Misi pencarian
Putih Abu-AbuSetelah beberapa menit yang terasa jauh lebih panjang daripada seharusnya, halaman rumah Chaewon yang semula dipenuhi tawa perlahan berubah menjadi lautan kegelisahan. Panggangan masih menyisakan bara yang belum benar-benar padam, beberapa tusuk sate bahkan masih tergeletak begitu saja di atas meja lipat tanpa ada yang berniat menyentuhnya lagi. Percakapan yang tadinya saling bersahutan kini berganti dengan bunyi notifikasi, nada sambung telepon yang tak kunjung diangkat, dan tatapan-tatapan cemas yang bergantian mengarah ke layar ponsel masing-masing.
Nama Xiyeon dan Jeno berkali-kali muncul di daftar panggilan. Pesan demi pesan terus dikirim ke grup, berharap salah satu dari mereka sekadar membalas dengan kalimat sederhana bahwa semuanya baik-baik saja. Namun, semakin lama waktu berlalu, ruang obrolan itu justru semakin sunyi. Tidak ada tanda centang biru, tidak ada suara dering yang dijawab, tidak ada apa pun selain dugaan-dugaan yang mulai berani memenuhi kepala setiap orang.
Junkyu yang sedari tadi mencoba tetap tenang akhirnya mengembuskan napas pelan. Ia melirik ke arah Soobin seolah memastikan bahwa mereka sedang memikirkan hal yang sama, lalu tanpa banyak bicara berjalan menuju motornya. Jemarinya meraih helm yang sejak tadi tergantung di spion, menepuk-nepuk debu tipis di permukaannya sebelum mengenakannya perlahan.
Gerakan sederhana itu seolah menjadi isyarat yang tidak perlu diucapkan keras-keras.
Seketika beberapa kepala menoleh bersamaan. Semuanya stanpa sadar mendapatkan sinyal yang sama: Jihoon, Sunwoo, Haechan, Jaemin, Felix, Eric, Soobin, Shotaro Jongho, Hyunjin bahkan Baejin yang sedari tadi masih memegang tas kesayangannya refleks berdiri hampir bersamaan.
"Lah, Jin." Hyunjin menoleh. "Ngapain lu bawa itu?"
Baejin ikut melihat kotak di tangannya.
"...Refleks."
"Buat apa?"
"Gatau."
"Yaudah bawa aja."
Chaewon yang mulai terlihat cemas menatap Chaeyoung.
"Gimana?"
Lia mengambil ponsel dari tangan Nagyung dan membaca ulang semua pesan itu dengan lebih teliti. Tidak ada emotikon. Tidak ada penjelasan lain. Hanya empat bubble chat yang semakin dibaca justru semakin membuat perutnya tidak enak.
"Cewek tetap di sini dulu," putusnya tenang. "Kalau semua ikut, nanti malah susah koordinasi. Kita standby di grup. Kalau mereka bales, langsung kasih tahu."
Chaeyoung langsung mengangguk. "Hati-hati, ya."
Soobin sudah memasang helm sambil masih menggerutu sendiri.
"Gue tadi udah bilang jangan bikin masalah."
"Lu ngomong gitu sih," balas Sunwoo.
"Ya mana gue tau didengerin semesta."
Junkyu menstarter motornya sekali, di jok belakangnya sudah ada Jihoon yang nemplok. "Gak usah banyak bacot. Jalan dulu."
Satu per satu motor keluar dari halaman rumah Chaewon. Suara knalpot memecah jalan kompleks yang mulai sepi, membawa kepanikan yang beberapa menit lalu bahkan tidak pernah terlintas di kepala mereka.
Di teras rumah, Lia masih memandangi layar ponselnya yang tidak kunjung bertambah notifikasi. Chaeyoung berdiri di sampingnya sambil menggenggam gelas plastik yang sedari tadi lupa diminum, sementara Nagyung tanpa sadar terus membuka-tutup ruang obrolan grup, berharap ada bubble baru yang muncul.
Namun, sampai beberapa menit berlalu… Tidak ada apa-apa, tidak ada balasan, tidak ada panggilan yang diangkat, tidak ada kabar sama sekali, dan justru keheningan itulah yang mulai membuat semuanya benar-benar panik.
Jalan menuju perumahan Semanggi tidak pernah terasa sejauh itu sebelumnya, padahal jaraknya tidak sampai lima belas menit dari rumah Chaewon. Bahkan beberapa dari mereka sudah beberapa kali melewati jalan tersebut saat pulang malam. Namun entah kenapa, malam itu setiap lampu jalan yang redup, setiap tikungan yang terlalu sepi, dan setiap sudut gelap di antara rumah-rumah warga terasa jauh lebih mengganggu daripada biasanya.
Mungkin karena kali ini mereka tidak sedang melewati jalan itu untuk pulang. Mereka sedang mencari dua orang yang, kalau dipikir-pikir lagi, memang punya bakat alami untuk membuat orang lain khawatir.
Motor mereka berhenti beberapa meter dari pintu masuk perumahan. Tidak ada suara selain deru mesin yang perlahan mati dan suara jangkrik dari taman kecil di pinggir jalan. Berbeda jauh dengan suasana rumah Chaewon yang penuh tawa, tempat itu terasa terlalu sunyi.
Baejin turun paling cepat. Helmnya bahkan belum dilepas ketika matanya langsung menyapu sekitar.
"Perum yang ini kan?"
Shotaro melihat nama perumahan yang disebut Xiyeon di grup. "Iya."
Jihoon menoleh ke kanan-kiri.
"...Kok serem?"
"Gue sih ada firasat," sahut Shotaro yang baru turun dari motor. "Tempat kayak gini tuh kalau ada orang bilang 'tenang aja aman', biasanya lima menit kemudian ada masalah."
"Jangan ngomong begitu." Tegur Jaemin pada Shotaro.
"Kenapa?"
"Bikin makin takut."
"Lah gue cuma ngomong fakta."
"Fakta apaan?"
"Fakta film horor."
"Lu diem." Semprot Jongho pada Shotaro yang hanya menghasilkan garukkan kikuk dari sang empu. “Tapi emang perum ini kan selalu sepi kalo malem coy!” si Shotaro masih membela diri.
Junkyu yang sedari tadi lebih fokus memperhatikan sekitar langsung mengangkat tangan. "Udah. Jangan ribut."
Kalimat itu cukup membuat mereka diam. Bukan karena Junkyu paling berkuasa, tetapi karena semua sadar situasinya memang tidak lagi bisa dibuat bercanda.
Mereka berpencar kecil. Tidak terlalu jauh, hanya memastikan masih bisa saling melihat. Lampu ponsel dinyalakan, menerangi jalan setapak yang semakin gelap ketika mereka masuk lebih dalam ke area perumahan, mencari dan menyoroti senter ponsel pintar mereka ke arah semak-semak.
"Xiyeon!"
Suara Soobin terdengar menggema.
Tidak ada jawaban.
"Jeno!"
Tetap tidak ada.
Beberapa detik berlalu.
Lalu hanya ada suara angin yang menggerakkan daun-daun di semak pinggir jalan.
Baejin yang berjalan paling belakang mulai melihat ke arah kanan-kiri dengan ekspresi serius. "Kita lapor satpam aja kali?"
Felix langsung menoleh.
"Tapi baru berapa lama, belum setengah jam."
"Iya sih, tapi gue bingung."
Eric menepuk bahunya.
"Lu bingung dari lahir, Jin."
"Bisa jadi."
"Itu bukan hal yang dibanggakan."
Sementara itu, Haechan dan Jihoon berjalan sedikit lebih jauh ke belakang perumahan. Mereka berhenti di dekat area kosong yang penuh rerumputan liar.
"Di sini?"
Jihoon mengarahkan cahaya ponselnya ke tanah.
"Gak tau."
Haechan menatap sekitar. "Kalau gue jadi orang jahat, gue gak bakal milih tempat ini." Terka dari Haechan membuat Jihoon mengerutkan dahi bingung, "Kenapa?"
"Karena gelap banget."
"Itu justru alasannya."
"..."
Haechan terdiam.
"Jangan bikin gue mikir."
Jihoon hampir tertawa, tetapi menahannya.
Di sisi lain, Soobin masih mencoba menelepon Jeno untuk kesekian kali.
Nada sambung.
Tidak diangkat, pada akhirnya ia menurunkan ponselnya dengan rahang sedikit mengeras.
"Masih gak angkat?" Sunwoo bertanya.
Soobin menggeleng. "Nggak."
"Xiyeon?"
"Nggak juga."
Suasana kembali diam.
Sampai akhirnya Yeji mengirim pesan dari grup.
Yeji: GUYS ADA UPDATE?
Tidak ada yang langsung menjawab.
Karena memang belum ada.
Di rumah Chaewon, para perempuan yang menunggu juga tidak kalah gelisah. Lia duduk di ujung sofa sambil terus melihat layar ponselnya. Berbeda dari biasanya yang selalu berusaha membuat suasana tenang, kali ini bahkan dia beberapa kali terlihat menarik napas panjang.
Chaeyoung duduk di sebelahnya, memanggil dengan nadda yang tenang, "Li."
"Hm?"
"Jangan mikir yang aneh-aneh dulu."
Lia mengangguk kecil. "Iya sih, tapi gue takut."
Kalimat itu membuat beberapa orang yang mendengar langsung diam.
Karena Lia bukan tipe yang gampang panik.
Kalau sampai Lia bilang takut, berarti situasinya memang cukup membuat semua orang khawatir.
Nagyung yang duduk di lantai sambil memegang kartu tarotnya tiba-tiba berdeham.
Semua menoleh.
"Jangan." Yeji langsung memotong.
"Apa?"
"Jangan keluarin tarot."
"Gue belum ngapa-ngapain."
"Tapi muka lu udah kayak mau buka portal."
Nagyung melihat kartu di tangannya.
"Padahal gue cuma penasaran."
"Jangan sekarang."
"Kenapa?"
"Karena kalau lu bilang kartunya jelek, gue yang pingsan duluan."
Nagyung akhirnya memasukkan kembali kartunya sambil menghela napas.
"Padahal belum tentu."
"Justru itu."
Kembali ke perumahan Semanggi Dua.
Sudah hampir dua puluh menit mereka mencari.
Tidak ada suara, tidak ada barang tertinggal, tidak ada tanda-tanda seseorang pernah berada dalam masalah. Jongho bahkan mulai berjalan mondar-mandir karena frustrasi.
"Gue sumpah kalau ternyata dia cuma—"
Kalimatnya berhenti ketika Junkyu mengangkat tangan. "Tunggu." Yang membuat semua langsung diam.
"Apa?" Junkyu menunjuk tanah di dekat semak. "Ada sesuatu."
Mereka semua mendekat dengan jantung yang berpacu cepat. Felix langsung menyorot senter ponselnya lebih terang.
"Ada apa?"
Pandangan Junkyu tertuju pada sesuatu yang nyaris tertutup rumpun rumput liar di pinggir semak. Tanpa banyak bicara ia berjongkok, menyingkirkan beberapa helai daun yang menutupi benda kecil itu. Gerakannya yang perlahan justru membuat suasana semakin mencekam. Tak seorang pun bersuara. Bahkan tanpa disadari, beberapa dari mereka ikut menahan napas, berharap benda yang sedang diambil Junkyu bukan sesuatu yang akan memperburuk dugaan mereka.
Lalu...
Junkyu berdiri kembali sambil mengangkat benda kecil itu di antara jemarinya.
"Gantungan kuncinya Jeno."
Benda itu bergoyang pelan tertimpa gerakan dari Junkyu dan terpantul terkena cahaya senter ponsel. Sebuah gantungan kunci kecil bergambar karakter anime idol perempuan berambut merah muda dengan mata yang terlalu besar dan pita yang hampir memenuhi kepalanya—jenis gantungan kunci yang begitu mencolok hingga mustahil tertukar dengan milik orang lain. Terlalu norak, terlalu mencolok, dan... terlalu Jeno. Hampir seluruh isi tongkrongan hafal benda itu karena Jeno sering menjadikannya bahan pamer sekaligus bahan ejekan.
Hening.
Semua mata bergantian menatap gantungan kunci itu, lalu ke arah semak di hadapan mereka.
Jihoon mengembuskan napas panjang sambil mengusap wajahnya.
"Anjir..."
"Ini beneran punya Jeno," gumam Sunwoo pelan.
Soobin langsung mendekat, memastikan dengan matanya sendiri sebelum refleks menepuk bahu Junkyu. "Iya, anjir. Yang kemarin kita bully gara-gara katanya 'waifu pembawa hoki' itu, kan?"
Junkyu mengangguk pelan.
"Iya."
Entah kenapa, kepastian kecil itu sama sekali tidak membuat mereka lega. Justru sebaliknya. Kalau gantungan kuncinya benar-benar ada di sini, berarti setidaknya Xiyeon dan Jeno memang sempat berada di tempat itu.
Shotaro menutup wajahnya dengan satu tangan. "Gantungan kuncinya doang?"
"Tadi kan bisa aja petunjuk penting."
"Iya penting."
"Tapi bukan orangnya."
Tidak ada yang membantah karena mereka semua tahu satu hal yang sama. Mereka memang lega, namun tetap saja... ada satu pertanyaan yang belum terjawab. Kalau gantungan kuncinya ada di semak... lalu kemana Xiyeon dan Jeno?
Mereka masih saling berpandangan ketika tiba-tiba keheningan itu dipecahkan oleh bunyi notifikasi dari ponsel Junkyu. Suaranya terdengar cukup nyaring di tengah jalan yang sepi hingga membuat semua kepala refleks menoleh ke arahnya.
Junkyu segera mengangkat layar ponselnya.
Grup mereka.
Pengirimnya: Xiyeon.
Tanpa perlu dikomando, semua orang spontan merapat mengelilinginya. Bahu saling berhimpitan, beberapa bahkan berjinjit agar bisa ikut melihat isi pesan di layar yang tidak seberapa besar itu. Tidak ada yang bersuara. Hanya deru napas pelan dan tatapan penuh harap yang tertuju pada satu titik yang sama.
Junkyu membaca pesannya dalam diam.
Lalu diam itu memanjang.
Tidak ada yang langsung bereaksi.
Mereka membaca ulang sekali lagi, mencoba memastikan bahwa tidak ada kalimat yang salah mereka pahami.
Sunyi.
Lima detik.
Sepuluh detik.
Jihoon menjadi orang pertama yang mengangkat kepalanya. Keningnya berkerut, ekspresinya seperti seseorang yang baru saja membaca sesuatu yang masuk akal, tetapi entah mengapa tetap terasa tidak masuk akal.
"...Apaan?"
Tak ada yang menjawab.
Semua masih sibuk mencerna isi pesan itu di kepala masing-masing.
Lalu perlahan satu fakta mulai tersusun.
Xiyeon baik-baik saja.
Jeno juga baik-baik saja.
Tidak ada penculikan. Tidak ada perkelahian. Tidak ada skenario buruk seperti yang sejak tadi memenuhi pikiran mereka. Kepanikan hampir satu jam terakhir ternyata berawal dari sebuah kunci motor yang dilempar ke semak-semak dan cara Xiyeon menyampaikan ceritanya yang sukses membuat semua orang salah paham.
Hyunjin langsung mengembuskan napas panjang sambil menepuk dahinya sendiri.
"Anjir..."
Eric menengadah ke langit malam lalu tertawa pendek. "Gue kira kita bakal nolongin orang." Tawa yang mirip seperti karakter anime saat tersakiti. (terlalu di anime-animekan)
"Ga bakal gue khawatirin dua orang itu lagi." Soobin
"Taunya cuma gara-gara cari kunci, anjirr" sambung Shotaro lirih.
Sunwoo menggeleng pelan. "Gue udah nyiapin diri buat segala kemungkinan."
"Segala kemungkinan kecuali ini," sahut Felix.
Bahkan Junkyu yang sejak tadi paling tenang hanya bisa mengusap tengkuknya pelan. Rasa sesak yang sejak tadi memenuhi dada akhirnya luruh menjadi kelegaan, disusul rasa kesal yang datang belakangan. Mereka baru saja mengacak satu perumahan, memanggil nama dua orang berkali-kali, dan membayangkan berbagai kemungkinan buruk...
...padahal yang hilang hanyalah kunci motor.
"Udahlah," ujar Junkyu akhirnya seraya mengunci layar ponselnya. "Balik."
Tidak ada yang membantah.
Mereka kembali menaiki motor masing-masing. Jalan pulang yang tadi terasa mencekam kini berubah menjadi perjalanan yang dipenuhi gelengan kepala, umpatan pelan, dan tawa miris karena menyadari betapa jauhnya imajinasi mereka melompat malam itu.