NAMA YANG TERTINGGAL

NAMA YANG TERTINGGAL

BLACKOPIUM


Pukul tiga lewat dua belas menit dini hari, Septian menekan tombol terbit.

Tulisan ke-1.003 muncul di halaman depan situs tempatnya bekerja. Berita itu membahas seorang penyanyi yang batal tampil karena persoalan bagasi. Septian membaca ulang judulnya, memeriksa ejaan nama, memastikan gambar tidak lebih dari dua megabita, lalu membuka dasbor statistik.

Angka pengunjung bergerak naik.

Seratus dua puluh.

Dua ratus enam puluh.

Empat ratus tiga belas.

Tidak ada perasaan apa-apa.

Besok pagi, orang-orang akan membaca tulisan itu sambil menunggu bus, duduk di toilet, atau menghabiskan sarapan. Beberapa mungkin membagikannya. Sebagian besar akan lupa setelah menggulir berita berikutnya.

Nama Septian tercetak kecil di bawah judul. Namun nyaris tidak ada yang memperhatikannya.

Ia menutup dasbor lalu membuka tab lain.

Sebuah novel berjudul Kota yang Menelan Matahari terpampang di sana. Sampulnya memperlihatkan kota industri di sebuah pulau, dikelilingi laut hitam dan lampu-lampu pelabuhan. Septian mengunggah bab pertamanya dua minggu lalu.

Jumlah pembaca: dua.

Pembaca pertama adalah dirinya sendiri.

Pembaca kedua kemungkinan dirinya juga ketika membuka cerita itu melalui ponsel.

Septian tertawa kecil.

“Hebat,” gumamnya. “Dua orang tersesat.”

Di seberang meja, rekan kerjanya tertidur dengan kepala bertumpu pada jaket. Ruangan redaksi sangat dingin. Dengung pendingin udara bersatu dengan suara papan ketik dan mesin dispenser yang sesekali menyala sendiri.

Pada jam-jam seperti ini, pikiran Septian justru terasa paling hidup.

Antara pukul tiga dan lima pagi, ketika sebagian besar kota tertidur, ia bisa melihat dunia-dunia yang tidak dilihat orang lain.

Ia melihat gedung penelitian empat lantai yang terbakar di kawasan industri. Seorang anak perempuan terjebak di lantai dua, sementara petugas keamanan berlari menembus asap untuk menyelamatkannya.

Ia melihat seorang penulis tua kembali ke masa SMA dengan seluruh ingatan dan penyesalannya.

Ia melihat kota kecil berubah menjadi pusat dunia, lalu kehabisan air karena gedung-gedungnya tumbuh lebih cepat daripada rasa cukup penduduknya.

Ia melihat laki-laki dingin dan perempuan cerewet dipaksa tinggal serumah oleh sebuah surat wasiat, kemudian perlahan saling mencintai melalui pertengkaran-pertengkaran kecil.

Semua dunia itu hidup di kepalanya.

Sayangnya, dunia-dunia tersebut sering mati sebelum sempat ditemukan orang lain.

Septian mudah jatuh cinta kepada gagasan baru. Ia menulis lima bab, membuat desain karakter, memikirkan sampul, bahkan membayangkan musik untuk versi filmnya. Namun ketika jumlah pembaca tidak bergerak, keyakinannya mulai runtuh.

Ia akan berkata bahwa ceritanya memang kurang bagus.

Kemudian ia membuat cerita baru.

Begitu terus selama bertahun-tahun.

Puluhan judul memenuhi folder laptopnya. Ada yang berhenti di bab tiga, bab tujuh, dan bab sebelas. Ada satu novel yang hanya kekurangan dua bab lagi, tetapi tidak pernah selesai karena Septian tiba-tiba membenci bagian awalnya.

Semua cerita itu seperti kota-kota kosong.

Jalannya sudah dibangun. Lampunya menyala. Rumah-rumah berdiri. Namun tidak ada seorang pun yang tinggal di dalamnya.

Suatu malam, setelah menyelesaikan pekerjaannya, Septian pulang melewati sebuah taman kecil. Matahari baru naik. Pedagang sarapan mulai membuka gerobak, sementara petugas kebersihan menyapu daun-daun yang basah.

Di ujung trotoar, seorang lelaki tua sedang melukis.

Kanvasnya disandarkan pada tiang lampu. Di atasnya ada lukisan pelabuhan ketika hujan: kapal kargo, derek raksasa, laut kelabu, dan seorang buruh berdiri sendirian memakai jas hujan kuning.

Septian berhenti.

Lukisan itu indah. Bukan indah karena terlihat sempurna, tetapi karena lelaki kecil dengan jas hujan tersebut membuat seluruh pelabuhan terasa sepi.

“Dijual, Pak?”

Pelukis itu mengangguk. “Tiga ratus ribu.”

Septian memeriksa dompetnya. Uang yang tersisa hanya cukup untuk makan beberapa hari. Ia akhirnya meminta izin memotret lukisan tersebut.

“Bapak biasa melukis di sini?”

“Sudah dua puluh tahun.”

“Lukisan Bapak bagus.”

Pelukis itu tersenyum tanpa mengangkat kepala. “Bagus belum tentu dibeli.”

Kalimat itu mengikuti Septian sampai ke kamar.

Ia menaruh tas, mandi, lalu berbaring. Namun matanya tidak bisa terpejam. Ia membayangkan lelaki tua tersebut datang setiap pagi selama dua puluh tahun, membawa kuas, kanvas, dan harapan yang semakin hari semakin sulit dijelaskan.

Bagaimana jika orang itu benar-benar pelukis hebat?

Bagaimana jika satu-satunya alasan namanya tidak dikenal adalah karena tak pernah ada orang yang tepat berhenti di trotoar tersebut?

Septian bangkit dan membuka laptop.

Ia memandangi seluruh folder ceritanya. Tanggal-tanggal lama memenuhi layar. Masing-masing pernah ia anggap sebagai karya yang akan mengubah hidupnya.

Untuk pertama kalinya, ia tidak membuka dokumen baru.

Ia kembali membuka Kota yang Menelan Matahari.

Cerita itu berkisah tentang sebuah kota pulau yang tumbuh tiga kali lebih maju daripada negara-negara tetangganya. Gedung menjulang, kendaraan melayang di atas laut, dan kapal-kapal datang dari seluruh dunia. Namun penduduknya perlahan kehilangan kemampuan untuk mengingat.

Pertama, mereka melupakan nama jalan.

Kemudian wajah tetangga.

Setelah itu, nama orang yang mereka cintai.

Pemerintah menyebutnya harga yang pantas untuk kemajuan. Sebab ingatan dianggap memperlambat manusia.

Tokoh utamanya adalah seorang penjaga arsip bernama Ranu. Setiap malam, Ranu diam-diam menuliskan kembali nama-nama yang dilupakan kota. Ia menulis di tembok, tiket kapal, bagian belakang tagihan listrik, bahkan di kulitnya sendiri.

Septian pernah meninggalkan cerita itu di bab enam.

Pagi tersebut, ia melanjutkannya.

Hari pertama, ia menulis tiga ratus kata.

Hari kedua, seratus dua puluh.

Hari ketiga, ia hanya mengganti satu kalimat.

Beberapa hari kemudian, jumlah pembacanya masih dua.

Septian tetap menulis.

Sebulan berlalu.

Pembacanya menjadi sebelas.

Ia tetap menulis.

Tiga bulan kemudian, salah satu pembaca meninggalkan komentar.

Ceritanya bagus, tapi bagian tengahnya lambat.

Dahulu, komentar semacam itu akan membuat Septian menghapus beberapa bab sekaligus. Kali ini ia membacanya, memikirkan apakah kritik tersebut benar, lalu memperbaiki dua adegan tanpa menghancurkan seluruh cerita.

Enam bulan kemudian, jumlah pembacanya mencapai seratus tujuh puluh.

Tidak meledak.

Tidak viral.

Tidak ada penerbit yang menghubunginya.

Septian tetap bekerja malam. Ia tetap menulis berita yang keesokan harinya dilupakan orang. Ia tetap pulang ketika matahari terbit dan menulis novel sebelum tidur.

Teman-temannya mulai bertanya untuk apa ia terus melanjutkannya.

“Seratus orang doang,” kata salah seorang dari mereka. “Capek-capek nulis setahun.”

Septian menatap angka tersebut di layar.

Seratus tujuh puluh orang memang terdengar kecil. Namun bila mereka dikumpulkan di dalam satu ruangan, mungkin ruangan itu akan penuh.

Untuk pertama kalinya, ia tidak menganggap pembacanya sebagai angka.

Mereka adalah orang-orang yang pernah masuk ke dunia buatannya.

Ia melanjutkan novel tersebut sampai tamat.

Bab terakhir terbit pada pukul empat lewat tujuh belas menit pagi. Tidak ada perayaan. Septian hanya menatap tulisan “SELESAI”, kemudian menyandarkan tubuh ke kursi.

Tiga tahun sebelumnya, ayahnya pernah bertanya mengapa ia begitu ingin menjadi penulis.

Septian menjawab ingin punya banyak pembaca.

Sebenarnya bukan itu jawabannya.

Jawaban sebenarnya terlalu memalukan untuk diucapkan.

Septian takut mati.

Bukan pada rasa sakit atau kegelapan setelahnya. Ia takut dunia berjalan seperti biasa setelah ia tidak ada. Lampu merah tetap berganti hijau. Orang-orang tetap berangkat kerja. Berita baru menggantikan berita lama. Namanya perlahan tidak lagi disebut.

Pada suatu hari, orang terakhir yang masih mengingatnya juga akan meninggal.

Setelah itu, keberadaannya seolah tidak pernah terjadi.

Karena itulah ia menulis.

Ia ingin meninggalkan bukti bahwa dirinya pernah berada di dunia ini dan pernah melihat manusia dengan caranya sendiri.

Dua minggu setelah novel itu tamat, sebuah surel masuk.

Seorang editor penerbit kecil meminta naskah lengkapnya.

Septian membaca surel itu berkali-kali. Ia bahkan memeriksa alamat pengirim karena mengira itu penipuan.

Naskahnya diterbitkan setahun kemudian.

Cetakan pertama berjumlah seribu eksemplar.

Pada acara peluncuran, hanya dua puluh tiga kursi yang terisi. Tujuh di antaranya ditempati teman Septian sendiri. Seorang pengunjung tertidur ketika sesi diskusi berlangsung.

Namun di baris paling belakang duduk seorang perempuan memakai jaket abu-abu. Setelah acara selesai, ia menghampiri Septian sambil membawa buku yang penuh penanda warna.

“Ayah saya kena demensia,” katanya. “Saya baca bagian ketika Ranu menulis nama ibunya di seluruh tembok karena takut lupa. Saya nangis semalaman.”

Septian terdiam.

“Saya pikir selama ini cuma saya yang takut suatu hari Ayah tidak mengenali saya,” lanjut perempuan itu. “Ternyata rasa takut itu bisa tinggal di dalam buku.”

Septian menandatangani bukunya. Tangannya gemetar lebih hebat daripada ketika pertama kali melihat naskahnya tercetak.

Malam itu, hanya satu buku yang terjual setelah acara.

Namun Septian pulang dengan perasaan bahwa seluruh tahun yang ia habiskan untuk menulis tidak sia-sia.

Setidaknya satu orang telah menemui dirinya sendiri di dalam dunia ciptaannya.

Beberapa bulan kemudian, perempuan berjaket abu-abu itu mengunggah ulasan. Tulisannya dibaca seorang pengelola klub buku. Klub itu membahas novel Septian, lalu salah satu anggotanya membuat video pendek tentang bagian ketika seluruh penduduk kota berdiri di depan cermin karena tidak lagi mengingat wajah sendiri.

Video tersebut ditonton tiga ribu kali.

Lalu lima puluh ribu.

Lalu dua juta.

Orang-orang mulai mencari Kota yang Menelan Matahari.

Toko buku kehabisan stok. Penerbit mencetak ulang. Nama Septian muncul di linimasa, koran, podcast, dan acara televisi. Orang-orang mengutip kalimat dari novelnya. Mereka memperdebatkan ending-nya. Sebagian membencinya. Sebagian menganggapnya jenius.

Septian membaca semuanya dengan perasaan tidak percaya.

Selama bertahun-tahun, ia mengetuk pintu yang tidak pernah dibuka. Kini pintu-pintu itu seperti roboh bersamaan.

Novel tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Korea, Jepang, Spanyol, dan Thailand. Foto sampulnya muncul di toko buku luar negeri. Pembaca dari kota-kota yang belum pernah didatangi Septian mengirimkan surat dan gambar buatan mereka sendiri.

Dua tahun kemudian, sebuah rumah produksi membeli hak adaptasinya.

Septian hadir di lokasi syuting pada hari pertama.

Di hadapannya berdiri kota yang selama bertahun-tahun hanya ada di kepalanya. Gang-gang sempitnya dibangun dengan ukuran sebenarnya. Ribuan nama tertulis di dinding. Para pemain memakai pakaian yang dahulu ia gambarkan seorang diri pada pukul empat pagi.

Ketika sutradara meneriakkan kata “mulai”, Septian menangis.

Film Kota yang Menelan Matahari kemudian diputar di bioskop berbagai negara. Wajah Septian muncul di layar festival internasional. Orang-orang yang berbeda bahasa menyebut namanya dengan aksen yang berbeda-beda.

Suatu pagi, setelah menghadiri pemutaran perdana di kotanya sendiri, Septian melewati taman kecil yang dahulu sering dilaluinya.

Pelukis tua itu sudah tidak ada.

Pedagang di sekitar sana mengatakan lelaki tersebut meninggal setahun lalu. Keluarganya membawa pulang seluruh lukisan yang tersisa.

Septian berdiri lama di trotoar kosong itu.

Ia teringat pelabuhan kelabu dan seorang buruh memakai jas hujan kuning. Ia tidak pernah mengetahui nama pelukis tersebut.

Lukisannya masih hidup dalam ingatan Septian, tetapi nama penciptanya telah hilang.

Beberapa minggu kemudian, Septian mendirikan ruang pamer kecil untuk seniman yang belum dikenal. Di dinding depannya, ia menaruh reproduksi lukisan pelabuhan berdasarkan foto lama di ponselnya.

Di bawahnya tidak tertulis nama.

Hanya satu kalimat:

“Bagus belum tentu ditemukan. Karena itu, berhentilah sebentar dan lihatlah.”

Septian tahu ketenaran tidak membuat manusia abadi. Suatu hari namanya mungkin memudar. Filmnya digantikan film baru. Bukunya dipindahkan ke rak paling belakang, lalu menguning di dalam kotak.

Namun ia tidak lagi takut seperti dahulu.

Ia telah menulis dunianya sampai selesai.

Dunia itu kini tinggal di kepala jutaan orang. Ada seseorang di negara lain yang menangis bersama Ranu. Ada anak muda yang mulai menulis setelah membaca novelnya. Ada keluarga yang membicarakan ingatan, kehilangan, dan orang-orang yang mereka cintai setelah keluar dari bioskop.

Septian akhirnya meninggalkan sesuatu yang dapat berjalan tanpa dirinya.

Ia adalah seseorang yang sangat takut dilupakan, lalu mengubah ketakutan itu menjadi dunia yang tidak mudah dilupakan.

Report Page