Leader as a Mentor

Leader as a Mentor

Muhayyina Wahidah

Sejak menjadi Duta Askes sampai dengan Duta BPJS Kesehatan, banyak rekan kerja dan atasan yang mewarnai keseharian saya dalam bekerja. Mereka berperan dalam setiap kesempatan. Oleh karena itu, apresiasi pantas diberikan karena setiap orang memiliki peran sekecil apapun. 

Namun, apresiasi tidak selamanya dengan ucapan terima kasih. Melanjutkan karya dan menjadikan sebagai guru serta mentor juga merupakan bentuk apresiasi. Hal ini juga Saya alami selama berinteraksi dengan beberapa atasan selama bekerja.  

Terima kasih kepada seluruh rekan kerja serta atasan langsung yang pernah berinteraksi dengan saya. Khususnya beberapa leader seperti Bapak I Made Puja Yasa. Bersama beliau, saya belajar work life balance. Dengan Bapak Donni Hendrawan, saya belajar tentang “the art of presentation”. Dengan Ibu Andi Rismaniswati, membuat kami merasa “we are family”, bersama Bapak Muhammad Ali, saya belajar mengagendakan sesuatu dengan "well prepared" dan bersama Ibu Elsa Novelia (walau tidak lama berinteraksi), Saya belajar menulis karya ilmiah yang walaupun secara sederhana menjelaskan hal yang dikerjakan dan dampaknya tidak besar, namun dapat membuat saya menghadiri konferensi ISSA di Muscat, Oman 2015.

ISSA Regional Social Security Forum for Asia and The Pacific di Muscat - Oman 2015.

"Tulislah, mulai dari hal yang selama ini dikerjakan walaupun kecil, karena tidak semua orang mau menulis apa yang mereka kerjakan" adalah kalimat Ibu Elsa yang menjadi penyemangat saya. 

Support beliau sebagai mentor dimulai dari memberikan referensi, membantu menerjemahkan, hingga monitoring hasil. Saat itu, menulis adalah beban yang mengganggu zona nyaman saya. Namun sebagai Leader, beliau tidak lantas mengiyakan keengganan saya untuk menulis. Beliau memposisikan dirinya sebagai mentor. 

“Move out your comfort zone, you can only grow if you are willing to feel awkward and uncomfortable when you try something new”

Saya belajar menjadi leader yang baik bukanlah yang meng-iyakan keinginan subordinate, melainkan : (1). menetapkan tujuan bermanfaat bagi organisasi, (2). mengkomunikasikan dan menerjemahkan tujuan dengan baik, (3). membimbing sesuai kebutuhan, (4). memetakan kendala bersama, (5). mencari solusi yang tepat, (6). monitoring evaluasi capaian, (6). memberikan apresiasi serta (7). menjaga silaturrahmi.

Saya merasa beruntung serta bersyukur pernah menjadi bagian dari Tim dengan leader terbaik. Sekali lagi terima kasih atas pembelajaran yang diberikan. 

Sebagai wujud apresiasi, serta melanjutkan “legacy” dari leader yang menjadi Mentor saya, saya telah mempublikasikan artikel ilmiah di Jurnal JKN pada tahun Tahun 2022 – 2023 bersama rekan seprofesi dan mentor

https://jurnal-jkn.bpjs-kesehatan.go.id/index.php/jjkn/article/view/78
https://jurnal-jkn.bpjs-kesehatan.go.id/index.php/jjkn/article/view/140


Report Page