MY DREAM COME TRUE

MY DREAM COME TRUE

Chandra Purnama Wibawaningrum

Pada akhir tahun 2019 dunia sedang menghadapi masalah besar. Berawal dari munculnya suatu wabah penyakit yang disebabkan oleh corona virus disease atau yang akrab disebut Covid 19, hampir semua aspek kehidupan mengalami perubahan-perubahan yang semakin hari semakin mengkhawatirkan. Dunia menghadapi krisis kesehatan global dan sosial ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Di Indonesia, kehidupan jutaan anak dan keluarga seakan terhenti. Pembatasan sosial dan penutupan sekolah berdampak pada pendidikan, kesehatan mental, dan akses kepada pelayanan kesehatan dasar. 

Pada saat itu, pemerintah secara besar-besaran melakukan penerimaan tenaga Kesehatan untuk berkenan bergabung dalam menangani wabah pandemi ini. Awal tahun 2020 aku memutuskan untuk ikut terjun dalam penangan wabah pandemi global Covid 19 ini di Rumah Sakit Darurat Covid Wisma Atlet Kemayoran Jakarta. Aku bertekat mengirim lamaran pekerjan ke Rumah Sakit tersebut. Tentu bukan perkara yang mudah. Aku berulang kali tidak mendapat restu dari orang tua, mengingat pekerjaan ini harus jauh dari keluarga dan beresiko tinggi. Banyak sekali tenaga medis dan masyarakat yang pada saat itu tumbang karena wabah satu ini. Namun, dengan tekat dan usaha meyakinkan kedua orang tua, akhirnya akupun mendapat restu dari Ibuku. Tidak disangka, tak lama setelah mendapat restu ibu, ada panggilan dari staf kementrian kesehatan yang menghubungiku dan meminta aku untuk bergabung dengan RSDC Wisma Alet. Memang benar, Ridho Allah terletak pada Ridho orang tua. Aku berangkat ke Jakarta dengan modal seadanya. Tentu aku sangat merasa takut, aku belum pernah menginjak Kota Megapolitan sebelumnya, apalagi seorang diri.

Selain berbekal niat yang tulus ingin membantu sesama dan tentunya untuk beribadah, tidak dipungkiri aku juga memiliki tujuan lain, yakni ingin mendapat penghasilan. Ada orang tua yang harus aku bahagiakan. Mengingat sebelumnya aku bekerja di sebuah klinik milik dosen pengujiku sewaktu sidang kuliah dengan upah Rp. 35.000 sampai dengan Rp.50.000 untuk 12 jam kerja. Memang karena aku merasa freshgraduate jadi semua ku jalani meskipun aku sendiri merasa upah itu sangat pas untuk mencukupi kebutuhanku sendiri. Hingga akhirnya aku merasa harus ada perubahan dan kemajuan. Aku yakin, Allah tidak akan merubah Nasib seorang hambaNya kecuali dia sendiri yang merubahnya. Aku benar-benar ingin merubah nasibku pada saat itu.

Hampir 1 tahun ku jalani hari-hariku sebagai tenaga kesehatan di RSDC Wisma Atlet. Aku menikmati pekerjaanku ditempat yang baru dengan segala keterbatasan yang aku jalani. Jauh dari orang tua, tidak pernah tau dunia luar karena pekerjaan yang mengharuskanku kontak erat dengan pasien-pasen covid 19 membuatku tidak bisa main dan keluar dari asramaku. Yang aku tau hanya jalan-jalan di lingkungan asrama dan melihat berbagai berita dari sosial media. Salah satunya melihat banyak tenaga medis yang tumbang. Stressorpun mulai bermunculan. Hingga akhirnya timbul pertanyaan didalam benak hati dan pikiranku, ‘‘sebetulnya apa yang aku cari? Kenapa tidak memilih mencari rejeki yang bisa dekat dengan keluarga? Untuk apa jika banyak rejeki tetapi bertemu orang tua pun sangat susah?”. Dari situ aku memutuskan untuk pulang walaupun banyak sekali keraguan dalam diri dan keraguan yang dilontarkan beberapa teman-temanku. “Kenapa kamu buru-buru untuk pulang? Kenapa kamu tidak mencari pekerjaan yang lain dulu baru kamu tinggalkan pekerjaan yang disini? Kamu nanti pulang nganggur” kata mereka. Tapi dengan santai aku jawab mereka “aaahhhh.. tenang ajaa, kan habis ini aku kerja ditempat yang mudah-mudahan lebih baik, yang hari sabtu minggu dan tanggal merah aku libur, yang masuk kerjaku hanya di jam pagi. Aku ingin work life balance”.

Aku pun pulang, Kembali kerumah dan bertemu keluarga yang aku rindukan. Meninggalkan banyak kenangan disana. Sepulangnya aku dari RSDC Wisma Atlet Kemayoran Jakarta, apa yang sudah aku perkirakan benar terjadi. Ya, aku menganggur. 2 bulan lamanya. Sedih, menyesal, malu, jadi satu. Seperti halnya menebar jala, lamaran pekerjaanpun tak tanggung-tanggung banyaknya aku buat, sudah aku sebar diberbagai rumah sakit di daerahku. Namun semuanya Nihil. Setiap kali melihat teman-temanku bekerja aku merasa insecure sendiri hahaha, tapi ini sudah menjadi keputusanku dari awal, keluargapun sangat memberi support penuh. Doa dan usaha tidak henti-hentinya aku lakukan. Kesana kemari melamar pekerjaan, bahkan belum juga memasukan lamaran pekerjaanpun kadang sudah ditolak di pintu depan “ maaf mbaaa, tapi kami tidak sedang buka lowongan, kalau lamaran ini tetap kami terima paling juga tidak dilihat. semua sekarang online mba” salah satu satpam rumah sakit menegaskan. Memang betul, saat itu kasus covid 19 masih cukup tinggi, jadi perusahaan meminimalisir penerimaan berkas berupa hard file untuk mencegah penularan covid 19.

Sampai akhirnya suatu hari aku melintasi jalanan dikotaku, lampu merah dipersimpangan itu membuatku berhenti sejenak diatas motorku. Kulihatnya kantor yang sedang ramai sekali pengunjung. Kantor BPJS Kesehatan Kabupaten Sukoharjo. “ngapaaaainnnn ya orang-orang rame bgtttttt, hhhufhh coba aja BPJS Kesehatan buka lowongan, pasti aku langsung daftar” kataku diatas motorku. Sesampainya dirumah, KRRRRRIIIIINGGGG… notifiksi handphoneku berbunyi, dari grup alumni kampus share bahwa BPJS Kesehatan sedang membuka lowongan sebagai Verifikator Klaim Covid 19. Seperti mendapat angin segar, kata-kata menjadi Doa. Tidak pikir Panjang akupun bergegas melamar posisi tersebut. Banyak tahapan-tahapan dan ujian yang aku lalui, waktunya pun cukup lama. Bpjs Kesehatan betul-betul menjadi tujuan utamaku saat itu, harapan yang sangat aku tunggu-tunggu, meskipun aku juga tetap memperjuangkan panggilan-panggilan tes yang harus aku jalani karena lamaran pekerjaan di rumah sakit yang sudah aku sebar sebelumnya. Namun, memang rejeki sudah ada yang mengatur, Allah tau kapan waktu dan rejeki terbaik itu tiba. Ujian BPJS Kesehatan terbilang ujian yang paling akhir aku lalui. Tapi Pengumuannya lebih cepat aku terima dari pada pengumuman-pengumuman lamaran Rumah sakit lainnya.

5 Juli 2021 dengan hati yang cukup deg-degan, aku mendatangi undangan dari Bpjs Kesehatan Kantor Cabang Surakarta. Masuklah aku ke ruangan yang sangat membuatku tegang. Di depanku sudah berjejer ibu kepala cabang, bapak kepala bidang sdm, dan ibu case manager bidang penjamin manfaat dan utilisasi. Layaknya pencari pekerja yang ingin mendapatkan pegawai yang terbaik, aku disodorkan berbagai pertanyaan. Aku jawab semampuku. Ada 5 peserta yang mendapat undangan, tetapi hanya 3 yang dapat diterima. Dari situ aku sudah pasrah, aku yakin rejeki tidak akan pernah tertukar. Tidak lama setelah keluar ruangan, ALHAMDULILLAH… aku dinyatakan lolos dan bisa bekerja hari itu juga. Masuk ke ruangan yang sama saat ujian wawancara dengan hati yang sudah cukup lega. Diberinya aku selamat oleh ibu kepala cabang dan diberi pertanyaan "mau gaji berapa mba?". Saat itu aku hanya menjawaab untuk bisa mendapat upah kerja sesuai apa yang saya kerjakan nantinya, tetapi ibu kepala cabang meminta jawaban yang lebih spesik. Satu ruangan pun tertawa mendengar jawabanku terkait pertanyaan ibu kepala cabang, saat itu gelak tawa terdengar karena aku menjawab meminta upah setara UMR di kotaku. Dijelaskannya aku perihal salary yang akan aku terima nantinya. Hal itu membuat perasaanku lebih cair, sudah lebih bahagia. Tanda tangan berkas administrasi sudah selesai. Kukabari lah kedua orang tuaku. Mereka membalas pesan singkatku dengan kata-kata yang masih aku ingat sampai saat ini “Alhamdulillah, semangat. Bekerja yang tulus ya. Ikhlas. Fokus jangan banyak main hape” balasan pesan dari ibuku.

Hingga saat ini 3 tahun bekerja di Bpjs Kesehatan sebagai Verifikaor Klaim aku sangat menikmati pekerjaanku. Dari yang biasanya melayani pasien dan menulis secara langsung resume medis tetapi kini aku bisa melayani dengan hati dari resume medis dan dokumen Kesehatan peserta BPJS Kesehatan yang dikirimkan oleh fasilitas kesehatan yang bekerja sama dengan Bpjs Kesehatan. Kata-kataku sewaktu masih di RSDC Wisma Atlet yang menginginkan work life balance, dekat dengan orang tua, masuk kerja di jam pagi, sabtu minggu dan tanggal merah libur kini benar-benar dalam genggaman. Kata-kataku sewaktu di persimpangan jalan juga terwujud karena benar-benar ada lowongan pekerjaan yang mengantarku hingga sekarang aku sudah diterima dan bekerja sampai saat ini. Memang betul, kata-kata adalah doa, tidak lupa dengan usaha dan keyakinan. Sesuatu yang aku mimpikan dan inginkan kini mulai aku jalani dan banyak ku syukuri. Dan Aku yang sekarang mempunyai mimpi yang baru, harapan menjadi Pegawai Tetap yang saat ini aku Doakan dan aku mimpikan. Karena sejatinya kita harus selalu punya mimpi, mulailah dan lakukan dengan kebaikan maka keajaiban itu akan datang.

FROM THIS (BEKERJA DI RSDC WISMA ATLET. Aku dedikasikan foto ini untuk sahabatku Tiur (depan, tengah) yang telah gugur dalam tugasnya menangani wabah pandemi covid-19 di rsdc wisma atlet)



MENCOBA MENDAFTAR BPJS KESEHATAN


TO THIS (BERGABUNG DENGAN BPJS KESEHATAN)


MENJALANI HARI-HARI DENGAN FUN AND MEANINGFUL



Report Page