Malam Besok dan Seterusnya
BLACKOPIUMAndy baru mematikan rokok ketika Villia keluar dari bar.
“Lama kali,” kata Andy.
“Antre toilet.”
Andy melihat keringat di pelipis Villia.
“Di dalam panas?”
“Panas, berisik, orang penuh. Macam-macam.”
Andy melihat botol bir di tangan Villia.
“Kau beli lagi?”
“Untuk di kamar.”
“Kirain mau pulang.”
Villia berhenti di depannya. “Aku pernah bilang mau pulang?”
Andy tidak menjawab. Jalan di depan bar masih ramai. Beberapa orang berdiri dekat pintu, sebagian merokok, sebagian menunggu kendaraan. Udara malam Batam terasa lembap, membawa campuran bau asap, parfum, dan makanan dari kedai di ujung jalan. Dari arah Harbour Bay, angin laut datang sebentar lalu hilang lagi.
“Kau masih mau antar aku?” tanya Villia.
“Kalau kau tahu mau ke mana.”
“Kamarmu di Nagoya, kan?”
Andy menatapnya. “Kau serius?”
“Kalau tak serius, dari tadi aku sudah pesan taksi.”
Villia berjalan lebih dulu menuju mobil. Andy membuang rokoknya ke asbak kecil di samping trotoar, lalu mengikuti. Ia tidak bertanya lagi. Pertanyaan yang terlalu banyak hanya akan membuat semuanya terasa lebih rumit dari yang sebenarnya.
Di dalam mobil, Villia membuka jendela sedikit. Musik dari ponsel Andy terdengar pelan, hampir tenggelam oleh suara kendaraan.
“Kau tidak ganti lagu?” tanya Villia.
“Kenapa?”
“Sedih kali.”
“Tak suka?”
“Bukan tak suka. Cuma macam lagu orang habis putus.”
“Aku memang habis putus.”
Villia menoleh. “Bila?”
“Sudah lama.”
“Kalau sudah lama, kenapa masih dengar lagu macam itu?”
Andy tersenyum tipis. “Sebab playlist-ku malas diperbarui.”
Villia tidak membalas. Ia hanya melihat lampu-lampu Nagoya yang bergerak di luar jendela. Pusat kota masih hidup meski sudah lewat tengah malam. Toko-toko mulai menutup pintu, tetapi beberapa tempat makan dan bar tetap terang.
Kamar Andy berada di sebuah hotel kecil tidak jauh dari Nagoya Hill. Tidak mewah, tetapi bersih dan cukup tenang. Begitu masuk, Villia menaruh botol bir di meja dan melepas sandal.
“Kamarmu berantakan kali,” katanya.
“Baru tahu?”
“Iya, setelah nampak dengan mataku, baru aku tahu.”
Andy mengambil dua gelas dari lemari kecil. Villia duduk di tepi ranjang sambil memperhatikan gerakannya.
“Kau selalu bawa orang ke sini?” tanyanya.
“Ngga.”
“Jawaban aman.”
“Memang engga.”
Villia menerima gelas yang disodorkan kepadanya. Jari mereka bersentuhan sebentar. Tidak ada yang langsung menarik tangan. Andy merasakan ujung jari Villia masih menempel di tangannya, seakan-akan ia sengaja membiarkannya begitu.
Villia memandangnya.
Andy balas memandang.
Ada banyak hal yang bisa dikatakan, tetapi tak satu pun terasa perlu. Mereka sudah menghabiskan malam dengan bicara setengah-setengah, mengatakan hal penting secara tidak langsung, lalu berpura-pura tidak mengerti.
Villia menaruh gelasnya.
Andy mengikutinya.
Ia berdiri di depan Villia, cukup dekat untuk melihat sisa warna lipstik di bibirnya. Villia mengangkat wajah. Ekspresinya tidak lagi santai seperti di bar. Ada sedikit ragu, tetapi bukan keraguan untuk pergi. Lebih seperti seseorang yang tahu keputusan yang akan diambilnya mungkin akan merepotkan, tetapi tetap ingin mengambilnya.
Andy mengangkat tangan dan menyentuh rambut di dekat telinganya.
Villia menahan napas.
“Kalau berubah pikiran—” kata Andy.
“Jangan banyak cakap.”
Villia menarik kaus Andy dan mencium dia.
Ciuman pertama terasa cepat, hampir terburu-buru. Andy sempat diam, memberi waktu untuk memahami apa yang sedang terjadi. Villia menempelkan bibirnya sekali lagi, kali ini lebih lama. Tangannya berpindah dari kerah kaus ke belakang leher Andy, menariknya lebih dekat.
Andy memeluk pinggang Villia. Tubuh mereka bertemu, dan ia merasakan Villia mengembuskan napas pelan di antara ciuman. Ada rasa gugup yang berusaha ia sembunyikan. Andy juga tidak setenang yang ia tunjukkan. Dadanya berdebar, telapak tangannya hangat, dan untuk beberapa detik ia lupa bahwa hubungan mereka biasanya penuh jarak.
Villia memiringkan kepala. Ciuman mereka menjadi lebih dalam, lebih lambat. Ia merasakan tangan Andy bergerak di punggungnya, tidak kasar, tetapi cukup kuat untuk membuatnya merasa diinginkan. Hal itu membuatnya sedikit takut. Bukan karena Andy menyentuhnya, melainkan karena ia menyukai cara Andy menyentuhnya.
Andy berhenti sesaat ketika Villia memejamkan mata.
Villia membuka mata dan menatapnya. “Kenapa?”
“Aku cuma mau liat wajahmu.”
“Jangan tengok macam itu.”
“Macam mana?”
“Macam aku bakalan lari.”
Andy menyentuh pipinya. “Kau mau lari?”
Villia menggeleng.
Andy kembali menciumnya. Kali ini Villia merangkul lehernya lebih erat. Ia merasakan ujung hidung Andy menyentuh pipinya, napasnya yang hangat, dan jeda-jeda kecil ketika mereka saling mencari posisi yang nyaman. Andy tidak lagi tampak seperti lelaki yang selalu siap pergi. Di dalam pelukan itu, ia terlihat lebih terbuka, bahkan sedikit rapuh.
Villia memejamkan mata lagi. Ia membiarkan dirinya menikmati saat itu tanpa memikirkan besok, tanpa bertanya apa arti semua ini, dan tanpa mencoba menebak apakah Andy akan berubah setelah pagi datang.
Andy mencium keningnya, lalu sisi wajahnya. Villia memegang wajahnya dengan kedua tangan dan menciumnya lagi, lebih lembut. Mereka bergerak perlahan sampai bagian belakang lutut Villia menyentuh tepi ranjang.
“Kau masih yakin?” tanya Andy.
Villia menatapnya dekat sekali. “Kalau tidak, dari tadi sudah kutendang.”
Andy tertawa kecil. Kali ini Villia ikut tersenyum.
Satu tarikan dan celana Andy lepas begitu saja. Villia sempat membuka mulut sedikit ketika melihat bagian yang menonjol disana. Ia menelan ludah, lalu kembali melucuti Andy. Kali ini atasan Andy yang lepas. Dadanya yang bidang membentuk celah menggiurkan bagi Villia. Tangan-nya merayap perlahan disana, sebelum kemudian ditarik Andy menuju mulutnya.
Andy menghisap jari Villia, menyedotnya, menikmatinya. Villia menutup mata, ia merasakan setiap inci tubuhnya menjadi panas, hingga ke bagian-bagian yang terlipat.
Andy menarik Villia sekali lagi, ia memagut bibir Villia, lalu turun ke leher, belahan payudara, pusar perut sampai ke selangkangan.
"Buka.." bisik Andy, pelan tapi tegas.
Villia tidak menjawab, tapi ia menanggalkan setiap benang yang ada di tubuhnya. Kali ini giliran Andy yang menelan ludah.
Posisi mereka berganti, Villia yang tidur di ranjang, dan Andy yang berada di atasnya. Kedua kaki Villia spontan memeluk leher Andy dan menenggelamkan kepalanya ke selangkangan. Bukannya mengelak, Andy justru menarik kedua paha Villia semakin rapat, bersamaan dengan irama lidahnya di dalam milik Villia.
Gila!
pikir Villia dalam hati. Andy seperti orang yang sangat-sangat berpengalaman. Perut Villia terasa geli, ia ingin berteriak tapi tertahan.
Beberapa menit berlalu, Villia memejamkan mata tapi mulutnya terbuka lebar. Lidahnya menjulur. Matanya terbuka sesaat, kehilangan fokus, lalu kembali terpejam ketika sensasi itu mencapai puncaknya. Andy menghisap seluruh cairan yang keluar.
Andy mengangkat kepala sambil mengusap bibirnya dengan lidah menggunakan gerakan memutar.
"Kamu manis banget Villia.." ucap Andy sambil berusaha memasukkan miliknya ke dalam Villia. Tidak begitu sulit, keduanya sudah begitu basah. Tubuh Villia menegang. Milik Andy terasa lebih besar dibandingkan pria-pria yang pernah bersamanya. Villia memejamkan mata, menunggu rasa nyeri itu perlahan mereda.
"Fuck! Bisa masuk tapi rasanya sempit banget, ngejepit gitu" Andy menggerakkan badannya maju mundur dengan ritme yang pas.
"bawel.." ucap Villia pendek, lalu menarik bibir Andy ke bibirnya. Kali ini tak hanya bibir, lidah merekapun beradu panas.
Andy mendekat dan mencium lehernya, meninggalkan jejak-jejak merah disana. Villia menahan napas, lalu tanpa sadar mencengkeram bahunya. Ia ingin menyuruh Andy melambat, tetapi lebih takut lelaki itu benar-benar berhenti.
Malam itu mereka menghabiskan waktu bersama sampai lampu kamar tetap menyala tanpa ada yang peduli. Ketika akhirnya tidur, sprei sudah kusut dan tidak berbentuk, beberapa jejak malam mereka menetes entah dimana, sementara pakaian mereka tercecer di lantai.
Villia menariknya lebih dekat, seolah jarak beberapa senti saja cukup untuk membuat Andy berubah pikiran. Ia tahu lelaki itu akan pergi ke Singapura minggu depan. Namun malam ini, setidaknya, Andy masih berada di pelukannya.
Pagi
Andy terbangun karena suara kendaraan dari jalan raya. Cahaya matahari masuk lewat celah tirai. Batam sudah panas bahkan sebelum pukul delapan; udara di kamar terasa berat dan lembap.
Villia masih tidur di sampingnya. Rambutnya menutupi sebagian wajah, satu tangan berada di atas bantal Andy. Ia terlihat berbeda ketika tidak sedang memasang ekspresi sinis.
Jari Andy memelintir pelan puting Villia dengan usil, Villia langsung menepis tangannya tanpa membuka mata.
“Tangannya diam.”
Andy tertawa pelan. “Kirain masih tidur.”
“Tidur, bukan mati.”
kemudian Andy bangun pelan untuk mengambil rokok.
“Jangan di dalam,” kata Villia tanpa membuka mata.
“Belum juga aku nyalain.”
“Kalo ga kubilang, pasti kau nyalainkan.”
Andy mengambil celana boxernya dan keluar ke balkon kecil. Ia menyalakan rokok sambil melihat atap-atap bangunan di sekitar Nagoya. Dari bawah terdengar suara motor, pedagang sarapan, dan orang memanggil kendaraan.
Beberapa menit kemudian Villia muncul di pintu balkon, mengenakan kemeja Andy dan celana dalam hitamnya.
“Kegedean kemejanya”
“Bajuku ada di lantai.”
“Itu salahku?”
“Sebagian.”
Villia mengambil rokok dari tangan Andy, mengisapnya sekali, lalu mengembalikan.
“Pahit,” katanya.
“Rokok memang begitu.”
“Masih kau hisap.”
Andy menatapnya. “Kau juga.”
Villia berdiri di sampingnya. Bahu mereka bersentuhan. Tidak ada percakapan yang perlu dipaksakan. Andy mematikan rokok setelah beberapa hisapan, lalu menyentuh jari Villia dengan jari kelingkingnya.
Villia tidak menjauh.
Andy menggenggam tangannya. Villia menoleh. Tatapan mereka bertemu dalam jarak dekat, masih dengan sisa kantuk dan kebingungan dari malam sebelumnya. Andy menciumnya pelan. Villia membalas sambil tersenyum kecil, lalu menyandarkan dahi ke bahunya.
“Jangan mulai lagi,” katanya.
“Kau yang datang ke balkon.”
“Untuk merokok.”
“Cuman pake celana dalem?”
“Kan ga keliatan dari bawah.”
Andy mencium pelipisnya. “Alasan saja.”
Villia mencubit lengannya, tetapi tidak benar-benar marah.
Kamar mandi
Mereka mandi bergantian, tetapi Villia keluar lebih dulu dan lupa membawa handuk. Ia mengetuk pintu kamar mandi.
“Ndy.”
“Ya?”
“Ambilkan handuk.”
“Di kursi.”
“Tak nampak.”
Andy membuka pintu sedikit dan menyerahkan handuk. Villia mengambilnya, tetapi tidak langsung pergi. Mereka saling memandang melalui celah pintu.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
Pintu kamar mandi sedikit terbuka, menampilkan sebagian tubuh Villia yang mengkilap sehabis mandi.
“Kau mau apa?” tanya Andy.
“Tidak ada.”
“Jadi?”
“Pepeklah” Ia lalu mulai mengusap tubuhnya dengan handuk.
Andy membuka pintu lebih lebar. Uap hangat keluar dari kamar mandi. Villia masih berdiri di sana dengan rambut basah dan ekspresi yang tidak lagi bisa berpura-pura biasa.
Andy menyentuh bahu Villia. Ia membantu mengusap rambut itu dengan handuk. Villia menatap tangannya, lalu kembali menatap wajah Andy. Andy menyentuhnya tanpa menuntut seks, tapi itu yang bikin Villia lebih terangsang. Villia sadar, perhatian Andy tidak berhenti setelah malam menggairahkan yang mereka lewati.
Kali ini ia yang masuk lebih dulu.
Mereka berciuman di bawah suara air yang jatuh dari pancuran. Villia menempelkan punggung ke dinding, sementara Andy merangkul pinggangnya. Air mengalir di rambut dan wajah mereka, membuat mereka sesekali harus berhenti untuk mengambil napas. Ciuman itu tidak terburu-buru, tetapi lebih berani dibanding malam sebelumnya. Villia menarik Andy mendekat, lalu menyembunyikan wajah di lehernya ketika rasa gugup kembali muncul.
Tubuh mereka bertemu, licin, tanpa halangan, memberi kehangatan di tengah guyuran air. Villia mencondongkan badannya ke tembok, mencondongkan tubuhnya, memberikan bokongnya untuk dinikmati Andy. Andy menepuknya, tidak kuat, tapi cukup menghasilkan bunyi yang cukup nyaring. Sejurus kemudian, tubuh Andy dengan mudah menyatu dengan milik Villia, mungkin karena licin sehabis mandi.
Tempo yang tidak terburu buru, kecipak air dengan ritme teratur, dan rasa aneh yang dimiliki keduanya, membuat segalanya jauh lebih nikmat.
"Ahh!" Andy menarik miliknya lalu menyelesaikannya dengan gerakan cepat. Villia berjongkok sambil menjulurkan lidah di hadapan Andy tanpa aba-aba. Kedua mata mereka bertemu. Kali ini, tak ada setetespun yang lolos, Villia mengejar tiap cairan yang lepas dari milik Andy dengan mulutnya. Ia menikmati setiap sisa kenikmatan.
Andy mencium keningnya.
“Masih mau kabur?” bisiknya.
Villia menggeleng. “Jangan tanya terus.”
“Baik.”
“Dan jangan panggil aku macam anak kecil.”
“Aku gak panggil apa-apa.”
“Bagus.”
Mereka tertawa pelan, lalu kembali berciuman. Pintu kamar mandi tetap terbuka, membawa semilir angin dari jendela balkon.
Sarapan
Mereka akhirnya keluar menjelang siang dan makan di kedai sederhana dekat daerah Jodoh. Villia memesan nasi goreng, Andy memesan mi goreng dan kopi.
“Teh obeng,” kata Villia kepada pelayan. “Kurang manis.”
Andy menatapnya. “Teh obeng pagi-pagi?”
“Kenapa? Kau mau ngatur?”
“Tak.”
“Bagus.”
Di bawah meja, ujung kaki Villia menyentuh kaki Andy. Awalnya Andy mengira tidak sengaja, tetapi Villia tidak menariknya. Ia malah menggeser kakinya sedikit, menyentuh pergelangan kaki Andy dengan ujung jari kakinya.
Andy melihat ke bawah, lalu menatap Villia.
“Apa?” tanya Villia.
“Tak ada.”
“Jangan senyum begitu.”
“Aku ga senyum.”
“Kau senyum.”
Andy menendang kakinya pelan. Villia membalas. Mereka makan sambil pura-pura tidak memperhatikan satu sama lain, tetapi setiap beberapa detik mata mereka bertemu.
Setelah sarapan, Villia menjadi lebih diam.
Andy meletakkan sendok. “Kenapa?”
“Tak ada.”
“Kau dari tadi bilang begitu.”
Villia menatap jalan. “Malam tadi jangan dianggap macam-macam.”
Andy mengangguk.
Villia terlihat sedikit kecewa melihat jawaban itu terlalu mudah.
“Maksudku,” lanjutnya, “aku tak mau nanti kau tiba-tiba hilang.”
Andy memandangnya. “Aku tak bilang mau hilang.”
“Kau memang tak pernah bilang apa-apa. Itu masalahnya.”
Andy tidak segera menjawab. Ia bukan orang yang pandai menjanjikan sesuatu. Selama ini ia menganggap diam sebagai cara paling aman untuk menghindari kekecewaan. Namun melihat Villia sekarang, ia sadar diam juga bisa menjadi bentuk lain dari sikap pengecut.
“Aku ada kerja di Singapura minggu depan,” katanya.
Villia mengangguk. “Aku tahu.”
“Dua minggu.”
“Lama.”
“Kalau kau mau, kita tetap bisa bicara.”
Villia memainkan sedotan di gelasnya. “Kalau aku tak mau?”
“Ya sudah.”
Villia menatapnya tajam.
Andy menghela napas. “Maksudku, aku akan tetap menghubungi kau. Kau yang memutuskan mau balas atau tidak.”
“Bunyinya seperti orang mau pergi jauh.”
“Aku memang pergi.”
“Bukan itu.”
Andy meraih tangannya di atas meja. Villia membiarkannya.
“Aku tidak janji akan jadi orang yang tiba-tiba romantis,” kata Andy. “Aku juga tak pandai cerita panjang. Tapi aku tidak akan pura-pura semalam tidak terjadi.”
Villia menunduk melihat tangan mereka.
“Aku tidak butuh kau romantis,” katanya. “Cuma jangan menyusahkan.”
“Itu susah.”
“Memang.”
Andy tersenyum. Kali ini senyum itu tidak dipaksakan, dan Villia tidak menyuruhnya berhenti.
Pulang
Sore harinya mereka berkendara ke arah Barelang. Jalanan lebih lengang, langit cerah, dan angin dari laut masuk melalui jendela yang terbuka. Mereka berhenti sebentar di dekat jembatan pertama, membeli air mineral dan gorengan dari penjual di pinggir jalan.
Villia berdiri menghadap laut. Andy datang dari belakang dan memeluknya. Ia menyandarkan dagu di bahu Villia.
“Jangan terlalu nyaman,” kata Villia.
“Kenapa?”
“Nanti kau susah balik.”
Andy memeluknya sedikit lebih erat. “Aku memang belum mau balik.”
Villia terdiam. Ia menaruh tangannya di atas tangan Andy.
Di kejauhan, air laut memantulkan cahaya sore. Tidak ada musik, tidak ada bar, tidak ada alasan untuk mengalihkan pembicaraan. Hanya angin, suara kendaraan yang sesekali lewat, dan dua orang yang akhirnya berhenti berpura-pura tidak peduli.
“Andy.”
“Ya?”
“Kalau nanti kau berubah pikiran, bilang.”
Andy mencium rambutnya. “Kau juga.”
“Aku tanya dulu.”
“Aku jawab sekarang.”
Villia berbalik dalam pelukannya. “Apa?”
Andy menatapnya. “Aku mau ketemu kau lagi.”
Villia mempelajari wajahnya beberapa detik. Lalu ia mencium Andy, kali ini di tempat terbuka, tanpa terburu-buru dan tanpa menyembunyikan apa pun. Andy membalas sambil memegang pinggangnya. Ketika mereka berpisah, Villia masih berdiri dekat, dahinya hampir menyentuh dahi Andy.
“Besok jemput aku,” katanya.
“Jam berapa?”
“Jam tujuh.”
“Pagi?”
"Malam dong, pagi mau ngapain? upacara?"
"Malam besok dan seterusnya?"
“Iya”
Andy mengangguk.
Villia berjalan kembali ke mobil. Andy mengikutinya sambil tersenyum.
Mereka belum tahu apa yang akan terjadi setelah itu. Hubungan mereka mungkin akan merepotkan, mungkin juga tidak bertahan lama. Tetapi untuk sore itu, di jalan menuju Barelang, mereka tidak membutuhkan kepastian yang lebih besar dari satu rencana sederhana: bertemu lagi besok.