LOYALITAS MUSLIMAH

LOYALITAS MUSLIMAH

AN MU'ASASAH

Tidak diragukan lagi bahwa kembalinya Khilafah diiringi dengan syariat-syariat yang tegak telah menghidupkan kembali pelita dalam benak para wanita. Para muslimah yang hidup dalam naungan Daulah kita telah mulai mengerti banyak dari perkara Dien dan kewajiban yang telah dibebankan oleh Rabb seluruh alam. Khususnya dalam perkara tauhid yang telah sangat terkotori dalam kungkungan negeri syirik.

    TALI IMAN YANG PALING KOKOH

Ketahuilah wahai muslimah bahwa Islam itu berarti berserah taat kepada Allah dan mentauhidkan-Nya serta berlepas diri dari syirik dan pemeluknya. Wala' wal Bara' itu menurut ijma' adalah dua prinsip Islam dan keduanya juga bagian dari syahadat Iaa'ilaha illa'llah. Seseorang itu tidak disebut muslim sampai ia berlepas diri dari kekafiran dan pemeluknya sekalipun orang terdekatnya.

Mungkin engkau berkata "Namun aku telah berwala' (loyalitas) kepada Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang mukmin, buktinya aku bersuka cita dengan syariat Rabb semesta alam, sudah memakan Hijab, dan melakukan apa yang diperintahkan Allah."

Belum, Ketahuilah bahwa loyal kepada orang-orang kafir itu tidak hanya berupa membantu mereka atas kaum muslimin, akan tetapi menyembunyikan rasa suka dan membenarkan mereka itu juga bagian dari loyalitas. Cinta dan rasa suka itu tempatnya di hati dan hati adalah tuan dari seluruh anggota tubuh.

Imam Ahmad رحمه الله meriwayatkan dalam Musnadnya dari al-Barra bin 'Azib راضي الله عنه ia berkata, “Kami sedang duduk bersama Rasulullah ﷺ beliau bersabda, ’Tali Islam apa yang paling kokoh? Para sahabat menjawab, ’Shalat.’ Sabdanya, 'Bagus, tapi bukan itu.' Para sahabat menyahut, 'Zakat.' Jawabnya, 'Bagus, tapi bukan itu.' 'Puasa Ramadhan,' sahut mereka. Jawabnya, 'Bagus, tapi bukan itu.' 'Haji', sahut mereka lagi. Jawabnya, 'Bagus, tapi bukan itu.' Mereka menyahut lagi, 'Jihad.' Jawabnya, 'Bagus, tapi bukan itu.' Lalu sabdanya, 'Sesungguhnya tali iman yang paling kokoh adalah engkau mencintai karena Allah dan membenci juga karena Allah.’

Sulaiman Alu Syaikh رحمه الله berkata, ”Dien tidak akan sempurna dan panji jihad serta amar makruf nahi mungkar tidak akan tegak tanpa cinta dan benci karena Allah pun loyalitas dan permusuhan karena-Nya. Seandainya semua orang itu saling mencintai tanpa ada kebencian dan permusuhan niscaya tidak akan ada pemisah antara kebenaran dan kebatilan, antara orang-orang mukmin dan kafir, serta antara wali Allah dan wali setan.” [ad-Durar as-Saniyyah].

PERMUSUHAN MEMISAHKAN ANTARA KAMI DAN KALIAN

Tidak ada loyalitas tanpa permusuhan. Memang betul engkau sudah berubah hingga dan loyalitasmu kepada Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang beriman, namun apakah engkau telah berlepas diri dari musuh-musuh Allah dan Dien?

Mungkin ada diantara daftar kontak teleponmu yang mencaci Islam, curhat, syahwat, keduniawian dan hal-hal yang tidak ada untungnya untuk kehidupan akhirat. Mungkin sebagian obrolanmu dengan kerabatmu itu berisi secuil permusuhan dan kebencian Islam, Allah Maha Tahu, namun engkau tidak merasa risih apalagi peduli. Bahkan mungkin saja ada yang memprovokasimu untuk meninggalkan Islam karena dorongan ekonomi, karir, membuka aib seseorang,tuntutan atau alasan-alasan menggelikan lain yang di sangkut pautkan dengan kehidupan dunia,

Engkau mengetahui semua ini namun engkau diam saja, malah menyukai orang-orang seperti mereka tidak memarahi mereka karena Dien dan akidahmu. Bahkan engkau marah-marah jika suamimu melarangmu berhubungan dengan orang-orang seperti mereka karena bagimu mereka itu tak lebih dari teman saja.

KAUM MUSLIMIN MEMBOIKOT SAHABAT KARENA TERTINGGAL DARI GHAZWAH

Salaf telah memberi contoh terbaik tentang Wala' wal Bara'. Inilah Kaab bin Malik راضي الله عنه yang tidak mengikuti Ghazwah Tabuk tanpa uzur, Nabi ﷺ telah memerintahkan dengan jelas seterang matahari untuk memboikotnya dan orang-orang sepertinya. Kaab راضي الله عنه menceritakan kisahnya sendiri sebagaimana termaktub dalam Shahih Bukhari, ”Sejak saat itu, Rasulullah ﷺ melarang para sahabat berbicara dengan kami, tiga orang yang tidak ikut dalam perang Tabuk. Orang-orang pun menjauhi kami. Bumi yang ku injak telah berubah, tidak sama lagi seperti sebelumnya. Keadaan itu terus berlangsung selama lima puluh hari. Dua sahabatku, mereka tak tahan menghadapi hajr (isolasi) yang dilakukan kaum muslimin terhadap kami. Mereka mengurung diri dalam rumah dan tak pernah berhenti menangis. Sedangkan aku adalah orang yang termuda dan terkuat diantara mereka. Kukuatkan hatiku untuk menemui orang-orang, berharap akan ada seseorang yang menyapaku. Namun tak ada seorang pun yang mau berbicara denganku.

Ketika aku memasuki masjid, kuucapkan salam kepada Rasulullah ﷺ. 'Apakah Beliau ﷺ akan menggerakkan bibirnya untuk menjawab salamku?, tanya hatiku. Aku pun shalat dan mengambil posisi terdekat dengan Beliau ﷺ. Aku mencuri-curi pandang kepada Beliau ﷺ. Ketika aku fokuskan pandangan pada shalatku, Beliau ﷺ memandangku. Dan bila aku meliriknya, Beliau ﷺ memalingkan wajahnya dariku.

Keadaan itu terus berlanjut hingga beban itu kian berat kurasakan. Aku pun menemui Abu Qatadah راضي الله عنه, sepupuku dan orang yang sangat kucintai. Aku memanjat dinding rumahnya dan kuucapkan salam padanya. Namun dia tidak menjawab salamku. Aku berkata memelas padanya, ”Wahai, Abu Qatadah! Demi Allah, bukankah engkau mengetahui bahwa aku mencintai Allah dan RasulNya? la hanya terdiam dan tidak menanggapi perkataanku. Ku ulangi kata-kataku tadi berkali-kali, hingga ia berujar singkat, 'Allah dan RasulNya yang lebih mengetahui! Air mataku pun meleleh tanpa bisa kutahan.” Keadaan terus berlangsung demikian. Kaum muslimin memboikotnya sampai Allah menerima taubatnya dan kedua temannya itu.

Perhatikanlah wahai muslimah, lihatlah bagaimana kaum muslimin memboikot Kaab Radhiyallahu Anhu karena tidak menaati perintah Nabinya. Apakah tindakan para Kaab راضي الله عنه itu sama dengan tingkah para qo'idun sekarang? Sekali-kali tidak, para qo'idun itu tidak hanya duduk-duduk dan tidak menolong kebenaran, bahkan ada yang jika disebut jihad dan pelakunya langsung keluar kata-kata pedas dari mulutnya!

DIENULLAH LEBIH DICINTAI DARIPADA BAPAKNYA

Betapa terpujinya Abdullah bin Abdullah bin Ubay راضي الله عنه ketika bapaknya si gembong munafik itu berkata,

Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah dari padanya." (QS. alMunafikun: 8)

kemudian Nabi ﷺ memerintahkan para sahabat راضي الله عنه untuk kembali ke Madinah, maka Abdullah menghalang-halangi bapaknya di pintu kota berkata, ”Aku tidak akan membiarkanmu sampai engkau mengaku bahwa engkaulah yang lemah dan Muhammadlah yang kuat." Betul, begitulah Wala' wal Bara' ketika telah terwujud dalam gambarannya yang paling bersinar. Disinilah pemisahan ketika garis merah tauhid dan akidah dilanggar. Tidak ada kecintaan dan kecondongan jika menyangkut perkara Dien!

Adapun Ummul Mukminin Ummu Habibah راضي الله عنهما telah mengajari kita Wala' wal Bara' dengan contoh yang tidak ada duanya. Dari az-Zuhri berkata, ”Ketika Abu Sufyan sampai di Madinah dan Nabi ﷺ telah berniat untuk menyerbu Makkah, ia datang untuk bernegosiasi soal memperpanjang waktu pernjanjian damai. Nabi ﷺ tidak menerimanya. Maka dia pergi ke rumah putrinya Ummu Habibah. Ketika hendak duduk di kasur Nabi ﷺ, putrinya itu langsung mengambil dan melipat kasurnya. Maka katanya, 'Wahai putriku, apakah engkau tidak suka aku duduk di kasur itu atau bagaimana? Jawabnya, 'Itu adalah kasur Rasulullah sedangkan engkau itu seorang musyrik najis.' 'Wahai putriku, sungguh engkau telah tertimpa kejelekan', kata Abu Sufyan terperangah.” [Sairu A'lam an-Nubala].

DERAJAT HIJRAH FISABILILLAH

Sebagai penutup, Wahai muslimah, kami tidak memprovokasimu untuk meninggalkan keluarga dan kerabatmu kecuali yang telah jelas murtad bagimu lantaran perkataan atau perbuatan yang mengeluarkan dari millah. Yang demikian itu harus diboikot dan berlepas diri darinya, yaitu seperti menolong musuh walaupun dengan satu kalimat saja, mendoakan atau mencap Mujahid sebagai teroris, Ekstrimis dan malah mengutuknya, binasa dan kalah dalam melawan musuhnya, berangan-angan akan hilangnya syariat berganti dengan undang-undang positif buatan, atau tindakan lain yang membatalkan Islam dan iman. Adapun selainnya maka ia diboikot sesuai dengan kadar kesesatan dan maksiatnya.

Walhamdulillahi Rabbil'alamiin

Report Page