Mimpi atau...?
Dulcia Ian peach mellowHal pertama yang disadari Carmen adalah baunya.
Manis.
Busuk.
Salah.
Aroma itu melekat di udara saat ia berlari di jalanan kosong, napasnya terengah, jantungnya berdebar tak teratur. Di belakangnya, terdengar langkah kaki yang diseret perlahan—tidak berlari, tidak mengejar, hanya… mengikuti.
“Ian!” teriaknya, panik. “Ian, kamu di mana?!”
Sosok muncul di kejauhan.
Ian.
Carmen langsung berlari menghampirinya, menggenggam lengannya erat. “Ian—syukurlah. Ada orang-orang… mereka aneh—”
“Aku tahu, cece,” jawab Ian pelan.
Terlalu tenang.
Namun Carmen tidak sempat memikirkannya.
Mereka berlari bersama.
Jalanan tidak lagi kosong.
Sosok-sosok berdiri di mana-mana—di bawah lampu jalan, di dekat mobil, di sudut bangunan. Tubuh mereka bergerak lambat, kaku, tetapi kepala mereka selalu berputar setiap kali Carmen lewat.
Menatapnya. Hanya dia.
Salah satu dari mereka melangkah mendekat—
Carmen refleks mundur, menunggu serangan—
Namun sosok itu hanya berbisik:
“Jangan pergi…”
Perut Carmen terasa mual.
“Ian… mereka tidak menyerang…”
“Mereka akan menyerang kalau kamu berhenti,” jawab Ian.
Mereka tidak berhenti.
Namun para zombie semakin dekat.
Bukan lebih cepat—lebih dekat.
Seolah jarak tidak berarti.
Seolah mereka sedang ditarik.
Tiba-tiba, sebuah tangan mencengkeram pergelangan Carmen.
Dingin.
Carmen menjerit, berusaha melepaskan diri—namun wanita itu tidak menggigit, tidak mencakar.
Ia hanya menatap.
Air mata mengalir dari matanya yang kosong.
“Kamu ingat aku,” bisiknya.
Napas Carmen tersendat.
“Aku tidak—lepaskan—”
Ian segera menariknya. “Jangan dengarkan, cece.”
Mereka berlari lagi.
Namun kali ini, dada Carmen tidak hanya dipenuhi rasa takut.
Ada sesuatu yang terasa… mengenali.
Mereka terpojok di sebuah gang sempit.
Para terinfeksi perlahan memenuhi jalan keluar.
Tidak berteriak.
Tidak menyerbu.
Hanya berjalan pelan.
Dan berbisik.
“Ian…” suara Carmen gemetar. “Kita terjebak.”
Ian berdiri di depannya.
Masih tenang.
Terlalu tenang.
“Mereka tidak ingin membunuhmu, cece.”
Carmen menatapnya. “Lalu mereka mau apa?!”
Hening sejenak.
Kemudian—
“Kamu.”
Sosok-sosok itu mendekat.
Satu bersandar di bahunya.
Yang lain menggenggam tangannya.
Bukan menyerang.
Menahan.
Seolah tidak ingin kehilangan.
“Kamu tinggal…”
“Jangan pergi…”
“Kami menemukanmu…”
Carmen menggeleng, panik. “Ian, hentikan mereka—tolong—”
“Aku tidak bisa.”
“Kenapa?!”
Ian akhirnya menatapnya sepenuhnya.
Lembut.
Asing.
“Karena kamu yang membuat mereka seperti ini, cece.”
Segalanya terasa membeku.
“Apa…?”
“Kamu tidak ingin sendirian,” lanjut Ian pelan. “Jadi kamu mempertahankan mereka.”
Pegangan tangan-tangan itu menguat—bukan menyakitkan, tetapi putus asa. Seolah mereka bergantung padanya untuk tetap ada.
“Kenapa rasanya nyata sekali?” Carmen hampir menangis.
Ian mendekat dan memegang wajahnya dengan lembut.
“Karena kamu masih di dalamnya.”
“Di dalam apa?”
Ian menatapnya, suaranya melembut—
“Your worst nightmare.”
Dunia runtuh.
Sosok-sosok itu kabur.
Aroma manis itu berubah menyesakkan.
Carmen memeluk Ian erat. “Ian, jangan tinggalkan aku—tolong—”
“Aku tidak akan,” jawab Ian.
“Janji?”
“Aku di sini, cece.”
Carmen terbangun dengan napas terengah.
Kamarnya gelap.
Sunyi.
Normal.
Ketukan pelan terdengar dari pintu.
“Cece?” suara Ian. Nyata. Hangat. “Are you okay?”
Carmen menelan ludah. “Iya…”
Ian masuk dan duduk di sampingnya. “Mimpi buruk?”
Carmen mengangguk.
Ian merapikan rambutnya dengan lembut. “Tenang. Aku di sini, cece.”
Carmen bersandar padanya.
Aman.
Namun jari-jarinya mencengkeram lengan Ian sedikit lebih erat.
Karena dalam mimpi itu—para zombie tidak pernah mengejar. Mereka hanya mengikuti.
Dan Ian tidak pernah sekali pun terlihat takut.