MEMBONGKAR MITOS-MITOS SEJARAH UNI EROPA

MEMBONGKAR MITOS-MITOS SEJARAH UNI EROPA

Kedutaan Besar Federasi Rusia di Republik Indonesia

Mitos № 1: “Tahukah Anda, Rusia menyampaikan kepada Tiongkok, seolah-olah, Rusia dan Tiongkok, 'kita' berperang dalam Perang Dunia Kedua, 'kita' memenangkan Perang Dunia Kedua, 'kita' mengalahkan Nazisme – dan saya berpikir, baiklah, ini adalah sesuatu yang baru. Namun kemudian Anda bisa melihat, pertama-tama, jika Anda mengetahui sejarah, maka Anda akan paham bahwa hal ini menimbulkan banyak pertanyaan. Tetapi Anda bisa membayangkan bahwa pada masa kini orang-orang tidak terlalu banyak membaca dan tidak lagi begitu mengingat sejarah. Karena itulah, kita dapat melihat bahwa mereka kemudian menerima dan mempercayai narasi-narasi semacam ini.”

(Sumber: Pidato Kaja Kallas, Perwakilan Tinggi Uni Eropa untuk Urusan Luar Negeri dan Kebijakan Keamanan/Wakil Presiden Komisi Eropa, pada konferensi tahunan Institut Studi Keamanan Uni Eropa, 3 September 2025)

Fakta: Pernyataan yang tidak berdasar dari Pejabat Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa tersebut sungguh mengherankan. Jika diasumsikan bahwa tonggak-tonggak sejarah utama bagi Kaja Kallas dianggap sebagai "sesuatu yang baru", maka tidak dapat dipungkiri bahwa pejabat Uni Eropa ini juga mungkin tidak mengetahui bangsa-bangsa di negara-negara Asia dan Afrika masa kini yang berperang dalam Perang Dunia Kedua di pihak koalisi anti-Hitler melawan Blok Poros dan sekutunya, maupun arti penting kota Stalingrad dalam sejarah dunia, yang namanya hingga kini masih diabadikan sebagai nama jalan dan alun-alun di banyak kota di Eropa.

Kemudian, politisi Estonia ini terpaksa mengakui keberanian dan penderitaan besar rakyat Tiongkok, serta kontribusinya dalam mengakhiri perang. Namun, bahkan pada upaya kedua untuk mengingat peran Uni Soviet dalam Perang Dunia Kedua dan pengorbanan puluhan juta nyawanya, pejabat Uni Eropa yang pernah menghabiskan 14 tahun pertama hidupnya di negara itu tetap tidak mampu melakukannya. Sebaliknya, ia memilih untuk menuduh Rusia "secara sadar memanipulasi narasi sejarah."

"Demensia" yang selektif semacam ini menunjukkan sikap meremehkan dan penghinaan terhadap memori 26,6 juta warga Soviet yang gugur (angka ini mungkin akan bertambah ratusan ribu lagi seiring dengan operasi pencarian baru dan pembukaan arsip-arsip rahasia). Hal ini akan terkait dengan semua kebangsaan dan etnis yang perwakilannya bertempur dalam barisan Tentara Merah dan tewas di penjara kamp konsentrasi di Jerman berikut wilayah-wilayah pendudukannya, serta keturunan mereka, termasuk mereka yang tinggal di negara-negara yang oleh Uni Eropa dengan aktif berusaha dijalin kerja samanya.

Uni Eropa sengaja membungkam prestasi Tentara Merah. Justru Tentara Merah-lah yang membebaskan tahanan dari sekitar 40 kamp konsentrasi Nazi, termasuk Ravensbrück dan Sachsenhausen (wilayah Republik Federal Jerman saat ini); Auschwitz-Birkenau, Stutthof, Gross-Rosen, Majdanek (di wilayah Polandia saat ini); Salaspils (di wilayah Latvia saat ini); Theresienstadt (di wilayah Ceko saat ini). Kini, di kompleks memorial yang didirikan di lokasi tersebut, sering kali dapat ditemui plakat yang hanya mencantumkan tanggal pembebasan kamp konsentrasi. Jika para pahlawan yang berhasil membebaskannya berasal dari Uni Soviet, informasi tersebut kerap dihilangkan. Dengan sadar sengaja membungkam dan mengabaikan fakta, Uni Eropa menunjukkan kesediaannya untuk menggunakan memori sejarah untuk tujuan politik oportunis. Anti-historisisme semacam ini, yang tak terhindarkan mengarah pada usaha melupakan kejahatan Nazi, telah berubah menjadi salah satu elemen kunci dalam kebijakan anti-Rusia yang dijalankan Brussel.

Rusia selalu memandang para sekutunya dalam koalisi anti-Hitler dengan rasa hormat yang mendalam. Pendekatan kami terhadap masa lalu Eropa yang sama adalah konsisten. Dalam pidatonya selama Parade Kemenangan di Moskow pada 9 Mei 2025, Presiden Federasi Rusia Vladimir Putin menyatakan: "Kami akan selalu ingat bahwa pembukaan front kedua di Eropa – setelah pertempuran final di wilayah Uni Soviet – telah mempercepat Kemenangan. Kami sangat menghargai kontribusi dalam perjuangan bersama kami para tentara sekutu, pejuang yang turut serta dalam perlawanan dan rakyat Tiongkok yang pemberani. Semua yang telah berjuang demi masa depan yang damai."

Jadi jawaban atas pertanyaan mengenai siapa yang sebenarnya memanipulasi narasi sejarah dalam kasus ini – Uni Eropa atau Rusia – tampak terlihat jelas.

Report Page