Kumpulan gone wrong?

Kumpulan gone wrong?

Putih Abu-Abu


Sabtu malam itu rumah Chaewon kembali menjadi tempat paling berisik di satu komplek. Sudah lama sejak terakhir kali mereka berhasil berkumpul dengan anggota yang nyaris lengkap. Kuliah di kota berbeda, jadwal organisasi, praktikum, sampai dosen yang hobi memberi tugas mendadak membuat reuni sederhana seperti ini justru terasa lebih sulit diwujudkan daripada sidang skripsi. Maka begitu semuanya berhasil datang, tidak ada yang benar-benar berniat pulang cepat. Halaman belakang rumah Chaewon yang biasanya lengang berubah menjadi lautan suara. Asap dari panggangan mengepul tipis di udara, bercampur aroma sate ayam yang baru dibalik, sosis bakar, jagung bakar, dan tawa yang saling bersahutan tanpa jeda. Musik dari speaker kecil di pojok teras masih menyala, tetapi hanya terdengar samar karena percakapan dua puluh satu orang jauh lebih bising daripada volume maksimal speaker itu sendiri.

Kalau ada tetangga yang melintas, kemungkinan besar mereka akan mengira sedang ada acara keluarga besar. Padahal keluarga mana yang isinya saling hina sejak lima menit pertama datang.

Junkyu yang sejak awal sudah menyerahkan nasibnya menjadi tukang panggang berdiri paling dekat dengan bara arang sambil membolak-balik ayam. Sesekali ia meniup dan mengipas bara yang mulai mengecil, lalu menoleh sebentar hanya untuk memastikan tidak ada tangan iseng yang mengambil makanan sebelum matang. Sayangnya, pengawasan seketat apa pun rasanya sia-sia kalau Hyunjin berdiri tepat di sebelahnya.

"Hyun."

"Hm?"

"Itu ngapain."

Hyunjin menoleh santai. Di tangan kirinya sudah ada satu tusuk sate yang bahkan masih mengepulkan asap.

"Makan."

“Belom mateng, pea.”

“Udah kok ini enak.” Hyunjin begitu santai mengunyah sate ayamnya, membuat Junkyu menghembuskan nafas panjang, "Itu namanya nyolong." Terus terangnya.

"Beda."

"Apa bedanya?"

"Kalau nyolong kan sembunyi-sembunyi."

Hyunjin menggigit sate itu tanpa rasa bersalah.

"Gue terang-terangan."

Junkyu menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya mengembuskan napas pelan, entah yang keberapa kali. "Gue heran deh. Tiap kumpul kenapa yang paling pertama laper selalu lu."

"Soalnya gue datang buat makan."

"Bukan ngumpul?"

"Itu bonus."

Belum selesai Junkyu memproses jawaban itu, Felix yang berdiri di belakang Hyunjin ikut mengulurkan tangan ke baki sate. Gerakannya hampir mulus kalau saja capit panggangan di tangan Junkyu tidak lebih cepat menepuk punggung tangannya.

"Aduh!"

"Lu juga."

"Gua cuma pegang."

"Mau ngapain?"

"...Mastiin mateng."

Hyunjin langsung mengacungkan jempol.

"Regenerasi."

"Regenerasi pala lu." Semprot Junkyu sambil menepak kepala Hyunjin dengan kipas yang ia gunakan untuk mengipas sate.

Dari kursi plastik, Soobin yang sedari tadi menikmati es teh sambil melihat tingkah mereka terkekeh pelan. "Biarkan aja, Kyu."

Junkyu melirik.

"Kenapa?"

"Biar besok ketahuan siapa yang seharian bolak-balik WC."

Hyunjin langsung menunjuk dirinya sendiri.

"Gue kuat."

"Emang pernah nyoba?"

"Belum."

"Yaudah semoga besok jadi pengalaman pertama."

Tawa langsung pecah di sekitar panggangan.

Baejin yang sedang membuka tas di dekat meja spontan mendongak. "Eh, jangan doain diare dah."

Eric langsung menoleh.

"Lah kenapa?"

"Soalnya gua bawa obat tapi kayaknya udah lewat tanggal."

Semua langsung diam.

"Dok." Panggil si Eric.

"Hm?"

"Yang lu khawatirin obatnya?"

"Lah iya."

"Orangnya kagak?"

"Kalau obatnya kadaluarsa kan repot."

Eric sampai menepuk jidat.

"Ini orang kuliah kedokteran gigi tapi jalan pikirnya muter banget."

"Kan tetap tenaga kesehatan."

"Lu jangan berlindung di balik kalimat itu."

Di sisi lain meja, Lia dan Chaeyoung baru selesai menyusun piring kertas sambil sesekali menahan tawa melihat tingkah mereka. Yeji membantu membuka bungkus saus sambil sesekali foto-foto, Karina sibuk mencari gunting yang ternyata sejak tadi dipakai Jihoon untuk motong bungkus arang, sementara Sunwoo dan Hyunjin malah memperdebatkan siapa yang paling banyak makan sebelum acara benar-benar dimulai.

"Yang abis lima tusuk siapa?" tanya Sunwoo.

"Bukan gue."

Hyunjin menjawab terlalu cepat.

"Belom ditanya nama."

"..."

"Ketahuan."

"Fitnah."

"Masih ada bekas saus di bibir lu."

Hyunjin buru-buru mengusap mulutnya.

Eric ngakak paling keras.

"Gampang banget dibego-begoin."

"Bacot."

Di tengah keributan itu, Xiyeon yang baru selesai membantu Chaewon membereskan dapur melirik jam di pergelangan tangannya. Rumahnya memang paling jauh dibanding yang lain, dan kalau terlalu malam jalan menuju rumahnya akan jauh lebih sepi.

"Jen."

Jeno yang sedang sibuk membuka jagung bakar langsung mendongak.

"Hm?"

"Balik yuk."

"Oh iya."

Ia berdiri begitu saja sambil membawa jagung yang bahkan belum habis dimakan, dan satu tangan lain yang meraih jagung bakar baru.

"Loh, itu dibawa?" tanya Giselle.

"Sayang."

"Jagung doang."

"Enak."

Chaeyoung menggeleng kecil. "Yaudah, makan di jalan."

"Hati-hati ya. Udah mulai malem." tambah Lia sambil tersenyum.

"Iya."

Jeno mengangguk mantap.

Soobin yang sedari tadi memperhatikan mereka akhirnya nyeletuk tanpa menoleh. "Jen."

"Hm?"

"Jangan bikin masalah."

"Lah?" Jeno mengernyit. "Emang gue pernah?" sambungnya.

Tidak ada yang langsung menjawab.

Hyunjin menoleh ke Eric.

Eric menoleh ke Jihoon.

Jihoon menoleh ke Shotaro.

Shotaro menoleh ke Sunwoo.

Sunwoo menghela napas.

Lalu, entah siapa yang memulai, seluruh halaman menjawab bersamaan.

"PERNAAAAH."

Jeno semakin bingung.

Xiyeon ikut menoleh ke arah mereka.

"Emang?"

Shotaro mengangguk mantap.

"Kalian tuh IQ-nya dibagi dua."

"Lah."

Chaeyoung langsung mengibas tangan. "Udah sana balik."

Lia ikut mengingatkan sekali lagi.

"Kalau udah sampai kabarin di grup."

"Iya."

"Denger kan?"

"Denger."

"Janji?"

"Janji."

Tidak ada yang menyangka bahwa kalimat sederhana itu akan menjadi awal dari kepanikan satu tongkrongan malam itu.

Motor Jeno perlahan keluar dari gang perumahan Chaewon, diiringi beberapa teriakan usil dari belakang yang sengaja diteriakkan keras-keras agar terdengar sampai ujung jalan.

"WOY, JANGAN NYASAR!"

"JENO, KALAU NEMU UFO KABARIN!"

"XIYEON, TITIP TUH ANAK!"

Haechan melambaikan capit panggangan ke udara seolah sedang melepas rombongan mudik, sementara Jeno yang sudah berada beberapa meter dari rumah cuma mengangkat satu tangan tanpa menoleh. Entah mendengar atau tidak, tidak ada yang tahu. Yang jelas, motor itu segera menghilang di tikungan, meninggalkan sisa suara knalpot yang perlahan ditelan malam.

Sejenak suasana kembali seperti semula.

Junkyu melanjutkan memanggang ayam yang sempat ditinggal dibantu oleh Jongho dan Jihoon. Chaewon, Yeji dan Chaeyoung membereskan piring-piring kotor ke dapur, sedangkan yang lain kembali mengobrol dalam kelompok kecil. Topik pembicaraan sudah berganti tiga kali hanya dalam lima menit; dari dosen paling menyebalkan, pindah ke harga parkir kampus, lalu entah bagaimana berakhir memperdebatkan mi instan rebus atau goreng.

"Rebus," ujar Felix mantap.

"Goreng," bantah Shotaro.

"Rebus."

"Goreng."

"Rebus."

"Goreng."

Eric yang sedari tadi mendengarkan cuma menggeleng pelan. "Kalian tuh kelakuan masihh kayak bocah SMA. Ributnya bisa gara-gara air panas."

"Lah emang lu tim apa?" tanya Haechan.

Eric berpikir sebentar.

"...Mie Sedaap."

"NGGAK DITANYA MEREK, GOBLOK!"

Gelak tawa kembali memenuhi halaman. Bahkan Lia yang sedang membantu Chaeyoung menyusun gelas plastik ikut menahan senyum sambil menggeleng kecil.

Belum sempat tawa mereka benar-benar reda, suara notifikasi dari ponsel Nagyung berbunyi.

Ting.

Ia melirik sekilas layar ponselnya.

"Oh, Xiyeon."

Tanpa merasa ada yang aneh, Nagyung membuka grup mereka sambil tetap duduk santai. Namun, baru beberapa detik membaca pesan yang masuk, ekspresi wajahnya perlahan berubah. Alisnya berkerut. Bibirnya yang semula tersenyum kini mengatup rapat.

"Guys..."

Tidak ada yang menoleh, karena suasana begitu ramai sekarang, suara cekikikan kencang dari Jihoon, Haechan, Jaemin dan Jongho yang menjaili Junkyu. Hyunjin dan Felix yang masih sibuk memperdebatkan mi instan, Sunwoo sedang membela kubu mi goreng, Eric dan Shotaro yang heboh karena bumbu kacang untuk sate hampir tumpah, Soobin dan Baejin yang malah sibuk menyela tanpa ditanya, serta para cewek yang masih saling bergosip dan menertawakan kelakuan cowok-cowok.

Nagyung mengangkat suara sedikit lebih keras.

"Guys."

"Apa?" sahut Lia lebih dulu.

Nagyung menelan ludah sebelum membalikkan layar ponselnya ke arah para cewek yang lagi berkumpul.

"Xiyeon ngechat."

"Apa katanya?" tanya Chaewon.

Nagyung membaca pelan, “Woy tolongin, katanya… coba baca grup deh.”

Obrolan di halaman memang sempat berhenti, tetapi belum ada yang benar-benar panik. Mereka tidak membuka ponsel masing-masing, tapi malah berkerumun di sekitar Nagyung untuk melihat ponsel Nagyung, diiringi ribut-ribut, “Gesert dikit pala lu, gua ga keliatan.” Dan berakhir saling dorong.

Hal ini membuat Giselle menghela nafas. “Kan lu semua punya hp, anjir?” nyolotnya, membuat mereka terdiam dan serempak menjawab, “OH IYA…”

Barulah mereka membuka membubarkan diri dari kerubunan, membuka ponsel masing-masing, tapi ada juga yang justru hanya ikut melihat ponsel milik teman sebelahnya.

Jaemin malah mengernyit.

"Minta tolong apaan nih?"

Belum sempat ada yang menjawab, satu bubble chat baru muncul tepat di bawahnya.

Sunwoo yang masih duduk langsung meluruskan badan.

"Hah?"

Bubble berikutnya muncul lagi yang membuat suasana berubah hingga tidak ada lagi yang tertawa. Bahkan Jaemin yang biasanya paling susah serius kini langsung berdiri dari kursinya.

"Lah, bentar..."


Report Page