Kuncen ; Koesnadi

Kuncen ; Koesnadi

by Jimmy


Hari itu, hari dimana saya kehilangan dua orang paling penting di hidup saya. Orang tua. Acara pemakaman berlangsung dengan penuh tangis air mata. Langit yang mendung seolah menandakan bahwa ia turut bersedih dan secara perlahan, tangisnya turun. Namun, hal itu tidak membuat saya beranjak sejengkal pun dari makam mereka.


Hahh. Hela panjang nafas, menandakan betapa lelahnya saya hari itu. Seluruh tubuh saya dipaksa bekerja dari subuh tadi. Saya mencoba memejamkan mata, namun malah langsung terpikir, bahwa setelah ini saya akan mengemban tugas yang sangat berat, yang di wariskan turun temurun ke anak bungsu dari keluarga bapak.


Kuncen. Seorang juru kunci atau penjaga sebuah tempat keramat. Ya, keluarga saya sudah menjadi seorang kuncen selama lebih dari 70 tahun yang lalu. Sesuai tradisi, memang anak bungsu yang mewarisi posisi itu. Dan sialnya, saya adalah anak bungsu di keluarga bapak dan ibu.


wuushhh


Angin berembus sedikit kencang ketika saya membuka pintu gerbang istana tua itu. Saya tau, bahwa itu adalah cara mereka menyambut sang calon kuncen baru tempat itu. Saya pernah merasakannya saat kecil. Suasana istana itu masih sama, tidak ada yang berubah walau waktu sudah berjalan lebih dari setengah abad.


"Le, cah bagus. Yen mengko bapak wis ora ana lan kowe wis dadi sing duwe istana, diruwat apik apik ya? aja lali tansah beberes lan paling ora sasasi sepisan kowe nongkrong ing kono. Ing kono iku peteng, mesakke mereka ing kono selama-lamane. kowe kudu bisa dadi kuncen kang apik gawe dheweke kabeh. yen ana kang takon ngenani mereka, kowe kudu ngerti, bab iku tabu apa ora menawa kowe jlentrehake. pokoke, bapak pracaya karo kowe." Itu salah satu wejangan yang pernah bapak sampaikan ketika kamus sedang bersantai di teras rumah.


Kriett


Saya membuka pintu raksasa istana ini dengan perlahan dan bau debu langsung menyapa penciuman saya. Menyesakkan. Saya melangkahkan kaki menuju lantai 5, yaitu lantai paling atas istana ini. Disana ada sebuah ruangan yang akan saya pakai sebagai tempat ritual, untuk menetapkan posisi saya sebagai kuncen istana ini.


Saya mulai menata posisi lilin agar mengelilingi posisi saya sekarang. Satu persatu lilin mulai hidup dengan sendirinya tanpa bantuan korek atau sumber api apapun. Jangan heran, setiap anak bungsu yang lahir dalam keluarga ini, memiliki kemampuan untuk menundukkan para makhluk ghaib yang ada di istana. Kemampuan itu akan bertambah kuat seiring berjalannya lama waktu yang diabdikan untuk menjadi kuncen istana. Semakin kuat kemampuan itu, semakin mudah mengatur para makhluk itu.


Semua persiapan sudah selesai. Saatnya ritual dimulai. Kebetulan, hari ini adalah hari dimana bulan menunjukkan diri seutuhnya, bulan purnama. Saat bulan purnama, biasanya segel istana akan terbuka dan membuat para penghuninya bisa menampakkan diri di sekitar istana. Saya mulai menempatkan diri di sebuah kursi tahta yang sudah dikelilingi 6 lilin. Lalu memejamkan mata dan mulai mengumpulkan tenaga dalam yang selama ini saya gunakan sebagai kekuatan.


Aja sipat tan pegat siyang myang dalu,

Amuwun ing ngarsa mami,

Nora pajar kang kinayun,

Lah mara sira den aglis,

Tutura mringjeneng ingong.


Tembang megatruh mulai mengalun, tanda bahwa ritual akan sampai pada puncaknya. Para makhluk ghaib, memulai aksinya dengan mengelilingi sang kuncen, memberikan kekuatan secara spiritual. Disana, sang kuncen berusaha setengah mati untuk menahan berbagai tekanan yang datang dari segala arah.


" Salam kalih para arwah leluhur, para petinggi istana. Kula Koesnadi Bhadriko, ngabdikaken dhiri dados kuncen istana. Berjanji setya dados setunggaling tiyang kuncen ingkang angsal njagi papan puniki. Mula kula, ajeng nampi berkah ingkang dipilihkan kangge kula lebet nglampahaken ayahan ayahan sakepripun kedahipun. "


Kata kata dengan bahasa Jawa itu mengalun lantang, tanda kesungguhan hati seorang Koesnadi dalam mengabdikan dirinya. Perlahan, tubuhnya terangkat dan bayangan hitam mulai mengelilinginya.


Bruk


Koesnadi jatuh tersungkur. Ritual selesai. Dan mulai hari ini, seorang Koesnadi Bhadriko resmi menjadi kuncen istana.

Report Page