Kandas.
Galih.
Persepsi masyarakat tentang anak band itu pastinya ga jauh jauh tentang hidupnya yang kacau. Berantakan, tak tersusun rapi, tiada masa depan. Kerjaan nya cuma bisa nyanyi nyanyi, manggung ga jelas, tanpa beban pikiran. Begitu pun isi pikiran orang tua dari Galih Adikara.
Ntah, tanpa pernah menjelaskan kedua orang tuanya sangat membenci musik dan band. Bahkan hal hal kecil seperti musik yang terputar di mall - mall, atau musik dari tempat karaoke yang dijelajahi, kedua orang tuanya akan reflek mendengus. Dan itu benar benar menyiksa pemuda yang umurnya bahkan belum bisa dikatakan dewasa pada saat itu.
"Kenapa lagi lo, Lih?" Mengambil tusukan sate untuk yang ke lima kalinya, atensi nya kini sepenuhnya pria itu berikan pada pemuda yang sedari tadi hanya diam menatap langit kamar.
"Ya biasalah, lo kayak ga tau bokap nyokap aja, Ron." Sahut Galih acuh, mencomot pentol bakar dipiring.
"Gua ga habis pikir sama orang tua lo asli. Bener bener, perkara ngeband aja padahal." Baron menggeleng lelah, pasalnya Baron pernah menjadi saksi mata saat gitarnya Galih dihancurkan. Gitar itu pun dibeli dari hasilnya setahun menabung, menyisihkan uang jajan nya sedikit demi sedikit.
"Ya udahlah, mau gimana lagi? Udahlah ga usah dibahas, ga ada mood gua buat bahas gituan." Galih menghela nafas pasrah, memilih memainkan hp nya. Membuka chat notif yang ada. Wajahnya berseri kala melihat notifikasi teratas itu dari kekasihnya.
"Jiakh, apaan dah senyam senyum. Pasti cewe lu ye." Baron mengejek.
"Diem ah lu jomblo." Galih beranjak dari kasurnya, keluar dari kamar.
Pemuda itu kini menatap langit, redup nya cahaya sedikit sinar bulan jua bintang bintang yang menemani. Memilih menekan fitur telefon yang terpampang, menghubungi kekasihnya. Lusa nanti ia teringat akan anniversary mereka untuk yang ke satu tahun. Galih berniat mengajak kekasihnya untuk travelling ke luar kota.
"Hey bub, tadi ngespam kenapa coba? Kamu mau cerita?" Tanya Galih kala telefon nya terhubung. Bersandar di tepi balkon.
"Let's break up." Sahut empu dari seberang sana.
Galih membeku, masih mencerna apa yang tadi ia dengar. "Sel?"
"Apa? Ayo putus." Ucap wanita itu tegas.
"Hahaa, Sel. Prank kan? Udahlah, ngaku." Galih terkekeh, fikiran nya masih mencoba positif. Tak mau berfikir aneh aneh.
"Apaan sih? Pokoknya aku mau putus."
"Sel, expla-" Belum selesai Galih berbicara telefon sudah terputus. Pemuda itu menggerang tertahan, lututnya melemas, terduduk di kursi yang tertera. Menopang kedua dagunya, memijit pelipis nya kasar.