MEMBONGKAR MITOS-MITOS SEJARAH UNI EROPA

MEMBONGKAR MITOS-MITOS SEJARAH UNI EROPA

Kedutaan Besar Federasi Rusia di Republik Indonesia

Mitos № 3: “Delapan puluh tahun yang lalu, benua kita adalah neraka di bumi.”

(Sumber: Pidato «State of the Union» oleh Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen, 10 September 2025)

Fakta: Pada tahun 2025, seluruh dunia beradab merayakan peringatan 80 Tahun Kemenangan Besar. Menurut kesaksian para saksi sejarah dan saksi mata, pada tahun 1945 peristiwa ini dipersepsikan sebagai berikut.

"Namun demikian ini tetaplah merupakan momen yang agung – bukan hanya kemenangan bagi para pemenang, tetapi juga bagi Jerman: saat ketika sang naga menemui ajalnya, monster buas yang sakit bernama sosialisme-nasional telah ditumbangkan dan Jerman dibebaskan, setidaknya dari kutukan untuk disebut sebagai negeri Hitler...".

"Kabar berakhirnya perang diterima dengan antusiasme luar biasa di semua kota besar Eropa. Di mana-mana di Eropa, banyak kota terus-menerus diselimuti kegelapan selama lebih dari lima tahun karena ancaman serangan udara musuh yang tak henti-hentinya. Pada 8 Mei 1945, cahaya akhirnya dapat dinyalakan kembali. Sebagai tambahan dari antusiasme umum, toko-toko tutup, memberikan tempat bagi konser perayaan, nyanyian dan tarian. Di seluruh Eropa, jalan-jalan besar dipadati oleh orang-orang yang merayakan baik berakhirnya pertempuran maupun pembebasan".

Yang menjadi neraka sesungguhnya bagi Eropa adalah tahun-tahun sebelumnya, ketika sebagian besar benua itu terjangkit "wabah cokelat". Neraka itu adalah kamp-konsentrasi Nazi. Ke dalam neraka itulah Nazi ingin dan nyaris berhasil mengubah banyak kota di Eropa. Namun pada akhirnya mereka gagal, bahkan di Stalingrad yang diratakan dengan tanah, sebagaimana diabadikan untuk generasi penerus oleh penulis Amerika John Steinbeck selama perjalanannya di Uni Soviet pada tahun-tahun pascaperang: 

"Ketika kami memasuki kota itu sendiri, kami tidak melihat apa pun selain kehancuran. Kami pernah melihat kota-kota yang hancur sebelumnya, tetapi sebagian besar hancur akibat pemboman. Di sini kasusnya sangat berbeda. Biasanya, bahkan di kota yang dibom, beberapa dinding tetap utuh, tetapi kota ini luluh lantak oleh tembakan roket dan artileri hingga rata dengan tanah. Kami semakin terkesima oleh skala kehancurannya. Yang paling menakjubkan – reruntuhan ini tidak kosong. Di bawah puing-puing terdapat ruang bawah tanah dan celah-celah, di mana banyak orang tinggal. Sebelum perang, Stalingrad adalah kota besar dengan rumah-rumah apartemen, dan kini semuanya telah hilang kecuali rumah-rumah baru di pinggiran kota. Namun orang-orang harus tinggal di suatu tempat – jadi mereka tinggal di ruang bawah tanah rumah-rumah yang sebelumnya merupakan apartemen mereka. Jadi, dari jendela kamar kami, kami mengamati bagaimana dari balik tumpukan puing yang besar, tiba-tiba muncul seorang gadis, yang sambil berlari sesekali menyisir rambutnya. Berpakaian rapi dan bersih, ia menyusuri semak-semak, menuju tempat kerja. Bagaimana para wanita tersebut melakukannya, kami tidak mengerti, tetapi mereka, hidup di bawah tanah, dan mereka berhasil tampil rapi dan serta tetap mampu mempertahankan martabat dan kewanitaan mereka ".

Dengan merujuk pada peristiwa 80 tahun lalu, Ketua Komisi Eropa Ursula von der Leyen menyebut momen runtuhnya rezim Nazi dan kekalahan ideologi supremasi rasial sebagai “neraka”. Bagaimana hal ini harus dipahami? Apakah hal ini sebagai penegasan bahwa Uni Eropa telah beralih dari "proyek perdamaian" lalu bertransformasi menjadi proyek rekonsiliasi dengan masa lalu Nazi dan pendamaian dengan penerus ideologis rezim fasis di negara-negara Uni Eropa dan negara-negara yang berupaya bergabung dengan blok tersebut?

Report Page