KISAH NABI MUHAMMAD S.A.W (22)

KISAH NABI MUHAMMAD S.A.W (22)


Kaum Muslim menoleh ke arah utara jazirah Arab setelah menetapkan

kewibawaan mereka di selatan. Kabilah di sekitar Daumatul Jandal dekat

dengan Syam merampok di tengah jalan dan merampas kafilah yang berlalu di

situ, bahkan kenekatan mereka sampai pada batas di mana mereka berfikir

untuk menyerbu Madinah. Oleh kerana itu, Rasulullah saw keluar bersama

seribu orang Muslim yang mereka bersembunyi di waktu siang dan berjalan di

waktu malam, sehingga setelah lima belas malam beliau sampai ke tempat

yang dekat dengan tempat tinggal musuh-musuh mereka lalu mereka

menggerebek tempat itu. Pasukan kafir itu dikejutkan dengan kedatangan

kaum Muslim yang begitu cepat.


Kita akan mengetahui bahawa alat komunikasi yang dimiliki oleh Rasulullah

saw sangat unggul sebagaimana alat pertahanan beliau pun sangat unggul.

Serangan mendadak yang dilakukan oleh pasukan Rasulullah saw menunjukkan

bahawa mereka memiliki pertahanan yang luar biasa. Sistem pertahanan yang

luar biasa sebagaimana kedatangan pasukan yang secara tiba-tiba itu

menunjukkan kemampuan pasukan Islam untuk menyusup.


Demikianlah, terjadilah hari-hari pertempuran militer. Belum lama Nabi saw

meletakkan baju besinya, dan beliau kembali membangun peribadi kaum

Muslim sehingga beliau terpaksa kembali memakai baju besinya dan kembali

berperang. Ketika musuh-musuh Islam yang berada di sekelilingnya melihat

bahawa kemampuan militer mereka tidak dapat menandingi kemampuan kaum

Muslim, maka mereka sengaja melakukan cara-cara baru untuk memerangi

Islam. Yaitu peperangan psikologi atau peperangan urat saraf dengan cara

menyebarkan berbagai macam isu atau apa yang dinamakan Al-Qur'an al-Karim

dengan peristiwa al-Ifik (kebohongan). Setelah peperangan Bani Musthaliq

yaitu peperangan yang membawa kemenangan yang cepat bagi kaum Muslim,

terjadilah kesalahfahaman dan pertengkaran di antara sahabat-sahabat yang

biasa mengambil air di mana salah seorang mereka berteriak: "wahai kaum

Muhajirin," dan yang lain berteriak: "Wahai kaum Anshar."


Peristiwa yang sangat sepele itu dimanfaatkan oleh pemimpin kaum munafik

yaitu Abdullah bin Ubai. Abdullah bin Ubai memprovokasi orang- orang Anshar

untuk menyerang kaum Muhajirin. Ia ingin membangkitkan luka-luka jahiliah

yang lama yang telah dibuang dan telah dikubur oleh Islam, Salah satu yang

dikatakan oleh Ibnu Ubai adalah, "sungguh mereka telah menyaingi kita dan

mengambil kebaikan dari dan seandainya kita telah kembali ke Madinah

nescaya orang-orang yang mulai akan dapat mengusir orang-orang yang hina di

dalamnya."


Zaid bin Arqam menyampaikan kalimat si munafik itu kepada Nabi saw, di

mana kalimat itu berisi provokasi terhadap orang-orang Anshar untuk

menyerang kaum Muhajirin. Ubai menginginkan agar mereka berpecah belah

dan agar kesatuan mereka runtuh. Si Munafik itu segera datang kepada Rasul

saw dan menafikan apa yang dikatakannya. Orang-orang Muslim secara lahiriah

membenarkan perkataan si munafik itu dan mereka justru menuduh Zaid bin

Arqam salah mendengar. Tetapi hakikat peristiwa itu tidak tersembunyi dari

Nabi saw sehingga peristiwa itu sangat menyedihkan beliau. Lalu beliau

mengeluarkan perintah agar para sahabat pergi ke suatu tempat yang tidak

biasanya mereka lalui. Kemudian beliau pergi bersama sahabat di hari itu

sampai waktu malam menyelimuti mereka. Dan kini, mereka memasuki waktu

pagi. Kepergian yang singkat dan tiba-tiba itu mampu menepis kebohongan

yang dirancang oleh si Munafik, Abdullah bin Ubai. Yaitu kebohongan yang

bertujuan untuk membakar persatuan kaum Muslim ketika ia berusaha untuk

menyalakan api di tengah-tengah rumah sang Nabi saw.


Ketika Nabi masih memiliki kekuatan yang menakutkan bagi yang mencuba

melawannya, maka mereka pun melakukan berbagai penipuan dan, makar. Dan

salah satu yang menjadi objek tipu daya itu adalah isteri beliau, yaitu Aisyah.

Alkisah, Aisyah pada suatu hari pergi untuk memenuhi hajatnya lalu dilehernya

terdapat anting-anting. Setelah ia memenuhi hajatnya, anting-anting itu

terjatuh dari lehernya dan ia tidak mengetahui. Ketika Aisyah kembali dari

kafilah yang telah siap-siap untuk pergi, ia kembali mencari kalungnya sampai

ia menemukannya. Sementara itu orang-orang yang membawanya dalam tandu

(haudaj) mengira Aisyah sudah berada di dalamnya. Mereka tidak ragu dalam

hal itu kerana memang berat badan Aisyah sangat ringan.


Pasukan Nabi berjalan dan membawa tandu, sedangkan Aisyah tidak ada di

dalamnya. Aisyah kembali dan tidak mendapati pasukan di mana mereka telah

pergi. Aisyah merasa hairan atas kepergian pasukan yang begitu cepat. Aisyah

merasa takut saat ia berdiri sendirian di padang gurun. Aisyah berusaha

bersikap baik, ia duduk di tempatnya di mana di situlah untanya duduk juga.

Aisyah melipat-lipat pakaiannya sambil berkata dalam dirinya: Mereka akan

mengetahui bahawa aku tidak ada dan kerana itu mereka akan kembali

mencariku dan akan menemukan aku.


Sementara itu, Sofwan bin Mu'athal juga tertinggal kerana ia melakukan

keperluannya. Ia berjalan dari arah yang jauh lalu ia melihat bayangan orang

yang tidak begitu jelas. Sofwan mendekat dan tiba-tiba ia mengetahui bahawa

ia sedang berdiri di hadapan Aisyah. Ia melihat Aisyah sebelum diwajibkannya

perintah memakai hijab (jilbab) atas isteri-isteri Nabi. Ketika melihatnya,

Sofwan berkata: "Sesungguhnya kita milik Allah SWT dan kepadanya kita akan

kembali,... isteri Rasulullah Aisyah tidak menjawab.


Sofwan mundur dan mendekatkan untanya kepadanya sambil berkata: "Silakan

Anda menaikinya." Aisyah pun menaikinya. Kemudian Sofwan membawanya

pergi dan mencari pasukan yang telah meninggalkannya. Sementara itu,

pasukan Nabi sedang beristirahat. Para sahabat mengira bahawa Aisyah masih

berada dalam tandu. Tiba-tiba mereka terkejut ketika Aisyah datang kepada

mereka bersama Sofwan yang menuntun untanya.


Tokoh munafik Abdullah bin Ubai segera memanfaatkan kesempatan emas ini.

Ia membuat kisah bohong yang terkesan menuduh isteri Nabi melakukan

pengkhianatan. Abdullah bin Ubai pandai memilih beberapa sahabat yang

dikenalinya sebagai orang-orang yang mudah percaya dan cenderung

membenarkan hal-hal yang bersifat lahiriah, atau ia mengetahui bahawa di

antara mereka dan Aisyah terdapat kedengkian sehingga mereka suka jika

tersebar kebohongan yang berkenaan dengan Aisyah.


Demikianlah pemimpin munafik itu berhasil menjerat beberapa sahabat dalam

tali kebohongannya, di antaranya Hasan bin Sabit. Musthah, dan seorang

wanita yang dipanggil Hamnah binti Jahasv. yaitu saudara perempuan Zainab

binti Jahasy isteri Rasulullah saw. Ketiga orang itu tertipu dengan kebohongan

tersebut lalu mereka menyebarkannya sehingga orang-orang yang terjerat

dalam kebohongan itu mengatakan apa saja yang mereka inginkan. Akhirnya.

pasukan pun bergoncang dengan isu itu. Sementara itu, Aisyah tidak

mengetahui sedikit pun tentang hal tersebut. Isu tersebut bertujuan untuk

menjatuhkan Islam dan melukai perasaan Rasullullah saw dan itu termasuk

peperangan menentang Rasulullah saw dan ajaran yang dibawanya. Begitu juga

ia bertujuan menunjukkan bahawa kaum Muslim tidak konsekuen dengan

akidah yang mereka yakini dan secara tidak langsung ia juga menyerang

kesucian rumah tangga Aisyah.


Pasukan kembali ke Mekah dan Aisyah jatuh sakit, namun ia tidak mengetahui

isu-isu yang dikatakan tentang dirinya. Kemudian Rasulullah saw mendengar

hal itu sebagaimana ayahnya Abu Bakar dan ibunya pun mendengarnya, namun

tak seorang pun di antara. mereka yang memberitahu Aisyah. Begitu juga Rasul

saw tidak menceritakan peristiwa itu di hadapan Aisyah. Namun sikap beliau

berubah di mana beliau tidak lagi menunjukkan perhatiannya seperti biasanya

saat Aisyah sakit. Ketika beliau menemui Aisyah dan saat itu ibunya ada di situ,

beliau berkata: "Bagaimana keadaanmu?" Beliau tidak lebih dari mengucapkan

kata-kata itu. Ketika Aisyah melihat perubahan sikap Rasul saw, ia mulai

marah. Pada suatu hari ia berkata pada Nabi: "Seandainya engkau mengizinkan

aku, nescaya aku akan pindah ke tempat ibuku." Beliau menjawab: "Itu tidak

ada masalah."


Aisyah pun pindah ke tempat ibunya dan ia tidak mengetahui sama sekali apa

yang sebenarnya terjadi padanya. Setelah melalui lebih dari dua puluh malam,

Aisyah sembuh dari sakitnya dan ia pun belum mengetahui hal-hal yang

dikatakan tentang dirinya. Umul mu'minin Aisyah menceritakan bagaimana ia

mengetahui isu bohong tersebut dan bagaimana Allah SWT membebaskannya

dari isu itu, ia berkata:


"Kami adalah kaum Arab di mana kami tidak mengambil di rumah kami

tanggung jawab ini yang biasa di ambil oleh orang-orang Ajam. Kami

membencinya. Kami keluar untuk menikmati keluasan kota. Sementara itu

para wanita keluar pada setiap malam untuk memenuhi hajat mereka. Pada

suatu malam, aku keluar bersama Ummu Musthah untuk memenuhi sebahagian

keperluanku. Lalu ia berkata: "Tidakkah kau sudah mendengar suatu berita

wahai puteri Abu Bakar?" Aku bertanya, "berita apa itu?" Lalu ia

memberitahukan padaku apa-apa yang dikatakan oleh para penyebar

kebohongan. Aku berkata: "Apa ini memang benar?" Ia menjawab: "Demi Allah,

ini benar-benar terjadi." Aisyah berkata: "Demi Allah, aku tidak mampu

memenuhi hajatku." lalu aku pulang. Demi Allah, aku tetap menangis

sampai-sampai aku mengira bahawa tangisanku akan merosak jantungku dan

aku berkata kepada ibuku, mudah-mudahan Allah SWT mengampunimu, banyak

orang berbicara tentangku namun engkau tidak menceritakan sedikit pun

kepadaku. Ia berkata: "Wahai anakku, sabarlah demi Allah jarang sekali wanita

yang baik yang dicintai oleh seorang lelaki yang jika ia memiliki isteri-isteri

yang lain (madunya) kecuali wanita itu akan diterpa oleh berbagai isu."


Aisyah berkata: "Rasulullah saw berdiri dan menyampaikan pembicaraannya

pada mereka dan aku tidak mengetahui hal itu." Beliau memuji Allah SWT

kemudian berkata: "Wahai manusia, bagaimana keadaan kaum lelaki yang

menyakiti aku melalui keluar gaku dan mereka mengatakan sesuatu yang tidak

benar. Demi Allah, aku tidak mengenal mereka kecuali dalam kebaikan. Lalu

mereka mengatakan hal itu pada seorang lelaki yang aku tidak mengenalnya

kecuali dalam kebaikan di mana ia tidak memasuki suatu rumah dari

rumah-rumahku kecuali ia bersamaku."


Kemudian Rasulullah saw memanggil Ali bin Abi Thalib dan Usamah bin Zaid

dan bermusyawarah dengan keduanya. Usamah hanya melontarkan pujian dan

berkata: "Ya Rasulullah aku tidak mengenal isterimu kecuali dalam kebaikan

dan berita ini hanya kebohongan dan kebatilan," sedangkan Ali berkata: 'Ya

Rasulullah masih banyak wanita yang lain yang dapat kau percaya." Kemudian

Rasulullah saw memanggil Burairah dan bertanya kepadanya, lalu Ali berdiri

kepadanya dan memukulnya dengan keras sambil berkata: "Jujurlah kepada

Rasulullah saw," lalu wanita itu berkata: "Demi Allah, aku tidak mengetahui

kecuali kebaikan. Aku tidak pernah mencela Aisyah kecuali pada suatu waktu

aku sedang membikin adunan roti lalu aku memerintahkannya untuk

menjaganya namun Aisyah tertidur dan datanglah kambing lalu adunan itu

dimakan olehnya."


Aisyah berkata: "Kemudian datanglah kepadaku Rasulullah saw dan saat tu aku

bersama kedua orang tuaku dan seorang wanita dari kaum Anshar. Aku

menangis dan wanita itu pun turut menangis. Rasulullah saw duduk lalu

memuji Allah SWT dan berkata: "Wahai Aisyah, sungguh kamu telah mendengar

sendiri apa yang dikatakan orang-orang tentang dirimu, maka bertakwalah

kepada Allah SWT dan jika engkau telah melakukan keburukan seperti yang

diucapkan orang-orang itu, maka bertaubatlah kepada Allah SWT kerana

sesungguhnya Allah SWT menerima taubat dari hamba-hamba-Nya." Aisyah

berkata, "demi Allah, itu tidak lain hanya kebohongan yang dialamatkan

kepadaku sehingga membuat air mataku kering. Aku sama sekali tidak seperti

yang mereka katakan," lalu aku menunggu kedua orang tuaku untuk

mengatakan tentang diriku namun mereka justru terdiam. Aisyah berkata,

"demi Allah aku merasa sebagai seorang yang hina yang tidak layak diturunkan

Al-Qur'an dari Allah SWT berkenaan denganku, tetapi aku hanya berharap agar

Nabi saw melihat kebohongan yang dialamatkan kepadaku itu sehingga ia

memastikan terbebasnya aku darinya."


Aisyah berkata: "Ketika aku tidak melihat kedua orang tuaku berbicara aku

berkata kepada mereka tidakkah kalian menjawab apa yang dikatakan

Rasulullah saw?" Mereka berkata: "Demi Allah kami tidak mengetahui apa yang

harus kami jawab." Aku mengetahui bahawa aku bebas dari tuduhan itu.

Tiba-tiba Rasulullah saw mengusap keringat dari wajahnya sambil berkata:

"Bergembiralah wahai Aisyah kerana sesungguhnya Allah SWT telah

menurunkan ayat yang membebaskan kamu dari tuduhan itu," lalu aku berkata:

"Segala puji bagi Allah SWT." Kemudian beliau keluar menemui para sahabat

dan membacakan kepada mereka ayat berikut ini:


"Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari

golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahawa berita bohong itu buruk

bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa

yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian

yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu, maka baginya azab yang

besar. " (QS. an-Nur: 11)


Jibril turun kepada Nabi saw untuk menyampaikan terbebasnya Aisyah dari

segala tuduhan yang ditujukan kepadanya. Dan gagallah peperangan psikologi

menentang kaum Muslim dan rumah tangga Rasulullah saw, dan

kelompok-kelompok kafir meyakini bahawa mereka harus menggunakan cara

baru lagi untuk menentang Islam. Kemudian Rasulullah saw kembali memasuki

pergelutan menentang peperangan fizik. Peperangan Khandaq termasuk contoh

peperangan fizik yang dilakukan oleh Rasulullah saw. Orang-orang Yahudi

menyerahkan urusan mereka kepada kaum musyrik, dan Dimulailah rangkaian

persekongkolan dan sumpah di antara tokoh- tokoh Yahudi dan

pemimpin-pemimpin kaum musyrik, bahkan pendeta- pendeta Yahudi berfatwa

bahawa agama Quraisy yang disimbolkan dengan penyembahan berhala lebih

baik daripada agama Muhammad yang penyembahan hanya layak ditujukan

kepada Tuhan Yang Esa


sebagaimana tradisi jahiliah lebih baik daripada ajaran Al-Qur'an.


Report Page