Monokrom — Lembar 3

Monokrom — Lembar 3

Hanjoren & Arthelio

III. MONOKROM

Keesokan hari matanya terbuka secara larah, kelabu dalam penglihatannya menghilang luruh. Terlalu lama terlelap pulas dalam khalayan tak nyata, ternyata selama ini ia dikelabuhi bunga tidur yang datang sementara. Harsa dalam mimpi itu direnggut dalam sekejap, bagaikan senja berganti dengan malam. Insan yang terakhir ia lihat dalam mimpi itu tidak bisa ia temukan lagi di penglihatannya. Matanya sudah ia kerahkan ke penjuru kamar miliknya, tetapi hasilnya nihil. Tidak ada tanda-tanda dari lelaki yang melukisnya. 


Hanjoren ingat jelas rupa Arthelio saat bertanya di dalam mimpi. Perasaan gelabah mulai menyelimuti Hanjoren. Ia bertanya-tanya pada dirinya sendiri, apakah semua yang ia alami ini hanya sekedar bunga tidur belaka? Ia enggan mempercayai hal itu. Kenyataan pedih tanpa ada Arthelio disisinya. Hanjoren hanyalah si manusia menyedihkan yang baru merasakan memiliki seseorang yang istimewa dihatinya.


⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⋆⋆⋆


Lembar monokrom hitam putih

Aku coba ingat warna demi warna dihidupku

Tak akan 'ku mengenal cinta bila bukan karena hati baikmu


Intuisi membawa Hanjoren kembali ke Kota Tua, dimana tempat ini pernah menjadi saksi bisu pertemuan Hanjoren dengan Arthelio. Hanjoren menghembuskan napas panjang untuk meralat pikirannya sendiri. Ia masih berharap bahwa mimpi itu adalah nyata. Kakinya melangkah masuk lebih dalam ke kerumunan insan yang sedang berlalu lalang di depan Museum Fatahillah. Ia seperti terperangkap di pengulangan ruang dan waktu. Sebab, hal ini yang pernah terjadi sebelumnya di dalam mimpinya, bolehkah Hanjoren berharap jika Arthelio benar berada disini?


Hanjoren datang ketempat ini selain keinginannya, ia juga ingin mengenalkan lagunya pada khalayak ramai. Ia mempersiapkan gitar dan mulai memetiknya lembut diiringi dengan suara yang terdengar elok ditelinga. Alunan musik dari dirinya membuat ia dikelilingi oleh banyak orang yang ingin tahu suaranya. Hanjoren hanyut ke dalam suasana, ia sangat fokus sampai tidak menyadari jika ada seseorang yang sedang melukisnya dari jauh.


Diakhir puncak lagunya, para penonton menyambut Hanjoren dengan tepuk tangan yang meriah. Ia membungkukkan badan mungilnya lalu memamerkan gigi rapinya. Kemudian, ia beranjak dari tempat itu dan mencari bangku kosong agar ia bisa beristirahat untuk melepas penat selesai bernyanyi tadi. Namun, hal yang tidak terduga menyerangnya—


"Hei! Kamu hampir saja menduduki karyaku!" sergah pria jangkung dibelakangnya. Hanjoren terkesiap mendengar penuturan pria itu, ia menengok ke bawah dan melihat ada lukisan dirinya. Ia terkejut tetapi juga bernafas lega. Beruntunglah ia hari ini, jika tidak ia akan dituntut untuk membayar mahal kerugian atas tindakannya. 


Setelah itu, ia membalikkan badan lalu menatap pria yang sedang menghampirinya itu. Ia tampak tidak asing dengan gelagat dan penampilan pria itu. Mengukir sebuah senyuman diwajahnya dan tetesan air yang mulai menggenang dimatanya, Hanjoren kemudian berlari kecil menghampiri pria jangkung itu. Memeluk erat badan pria yang selama ini terus berada didalam pikiran dan juga mimpinya. Pria yang tidak lain bernama Arthelio itu memasang tampang bingung sekaligus menahan amarah itu berkata, "Apa yang kamu lakukan?" Arthelio mendorong pemuda berpipi gembil itu secara kasar dan membuat keseimbangan pemuda itu runtuh. Melihat Hanjoren yang hampir terjatuh, dengan sigap Arthelio menahan pinggangnya. Namun, tumpuan kaki Arthelio tidak begitu kuat sehingga insiden yang tidak terduga pun terjadi.


Mereka tersungkur ke atas tanah dengan posisi Arthelio menghimpit tubuh Hanjoren. Pemuda yang lebih muda dari Arthelio itu menatap kagum setiap lekuk wajah yang terpampang dekat dari matanya. Karena larut dalam suasana hening, sampai suatu ketika sebuah bola pun. "Arghh ... sialan." Arthelio memegang kepalanya sakit akibat terbentur dengan bola mainan yang entah darimana asalnya. 


Suasana seketika berubah menjadi canggung diantara keduanya. Merasakan perubahan itu, Hanjoren menggaruk tengkuknya yang tidak gatal lalu mengajak Arthelio untuk duduk dibangku tadi. Ia telah bertekad didalam hatinya jika ia bertemu dengan Arthelio, maka ia akan menceritakan segalanya. Setelah 30 menit, akhirnya Hanjoren selesai berbicara. Daritadi Arthelio hanya menyimak setiap perkataan Hanjoren tanpa berniat untuk menyela sedikitpun. Kemudian, setelah selesai barulah ia memulai untuk menanggapinya. Ia memegang tangan Hanjoren dan tersenyum lembut. "Mimpimu menjadi kenyataan, ya?" Arthelio terkekeh disela ucapannya. "Oh iya ..., maaf juga soal yang tadi," ujarnya.


Butuh waktu beberapa jam untuk membuat keduanya akrab. Bahkan, sekarang mereka sudah menjadi lebih sangat dekat hanya karena membicarakan hal tadi. Melihat suasana sudah mulai mencair, Hanjoren kemudian memberanikan diri untuk bertanya, "Kenapa kamu melukisku? Lio, bahkan kita tidak pernah bertemu sebelumnya." Mendengar penuturan temannya, Arthelio pun berujar, "Aku melihatmu bernyanyi ditengah kerumunan orang tadi. Lagu dan nyanyianmu memberikanku semangat atau inspirasi dalam melukis. Aku seperti melihat warna disetiap suara yang kau buat." Hanjoren melempar senyum ke arahnya, "Terimakasih karena kau telah melukisku."


END.

Report Page