KITA TIDAK BISA MEMILIH TAKDIR, TETAPI KITA BISA MEMILIH BAGAIMANA BERSIKAP TERHADAP TAKDIR

KITA TIDAK BISA MEMILIH TAKDIR, TETAPI KITA BISA MEMILIH BAGAIMANA BERSIKAP TERHADAP TAKDIR

Arafat

Sebuah pelajaran berharga berhasil disampaikan dengan baik melalui ibadah yang sedang dilaksanakan kaum muslimin hari ini, yaitu haji. 


Satu ibadah yang membutuhkan tenaga tidak main-main. Bayangkan rangkaian manasik yang beruntun harus dikerjakan selama berhari-hari di tempat-tempat berbeda yang tidak berdekatan sama sekali.


Apabila jamaah berasal dari negeri yang jauh, maka lelahnya ibadah ini semakin lengkap lagi dengan mahalnya biaya yang ditanggung.


Seandainya boleh memilih, mungkin kita lebih baik mengejar ibadah-ibadah ringan saja seperti shalat atau puasa, daripada haji yang melelahkan, membutuhkan waktu lama, dan memakan biaya tinggi.


Kenyataannya, kita tidak bisa memilih! Secara tegas Allah menjadikan haji ini sebagai satu dari lima rukun seorang muslim. Rasulullah sendiri memperingatkan orang yang tidak mau melaksanakan haji padahal ia sudah mampu, maka silahkan memilih ketika meninggal dunia nanti mau dicatat sebagai seorang Yahudi atau Nasrani. Na'uzubillah.


Alasannya, karena sikap orang-orang seperti ini menunjukkan mereka keberatan dengan kewajiban yang sudah diatur oleh Allah.


Alhamdulillah seluruh umat muslim kelihatannya menerima dengan ikhlas segala kewajiban Allah tanpa pilih-pilih. Terbukti dari semakin membludaknya jutaan jamaah yang berhaji dari tahun ke tahun.


Maka sebagaimana kita tidak bisa keberatan dengan kewajiban yang telah Allah atur dalam syariat, begitu pula kita tidak bisa keberatan dengan takdir yang telah Allah pilihkan. Seluruh manusia telah disesuaikan bagian takdirnya masing-masing. 


Seandainya boleh memilih, mungkin kita lebih baik memilih menjalani takdir yang ringan saja, yang tanpa beban, tidak ada perjuangan, dan bebas musibah serta masalah.


Kenyataannya, kita tidak bisa memilih! Yang bisa kita pilih adalah bagaimana sikap kita sendiri. Mau menjadi putus asa dan menyerah dengan kehidupan? Atau menjalani dengan tangguh sambil berbaik sangka kepada Allah? Semua pilihan kita masing-masing.


Salam Hijrah.

⏰ Waktunya bangun dan berubah dari tidur panjang kita!