Kata Bunda, aku ini kuat. Kata Bunda, aku ini lebih dari kata kuat. Ditatapnya manik kembarku. Kemudian beliau berkata, "Jika nanti indah mu tersesat. Baiknya pusatkan hatimu untuk melangkah." Sembari menunjuk dadaku, "Peri Kecil Bunda, tidak apa untuk merasa lemah. Tidak apa untuk merasa kecil. Karna memang nyatanya kamu selalu kecil untuk Bunda. Namun ingat, putri Bunda jangan sampai terlampau lemah, putri Bunda jangan sampai terlampau jatuh untuk yang anitya di dunia ini." Turut netraku mengikuti gerak tangannya yang berpindah mengusap lembut suraiku. "Sebab kamu tau, Nak? Bunda pernah kecil. Tapi Bunda bukan kamu. Juga Bunda tidak mengharap kamu menjadi sama seperti Bunda. Bunda pernah memulai, pernah gagal, pernah berhasil pula. Tidak perlu terlalu cepat. Asal jangan menyerah, ya? Bila mana tubuhmu lelah, istirahatlah. Tenangkan dirimu. Lihat bintang, meski jumlah mereka sangat banyak, namun tak pernah mereka takut untuk menguarkan cahayanya. Meski kamu kecil, kamu punya Bunda. Bunda menghadirkan mu, pula Bunda akan s'lalu menemani mu." Dan setelahnya, hanya rasa hangat yang aku rasakan dari dekap lembutnya. Pun rambutku disisir halus dengan jemarinya. Setelahnya, aku (kembali) kuat.
"BahkanketikaButala tak berpihak padamu. Atmaku 'kan tetap mendekap mu kuat, Nak ku."