KISAH NABI MUHAMMAD S.A.W (6)

Anak kecil itu tetap jauh dari dosa-dosa yang dilakukan oleh kaumnya yang berupa kecenderungan untuk menyembah berhala dan cinta kekuasaan dan kebanggaan. Ia selalu mendekat dan lebih mendekat kepada hakikatnya yang suci; ia mampu mempengaruhi orang lain dengan jiwanya yang bersih dan rahmatnya atau kasih sayangnya tertuju kepada manusia, bahkan kepada binatang dan burung. Ketika ia duduk akan makan lalu ada burung merpati berkeliling di seputar makanannya maka ia meninggalkan makanannya untuk burung itu. Pada saat orang-orang memukul anjing yang mendekat kepada makanan mereka, maka ia justru mencabut suapan yang ada di mulutnya dan memberikannya pada anjing, kucing, anak-anak kecil, dan orang-orang fakir. Bahkan seringkali di waktu malam ia tidur dalam keadaan lapar kerana ia memberikan makanannya ke orang lain. Muhammad saw adalah seorang fakir yang harus bekerja agar dapat makan, maka beliau bekerja sebagai penggembala kambing, seperti Nabi Daud, Nabi Musa, dan nabi-nabi yang lain yang diutus oleh Allah SWT. Kemudian beliau melakukan perjalanan bersama kafilah pamannya Abu Thalib menuju Syam saat beliau berusia tiga belas tahun. Beliau menyaksikan keadaan umat-umat yang lain, maka kehairanannya semakin bertambah terhadap masa Jahilliyah ini. Ketika beliau menyaksikan orang-orang tersesat, maka kesedihannya semakin bertambah dan hatinya semakin tersentuh dan fikirannya semakin dalam.
Pada saat perjalanan menuju ke Syam ini terjadi suatu peristiwa terhadap anak kecil itu. Kemungkinan besar itu justru menambah kebingungannya. Seorang pendeta yang bernama Buhaira berdiri di jendela rumah yang menjadi tempat peribadatannya di Suria. Tiba-tiba ia memperhatikan suatu awan putih - tidak seperti biasanya - yang menghiasi langit yang biru. Saat itu udara sangat terang, sehingga munculnya awan tersebut sangat menghairankan. Kemudian pandangan Buhaira yang tertuju ke langit, kini tertuju ke bumi di mana ia mendapati awan itu menyerupai burung yang putih yang menaungi kafilah kecil yang menuju ke arah utara. Buhaira memperhatikan bahawa awan tersebut mengikuti kafilah. Jantung Buhaira berdebar dengan keras kerana ia mengetahui melalui buku-buku peninggalan kaum Masehi yang otentik bahawa seorang nabi akan muncul ke dunia setelah Isa. Sifat dan khabar nabi tersebut diceritakan dalam buku-buku kuno. Buhaira segera meninggalkan tempatnya, lalu ia segera memerintahkan untuk menyiapkan makanan yang besar. Kemudian ia mengutus seseorang untuk menemui kafilah tersebut dan mengundang mereka untuk jamuan makan. Salah seorang mereka berkata dengan nada bercanda kepada Buhaira: "Demi Lata dan 'Uzza, engkau hari ini tampak lain wahai Buhaira. Engkau tidak pernah melakukan demikian kepada kami, padahal kami telah melewati dan singgah di tempat ini lebih dari sekali. Ada peristiwa apa gerangan wahai Buhaira?"
Buhaira menjawab: "Hari ini kalian adalah tamu-tamuku." Pertanyaan orang tersebut tidak dijawab dengan terang-terangan. Ia sengaja menghindarinya dan tidak menyingkapkan rahsia kemuliaan yang datangnya tiba-tiba ini. Buhaira memberi makan mereka dan mulai memperhatikan di antara mereka adanya seseorang yang memiliki tanda- tanda yang dibacanya dalam kitab-kitabnya yang kuno tentang seorang rasul yang ditunggu. Namun ia tidak menemukannya, hingga ia bertanya kepada mereka: "Wahai kaum Quraisy, apakah ada seseorang yang tidak hadir bersama jamuanku ini?" Mereka menjawab: "Benar, ada seseorang yang tidak ikut bersama kami. Kami meninggalkannya kerana ia masih kecil." Buhaira berkata: "Sungguh aku telah mengundang kamu semua. Panggillah ia supaya hadir bersama kami dan memakan makanan ini." Salah seorang lelaki dari kaum Quraisy berkata: "Demi Lata dan 'Uzza, sungguh tercela bagi kami untuk meninggalkan Muhammad bin Abdillah bin Abdul Muthalib dari jamuan yang kami diundang di dalamnya. Pamannya meminta maaf kerana Muhammad masih kecil, kemudian sebahagian mereka berdiri dan menghadirkannya. Belum lama Buhaira memandangi kejernihan dua mata Muhammad, sehingga ia mengetahui bahawa ia telah mendekati tujuannya. Buhairah terpaku ketika memandangi Muhammad bin Abdillah sehingga kaum selesai makan dan mereka berpisah.
Muhammad bin Abdillah duduk sendirian. Buhaira menghampirinya dan berkata: "Wahai anak kecil, demi kedudukan Lata dan 'Uzza, sudikah kiranya engkau memberitahu aku terhadap apa yang aku tanyakan kepadamu?" Buhaira ingin mengetahui sikap anak ini terhadap berhala kaumnya. Anak kecil itu menjawab: "Jangan engkau bertanya kepadaku tentang Lata dan 'Uzza. Demi Allah, tidak ada sesuatu yang lebih aku benci daripada keduanya." Buhaira berkata: "Dengan izin Allah aku ingin bertanya kepadamu." Anak kecil itu menjawab: "Tanyalah apa saja yang terlintas di benakmu." Buhaira bertanya kepada anak kecil itu tentang keluarganya, kedudukannya di tengah-tengah kaumnya, mimpinya dan pendapat- pendapatnya. Dialog tersebut terjadi jauh dari pantauan kaum kerana mereka tidak akan diam ketika mendengar bahawa Muhammad membenci berhala-berhala mereka. Kemudian Muhammad menjawab pertanyaan-pertanyaan Buhaira dengan yakin, hingga membuat Buhaira mantap bahawa ia sekarang duduk bersama seorang Nabi yang khabar berita gembiranya disampaikan oleh Nabi Isa sebagaimana disampaikan oleh nabi-nabi dari kaum Israil dari kaum Nabi Musa. Setelah itu, ia bangkit meninggalkan anak kecil itu dan menuju ke Abu Thalib ia bertanya tentang kedudukan anak kecil itu di sisinya. Abu Thalib menjawab: "Ia adalah anakku." Buhaira berkata: "Tidak mungkin ayahnya masih hidup." Abu Thalib berkata: "Benar. Ia anak saudaraku. Ayahnya dan ibunya telah meninggal." Buhaira berkata: "Engkau benar, kembalilah kamu ke negerimu dan hati-hatilah dari kaum Yahudi." Abu Thalib bertanya tentang rahsia dari apa yang dikatakan oleh pendeta itu. Pendeta itu mulai mengetahui bahawa ia telah berbicara lebih dari yang semestinya. Lalu ia berkata: "Ia akan memiliki kedudukan tertentu." Buhaira tidak menjelaskan lebih dari itu dan ia tidak menentukan kedudukan yang dimaksud.
Lalu berlalulah peristiwa tersebut tanpa terlintas dari benak seseorang atau tanpa menggugah kesedaran di antara mereka. Kisah tersebut tidak membawa pengaruh berarti bagi kafilah atau kepada Nabi sendiri. Kafilah menganggap bahawa penghormatan pendeta kepada Muhammad bin Abdillah dan memberitahunya akan kedudukan yang akan disandangnya adalah semata-mata basa-basi yang biasa diucapkan di atas meja makan ketika para tamu memuji kedermawanan tuan rumah. Dan sebagai balasannya, orang yang mengundang akan memuji akhlak para pemuda mereka. Alhasil, peristiwa tersebut tidak membawa pengaruh apa pun, baik bagi Muhammad mahupun bagi sahabat-sahabat yang ikut dalam kafilah, sehingga mereka tidak mengetahui rahsia perkataan pendeta dan mereka tidak menyebarkan pembicaraan yang mereka dengar darinya. Peristiwa itu tersembunyi meskipun ia sungguh sangat membingungkan Muhammad. Apa gerangan yang terjadi antara dirinya dan orang-orang Yahudi, sehingga pendeta perlu mengingatkan pamannya dari ancaman mereka? Apa kedudukan yang akan dikembangnya seperti yang diceritakan oleh pendeta itu? Dan apa hubungan semua ini dengan kesedihan- kesedihannya yang dalam serta kebingungannya? Pertanyaan-pertanyaan tersebut sedikit demi sedikit berputar di benaknya. Kemudian seperti biasanya kafilah tersebut kembali ke Mekah. Muhammad kembali menuju keterasingannya. Ia memperhatikan keadaan alam di sekitarnya. Kemudian ia melihat kembali penderitaannya; ia berusaha untuk mendapatkan kehidupannya; ia mengabdi kepada manusia dan mengorbankan apa saja demi kemuliaan mereka.
Hari demi hari berlalu. Muhammad saw tampil dengan pakaian ketulusan kasih sayang, dan amanah serat cinta, sebagaimana pelita dipenuhi oleh cahaya, sehingga kejujurannya terkenal di tengah-tengah kaumnya. Bahkan kejujuran dan amanatnya tidak bakal diragukan oleh seseorang pun dari penduduk Mekah. Dan ketika beliau datang dengan membawa risalahnya dan beliau ditentang majoriti masyarakatnya, namun tak seorang pun yang berani meragukan kejujurannya. Mereka hanya menuduh bahawa ia terkena sihir atau kesedarannya telah hilang. Pada tahun ketiga belas dari masa kenabian, ketika semua kabilah sepakat untuk membunuhnya dan mengucurkan darahnya di antara para kabilah dan mereka mengepung rumahnya, maka di saat situasi yang sulit ini beliau menetapkan untuk berhijrah. Tetapi sebelumnya beliau mewasiatkan kepada Ali bin Abi Thalib, anak pamannya untuk tetap tinggal di rumahnya agar ia dapat mengembalikan amanat yang dititipkan oleh semua musuhnya dan para sahabatnya. Ini beliau maksudkan agar Ali dapat menyerahkan amanat tersebut di waktu pagi kepada para pemiliknya. Anda dapat melihat betapa para musuhnya merasa aman terhadap harta mereka ketika dijaga oleh Muhammad saw.
Hari demi hari berlalu dan tahun demi tahun pun lewat. Sementara itu, kesucian dan kejujuran Muhammad saw semakin meningkat. Dan di tengah lautan keheningan yang mencekam, ketika Muhammad bin Abdillah menyebarkan layar perahunya yang putih, maka ia harus menemui hakikat azali yang bertemu dengan-nya semua nabi dan rasul. Muhammad bin Abdillah mengetahui bahawa alam yang besar ini mempunyai Tuhan Pengatur dan Pencipta; Tuhan yang Maha Satu dan yang tiada tuhan selain-Nya. Muhammad dijauhkan dari suasana kenikmatan dan foya-foya yang biasa dilakukan oleh para pemuda seusianya. Dan ketika pemuda Mekah berbangga-bangga dengan banyaknya minuman keras yang mereka minum dan banyaknya bait-bait syair yang mereka katakan tentang wanita, maka Muhammad bin Abdillah telah menemukan jati dirinya di suatu gua yang tenang di gunung yang besar. Ia memilih untuk menghabiskan waktunya di dalam keheningan gua tersebut. Ia merenung dengan hatinya tentang keadaan alam; ia memikirkan keagungan rahsia-rahsianya dan rahmat Penciptanya serta kebesaran-Nya.
Pada tahun yang kedua puluh lima, beliau mengenal Ummul Mu'minin, isterinya yang pertama, yaitu Khadijah binti Khuwailid yang saat itu berusia empat puluh tahun. Khadijah adalah wanita yang mulia dan mempunyai cukup harta. Ia berdagang dan suaminya telah meninggal. Banyak orang yang mendekatinya dengan alasan untuk mendapatkan kekayaannya. Khadijah mencari seseorang laki-laki yang dapat membawa harta dagangannya menuju Syam, lalu Khadijah mendengar berita yang cukup banyak berkenaan dengan kejujuran dan amanat serta kesucian Muhammad bin Abdilah. Akhirnya, Khadijah mengutus Muhammad saw untuk membawa barang dagangannya. Muhammad saw pergi dalam perjalanannya yang kedua ke Syam saat beliau berusia dua puluh lima tahun. Allah SWT memberkati perjalanannya di mana beliau kembali dengan membawa keuntungan yang berlipat ganda yang diserahkannya kepada Khadijah. Muhammad saw tidak peduli dengan harta Khadijah dan tidak peduli kepada kecantikannya; Muhammad saw hanya memandang kemuliaan yang dipegangnya. Kemudian Khadijah merasakan getaran cinta terhadap Muhammad saw. Dan Akhirnya, ia mengutarakan keinginan untuk menikah dengannya, hingga Muhammad saw pun setuju. Paman Muhammad saw, Abu Thalib berdiri dan menyampaikan khutbah pada saat perayaan perkawinannya: Muhammad saw tidak dapat dibandingkan dengan seorang pun dari kaum Quraisy kerana ia adalah seorang yang mulia, baik dari sisi akal mahupun rohani. Meskipun ia seorang yang fakir namun harta adalah naungan yang akan hilang dan benda yang bersifat sementara.
Setelah menikah, Muhammad saw justru mendapatkan kesempatan yang lebih besar untuk merenung dan menyendiri serta beribadah. Kemudian kehidupan yang dijalaninya justru meningkatkan kemuliaannya, sehingga keutamaannya tersebar di sana sini. Beliau tidak pernah terlibat dalam pergelutan yang keras untuk memperebutkan materi-materi dunia. Beliau selalu menggunakan akal sehatnya daripada terlibat dalam kesesatan mereka dan kegelapan berhala yang menyelimuti banyak orang pada saat itu. Kemudian usianya kini mendekati empat puluh tahun. Setelah merasakan kesunyian di tengah-tengah masyarakat, beliau lebih memilih untuk menjauh dari mereka. Beliau mencari-cari hakikat, sehingga Allah SWT membimbingnya untuk menyendiri di gua Hira. Akhirnya, beliau dapat keluar dari Mekah. Beliau berjalan beberapa mil. Kemudian beliau mulai mendaki dan mendaki. Setiap kali ia mendaki gunung, maka tempat itu semakin luas. Udara tampak lembut dan tersingkaplah hijab, dan pandangan semakin terbentang. Kemudian beliau memasuki gua. Keheningan menyelimuti segala sesuatu, namun hati tetap sadar dan tidak ada sesuatu yang dapat menghalang-halangi pandangan internal yang dalam. Dalam suasana kesunyian terkadang lahirlah pemikiran-pemikiran yang cemerlang yang kemudian menyebarkan sayap-sayapnya dan membumbung, pertama-tama di atas angkasa gua lalu tersebar menuju ke tempat yang lebih luas. Tidak ada sesuatu pun yang membatasinya atau mengekang kebebasannya.
Kita tidak mengetahui fikiran-fikiran apa yang terlintas pada manusia termulia dan terbesar di atas bumi itu saat beliau duduk di gua Hira beberapa bulan. Apa yang beliau fikirkan dan apa gerangan yang beliau risaukan? Mimpi apa yang ada di benaknya dan perasaan-perasaan apa yang lahir dalam hatinya? Bagaimana keadaan batu-batu yang ada di sisinya? Apakah atom-atom batu yang berputar di sekelilingnya menyahuti tasbihnya yang diam, seperti atom-atom batu yang bersahut- sahutan bersama Daud saat ia membaca kitabnya Zabur. Kami tidak mengetahui secara pasti bentuk kelahiran yang terjadi dalam dirinya. Yang kita ketahui adalah bahawa beliau tidak berfikir tentang kenabian dan beliau tidak berfikir untuk memberikan petunjuk kepada manusia; beliau tidak melakukan praktik-praktik sufisme kerana beliau sudah menjadi seorang sufi sebelum diutus di tengah-tengah manusia. Kemudian Allah SWT memilihnya sebagai Nabi lalu beliau meninggalkan uzlahnya dan turun ke medan serta membawa senjata. Beliau mempertahankan kebenaran, sehingga beliau bertemu dengan Tuhannya. Mula-mula lahirlah tasawuf dan setelahnya lahirlah jihad di jalan Allah SWT. Tasawuf bukanlah puncak atau hasil sebagaimana diyakini oleh manusia sekarang, tetapi ia adalah permulaan jalan yang panjang di mana pada akhirnya yang bersangkutan menggunakan senjata sebagai bentuk usaha untuk membela manusia dan kehormatannya.
Pada suatu hari beliau duduk di gua Hira dan tiba-tiba beliau dikejutkan dengan kedatangan Jibril yang berdiri di depan pintu gua. Malaikat tersebut memeluknya erat-erat lalu memerintahkannya untuk membaca sambil berkata: "Bacalah!" Muhammad bin Abdillah menjawab: "Aku tidak mampu membaca." Beliau ingin mengatakan bahawa beliau tidak mengenal bacaan dan tulisan. Kalau begitu, apa yang harus beliau baca? Malaikat kembali memeluknya dengan kuat sehingga Rasulullah saw menganggap bahawa ia meninggal. Kemudian malaikat melepasnya dan memerintahkannya untuk membaca.
Beliau kembali menjawab: "Aku tidak bisa membaca." Malaikat yang mulia kembali memeluknya dan kembali memerintahkan untuk membaca. Dan lagi-lagi Rasulullah saw menjawab dengan gementar: "Apa yang aku baca?" Kemudian Jibril membaca permulaan ayat-ayat yang turun kepada beliau: "Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmu lah Yang Paling Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya." (QS. al-'Alaq: 1-5)