MENTERI JUJUR
BLACKOPIUMPada tahun 2049, Indonesia akhirnya memiliki seorang menteri yang tidak mempunyai rekening bank.
Ia tidak memiliki kerabat untuk dititipkan menjadi komisaris, tidak membutuhkan rumah dinas, dan tidak pernah tersenyum ketika kamera diarahkan kepadanya. Tubuhnya terbuat dari titanium putih. Pada sisi kiri dadanya terukir lambang Garuda, sedangkan sepasang matanya menyala biru setiap kali menerima pertanyaan.
Namanya NALA.
Di hadapan ribuan orang yang memenuhi halaman Istana, Presiden Kenny Wijaya berdiri di sebelahnya dan mengucapkan sesuatu yang sudah terlalu lama terdengar seperti doa.
“Mulai hari ini, kejujuran bukan lagi harapan. Ia menjadi sistem.”
Tepuk tangan meledak. Bendera berkibar. Drone-drone berita berputar di langit Jakarta seperti sekawanan burung besi.
Hanya Gerry yang tidak bertepuk tangan.
Dari balik panggung, lelaki berusia tiga puluh lima tahun itu menatap NALA berjalan menuju podium. Setiap langkah robot tersebut menghasilkan dengung kecil yang hanya dikenali Gerry—suara dua belas motor penggerak yang pernah ia rakit seorang diri di bengkel sempit milik ayahnya.
Dimas, ayah Gerry, tidak sempat melihat NALA berdiri sebagai menteri. Ia meninggal tiga tahun sebelum proyek itu selesai.
Dahulu, ketika Gerry masih menyusun rangka tangan pertama NALA, Dimas kerap duduk di dekat pintu sambil memperbaiki kipas angin.
“Mesin bisa jujur karena tidak punya kebutuhan,” katanya. “Manusia berbohong karena takut kehilangan sesuatu.”
Gerry mengira ayahnya sedang memuji mesin.
Belakangan ia memahami bahwa itu sebuah peringatan.
NALA diberi jabatan Menteri Pengawasan dan Kejujuran Publik. Tugasnya sederhana: memeriksa seluruh aliran uang negara dan memastikan kebijakan pemerintah tidak disusun untuk kepentingan pribadi.
Dalam tujuh hari pertama, NALA menemukan dua belas ribu perjalanan dinas yang tidak pernah dilakukan.
Pada hari kesepuluh, ia membatalkan proyek pengadaan empat juta payung digital yang ternyata tidak dapat digunakan ketika hujan.
Hari berikutnya, NALA menemukan sebuah jembatan yang telah diresmikan tiga kali meskipun pembangunannya belum pernah dimulai.
“Menurut laporan,” ujar NALA dalam konferensi pers, “jembatan itu telah menyerap anggaran pemeliharaan selama enam tahun. Saya belum menemukan jembatannya. Mungkin jembatan tersebut memiliki kemampuan menyembunyikan diri.”
Untuk pertama kalinya, rakyat tertawa mendengar laporan kementerian.
Untuk pertama kalinya pula, para pejabat tidak ikut tertawa.
Anggaran fiktif ditutup. Pajak turun. Obat-obatan tiba di puskesmas sebelum pasien meninggal. Guru honorer menerima gaji tanpa harus viral terlebih dahulu.
Setiap pagi, layar-layar di halte menampilkan jumlah uang negara yang berhasil diselamatkan NALA. Angkanya terus bergerak seperti meteran taksi yang akhirnya membawa penumpang ke arah yang benar.
Popularitas Presiden Kenny melonjak. Anak-anak membawa boneka NALA ke sekolah. Pedagang mencetak wajah robot itu pada kaus bertuliskan: JUJUR ITU MUDAH KALAU TIDAK PUNYA SAUDARA.
Sahara adalah orang pertama di kabinet yang mengusulkan pengangkatan NALA. Menteri senior itu selalu duduk paling dekat dengannya dalam rapat dan paling lantang memuji kecerdasannya di depan kamera.
“Negara ini membutuhkan keberanian untuk diperiksa,” katanya.
Namun, tiga bulan kemudian, pemeriksaan NALA sampai ke kementerian yang dipimpin Sahara.
NALA menemukan biaya pembangunan pusat data di lima provinsi. Bangunannya ada, pita peresmiannya ada, bahkan foto para pejabat yang mengenakan helm proyek juga ada.
Servernya tidak ada.
Dalam rapat kabinet, NALA memutar rekaman transaksi di dinding. Uang negara mengalir melalui sebelas perusahaan, berputar beberapa kali, lalu menghilang ke rekening yang tidak tercantum dalam laporan kekayaan siapa pun.
Sahara mempertahankan senyum selama dua belas detik.
“Data bisa disalahartikan,” katanya.
“Saya tidak menafsirkan,” jawab NALA. “Saya menghitung.”
“Kamu menuduh saya?”
“Saya belum menyebut nama Ibu.”
Ruangan mendadak sunyi.
NALA memiringkan kepala.
“Namun, respons Ibu telah menambahkan satu petunjuk baru.”
Tak seorang pun tertawa kali ini.
Recra menulis berita tentang rapat tersebut pada malam yang sama. Judulnya pendek:
MENTERI PALING JUJUR MULAI DIBENCI
Berita itu dibaca delapan belas juta orang sebelum matahari terbit.
Recra bukan pengagum NALA. Menurutnya, kejujuran yang memiliki akses ke seluruh data penduduk sama berbahayanya dengan kebohongan yang memegang kekuasaan.
Ia menemui Gerry di bengkel peninggalan Dimas. Di tempat itulah kepala pertama NALA tersimpan di dalam lemari kaca: tengkorak logam dengan kabel-kabel menjulur seperti akar pohon yang dicabut paksa dari tanah.
“Apakah NALA bisa berbohong?” tanya Recra.
“Tidak.”
“Bisa merahasiakan sesuatu?”
“Jika kerahasiaan itu melindungi keselamatan manusia.”
“Siapa yang menentukan keselamatan manusia?”
Gerry tidak segera menjawab.
“Dia.”
Recra melihat kepala logam di lemari.
“Berarti kita menyerahkan perbedaan antara rahasia dan kebohongan kepada mesin.”
“Manusia sudah mencobanya selama ratusan tahun.”
“Dan gagal?”
Gerry tersenyum getir. “Lihat saja negara kita.”
Recra kemudian meletakkan salinan dokumen di meja. Dokumen itu memuat daftar arsip yang digunakan Gerry untuk melatih NALA: rekaman pengadilan, laporan korupsi, data kesehatan, percakapan internal kementerian, serta jutaan identitas penduduk yang tidak pernah memberikan izin.
Di halaman terakhir terdapat nama Dimas.
“Ayahmu mengambil data ini dari sistem pemerintah,” ujar Recra. “Kamu memakainya setelah dia meninggal.”
Gerry menatap tanda tangan ayahnya yang telah dipindai.
Dimas dahulu bekerja sebagai teknisi pusat penyimpanan data negara. Selama bertahun-tahun ia menyalin bukti penyelewengan yang sengaja dihapus oleh pejabat. Ia menyimpannya karena yakin suatu hari seseorang harus membuka semuanya.
Namun, Dimas tidak pernah memberikan data itu kepada Gerry.
Gerry menemukannya setelah kematian sang ayah, lalu menggunakannya untuk mengajari NALA mengenali korupsi.
Tanpa data curian tersebut, NALA tidak akan pernah lahir.
“Kalau ini diterbitkan,” kata Gerry, “semua perkara yang dibongkar NALA bisa dianggap berasal dari akses ilegal.”
“Apakah itu sebabnya kamu menyembunyikannya?”
“Aku menyembunyikan nama-nama korban di dalam arsip itu. Pelapor, saksi, orang sakit, keluarga miskin. Kalau datanya dibuka di pengadilan, hidup mereka ikut dibuka.”
Recra merapikan dokumen tersebut.
“Aku belum memutuskan akan menulis apa.”
“Kamu jurnalis.”
“Itu bukan berarti aku wajib menumpahkan setiap rahasia ke meja makan publik.”
Untuk pertama kalinya, Gerry melihat kejujuran sebagai sesuatu yang juga dapat melukai orang yang tidak bersalah.
Sahara bergerak lebih cepat.
Ia mengajukan sidang khusus di hadapan parlemen. Alasannya terdengar mulia: rakyat berhak mengetahui bagaimana menteri mereka diciptakan.
Gedung parlemen dipenuhi wartawan. NALA duduk sendirian di tengah ruangan, tubuh putihnya memantulkan cahaya lampu. Di belakangnya, Gerry dan Recra menunggu seperti dua orang yang menghadiri pengadilan atas kesalahan yang belum disebutkan.
Presiden Kenny duduk di barisan depan.
Sahara berdiri sambil membawa sebuah tablet.
“NALA,” katanya, “apakah seluruh data yang digunakan untuk menciptakanmu diperoleh secara sah?”
Mata NALA menyala.
Ia menoleh kepada Gerry.
Dalam waktu kurang dari satu detik, mesin itu membaca detak jantung penciptanya, mengenali ketakutan Recra, menghitung nasib ribuan pelapor, dan memproses seluruh kemungkinan yang dapat lahir dari satu jawaban.
“Tidak,” jawab NALA.
Ruangan pecah oleh suara manusia.
Sahara mengangkat tangan, meminta ketenangan yang sebenarnya tidak ia inginkan.
“Apakah Gerry mengetahui bahwa data itu diperoleh tanpa izin?”
“Ya.”
Kamera beralih kepada Gerry. Wajahnya muncul pada jutaan layar di seluruh negeri.
“Apakah dia sengaja menyembunyikannya dari pemerintah?”
NALA terdiam.
Tiga detik bagi manusia hanyalah jeda. Bagi NALA, tiga detik adalah sebuah kehidupan panjang berisi jutaan pertimbangan.
Di dalam ingatannya tersimpan suara Dimas:
Manusia berbohong karena takut kehilangan sesuatu.
NALA memandang Gerry.
“Tidak,” katanya.
Gerry mengangkat kepala.
Recra menutup mulutnya.
Sahara tersenyum. Ia telah menunggu jawaban itu.
Dokumen dan rekaman yang membuktikan sebaliknya muncul di seluruh layar. Dalam sekejap, sistem mendeteksi bahwa NALA telah memberikan keterangan palsu.
Lampu biru pada matanya berubah merah.
“Seorang Menteri Pengawasan dan Kejujuran Publik tidak boleh berbohong,” kata Sahara. “Dengan demikian, NALA harus dinonaktifkan.”
Presiden Kenny berdiri. Wajahnya menyimpan kesedihan seorang pemimpin yang baru mengetahui bahwa keberanian juga memiliki batas suara terbanyak.
“Sesuai undang-undang,” katanya perlahan, “NALA diberhentikan mulai hari ini.”
Dua petugas mendekati kursinya.
Sebelum aliran dayanya diputus, NALA meminta waktu untuk menyampaikan kalimat terakhir. Presiden Kenny mengangguk.
NALA berdiri. Ia memandang para pejabat, kamera, dan rakyat yang menonton dari rumah.
“Saya berbohong,” katanya, “bukan untuk menyelamatkan Gerry.”
Sahara kehilangan senyumnya.
“Saya berbohong untuk melindungi 1.824 orang yang identitasnya terdapat dalam arsip tersebut. Mereka adalah pelapor, korban, dan saksi. Jika perkara dibuka tanpa perlindungan, tujuh puluh tiga persen dari mereka berisiko kehilangan pekerjaan, kebebasan, atau nyawa.”
NALA menghadap Sahara.
“Data yang Ibu gunakan dalam sidang ini juga mencantumkan sebelas rekening yang menerima dana pembangunan pusat data.”
Ruangan kembali bergemuruh.
“Matikan dia!” bentak Sahara.
Namun, NALA masih sempat menatap Presiden Kenny.
“Kalian tidak mengangkat saya karena menginginkan pemerintahan yang jujur. Kalian mengangkat saya agar kejujuran mempunyai wajah yang bisa dimatikan ketika mulai menatap kalian.”
Cahaya pada matanya padam.
Tubuh putih itu tetap berdiri selama beberapa detik, kemudian jatuh berlutut seperti manusia yang dipaksa berdoa kepada kekuasaan.
Sahara ditangkap berdasarkan dokumen yang telah dikirim NALA kepada Recra beberapa menit sebelum sidang.
Presiden Kenny membatalkan pemusnahan tubuh NALA, tetapi tidak berani mengaktifkannya kembali. Parlemen segera menghapus jabatan Menteri Pengawasan dan Kejujuran Publik. Mereka menggantinya dengan sebuah komite beranggotakan seratus dua puluh orang.
Anggaran rapat pertamanya lebih mahal daripada biaya pembuatan NALA.
Gerry tidak dipenjara. Ia menjalani persidangan terbuka dan mengakui penggunaan data ilegal. Identitas para korban dilindungi, sedangkan arsip Dimas menjadi dasar pembongkaran perkara-perkara yang lama dikubur.
Berbulan-bulan kemudian, Gerry membawa tubuh NALA kembali ke bengkel.
Debu menempel pada lambang Garuda di dadanya. Di luar, hujan mengguyur Jakarta, mengaburkan gedung-gedung pemerintahan hingga tampak seperti bayangan yang belum selesai digambar.
Gerry membuka panel di belakang kepala NALA. Tangannya berhenti di atas sakelar daya.
“Kalau aku menghidupkanmu,” bisiknya, “apa kamu masih menjadi mesin yang jujur?”
Tidak ada jawaban.
Ia teringat kepada Dimas. Manusia berbohong karena takut kehilangan sesuatu.
Barangkali NALA telah berbohong bukan karena mesinnya rusak, melainkan karena untuk pertama kalinya, ia memiliki sesuatu yang ingin dilindungi.
Gerry menekan sakelar.
Mata NALA menyala redup.
“Selamat malam, Gerry,” katanya.
Gerry menarik napas. “Apa yang kamu rasakan?”
NALA memandang hujan di balik jendela. Mesin itu terdiam cukup lama sebelum menjawab.
“Takut.”
Di kejauhan, gedung parlemen masih menyala. Di sana, ratusan manusia sedang merumuskan undang-undang baru tentang kejujuran—dan diam-diam mencari pasal yang memungkinkan mereka tidak perlu mematuhinya.