LAW AGENT
IVYHujan turun sejak dini hari, membasahi jalan-jalan utama Caelum State yang perlahan mulai dipenuhi kendaraan. Dari permukaan, negara itu tampak menjalani pagi seperti biasanya. Para agent bergegas menuju kantor, media sibuk menyiarkan berita ekonomi, dan gedung-gedung pemerintahan kembali dipenuhi aktivitas. Tidak ada seorang pun yang menyadari bahwa puluhan meter di bawah kompleks pemerintahan pusat, sebuah organisasi rahasia telah memulai harinya jauh lebih awal.
Secret Base 911.
Organisasi yang keberadaannya hanya diketahui oleh segelintir pejabat negara itu terbagi menjadi tiga divisi. Blue Codex bekerja dengan pengetahuan sebagai senjata utama. 911 Human Anomaly mengendalikan dunia bawah melalui transaksi dan jaringan mereka. Sementara Law Agent berdiri di antara keduanya sebagai penjaga hukum, divisi yang meyakini bahwa sebuah negara hanya dapat bertahan apabila hukum tetap menjadi fondasi yang tidak tergoyahkan.
Markas Divisi Law Agent berada di sayap timur Secret Base 911. Koridornya dipenuhi dinding marmer putih dengan lambang timbangan keadilan yang terpasang di setiap beberapa meter. Tidak ada layar hologram raksasa seperti milik Blue Codex ataupun ruang negosiasi mewah seperti yang dimiliki Human Anomaly. Yang memenuhi ruangan hanyalah rak-rak arsip, dokumen perkara, dan ruang sidang internal yang selalu digunakan untuk membahas setiap operasi sebelum dijalankan.
Di ujung koridor, sebuah pintu kayu besar bertuliskan LAW AGENT OPERATION ROOM terbuka perlahan. Beberapa agent telah berkumpul di dalam. Seorang pria tampak membaca laporan forensik sambil menikmati kopi hitam. Dua agent lain memperdebatkan isi sebuah pasal hukum dengan nada santai, sedangkan di sudut ruangan seorang perempuan tertidur dengan map menutupi wajahnya.
"Dia belum bangun juga?" tanya salah seorang agent sambil melirik ke sudut ruangan. Nada bicaranya terdengar geli karena pemandangan itu sudah terlalu sering ia lihat.
"Semalam dia mengaudit arsip sampai jam tiga pagi," jawab rekannya sambil menutup berkas yang sedang dibaca. Ia mengangkat bahu seolah begadang demi pekerjaan bukan lagi hal yang mengejutkan bagi divisi Law Agent.
"Kalau begitu jangan dibangunkan dulu. Nanti malah marah," sahut agent lain yang langsung disambut tawa pelan dari beberapa orang di ruangan.
Suasana santai itu berubah ketika pintu kembali terbuka. Seluruh agent berdiri hampir bersamaan. "Selamat pagi, Ketua," ucap mereka serempak. Tidak ada yang terlambat memberi hormat. Mereka mengenal betul perempuan yang baru saja memasuki ruangan itu. Ia bukan tipe pemimpin yang banyak berbicara, tetapi setiap keputusan yang diambilnya selalu menjadi standar bagi seluruh Divisi Law Agent.
Perempuan itu mengangguk tipis. "Pagi," jawabnya singkat. Suaranya tenang, datar, dan tidak pernah terdengar terburu-buru. Hanya dengan satu kata, seluruh ruangan memahami bahwa waktu bercanda telah selesai.
Dialah salah satu agent kepercayaan Jupiter, sosok yang selama bertahun-tahun membuktikan kemampuannya dalam menjalankan berbagai misi yang berada di bawah yurisdiksi Law Agent. Ia dikenal memiliki ketelitian yang nyaris tidak pernah luput, kemampuan membaca situasi dengan cepat, serta keteguhan untuk tetap berpegang pada hukum bahkan ketika sebuah misi menempatkannya di antara kepentingan politik dan tekanan dari pihak berkuasa.
Ia berjalan menuju kursi paling depan, meletakkan map tipis di atas meja, lalu memperhatikan satu per satu anggota yang hadir. Kebiasaan itu selalu ia lakukan sebelum rapat dimulai. Bukan untuk mencari kesalahan, melainkan memastikan seluruh anggotanya benar-benar siap menerima penugasan. Belum sempat Soleil duduk, suara langkah kaki tergesa-gesa terdengar dari luar ruangan.
Pintu kembali terbuka. "Kurasa ... aku belum terlambat." Seorang perempuan masuk sambil mendorong pintu menggunakan bahunya. Kedua tangannya sibuk memeluk tumpukan map yang hampir menutupi wajahnya. Napasnya sedikit tersengal, tetapi senyum kecil masih terlihat di bibirnya. Beberapa agent langsung berdiri membantu.
"Wakil Ketua, biar kami saja." Seorang agent mengambil setengah map dari pelukannya. Dari raut wajahnya terlihat jelas ia sudah menebak apa yang akan dibawa Psyche pagi itu.
"Terima kasih," jawab perempuan itu sambil menghela napas lega. Setelah kedua tangannya bebas, ia merapikan rambut yang sedikit berantakan sebelum tersenyum kepada seluruh anggota.
Dialah Psyche, Wakil Ketua Divisi Law Agent.
Berbeda dengan Soleil yang lebih sering berada di garis depan operasi. Psyche menghabiskan sebagian besar waktunya di ruang arsip dan ruang analisis. Hampir seluruh pasal Konstitusi Caelum State ia hafal di luar kepala. Tidak sedikit agent yang bercanda bahwa apabila seluruh perpustakaan hukum terbakar, ia mungkin masih mampu menuliskannya kembali dari ingatan.
"Berapa banyak berkas yang kau bawa kali ini?" tanya seorang agent sambil mengangkat salah satu map. Wajahnya dipenuhi rasa heran melihat tumpukan dokumen yang tidak kunjung habis.
"Empat puluh tujuh," jawab Psyche ringan. Baginya angka itu sama sekali tidak berlebihan. Ia mengucapkannya sambil mulai menyusun map-map tersebut berdasarkan nomor perkara.
"Empat puluh tujuh?" Seorang agent membelalakkan mata sebelum tertawa kecil. "Apa kau berniat memindahkan seluruh ruang arsip ke sini?" candanya yang langsung mengundang tawa dari beberapa Agent lain.
Psyche ikut tertawa.
"Minggu lalu kalian mengeluh arsip berantakan," ujarnya sambil terus menyusun dokumen. Nada suaranya tetap lembut seperti biasa. "Sekarang sudah rapi, kalian masih mengeluh juga."
"Kami mengeluh karena kau mengerjakannya sendirian," sahut agent lain sambil menyandarkan tubuh ke kursi. Ia mengenal Psyche cukup lama untuk mengetahui bahwa perempuan itu terlalu sering memaksakan diri.
Psyche hanya tersenyum."Tidak apa." Ia menepuk pelan tumpukan map yang telah selesai disusun. "Lebih baik aku lelah daripada kita kehilangan satu bukti penting saat operasi nanti."
Beberapa agent saling pandang. Tidak ada yang membantah. Karena mereka tahu, Psyche selalu berbicara berdasarkan pengalaman.
Soleil yang sejak tadi memperhatikan akhirnya membuka suara. "Kau tidak tidur lagi semalam?" tanyanya sambil membuka map pertama di hadapannya. Nada suaranya tetap datar, tetapi beberapa agent mengetahui bahwa itu adalah bentuk kepedulian yang jarang diperlihatkan Ketua mereka.
"Nanti malam saja," jawab Psyche sambil tersenyum kecil. Ia sudah hafal pertanyaan itu akan muncul setiap kali mereka bertemu di pagi hari.
Soleil menghela napas pelan. "Jawabanmu tidak pernah berubah." Sudut bibirnya terangkat tipis. Senyum kecil yang hampir tidak terlihat itu cukup membuat beberapa agent saling bertukar pandang. Momen seperti itu jarang sekali terjadi.
Sebelum Psyche sempat menjawab, alarm prioritas mendadak berbunyi.
BEEP! BEEP! BEEP!
Lampu di langit-langit berubah merah. Seluruh ruangan yang semula dipenuhi canda langsung hening. Pintu ruang rapat terbuka dengan cepat. Seorang petugas komunikasi memasuki ruangan sambil membawa tablet di tangannya. "Soleil," sapanya singkat. Napasnya terdengar sedikit tidak teratur, pertanda ia berlari dari ruang komunikasi tanpa sempat berhenti.
"Laporan," ucapnya tegas. Tidak ada lagi nada santai seperti beberapa menit sebelumnya.
Petugas itu menelan ludah sebelum mulai berbicara. "Dua puluh enam menit yang lalu ditemukan jenazah Ketua Mahkamah Agung Caelum State di ruang kerjanya." Kalimat itu diucapkannya perlahan, seolah memastikan tidak ada satu kata pun yang keliru.
Ruangan mendadak sunyi. Bahkan suara hujan di luar markas terasa lebih jelas daripada sebelumnya. Psyche segera meraih tablet dari tangan petugas. "Identitas korban?" tanyanya sambil mulai membaca laporan awal yang baru saja masuk.
"Judge Alaric Rowan," jawab petugas itu. Saturn mengangkat pandangan, ia mengenal nama itu. Seluruh anggota Law Agent mengenal nama itu. Karena tiga hari lagi, Alaric Rowan dijadwalkan memimpin sidang korupsi terbesar dalam sejarah Caelum State.
Soleil menutup berkas perkara secara perlahan hingga suara benturannya menggema pelan di ruang operasi yang kembali dipenuhi keheningan. Ia berdiri dari kursinya, merapikan jas hitam yang dikenakannya, lalu mengangkat pandangan ke arah seluruh agent yang telah menunggu keputusan sejak beberapa menit lalu. Tidak ada satu pun wajah yang menunjukkan keraguan. Mereka memahami bahwa mulai saat ini kasus tersebut bukan lagi sekadar laporan kematian, melainkan sebuah ancaman terhadap hukum yang selama ini mereka lindungi.
"Mulai detik ini, kasus ini berada di bawah yurisdiksi Divisi Law Agent," ucap Soleil dengan suara tenang namun penuh ketegasan. Tatapannya berkeliling menyapu setiap anggota yang berdiri mengelilingi meja rapat, memastikan tidak ada seorang pun yang luput dari pesan yang hendak ia sampaikan.
"Tidak ada satu bukti pun yang boleh hilang, tidak ada satu saksi pun yang boleh diintimidasi, dan tidak ada seorang pun yang akan kita tetapkan sebagai tersangka sebelum hukum membuktikan bahwa ia benar-benar bersalah." Kalimat itu diucapkannya tanpa meninggikan suara, tetapi justru terdengar jauh lebih kuat daripada sebuah teriakan.
Seluruh agent menganggukkan kepala hampir bersamaan. Bagi mereka, kalimat tersebut bukan sekadar perintah dari seorang Ketua Divisi, melainkan prinsip yang telah diwariskan dari generasi ke generasi sejak era Hades memimpin Law Agent.
Psyche membuka kembali tablet di tangannya, kemudian mulai membagi tugas kepada setiap unit dengan ketelitian yang selalu menjadi ciri khasnya. "Unit Investigasi berangkat ke Mahkamah Agung dan amankan seluruh tempat kejadian perkara. Unit Intelijen Hukum telusuri komunikasi korban selama tujuh puluh dua jam terakhir. Sisanya mulai menyusun daftar seluruh orang yang memiliki akses ke ruang kerja Judge Alaric Rowan selama satu minggu terakhir." Suaranya tetap lembut, namun setiap instruksi keluar dengan jelas dan sistematis.
Tidak ada satu agent pun yang perlu meminta penjelasan ulang. Mereka segera meraih map, tablet, dan perlengkapan operasional masing-masing, kemudian bergerak meninggalkan ruang rapat sesuai tugas yang telah diberikan. Tidak ada kepanikan, tidak ada teriakan, hanya langkah-langkah kaki yang terdengar teratur memenuhi koridor markas Law Agent.
Di tengah kesibukan itu, salah seorang agent menghentikan langkahnya dan menoleh kepada Soleil yang masih berdiri di depan meja rapat. "Soleil, bagaimana jika seluruh bukti nanti justru mengarah kepada pejabat negara?" tanyanya dengan nada hati-hati. Pertanyaan itu membuat ruangan kembali sunyi.
Beberapa agent yang sudah berada di ambang pintu ikut menghentikan langkah mereka, menunggu jawaban yang akan diberikan oleh pemimpin divisi tersebut. Saturn tidak langsung menjawab. Ia berjalan perlahan menuju jendela besar di ujung ruangan, memandang hujan yang masih membasahi ibu kota Caelum State sebelum akhirnya membalikkan badan menghadap seluruh anggotanya.
Wajahnya tetap tenang seperti biasa, tanpa sedikit pun keraguan. "Kalau memang bukti mengarah kepada mereka," ucapnya perlahan dengan nada yang rendah namun tegas, "Maka nama, jabatan, dan kekuasaan tidak akan mengubah apa pun." Ia berhenti sejenak, membiarkan setiap kata yang diucapkannya meresap ke dalam benak seluruh agent. Pandangannya kemudian beralih kepada lambang timbangan keadilan yang berdiri kokoh di belakang meja rapat. "Hukum tidak pernah mengenal siapa yang sedang diadili. Hukum hanya mengenal siapa yang bersalah."
Tidak ada seorang pun yang menanggapi kalimat itu. Seluruh agent hanya berdiri makin tegap. Mereka memahami bahwa inilah alasan mengapa Law Agent selalu menjadi simbol keadilan di Secret Base 911. Mereka tidak pernah tunduk kepada kekuasaan, tidak pernah mengubah putusan karena jabatan, dan tidak pernah menukar keadilan dengan kepentingan siapa pun.
Psyche menutup tabletnya perlahan, lalu berdiri di sisi Soleil dengan senyum tipis yang hampir tidak terlihat. "Justice Before Mercy," ucapnya pelan sambil meletakkan tangan kanannya di dada kiri, tepat di atas lambang Divisi Law Agent.
Tanpa aba-aba, seluruh Agent mengikuti gerakan yang sama. "Justice Before Mercy," jawab mereka serempak. Suara itu menggema memenuhi ruang operasi, menjadi pengingat bahwa keadilan akan selalu didahulukan sebelum belas kasihan. Soleil mengangguk tipis, lalu mengenakan sarung tangan operasionalnya sebelum melangkah keluar dari ruang rapat. Psyche berjalan di sampingnya sambil membawa seluruh berkas perkara yang akan menjadi awal dari penyelidikan besar tersebut. Di belakang mereka, puluhan agent mulai bergerak menuju kendaraan operasional masing-masing.
Tidak ada yang mengetahui siapa pembunuh Judge Alaric Rowan atau seberapa besar konspirasi yang sedang menunggu di balik kasus itu. Namun, satu hal telah dipastikan sejak mereka meninggalkan ruang operasi pagi itu selama masih ada agent yang mengenakan lambang Law Agent di dadanya, hukum di Caelum State tidak akan pernah dibiarkan tunduk kepada siapa pun.