Kembali atau Mati

Kembali atau Mati

Aydan Dzuan Erdogan


Aku yang tidak sadar karena telah membawa sebuah mala petaka


05.00 pagi ini. Setelah aku melaksanakan sholat Subuh, aku kembali merebahkan tubuhku dikasur. Suasana dingin ini sangat menggodaku untuk tidur kembali, tetapi handphone ku berbunyi. Terlihat dengan jelas bahwa Aarav yang menelpon diriku. Aku malas untuk menjawab teleponnya dan akhirnya aku biarkan handphone ku sampai tidak berbunyi lagi. Aku mulai kembali mencari tempat ternyaman dikasurku dan hampir saja memejamkan mata sebelum pintu kamarku berbunyi. Dengan rasa malas dan mengantuk aku pergi untuk membuka pintu kamarku dan siapa yang berada disana? Benar, Aarav Pandu Dewangga. 


"Selamat pagi Aydan, apa kabar?" Dia masuk ke kamarku lalu duduk di kursi dekat kasurku. 


"Kenapa kamu datang pagi pagi sekali?" Tanyaku padanya


"Aku datang untuk mengajakmu ke taman, jangan malas dipagi hari" 


Beberapa menit kemudian, kami pergi ke taman kota bersama sama. Aarav membawa skateboard kesayangannya untuk diuji cobakan seberapa mahirnya dia dalam bermain. Sementara aku sepertinya hanya akan duduk diam bermain handphone. Aku duduk disalah satu bangku yang tak jauh dari arena bermain skateboard. Di bangku itu aku tidak sendirian, ada seorang anak laki-laki yang sedang asik membaca bukunya. Aku menyapanya lalu tersenyum dan dia membalas senyumanku. 


"Hai kak, aku pamit dulu ya" 


Anak laki-laki itu berpamitan padaku sebelum dia berlari dengan terburu buru. Aku hanya tersenyum melihatnya, tapi aku sadar ada sesuatu yang aneh. Kemana buku yang dia baca tadi? Ah benar, ada disebelahku. Buku itu tertinggal dan aku tidak bisa memanggil anak laki-laki tadi karena dia sudah hilang dari pandanganku.


Aku mengambil buku itu dan membawanya ke arena karana Aarav melambaikan tangannya padaku. Buku ini terlihat kusam, warnanya cokelat dan terlihat seperti buku antik. Aku mencoba membawanya dengan hati hati, siapa tahu anak laki-laki tadi kembali lagi. Beberapa menit aku menunggu ternyata tidak ada kemunculan anak laki-laki itu, Aarav pun sudah bosan dan mengajakku untuk pulang. 


"Bawa aja dulu bukunya, besok kita kesini lagi" kata Aarav dan aku hanya mengiyakan.


Aku meletakkan buku itu dimeja belajarku dan berusaha untuk tidak membukanya, tetapi rasa penasaranku sangat besar yang membuatku berhasil membuka buku itu. 


"Die? Sepertinya buku ini menarik, dari judulnya aja udah kayak gini" 


Aku hanya membaca satu halaman karena ibuku memanggilku dan aku tidak tahu buku itu sebenarnya bukan buku biasa.


Akhirnya aku menulis kembali, sudah lama aku tidak mempublikasikan sebuah cerita dan semoga saja ini dapat menghibur kalian semua. Jika ada sesuatu yang salah atau kurang tepat, jangan sungkan untuk datang ke sini ya!! Berikan krisarmu untuk ceritaku.

Report Page