Monokrom — Lembar 2

Monokrom — Lembar 2

By Hanjoren & Arthelio

⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀II. MONOKROM 

Dewi malam telah hirap dimakan sang raja binar yang gagah perkasa. Senandung bersaut muncul dari penguasa udara yang menemani alur semesta. Riuh gesek pohon rindang menari dan menyatu dengan sejuknya udara langit biru. Titik temu tertuju pada objek khayal tak jemu. Tetes tinta dari dawat pena berubah menjadi kuas diatas kanvas yang berwarna. 


"Aku membuat lukisan ini agar selalu bisa mengingatnya." Arthelio terkekeh saat melihat lukisannya. 


"Bagaimana bisa kamu melukis seseorang tanpa izin darinya, Tuan?" 


Arthelio sontak terkejut saat mendengar suara asing yang berasal tak jauh dari tempatnya melukis sebuah karya seni. Kemudian, ia membalikkan badan agar bisa melihat sosok yang membuatnya terkejut beberapa saat yang lalu. Matanya membulat tak menyangka bahwa objek yang baru saja dilukisnya sedang berada tepat di depan pandangannya. Beberapa kali ia mengerjapkan mata sembari bergantian menengok ke arah sosok tadi berdiam dan kembali menatap orang yang sedang berdiri dihadapannya. Lucunya, pemuda dengan lemak penuh dipipinya itu hanya memasang tampang datar lantas tidak kesal sedikitpun saat memergoki seseorang sedang melukis dirinya tanpa izin. Pemuda itu sedikit menunduk dan melihat lukisannya sembari berdecak kagum karena tampak sangat mirip dengan aslinya. Mulutnya tidak bisa terkatup saat menatap lukisan itu dalam jarak dekat. "Wah! tangannya sangat ajaib," batin Hanjoren.


Melihat yang lebih tua bertingkah kikuk karena tindakannya dengan spontan Hanjoren pun berkata, "Tuan tenang saja. Karena Tuan telah melukisku dengan baik, jadi aku tidak mempermasalahkan hal itu. Lagipula, lukisan ini terlihat sangat menarik." 


"Terimakasih atas pujiannya dan maaf sebelumnya aku melukismu tanpa izin. Aku terperangkap dengan visualmu yang begitu sempurna sehingga terlintas di benakku untuk mengabadikannya. Jariku bergerak dengan sendirinya menorehkan warna di atas kanvas putih ini," ucap Arthelio sembari tersenyum malu.


Pemuda yang lebih pendek dari Arthelio itu kemudian memasang wajah terkejutnya sembari berkata, "Tuan bilang apa? Apa aku salah dengar? Tapi, terima kasih.” 


Pipi gembul yang berisi itu merona merah bagaikan buah delima. Saat sedang asik larut dalam momen yang memalukan, Hanjoren teringat dengan ucapan Arthelio mengenai warna. Dengan rasa penasaran yang tinggi, ia pun tidak takut untuk bertanya.


"Tuan, aku ingin bertanya. Warna apa yang dimaksud tuan? Aku hanya melihat warna hitam dan putih pada kanvasmu." Mata Hanjoren bergerak menelisik kanvas yang ada di depannya.


"Kamu bercanda, ya? kamu berbakat juga jadi pelawak." Arthelio terbahak dan mengira bahwa ucapan Hanjoren itu hanya bualan semata agar suasana diantara mereka tidak canggung seperti sebelumnya. Pemuda dengan rambut berwarna brown sugar itu hanya menatap bingung ke arah Arthelio dengan kerutan dikeningnya.


"Aku memang tidak bisa melihat warna selain hitam dan putih."


Jantung pemuda jangkung itu seolah berhenti berdetak, ia ingin mengulang waktu untuk menarik kembali kata-kata yang tadi baru saja terlontar kepada pemuda manis itu. Arthelio baru saja membuat suasana lebih canggung dari sebelumnya. Hanjoren yang sadar tentang perilaku Arthelio yang tiba-tiba termenung itu pun berkata,


"Eh ... Tidak usah merasa bersalah. Kamu tidak tahu bahwa aku tidak sesempurna itu. Aku memiliki penyakit buta warna total dimana mataku hanya bisa melihat warna hitam, putih dan abu-abu. Justru maafkan aku tidak dapat melihat karyamu dengan sepenuhnya.” Air muka pada Hanjoren berganti menjadi murung.


"Hanjoren, maafkan aku dengan kata-kata sebelumnya. Mungkin untuk mengapus rasa bersalahku, bagaimana kalo kita berteman? Aku ingin melukismu menggunakan ekstensi warna, dengan kata lain menghabiskan setiap momen yang kita lalui bersama tanpa harus menunjukan wujud warna-warna tersebut. Bolehkah?" Tidak dapat dipungkiri jika Hanjoren sungguh bahagia atas permintaan teman barunya itu.

⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⋆⋆⋆

Lembaran foto hitam putih

Kembali teringat malam

Ku hitung-hitung bintang

Saat mataku sulit tidur

Suaramu buatku lelap


Semburat jingga telah berganti menjadi gulita yang diterangi lentera. Warna dunia seakan berubah menjadi hitam dalam hitungan detiknya. Suara belalang menandakan suasana malam yang sunyi. Saat ini, pelukis dan pemuda asing tadi sedang bercengkrama di salah satu kursi yang ada di Kota Tua. Arthelio sedang berusaha menahan kantuk yang menyerangnya secara tiba-tiba, tetapi ia tidak bisa memejamkan matanya. Mungkin ini efek samping dari kopi yang diminumnya sore tadi. Hanjoren yang sadar akan hal itu pun menyanyikan sebuah lagu pengantar tidur untuknya.


Suara lembut bagaikan gumpalan kapas yang bersentuhan dengan udara itu menemani malam gelap mereka. Saat Hanjoren asik dengan nyanyiannya, Arthelio pun kemudian membuka suara,


"Hei, bisakah kita berdua seperti ini selamanya?" Arthelio menatap Hanjoren dengan pandangan sendu, ia hanya bisa membalas dengan senyuman lalu melanjutkan nyanyiannya.


Kemudian, perlahan kesadarannya mulai menipis dan Arthelio memasuki alam mimpinya disusul oleh Hanjoren yang terlelap dengan gitar yang berada didekapannya. 


Inspired: Monokrom by Tulus.

Song fiction by (@DropsNectar x @HeartBleeding)


Report Page