Lembar pertama

Lembar pertama

Sahara Mahanika

Dersik menyapu wajah dahayu seorang atma bersurai legam, bukan harsa yang datang kala itu. Semesta rasanya ingin bertekuk lutut, meminta ampun atas apa yang atma itu alami. Pilu, rasanya sang-atma ingin berteriak jikalau ia bisa. Ia repui, bersamaan dengan cuaca redum. Sudah sedari tadi ia merenung, meratapi betapa kesepiannya ia pada saat itu. Bumantara menjadi atap tempat ia berteduh, buana berkali-kali menyalahkan diri. Atma itu kesepian, memeluk lututnya sambil menangis dengan suaranya yang hirap.

"Jangan lagi, jangan lagi datang." Hayal, gadis itu menutup telinganya rapat-rapat. Ia lelah, gadis itu ingin istirahat. Namun nyatanya, suara-suara itu tidak membiarkan ia tidur barang sekejap. "Jangan, gak mau, gak mau sakitin diri lagi. Tolong, kali ini, baik hati sama diri sendiri. Aku takut, Tuhan."

Perlahan tangannya terangkat, mengambil selembar kertas yang dipenuhi tinta hitam. Buku hariannya, tempat ia berkeluh kesah. Tangannya menari di atas kertas itu, matanya masih saja basah, dengan kepalanya yang terus menggeleng. Ia takut, gadis itu takut.

"Aku udah nulis, kaya yang kamu mau, jangan teriak lagi di kepala aku." Hayal memukul kepalanya berkali-kali, berharap suara bising itu enyah dari kepalanya. "Aku gak bodoh, aku gak buruk, aku berharga, aku... Aku bukan kayak apa yang kalian bilang."

Anak dara itu perlahan melangkah, menutup jendela yang tertiup oleh angin. Malam itu hujan lebat, matanya menyapu pandang, asrar yang ia simpan rapih nyatanya membuat ia menderita. Maksud hati ingin mengurangi beban keluarganya, nyatanya dirinya yang berkali-kali ingin mengakhiri diri.

Air matanya berlinang, ia tidak tahu kapan ceritanya selesai, ia hanya ingin memiliki akhir yang bahagia. Tapi, apakah mungkin? Nyatanya, dunia hanyalah faktikus. Manusia hidup dalam ego, membiarkan manusia lain menderita.

"Indurasmi, dapat bahagia sesulit itu, ya?" Ia bermonolog, menerawang sinar bulan dengan lengan cantiknya. "Aku capek, kalau kamu mau tau. Apa Tuhan pernah mikir, kalau aku udah cukup menderita? Apa semuanya berakhir sesuai apa yang aku mau?"

"Kalau enggak, apa aku boleh nyerah?"

Ia mengusap dadanya perlahan, merasa lega karena suara itu tidak lagi mengganggunya. Lagi, ia tersenyum samar. Ia berhasil menahan diri untuk tidak menyakiti dirinya sendiri.

"Harus jadi kuat ya? Besok harus pura-pura jadi manusia paling bahagia, kan?"

Matanya melirik cermin, melihat matanya yang sembab akibat menangis. Perlahan ia menepuk pucuk kepalanya dengan lembut, "kamu kenapa hebat banget ya? I'm so proud of you. Jadi anak baik gak sesulit itu kan? Tolong bertahan lebih lama lagi."

Report Page