Kekang
Anaka DjarakiSpoiler alert!!
Terdapat beberapa dialog Siti dan Ayahnya dari novel Melangkah karya J.S Khairen.
"Pulang!" teriak Ayah Siti. Kencang sekali teriakannya. "Ayah capek membesarkan kamu, kasih kamu sekolah, ini yang ayah terima? Melawan dan kabur tengah malam? Sudah berapa kali Ayah bilang, tidak boleh ya tidak boleh. Titik. Anak perempuan itu di rumah! Tanggung jawab Ayah, sampai kapan pun!"
"Sekarang pulang!" Ayah berkecam pinggang, menunjuk-nunjuk Siti.
"Maunya apa sih, tolonglah hargai orang tuamu sendiri."
"Mau aku? Mau aku gak dikekang sama ayah." Siti makin menangis di pelukan ibunya.

Berdiri seorang remaja di depan gerbang universitas terkenal di kota. Orang-orang yang lalu lalang hanya menganggapnya sedang lihat-lihat, "mungkin nanti dia mau masuk ke sana".
Tapi ada satu hal yang tidak pernah mereka lihat, tak ada satupun yang bisa melihatnya kecuali dirinya sendiri. Ambisi membara yang membakar seluruh tubuhnya.
Matanya yang membulat tampak berkaca-kaca, sesaat seperti tatapan kagum. Ingin sekali dia masuk ke sana, menuntut ilmu yang benar-benar minatnya.
"Yasudahlah, apa boleh buat. Mungkin ayah dan bunda punya rencana yang lebih baik. Opiniku ini, biarlah hanya diriku yang tahu. Tak apa, tak perlu didengarkan sekarang."
Anak itu berjalan menjauh, menuju halte bis terdekat dan duduk sendiri di sana menunggu bis sejalurnya datang.