MUARA INGATAN
BLACKOPIUMMUARA INGATAN
Wulan terbangun dengan bau tinta di mulutnya dan nama orang lain melekat di lidahnya, seperti sisa mimpi yang enggan pergi.
Bukan mimpi biasa—bukan ombak, bukan jaring robek, bukan wajah ibunya yang sudah delapan tahun tenggelam dalam ingatan yang benar-benar miliknya sendiri.
Kali ini ia bermimpi tentang sebuah ruangan yang belum pernah dimasukinya. Dinding kayu berlapis vernis. Meja rapat mengilap. Sebuah tangan—bukan tangannya—menandatangani dokumen bertuliskan Dinas Pengairan Wilayah Selatan sambil pemiliknya melirik jam, seolah kertas itu tidak lebih penting daripada makan siang yang menunggu.
Di sudut dokumen tercetak sebuah nama.
Ir. Broto Sasmito.
Wulan tidak mengenalnya. Namun, kepalanya menyimpan nama itu seperti kulit menyimpan luka orang lain.
Ia duduk di dipan bambu, memandang muara yang mulai keperakan oleh subuh. Perahu-perahu kecil bergerak pulang membawa ikan, sementara akar bakau mencengkeram lumpur agar daratan tidak ikut hanyut.
Di dekat dapur, Mbah Ratri sedang menanak air.
“Sudah mulai,” kata perempuan tua itu tanpa menoleh.
Bukan pertanyaan.
Keluarga Wulan adalah penampung.
Begitu Mbah Ratri menyebutnya sejak Wulan kecil, tanpa pernah menjelaskan artinya sampai suatu malam ketika Wulan cukup dewasa untuk tidak lagi dilindungi oleh dongeng.
Di hulu, di kota-kota yang hanya dikenalnya dari layar warung kopi, terdapat sebuah upacara bernama Larungan Nurani. Negara meresmikannya tiga generasi lalu sebagai cara memulihkan kesehatan batin para pejabat.
Pejabat yang merasa hidupnya terlalu berat oleh kesalahan boleh mendatangi Ahli Sungkem. Ia menuliskan perbuatannya pada daun pisang kering, meletakkannya di atas getek kecil, lalu melarungkannya saat bulan mati.
Setelah itu, ia memperoleh Surat Pemulihan Nurani.
Surat tersebut tidak menghapus kejahatan secara hukum. Akan tetapi, surat itu membebaskan pemiliknya dari pemeriksaan etik atas perkara yang telah “disesali dan dilepaskan”. Di negeri yang gemar mencampuradukkan penyesalan dengan pertanggungjawaban, perbedaan itu hampir tidak berarti.
Pejabat tersebut boleh melupakan.
Yang tidak pernah dicantumkan dalam undang-undang adalah ke mana perginya segala sesuatu yang dilupakan.
“Sungai tidak pernah lupa,” kata Mbah Ratri malam itu sambil membetulkan sumbu lampu teplok. “Ia hanya menyimpan ingatan di tempat lain.”
Tempat lain itu adalah muara.
Keluarga Wulan dan tiga keluarga lain di kampung tersebut menerima ingatan yang dilepaskan dari hulu. Ingatan itu hanyut, terurai, kemudian menempel pada mereka seperti lumpur pada akar bakau.
Mereka menerimanya sebagai mimpi.
Kadang hanya sepotong wajah. Kadang angka tanpa arti. Kadang satu kalimat dari ruangan yang tidak pernah mereka masuki.
Selama puluhan tahun, potongan-potongan itu terlalu kecil untuk dijadikan bukti. Orang-orang yang mencoba berbicara dianggap kerasukan, pembohong, atau perempuan muara yang terlalu lama menghirup bau asin.
Akhirnya mereka memilih diam.
Orang kota menyebut muara itu keruh karena lumpur.
Mereka tidak tahu bahwa yang mengeruhkan airnya adalah nurani manusia.
Mimpi tentang Ir. Broto tidak berhenti setelah satu malam.
Pada malam kedua, Wulan melihat peta Bendungan Sendang Ayu, dua puluh kilometer dari kampungnya. Sebuah garis merah membelah tanggul barat—retakan sepanjang tiga meter yang seharusnya diperbaiki sebelum musim hujan.
Malam ketiga, ia mendengar suara Ir. Broto melalui telepon.
“Laporkan saja sudah selesai. Orang-orang hanya membaca angka.”
Lalu terdengar suara lain menanyakan anggarannya.
Ir. Broto terdiam sebelum menjawab, “Sudah saya pakai untuk yang lain.”
Pada malam keempat, Wulan melihat seorang anak perempuan terbaring di rumah sakit. Selang infus menempel pada tangannya. Ir. Broto berdiri di lorong, menangis sambil menandatangani perjanjian dengan rekanan proyek.
Tangannya gemetar bukan karena serakah.
Ia takut kehilangan anaknya.
Wulan memahami ketakutan itu. Ia pernah duduk semalaman di samping ibunya, menunggu perahu pertolongan yang datang setelah napas perempuan itu lebih dahulu pergi.
Namun, memahami tidak berarti memaafkan.
Ir. Broto telah memilih jalan pintas untuk menyelamatkan seseorang yang dicintainya. Setelah itu, ia membuang ingatan tentang pilihannya agar dapat terus menganggap dirinya manusia baik.
Bendungan tersebut tidak pernah diperbaiki.
Dan musim hujan datang lebih awal.
Wulan mendatangi kantor kelurahan dengan sandal masih berlumur lumpur.
“Bendungan Sendang Ayu retak di tanggul barat,” katanya.
Petugas di balik meja mengangkat kepala. “Dari mana informasinya?”
“Saya melihat dokumennya dalam mimpi.”
Petugas itu tidak tertawa. Ia hanya mengembuskan napas dan kembali melihat layar.
“Bendungan sudah diaudit tahun lalu. Hasilnya baik.”
“Auditnya palsu.”
“Buktinya?”
Wulan terdiam.
“Kalau setiap mimpi buruk harus kami tindak lanjuti,” lanjut petugas itu, “kami tidak akan sempat bekerja.”
Wulan pulang melewati jalan di antara tambak. Langit menggantung rendah. Burung-burung terbang menuju daratan, meninggalkan laut sebelum manusia memahami pertanda yang telah mereka baca.
Mbah Ratri menunggunya di beranda bersama Yu Tinah dari ujung kampung, Bu Marni si penjual ikan asin, dan Sari, sepupu jauh Wulan yang selama ini lebih sering menundukkan kepala daripada membuka suara.
“Kau kira hanya kau yang bermimpi?” tanya Yu Tinah.
Bu Marni melihat nomor kontrak. Sari mendengar nama perusahaan. Mbah Ratri melihat rapat ketika keputusan pertama kali dibuat.
Selama tiga generasi, mimpi para penampung hanya serpihan. Kali ini, untuk pertama kalinya, seluruh potongan jatuh kepada orang-orang yang tinggal berdekatan—seolah sungai sendiri sedang menyusun kesaksian.
“Sepuluh hari lagi Ziarah Muara,” kata Sari. “Mereka akan datang membawa kamera.”
Ziarah Muara adalah upacara tahunan ketika pejabat dari hulu turun ke delta, menabur bunga, lalu berterima kasih kepada sungai karena telah menerima beban mereka.
Wulan memandang air yang mengalir tenang di depan rumahnya.
“Kalau begitu,” katanya, “kita kembalikan apa yang mereka larung.”
Senja pada hari Ziarah Muara berwarna merah seperti karat.
Pejabat-pejabat datang dengan sepatu yang tidak dirancang untuk mengenal lumpur. Di belakang mereka berjalan wartawan, petugas protokol, dan kamera-kamera yang mencari sudut terbaik untuk merekam kepedulian.
Ir. Broto memimpin rombongan. Ia mengenakan jas putih yang terlalu bersih bagi sebuah muara.
Wulan dan empat perempuan lainnya berdiri di antara warga. Tidak ada yang mencurigai mereka. Wajah-wajah seperti mereka memang selalu ada di sana—mengangkut ember, menjual kerupuk, atau menjaga anak-anak agar tidak jatuh ke air.
Tetes hujan pertama turun ketika rombongan mulai menaburkan bunga.
Mbah Ratri melangkah maju.
“Tanggul barat Bendungan Sendang Ayu retak sepanjang tiga meter,” katanya.
Petugas protokol hendak menghentikannya, tetapi kamera telah berbalik.
“Perbaikannya hanya terjadi di atas kertas. Anggarannya dipindahkan kepada sebuah perusahaan bernama—”
Sari menyebut nama perusahaan itu.
Bu Marni melanjutkan dengan nomor kontrak dan tanggal rapat.
Yu Tinah menyebut rekening tujuan.
Setiap perempuan membawa potongan yang berbeda. Ketika disatukan, potongan-potongan itu tidak lagi terdengar seperti mimpi.
Ia menjadi kesaksian.
Wulan menatap Ir. Broto.
“Anda menangis di lorong rumah sakit sebelum menandatangani perjanjian itu,” katanya. “Anak Anda membutuhkan biaya yang tidak bisa menunggu.”
Wajah Ir. Broto kehilangan warna.
“Saya tahu rasanya menunggu pertolongan yang datang terlambat,” lanjut Wulan. “Tetapi karena ingin menyelamatkan anak Bapak, sekarang ribuan anak di kampung kami terancam kehilangan rumah.”
Hujan semakin rapat. Air memukul payung-payung para pejabat seperti jari yang mengetuk pintu.
“Bagaimana kau tahu tentang anak saya?” bisik Ir. Broto.
Bukan bantahan. Bukan pula kemarahan.
Hanya pertanyaan seorang ayah yang tiba-tiba menemukan bagian hidupnya telah lama hilang.
“Karena ingatan Bapak tidak pernah lenyap,” jawab Wulan. “Ia cuma pindah rumah. Ke rumah kami.”
Ir. Broto memandang muara.
Lalu, di hadapan kamera, ia mengambil telepon dan memerintahkan pintu air dibuka untuk menurunkan permukaan bendungan. Ia meminta warga di sepanjang aliran dievakuasi dan tim teknis dikirim malam itu juga.
Setelah menutup telepon, ia menyerahkan kedua tangannya kepada petugas.
“Periksa bendungannya,” katanya. “Setelah itu, periksa saya.”
Pemeriksaan menemukan retakan yang disebutkan para perempuan muara.
Tim teknis menurunkan muka air waduk, memasang penahan sementara, dan mengevakuasi kampung-kampung di jalur berbahaya. Perbaikan permanen belum selesai ketika hujan besar datang, tetapi tekanan air telah cukup dikurangi.
Muara tidak tenggelam tahun itu.
Ir. Broto kehilangan jabatannya dan ditetapkan sebagai tersangka. Surat Pemulihan Nurani tidak dapat melindunginya dari catatan transaksi, kontrak, dan pengakuannya sendiri. Namun, persidangan berjalan lambat—sebab hukum selalu berlari lebih pelan ketika yang dikejarnya pernah memiliki ruang kerja berpendingin udara.
Larungan Nurani belum dihapus. Pemerintah membentuk panitia untuk mengevaluasinya. Panitia itu mengadakan rapat pertama di sebuah hotel di hulu, menggunakan anggaran yang cukup untuk memperbaiki tiga sekolah di muara.
Namun, sesuatu telah berubah.
Para penampung tidak lagi menyembunyikan siapa mereka.
Wartawan datang bukan untuk memotret pejabat membungkuk di tepi sungai, melainkan untuk duduk dan mendengarkan Mbah Ratri. Anak-anak yang dahulu dijauhi karena memiliki mimpi aneh kini menggambarkan apa yang mereka lihat dalam tidur. Untuk pertama kalinya, ada orang dewasa yang mencatatnya.
Suatu sore, adik sepupu Wulan yang berusia tujuh tahun berlari dari tepi air. Wajahnya pucat.
“Aku mimpi ruangan lagi,” katanya.
Dahulu, keluarganya akan mengelus kepala anak itu dan berbisik, Tidak apa-apa. Itu hanya beban keluarga kita.
Kali ini Mbah Ratri berjongkok di hadapannya.
“Ceritakan semuanya kepada Kak Wulan,” katanya. “Kita tidak akan menyimpannya sendirian lagi.”
Malam itu, Wulan duduk di tepi muara, mendengarkan ingatan baru dari mulut seorang anak kecil. Di hadapannya, air terus mengalir ke laut, membawa segala sesuatu yang masih dibuang orang-orang di hulu.
Sungai memang tidak pernah lupa.
Kini, orang-orang di muara pun memilih hal yang sama.