Monokrom
Lala MuchtarLangit menjingga, mentari mulai meninggalkan tempatnya, aku masih termangu ditepi pantai menikmati terpaan angin yang tak usai.
Tuk...
Sebuah bola mengejutkan lamunanku, kutoleh ke belakang, seorang lelaki berlari tertatih-tatih mengejar bola, mungkin.
"Hai, bisa aku ambil kembali bola tersebut?"
Pintanya, aku hanya menjawab dengan anggukan lalu memberikannya dengan kedua tanganku.
"Sudah mau malam, kau tak takut di sini sendirian?", tanyanya setelah melihat sekitar, ya, hanya kita berdua disini.
"Aku tidak sendiri", jawabku sembari tersenyum.
"Ahaha, jadi kau menyuruhku untuk menemanimu?", sahutnya setelah beberapa detik memikirkan apa yang dimaksud dari perkataanku.
"Yaa, jikalau kau tidak keberatan"
Ia akhirnya duduk disampingku, bergumam
"Tentu tidak".
Hari itu menjadi pertemuan pertama kami. Pertemuan pertama yang kami nikmati, bercerita sembari bersenda gurau, tertawa, hingga membuat rasa saling nyaman dan ingin terus bertemu.
Dan ternyata, takdir kami masih beriringan. Sehingga hari itu tidak menjadi pertemuan terakhir kami.
Hari itu merupakan alasan kami berada pada titik ini, titik saling mengisi.
Namaku Salma, diri yang sangat mencintai dirinya, Nakaya.
Kini, aku dan Nakaya semakin dekat. Setiap hari kami selalu bertemu dan berbagi keluh kesah.
Hingga pada suatu ketika...
"Sal!" panggil Kakakku, wajahnya tampak tegang dan kulitnya pucat.
"Ada apa, Kak?", tanyaku heran.
"Sal, hkss" isak Kakak. "Papa pergi", katanya lirih.
Aku terdiam, "Apa maksud Kakak?". Tanyaku sambil berusaha menepis arti terburuk.
"Papa pergi, Sal!", ia mengulang kalimatnya. Kali ini lebih keras sehingga kata-katanya bergema di kepalaku.
"Dan tidak ada yang bisa membawanya kembali..", gumamnya.
Atmosfer seakan runtuh saat mendengar itu, sesak. Aku menangis sejadi-jadinya.
Setelah Papa pergi, Nakaya pun ikut menjauh. Aku tak tau mengapa ia melakukan itu.
Semua seakan hancur. Papa pergi, dan ia tak kan mungkin kembali. Kondisi mental Mama yang memburuk dan keluarga yang semakin hancur semakin memperparah situasi.
Aku lelah.
Suatu malam ditaman kota, aku duduk sendirian sembari memegang lengan kiriku, menggoresnya perlahan. Setiap gores yang mengalirkan darah itu seolah menghilangkan bebanku sedikit demi sedikit. Ya, aku melukai diriku.
"Hei, kau sedang apa?", celetuk seseorang mengagetkanku.
Aku menengadah dengan mata sembabku, melihat pria tampan yang memegangi tangan kananku, menghentikan aktivitasku.
"Menjauhlah, ini tidak ada hubungannya denganmu", jawabku sembari menepis tangannya yang jelas nihil karena tenaga yang dia punya lebih besar dariku.
"Aku tau aku orang asing, namun jikalau kamu berkenan aku bantu, aku akan membantumu sampai titik terangmu dengan semampuku", ia menatapku lekat.
Seolah menunggu seseorang mengatakan itu tangisku mulai jatuh. Terisak. Pertahanan yang selama ini tak tergoyahkan kini runtuh, benar-benar runtuh, lalu ia perlahan menepuk kepalaku.
"Everything gonna be alright, aku tau ini berat, tapi mohon jangan lakukan ini lagi ya", ujarnya.
30 menit berlalu. Keheningan berpadu dengan dinginnya malam. Usai tangisku yang sejadi jadinya, yang tersisa hanyalah keheningan.
"Akandra", ia memecahkan hening diantara kami, memperkenalkan diri.
"Salma" balasku singkat.
Aku tak tau memiliki salah apa pada Nakaya sehingga ia tiba-tiba menjauh. Namun, ada satu nama yang selalu muncul akhir-akhir ini, Akandra.
Ia mengajariku banyak hal dan memberiku banyak kekuatan. Akandra selalu mendengarkan keluh kesahku. Terkadang, ia mengajakku berkeliling kota ditengah sepinya malam, ia mendatangi kediamanku lalu mengajakku berkeliling, mendengarkan musik klasik, dan bersenda gurau. Sederhana, namun membuatku merasa sangat berharga.
Hingga nama yang tak pernah lagi muncul itu kembali terdengar, Nakaya.
Kabarnya, dia berkencan dengan salah satu siswi populer disekolahku. Parahnya lagi, siswi itu merupakan sahabatku yang bahkan tahu jikalau aku menyukai Nakaya. Beginilah nasibku.
Aku mengalami depresi berat. Kehilangan Papa yang selalu mendukungku, Mama yang sudah sibuk dengan dunianya, dan saudara yang tak saling mengenal.
Sedangkan sahabat? Nyatanya setelah bersama Nakaya, ia tak pernah lagi menyapaku.
Saat duniaku kembali meredup, Akandra memberiku seekor anjing. Katanya agar aku merasa lebih baik. aku membawanya bermain dan melakukan banyak hal.
Tapi lagi-lagi mimpi buruk ku kembali terulang.
Akandra menjauhiku. Ketika aku bertanya, ia menjawab "Kau pikir selama ini aku suka padamu? Tentu saja tidak", ia tertawa kecil. "Aku berlaku seperti ini agar hal buruk tidak terjadi padamu, perasaan selebihnya? Tidak ada" jawabnya. "Minggu depan, aku sudah ada pelatihan militer. Oh ya, mungkin setelah pelatihan, aku akan mengadakan acara pernikahan dengan wanita yang ku idamkan, sebaiknya kita renggangkan jarak kita mulai sekarang", katanya ringan.
Aku tertawa dalam diam, bukankah jarak ini sudah renggang berbulan bulan lalu?
Sore ini, aku membawa anjing kesayanganku berjalan menyusuri kota. Sore yang sejuk, hatiku berdesir melihat sekitar. Suara kereta bersahutan, derum motor dan mobil memenuhi jalan besar. Aku melepas tali anjingku dan maju menyetarakan jalanku dengan langkah anjingku. Mulai berhitung, "sepuluh, sembilan, delapan, tujuh, enam, lima..."
Warga sekitar mulai berteriak, namun aku menepis semua suara.
"Empat, tiga, dua, satu"
Perlahan suara warga menghilang dari pendengaran ku, aku menggendong anjingku lantas melemparnya ke trotoar agar tidak ikut pergi bersamaku.
Tepat ketika aku melempar anjingku, mataku bertemu dengan mata Akandra. Aku tersenyum simpul, lalu semuanya menggelap. Sepersekian detik yang berharga.