KISAH NABI MUHAMMAD S.A.W (20)

Pasukan Madinah dan pasukan Mekah terdiri dari keluarga-keluarga yang
terikat hubungan kekerabatan, namun kehendak Allah SWT menetapkan
terjadinya peperangan sesama keluarga: antara anak dan orang tuanya. Umar
menginginkan agar keadaan demikian terus berlanjut sehingga orang-orang
musyrik mengetahui bahawa Islam tidak ingin berdamai. Kemudian Selesailah
urusan itu dan terjadi peperangan di jalan Allah SWT dan mengangkat senjata
dan berperang adalah suatu kewajipan yang tiada keraguan di dalamnya. Nabi
saw menoleh kepada kaum Muslim dan mendapati sebahagian besar mereka
cenderung kepada pendapat Abu Bakar. Nabi saw mengikuti pendapat majoriti
saat itu. Pendapat majoriti salah dan hanya Umar yang benar.
Ini adalah peperangan pertama yang dilalui oleh Islam. Hendaklah kaum Muslim
harus meninggalkan dorongan kemanusiaan mereka, yakni orang- orang kafir
harus dibunuh agar musuh-musuh Allah SWT mengetahui bahawa Islam telah
memilih darah. Allah SWT telah mendukung Umar bin Khattab dalam Al-Qur'an
sehingga Nabi saw dan Abu Bakar menangis ketika keduanya menyedari
kesalahan mereka pada hari berikutnya, lalu Umar memergoki mereka dalam
keadaan menangis dan ia bertanya, "apa yang menyebabkan Rasulullah saw dan
temannya di gua menangis?" Kemudian Rasulullah saw membaca Al-Qur'an:
"Tidak patut bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat
melumpuhkan musuhnya di muka bumi. Kamu menghendaki harta benda
duniawi sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). Dan
Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Kalau sekiranya tidak ada ketetapan
yang telah terdahulu dari Allah, nescaya kamu ditimpa seksaan yang besar
kerana tebusan yang kamu ambil." (QS. al-Anfal: 67-68)
Kedua ayat itu mengatakan bahawa ini bukan saatnya melindungi para tawanan
dan berusaha untuk menebus mereka. Waktu Demikian belum saatnya. Nabi
tidak berhak memiliki tawanan kecuali jika ia telah melakukan banyak
peperangan dan banyak berjihad dan telah banyak membunuh dan dakwahnya
telah mapan.
Kedua ayat tersebut menyingkap tujuan di balik penebusan tawanan: "Kamu
menghendaki harta benda duniawi sedangkan Allah menghendaki (pahala)
akhirat (untukmu)."
Demikianlah pemikiran yang mempertimbangkan keadaan-keadaan aktual yang
sulit. Itu adalah pemikiran yang bersifat taktik sebagaimana yang kita
ungkapkan dalam istilah moden dan bukan pemikiran yang bersifat strategis.
Kemudian para tawanan tersebut bukan tawanan biasa tetapi menurut istilah
moden mereka adalah penjahat-penjahat perang. Oleh kerana itu, nyawa
mereka harus ditumpahkan saat mereka dapat ditangkap, meskipun mereka
memiliki kekayaan yang banyak atau kedudukan yang tinggi. Islam tidak
mengakui kekayaan atau kedudukan, yang diakuinya adalah keimanan,
sedangkan pertimbangan-pertimbangan duniawi lainnya tidak dihiraukan oleh
Islam.
Nas Al-Qur'an memperingatkan orang-orang yang menang bahawa kesalahan
mereka bisa berakibat pada datangnya seksaan yang bakal mereka terima
tetapi Allah SWT mengampuni mereka dan menurunkan rahmat-Nya: "Kalau
sekiranya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Allah, nescaya kamu
ditimpa seksaan yang besar kerana tebusan yang kamu ambil."
Seksaan tersebut memang lebih dekat daripada pohon yang dekat ini,
kemudian Allah SWT mengampuni mereka dan Allah SWT mengampuni
sahabat-sahabat yang terjun di perang Badar, baik dosa yang lalu mahupun
dosa mereka yang akan datang. Demikianlah Al-Qur'an ingin mendidik kaum
Muslim agar mereka tidak banyak mempertimbangkan urusan manusiawi saat
berperang. Jadi, Islam memulai peperangannya yaitu peperangan yang hanya
ditujukan kepada Allah SWT dan hendaklah peperangan tersebut dihilangkan
dari pertimbangan-pertimbangan yang sulit sehingga sahabat-sahabat Nabi
mengetahui bahawa kecenderungan kepada kesenangan duniawi akan
berakibat pada kekalahan mereka.
Dalam peperangan Uhud jumlah kaum musyrik tiga ribu sedangkan jumlah
kaum Muslim tiga ratus pasukan setelah pemimpin orang-orang munafik
Abdullah bin Saba' mengundurkan diri pasukan. Kaum Muslim diletakkan di
gunung dan Rasulullah saw membuat rencana yang jitu untuk memenangkan
pertempuran di mana beliau membagi pasukan pemanah di puncak gunung
untuk melindungi punggung kaum Muslim dan melindungi mereka dari serangan
dari arah belakang. Rasulullah saw memberi pengertian kepada pasukan panah
itu agar mereka tetap di tempatnya baik kaum Muslim menang mahupun kalah.
Yakni bahawa pasukan pemanah tidak boleh turun dari gunung dan meski berusaha
untuk melindungi kaum Muslim. Rasulullah saw berkata kepada
mereka. "lindungilah punggung-punggung kami. Jika kalian melihat kami
sedang bertempur, maka kalian tidak usah turun darinya dan tidak usah
menolong kami, dan jika kalian melihat kami memperoleh kemenangan dan
mengambil ganimah, maka kalian tidak boleh ikut serta bersama kami."
Setelah membuat keputusan tersebut, Rasulullah saw kembali ke pasukan yang
lain, lalu beliau membikin suatu rencana untuk menyerang. Dan Dimulailah
peperangan kemudian pasukan Islam mendorong pasukan musyrik laksana angin
yang kencang yang memporak-porandakan ribuan kaum musyrik. Pada tahap
pertama pasukan Islam tampak menguasai medan dan berhasil menyapu kaum
musyrik sehingga pasukan Mekah tampak berputus asa meskipun mereka unggul
secara bilangan dan meskipun mereka memiliki kekuatan persenjataan yang
lengkap, pasukan Mekah justru dikejutkan dengan ketangguhan pasukan Muslim
yang dapat memukul mundur mereka hingga mereka membayangkan bahawa
mereka tidak dapat memenangkan peperangan atau dapat bertahan di
hadapan pasukan Muslim.
Debu-debu peperangan mulai berterbangan yang menyertai tanda-tanda
kekalahan pasukan Mekah. Sementara itu, para pemanah yang diletakkan
Rasulullah saw di suatu tempat yang strategis berfikir untuk memperoleh
ganimah. Pasukan Mekah telah kalah dan mereka telah melarikan diri dari
pasukan Muslim, maka bagaimana seandainya para pemanah turun dari tempat
mereka untuk mengumpulkan harta rampasan dan ganimah. Rasulullah saw
telah mengingatkan mereka agar jangan meninggalkan tempat mereka, apa
pun yang terjadi tetapi pasukan pemanah itu justru berkhianat dan menentang
perintah Nabi saw setelah mereka membayangkan bahawa peperangan telah
selesai dan keuntungan akan diperoleh pasukan Madinah yang beriman.
Pasukan pemanah mengira bahawa Allah SWT akan menutupi kesalahan mereka
dan akan melindungi mereka sehingga mereka berhasil mengambil harta
rampasan dan ganimah. Sungguh keikhlasan telah tercabut dari hati sebahagian
pasukan. Belum lama hal tersebut berlangsung sehingga terjadilah perubahan
yang drastik pada peperangan. Pemimpin pasukan berkuda musyrik dalam
peperangan Uhud yaitu Khalid bin Walid yang kemudian ia menjadi tokoh
Muslim adalah orang yang sangat genius dalam peperangan. Begitu ia melihat
pasukan pemanah lari dari tempat mereka, maka ia melihat celah yang terbuka
di tengah-tengah kaum Muslim, sehingga ia segera memutarkan kudanya dan
disertai pasukan yang mengikutinya. Kemudian ia menyerang kaum Muslim dari
belakang. Serangan yang dilakukan Khalid itu sangat cepat dan sangat
mengejutkan. Orang-orang musyrik mengambil kesempatan emas. Mereka yang
tadinya lari, kini mereka menarik diri dan justru menyerang kembali.
Pasukan Muslim dikepung dari dua arah oleh pasukan berkuda: satu dari
belakang dan yang lain dari depan. Kemudian berjatuhanlah korban- korban
dari pasukan Muhammad bin Abdillah. Banyak di antara mereka yang mati
sebagai syahid saat mempertahankan dan melindungi Rasulullah saw, bahkan
sang Nabi pun hidungnya terluka dan giginya pun runtuh dan kepala beliau yang
mulia terluka sehingga beliau mengucurkan darah.
Kemudian tersebarlah isu bahawa Muhammad saw telah meninggal. Ketika
mendengar itu, kaum Muslim sangat terpukul dan sangat sedih sehingga kaum
Muslim pun terpecah-pecah. Sebahagian mereka kembali ke Mekah dan
sekelompok yang lain ke atas gunung dan mereka tetap menjaga Nabi saw yang
mulia. Ketika mendengar kematian Nabi, Anas bin Nadhir berkata kepada
kaumnya: "Bangkitlah kalian dan matilah seperti kematiannya. Apa yang kalian
lakukan setelah kalian hidup sesudahnya."
Pasukan Muslim tetap bertahan dan melakukan peperangan, lalu tekanan kaum
musyrik semakin berat kepada Nabi saw dan para sahabatnya. Kemudian
terjadilah kejadian yang paling sulit dalam sejarah umat Islam. Nabi saw
berteriak saat melihat kaum musyrik menekannya dan berusaha
membunuhnya: "Barang siapa yang dapat mengusir mereka dariku, maka
baginya syurga."
Mendengar perkataan itu, kaum Muslim segera mengitari Nabi saw dan
melindungi beliau sehingga banyak dari mereka berguguran sebagai syahid.
Bahkan sahabat-sahabat Abu Juanah melindungi Nabi saw sampai- sampai
punggungnya dipenuhi dengan anak-anak panah. Ia bagaikan baju besi yang
dipakai kepada Nabi saw dan ia tetap kukuh melindungi Nabi saw. Kemudian
berubahlah keadaan kerana keteguhan dan keberanian yang diperlihatkan oleh
kaum Muslim. Pasukan Mekah merasa puas dan mereka memilih untuk menarik
diri. Saat itu orang-orang Quraisy tidak lebih sedikit penderitaannya daripada
orang-orang Muslim.
Setelah peperangan yang dahsyat itu, kaum musyrik menarik diri setelah
mereka berhasil membunuh beberapa orang Muslim, bahkan mereka berhasil
melukai pemimpin pasukan yaitu sang Nabi saw. Semua itu terjadi kerana satu
kesalahan yaitu kesalahan terletak pada penentangan dan pembangkangan
para pemanah terhadap perintah sang Rasul saw dan usaha mereka untuk
meninggalkan tempat mereka.
Ketika sebahagian kelompok dari sahabat kehilangan pengorbanan dan
kehilangan sikap ikhlas dalam hati mereka, maka kesalahan tersebut harus
dibayar oleh tentera yang paling berani dan mulia di antara mereka yaitu sang
Nabi saw. Langit tidak ikut campur untuk menyelamatkan pasukan Islam itu.
Kesalahan kaum Muslim itu harus dibayar oleh Rasul saw di mana wajah beliau
pun terluka bahkan keluar darah yang cukup deras dari luka beliau sehingga
setiap kali dituangkan air di atas luka itu, maka darah pun semakin deras
mengucur. Darah itu tidak berhenti kecuali setelah dibakarkan potongan
tembikar lalu dilekatkan di atasnya.
Luka beliau bukan hanya bersifat materi tetapi luka spirituil beliau dan rohani
beliau pun semakin bertambah. Ini beliau rasakan ketika mendengar bahawa
pamannya Hamzah gugur sebagai syahid dan tidak cukup dengan itu, bahkan
isteri Abu Sofyan yaitu Hindun membelah perutnya dan mengeluarkan
jantungnya serta mengunyahnya dengan mulutnya. Semua itu semakin
menambah kesedihan sang Nabi.
Kaum Quraisy menguasi pasukan Muslim dan mereka memperlakukan dan
menekan kaum Muslim secara aniaya. Seandainya bukan kerana rahmat Allah
SWT nescaya kaum Muslim akan mengalami kekalahan yang teruk. Kemudian
turunlah dalam Al-Qur'an al-Karim ayat-ayat yang mendidik kaum Muslim agar
mereka benar-benar ikhlas dan memahamkan mereka bahawa kekalahan
mereka sebagai akibat dari adanya pasukan di antara mereka yang
menginginkan dunia meskipun di antara mereka ada sebahagian yang
menginginkan akhirat. Jika terjadi demikian, maka tidak ada jalan untuk
memperoleh kemenangan. Ini bukanlah hal yang diinginkan oleh pasukan
Muslim, yang diharapkan adalah hendaklah semua pasukan tertuju untuk
mencapai ridha Allah SWT dan hanya mengharapkan akhirat. Jika demikian
halnya, maka Allah SWT akan memberi mereka dunia dan akhirat.
Allah SWT berfirman dan menceritakan peperangan Uhud dalam surah Ali
'Imran:
"Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan di antara kamu ada
orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kamu dari
mereka untuk menguji kamu; dan sesungguhnya Allah telah memaafkan
kamu. Dan Allah mempunyai kurnia (yang dilimpahkan) atas orang-orang
yang beriman." (QS. Ali 'Imran:: 152)