perlu menunggu terlalu lama.”
Mahesa menatap wajah petugas itu. Ia ingin marah, tetapi layar di belakang meja menampilkan semboyan rumah sakit:
KEADILAN ADALAH KETIKA SEMUA ORANG MENUNGGU GILIRAN.
Malam itu, Mahesa membobol sistem kementeriannya sendiri.
Ia mencari ke mana Jatah Waktu Kesehatan rakyat dialirkan. Mula-mula, layar hanya menampilkan laporan yang bersih. Tidak ada kebocoran, tidak ada pencurian, tidak ada korupsi.
Namun, di balik dokumen utama, ia menemukan sebuah program bernama Dana Keabadian Pejabat.
Setiap hari, tiga detik diambil dari jatah seluruh warga. Jumlah itu begitu kecil sehingga hampir tidak terasa. Tiga detik dari satu orang memang bukan apa-apa. Namun, jika diambil dari tiga ratus juta manusia, para pejabat memperoleh puluhan tahun tambahan.
Mereka dapat berobat tanpa antre, mengganti organ tubuh, memperpanjang usia, dan membeli tempat tinggal di kota-kota yang udaranya masih bersih.
Tidak ada uang yang dicuri.
Hanya umur.
Dalam laporan resmi, praktik itu disebut sumbangan waktu sukarela dan otomatis bagi penjaga kestabilan negara.
Kata sukarela digunakan karena rakyat tidak pernah diberi kesempatan untuk menolak.
Mahesa menemukan nama Menteri Keluhuran Nasional di urutan pertama. Usianya seratus tiga puluh dua tahun, meski wajahnya selalu tampak empat puluh. Di bawah namanya tercatat cadangan waktu sebanyak empat juta jam.
Cukup untuk menyelamatkan ribuan orang seperti ibu Mahesa.
Tangannya gemetar. Ia menyalin semua data ke dalam keping memori berbentuk gunungan wayang.
Keesokan harinya, Mahesa menemui atasannya.
“Dana Keabadian mengambil waktu rakyat.”
Sang menteri tersenyum. Kulit wajahnya begitu halus, seolah-olah usia pun takut meninggalkan bekas padanya.
“Mengambil adalah istilah yang kasar.”
“Rakyat tidak pernah menyetujuinya.”
“Persetujuan sudah diwakili negara.”
“Ibu saya bisa meninggal karena waktunya diberikan kepada Anda.”
Senyum itu tidak berubah.
“Negara membutuhkan pejabat berpengalaman. Ibumu pandai apa?”
Pertanyaan itu membuat sesuatu di dalam diri Mahesa patah.
“Ibu saya membatik.”
“Nah. Pejabat mengatur kehidupan jutaan orang. Ibumu hanya menggambar kain.”
Mahesa teringat tangan ibunya—jari-jari tua yang sabar menorehkan malam, membuat garis demi garis hingga selembar kain memiliki jiwa. Di rumah mereka, setiap motif mengandung doa. Truntum adalah cinta yang tumbuh kembali. Sidomukti menyimpan harapan akan kehidupan yang mulia. Parang mengingatkan manusia agar tidak berhenti melawan keburukan dalam dirinya.
Ibunya tidak sekadar menggambar kain.
Ia menyimpan ingatan sebuah bangsa pada selembar mori.
“Kalau begitu,” ujar Mahesa, “Anda terlalu lama hidup sampai lupa caranya menjadi manusia.”
Sore itu, akses Mahesa dicabut. Petugas keamanan menunggu di depan ruangannya. Ia melarikan diri melalui lorong pengiriman dokumen, menumpang kereta bawah tanah, lalu kembali ke Bantul.
Di rumah, ibunya terbaring lemah. Suara napasnya bersaing dengan bunyi jangkrik dari halaman.
“Maaf, Bu,” kata Mahesa sambil menggenggam tangannya. “Aku terlalu lama diam.”
Ibunya membuka mata.
“Bapakmu dulu juga takut.”
“Tapi Bapak tetap melawan.”
“Bapakmu dalang,” bisiknya. “Dalang tidak masuk ke dalam cerita. Tangannya bersembunyi, tetapi membuat semua tokoh bergerak.”
Mahesa memandang kotak wayang peninggalan ayahnya.
Malam berikutnya adalah malam perayaan seratus tahun Negeri Tanpa Korupsi. Pemerintah mengadakan pesta serentak. Seluruh layar publik terhubung untuk menayangkan pidato Menteri Keluhuran Nasional.
Namun, ketika siaran dimulai, yang muncul bukan wajah menteri.
Sebuah kelir putih memenuhi layar.
Gamelan berbunyi pelan.
Dari balik kelir, tangan Mahesa mengangkat sosok Semar.
“Selamat malam,” ucap Semar. “Katanya negeri ini sudah tidak memiliki pencuri.”
Petruk muncul dari sisi lain.
“Benar, Pak. Pencurinya sudah diangkat menjadi penjaga gudang.”
Gareng menyusul.
“Kalau begitu, barang-barang kita pasti aman.”
“Aman,” jawab Petruk. “Aman tersimpan di rumah penjaganya.”
Tawa meledak dari rumah-rumah, warung, terminal udara, dan permukiman terapung. Sudah lama rakyat tidak mendengar lelucon yang mengatakan kebenaran.
Lakon berlanjut.
Mahesa memainkan kisah Kerajaan Amarta yang dipimpin raja-raja abadi. Agar tidak menua, para penguasa mencuri satu tarikan napas dari setiap rakyat. Sedikit demi sedikit, raja menjadi muda, sementara rakyat lahir dalam keadaan kelelahan.
Di puncak cerita, Mahesa menancapkan gunungan ke tengah kelir.
Seluruh data Dana Keabadian terbuka.
Nama pejabat, jumlah waktu yang diambil, rumah sakit yang menolak pasien, dan umur rakyat yang dipindahkan terpampang di layar seluruh negeri.
Pemerintah mencoba memutus siaran. Namun, Mahesa telah menyisipkan data ke dalam irama gamelan. Setiap gong menyebarkan satu berkas. Setiap tabuhan saron menggandakan salinannya. Semakin keras pemerintah berusaha membungkam suara, semakin jauh bukti itu bergema.
Jutaan warga membuka rekening waktu mereka.
Untuk pertama kalinya, mereka melihat tiga detik yang hilang setiap hari.
Tiga detik ketika seorang ibu memeluk anaknya.
Tiga detik ketika seseorang mengucapkan selamat tinggal.
Tiga detik yang dianggap terlalu kecil untuk dipermasalahkan, tetapi cukup besar untuk membuat penguasa hidup hampir selamanya.
Orang-orang turun ke jalan.
Tidak ada yang membawa senjata. Mereka membawa jam dinding, jam tangan, jam pasir, dan kain batik. Di setiap kota, bunyi alarm dinyalakan bersamaan.
Negeri itu berdentang seperti lonceng raksasa.
Mahesa ditangkap sebelum pertunjukan berakhir.
Di ruang pemeriksaan, Menteri Keluhuran berdiri di hadapannya.
“Kamu telah mempermalukan negara.”
“Negara tidak punya rasa malu,” jawab Mahesa. “Manusianya yang seharusnya punya.”
“Kami akan menghapus namamu dari sejarah.”
Mahesa tersenyum. “Silakan. Kalian memang lebih pandai menghapus daripada memperbaiki.”
Menteri itu membanting meja.
“Indonesia tetap negeri tanpa korupsi!”
“Tentu,” kata Mahesa. “Karena korupsi kalian beri nama lain.”
Di luar gedung, suara alarm terus berbunyi.
Protes berlangsung selama empat puluh hari. Para petugas menolak menangkap rakyat setelah mengetahui jatah waktu keluarga mereka juga dicuri. Sistem SUCI runtuh. Dana Keabadian dibekukan dan jutaan jam dikembalikan kepada rumah sakit.
Ibu Mahesa mendapatkan operasi pada hari terakhir masa kritisnya.
Ia selamat.
Mahesa dibebaskan, tetapi menolak jabatan yang ditawarkan pemerintahan baru. Ia memilih membangun kembali sanggar ayahnya. Setiap malam Jumat, orang-orang datang menonton pertunjukan wayang. Lakonnya selalu berbeda, tetapi Semar tidak pernah absen.
Setahun kemudian, pemerintah mengumumkan indeks kejujuran terbaru.
Tingkat korupsi tidak lagi ditulis nol persen. Angkanya naik dan turun, terkadang membuat malu.
Anehnya, Mahesa justru merasa negeri itu mulai lebih jujur.
Sebab negara yang mengaku sempurna biasanya hanya pandai menyembunyikan noda. Sementara negara yang berani memperlihatkan lukanya masih mempunyai kesempatan untuk menyembuhkannya.
Di dinding sanggar, Mahesa menggantung selembar batik buatan ibunya. Motifnya menggambarkan gunungan yang dikelilingi jam-jam kecil.
Ia menamainya Parang Tiga Detik.
Di bawahnya tertulis nasihat lama Ki Praba:
“Ngono ya ngono, ning aja ngono.”
Karena kejahatan tidak akan berubah menjadi kebaikan hanya dengan mengganti namanya.
Dan sejak malam ketika seorang dalang membuat seluruh negeri mendengar waktu yang dicuri, Indonesia tidak lagi bercita-cita menjadi negeri tanpa korupsi.
Indonesia memilih menjadi negeri yang tidak berhenti melawannya.