KISAH NABI MUHAMMAD S.A.W (23)

Politik kaum Yahudi berhasil menyatukan kelompok-kelompok orang kafir dan
mengerahkannya untuk menentang kaum Muslim. Kemudian mereka akan
menyerang Madinah dengan jumlah kekuatan sepuluh ribu tentera. Akhirnya,
berita itu sampai ke Nabi saw. Beliau tidak hairan ketika mendengar
orang-orang Yahudi bersatu - padahal mereka mempunyai asas agama yang
menyeru kepada tauhid - bersama kaum musyrik menentang agama tauhid.
Nabi saw mengetahui bahawa perjanjian telah lama membelenggu orang-orang
Yahudi sehingga hati mereka menjadi keras dan hari telah menjauhkan antara
mereka dan sumber yang jernih yang dipancarkan oleh Musa. Akhirnya, mereka
menjadi buah yang rosak yang kulitnya bergambar tauhid namun isinya
bergambar kepahitan syirik. Dan yang lebih penting dari itu adalah kesamaan
kepentingan kaum Yahudi dan kaum musyrik.
Nabi saw menyedari bahawa beliau sekarang menghadapi ancaman dan
pasukan yang besar. Pertempuran secara terbuka tidak memberi keuntungan
bagi Muslimin. Beliau mulai berfikir bagaimana cara mempertahankan Madinah
tanpa harus keluar darinya. Kali ini taktik militernya berubah di mana sebelum
itu beliau keluar dari Madinah dan menjauhinya serta menyerang
kelompok-kelompok yang berencana menyerbu Madinah. Kali ini bentuk
ancaman berbeza dan tentu fikiran Nabi pun berubah kerana mengikuti
perbezaan ancaman itu.
Kemudian beliau mengadakan pertemuan militer bersama para tenteranya.
Beliau ingin mendengar berbagai usulan tentang bagaimana cara
mempertahankan Madinah. Lalu Salman al-Farisi mengusulkan agar Nabi
menggali suatu parit yang dalam di sekeliling Madinah yaitu parit yang seperti
bendungan alami yang dapat menahan laju banjir yang ingin maju, suatu parit
yang pasukan berkuda tidak akan mampu melewatinya dan kaum Muslim dapat
mempertahankan diri dari belakangnya. Mula- mula usulan itu terkesan agak
mustahil diwujudkan namun pada akhirnya Nabi menyetujui usulan Salman itu.
Melalui sensifitas militernya yang mengagumkan, beliau mengetahui bahawa
situasi cukup genting dan kerananya ia menuntut usaha keras untuk dapat
melaluinya. Nabi saw memerintahkan para sahabat untuk menggali parit di
sekitar Madinah. Pekerjaan itu sangat berat dan saat itu musim dingin di mana
udara sangat dingin. Di samping itu, kaum Muslim sedang mengalami krisis
ekonomi yang mengancam Madinah, meskipun demikian, penggalian parti tetap
dilaksanakan, bahkan Rasulullah saw terjun langsung untuk membuat galian
dan memikul tanah.
Kaum Muslim dengan semangat yang luar biasa dapat menyelesaikan
penggalian parit itu meskipun kehidupan sangat keras dan mereka merasakan
kelaparan kerana kekurangan harta. Namun semangat pasukan Islam tetap
meninggi. Mereka percaya akan datangnya kemenangan dan pertolongan dari
Allah SWT.
Allah SWT berfirman:
"Dan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu
itu, mereka berkata: 'lnilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada
kita.' Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah
menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan." (QS. al-Ahzab:
22)
Pasukan Quraisy mulai mendekati Madinah dan tiba-tiba Madinah berubah
menjadi jazirah cinta di tengah-tengah lautan kebencian, lautan itu mulai
menghentam jazirah dan berusaha menenggelamkannya dari dalam. Kemudian
berteburanlah panah-panah kaum Muslim untuk menghalau pasukan kafir yang
cukup banyak. Pasukan kafir mulai berputar-putar di sekeliling parit dalam
keadaan bingung: apa gerangan yang telah dilakukan pasukan Islam, bagaimana
mereka dapat menggali parit ini?
Kuda-kuda musuh berusaha melalui parit itu namun pasukan Muslim segera
menyerangnya. Demikianlah peperangan Ahzab terus berlangsung. Pada
hakikatnya ia adalah peperangan urat saraf. Pasukan musuh mengepung
Madinah selama tiga minggu di mana serangan demi serangan terus dilakukan
sepanjang siang dan mata mereka tetap terjaga sepanjang malam. Bahkan
saking dahsyatnya pertempuran itu sehingga kaum Muslim tidak mengetahui
apakah pasukan musuh berhasil menduduki Madinah atau tidak, dan apakah
para musuh berhasil menembus lubang yang mereka bangun? Allah SWT
menggambarkan keadaan peperangan Ahzab dalam firman-Nya:
"(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan
ketika tidak tetap lagi penglihatan(mu) dan hatimu naik menyesak sampai
ke tenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan
bermacam-macam persangkaan. Di situlah diuji orang- orang mukmin dan
digoncangkan hatinya dengan goncangan yang dahsyat." (QS. al-Ahzab:
10-11)
Keadaan semakin buruk di mana orang-orang Yahudi membatalkan perjanjian
mereka dengan kaum Muslim dan mereka bergabung dengan al-Ahzab.
Demikianlah Bani Quraizhah membatalkan perjanjiannya dan mereka lupa
terhadap pengkhianatan bani Nadhir dan pembalasan Nabi saw terhadap
mereka. Setiap hari keadaan semakin buruk.
Kaum Muslim benar-benar mengalami ujian yang berat di mana fikiran mereka
benar-benar kacau. Ketika keadaan mencapai puncaknya kaum Muslim
bertanya kepada Rasul saw, "apa yang harus mereka katakan?" Rasulullah saw
memberitahu agar mereka mengatakan: "Ya Allah, kalahkanlah mereka dan
tolonglah kami untuk mengatasi mereka."
Doa tersebut keluar dari mulut-mulut kaum yang telah melaksanakan
kewajipan mereka dan telah membuat mukjizat mereka dalam menghalau
serangan. Jadi, mereka tidak memiliki apa-apa selain doa dan Allah SWT lah
Yang Maha Mendengar permintaan hamba-Nya dan Dia yang mengabulkannya.
Dia mengetahui orang yang melaksanakan kewajipannya dan akan mengabulkan
orang yang berdoa.
Akhirnya, kaum Muslim benar-benar mendapatkan rahmat Allah SWT.
Kemudian perjalanan pertempuran bergerak dengan cara yang tidak bisa
difahami. Para penyerang menyedari bahawa mereka sebenarnya telah kalah di
mana mereka telah menyerang selama tiga pekan namun serangan tersebut
tidak memberikan hasil apa pun. Mereka telah mencurahkan berbagai upaya
namun tanpa memberikan hasil yang diharapkan dan boleh jadi mereka akan
tetap begini selama tiga tahun.
Kemudian datanglah suatu malam di mana kaum Muslim belum pernah melihat
malam segelap itu dan angin sekencang itu, bahkan saking kerasnya angin
sampai-sampai suaranya laksana halilintar. Bahkan saking gelapnya malam itu
sehingga tak seorang pun di antara umat Islam yang mampu melihat jari-jari
tangannya atau berdiri dari tempatnya kerana saking dinginnya cuaca.
Kemudian Nabi saw datang menemui Hudaifah bin Yaman. Beliau tidak mampu
melihatnya meskipun beliau berdiri di sebelahnya. Nabi saw bertanya: "Siapa
ini?" Hudaifah menjawab: "Aku adalah Hudaifah." Nabi saw berkata: "Oh, kamu
Hudaifah." Hudaifah tetap tinggal di tempatnya kerana ia khawatir jika ia
berdiri ia akan tidak mampu kerana saking dinginnya dan akan menabrak Rasul
saw. Rasul saw berkata kepada Hudaifah, "Aku kehilangan berita penting
tentang keadaan kaum yang menyerang kita."
Hudaifah sebagai mata-mata dari pasukan Islam merasakan ketakutan di mana
ia tidak mampu menahan cuaca yang begitu dingin, lalu bagaimana ia dapat
berdiri dan keluar dari Madinah menuju ke tempat pasukan musuh dan
menyusup di tengah barisan mereka lalu kembali kepada Nabi saw dengan
membawa berita tentang mereka. Hudaifah bangkit dari tempatnya ketika
Nabi saw selesai dari pembicaraannya. Nabi saw memberikan doa kebaikan
kepadanya. Hudaifah pun pergi dan kehangatan keimanannya mengalahkan
kegelapan malam dan kedinginan cuaca. Ia keluar dari Madinah dan menyusup
di tengah-tengah pasukan musuh. Nabi saw memerintahkannya untuk tidak
melakukan tindakan apa pun selain mendapatkan berita dan kembali. Inilah
tugas utamanya. Hudaifah sampai di tengah-tengah musuh. Mereka berusaha
menyalakan api namun angin segera mematikannya sebelum menyala dan di
dekat api itu terdapat seorang lelaki yang berdiri sambil menghulurkan
tangannya ke arah api dengan maksud untuk menghangatkannya. Lelaki itu
adalah pemimpin kaum musyrik yaitu Abu Sofyan.
Melihat itu, Hudaifah segera memasang anak panah pada busur yang dibawanya
dan ia ingin memanahnya. Seandainya ia berhasil membunuhnya, maka kaum
Muslim dapat merasa tenang dengannya, namun ia ingat pesan Rasulullah saw
kepadanya agar ia tidak melakukan tindakan apa pun. Kemudian ia kembali
meletakkan anak panahnya dan menyembunyikannya.
Abu Sofyan berkata: "Wahai orang-orang Quraisy situasi saat ini tidak
menguntungkan bagi kalian, maka pergilah kalian kerana aku pun akan pergi."
Abu Sofyan melompat ke atas untanya lalu mendudukinya dan memukulnya
sehingga unta itu bangkit.
Hudaifah kembali menemui Rasulullah saw dengan membawa berita mundurnya
pasukan Ahzab dan gagalnya serangan mereka. Ketika mendengar peristiwa
penarikan mundur pasukan musuh, Rasulullah saw berkata: "Sekarang kita akan
menyerang mereka dan mereka tidak akan menyerang kita." Belum lama
pasukan Ahzab kembali ke negerinya dengan tangan hampa sehingga beliau
keluar dari Madinah bersama pasukannya menuju ke kaum Yahudi Bani
Quraizhah. Orang-orang Yahudi itu telah mengkhianati perjanjian mereka
bersama Nabi saw. Mereka menipu Islam di saat-saat genting. Oleh kerana itu,
mereka harus membayar biaya pengkhianatan mereka sekarang.
Nabi saw memerintahkan agar para sahabat tidak melaksanakan solat Ashar
kecuali di Bani Quraizhah. Kaum Muslim memahami bahawa perintah tersebut
bererti mereka akan menerobos benteng kaum Yahudi sebelum matahari
tenggelam.
Orang-orang Yahudi menelan kekalahan pahit lalu mereka datang kepada Sa'ad
bin Mu'ad agar ia memutuskan perkara mereka. Sa'ad adalah pemimpin kaum
Aus dan kaum Aus adalah sekutu orang-orang Yahudi Quraizhah di masa
jahiliah. Kaum Yahudi mengharap bahawa mereka dapat memanfaatkan
hubungan yang terjalin selama ini sebagaimana kaum Aus membayangkan
bahawa tokoh mereka akan memberikan keringanan terhadap sekutu-sekutu
mereka. Sa'ad ketika itu terluka dan ia sedang dirawat di khemahnya kerana
terkena panah kauni Ahzab. Sebahagian kaumnya membujuknya agar ia
bersikap baik terhadap orang- orang Yahudi, sekutu-sekutu mereka, dan
orang-orang
Yahudi membujuknya agar ia bersikap lembut terhadap mereka. Kemudian
Sa'ad mengatakan penyataannya yang terkenal: "Telah tiba waktunya bagi Sa'ad
untuk memutuskan hukum sesuai dengan kehendak Allah tanpa peduli dengan
celaan para pencela." Sa'ad memutuskan agar kaum lelaki dibunuh dan
keturunannya ditawan serta harta-harta mereka dibagi-bagikan. Nabi pun
menyetujui keputusan tegas Sa'ad itu. Beliau berkata kepadanya: "Sungguh
engkau telah memutuskan kepada mereka dengan keputusan Allah SWT dari
tujuh langit."
Sa'ad mengetahui bahawa perantaraan, permohonan, harapan, dan menjaga
berbagai pertimbangan lazim selayaknya berada di suatu genggaman, dan masa
depan Islam berada di genggaman yang lain. Yahudi Bani Quraizhah adalah
penyebab berkecamuknya peperangan Ahzab dan sumpah mereka dan berbagai
tipu daya mereka berusaha untuk memblokade Islam dan menghancurkannya.
Oleh kerana itu, kini telah tiba saatnya untuk mencabut pohon-pohon beracun
dari akarnya tanpa memperdulikan kasih sayang.
Demikianlah kaum Yahudi dibersihkan dari Madinah. Nabi saw kembali
melanjutkan pergelutannya. Puncak dari perjuangan politiknya adalah
perjanjian yang beliau lakukan bersama orang-orang Quraisy. Nabi saw
berjalan untuk melaksanakan umrah dan mengunjungi Baitul Haram. Beliau
keluar bersama seribu empat ratus kaum lelaki yang bertujuan untuk berziarah
ke Baitul Haram guna melaksanakan umrah. Ketika mereka sampai di
Hudaibiyah pinggiran kota Mekah, tiba-tiba unta yang ditunggangi Nabi duduk
dan ia tidak mahu melangkah menuju Mekah. Melihat itu para sahabat berkata:
"Oh unta itu malas." Nabi saw berkata: "Tidak Demikian namun ia ditahan oleh
Zat yang menahan laju gajah menuju Mekah. Sungguh jika hari ini orang
Quraisy membuat suatu rencana dan mereka meminta agar aku menyambung
tali silaturahmi nescaya aku akan menyetujuinya."