KISAH NABI MUHAMMAD S.A.W (19)

Nabi melihat keadaan pasukannya lalu hati beliau tampak sedih melihat
pasukan tersebut. Beliau berdoa kepada Tuhannya: "Ya Allah, Sesungguhnya
mereka adalah orang-orang yang lapar, maka kenyangkanlah mereka. Ya Allah,
sesungguhnya mereka adalah orang- orang yang tanpa alas kaki, maka
tolonglah mereka. Ya Allah, Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang
tidak berpakaian, maka berilah mereka pakaian."
Kemudian rasa kantuk menghinggapi mata kedua pasukan lalu mereka
beristirahat di tengah-tengah malam. Jatuhlah hujan kecil yang membuat
tempat itu basah sehingga kelembapan mengitari kaum Muslim. Hujan tersebut
membasuh tanah perjalanan dan menghilangkan debu- debu kepayahan serta
menyucikan hati dan membangkitkan kepercayaan atas kemenangan dari Allah
SWT.
Allah SWT berfirman:
"(Ingatlah), ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu
penenteram dari-Nya, dan Allah menurunkan hujan dari langit untuk
menyucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu
gangguan-gangguan syaitan dan untuk menguatkan hatimu dan
memperteguh dengannya telapak kaki(mu)." (QS. al-Anfal: 11)
Datanglah waktu pagi di Badar lalu kaum Quraisy mulai menyerang, lalu Nabi
memerintahkan pasukan Muslim untuk bertahan. Rasulullah saw bersabda: "Jika
musuh mengepung kalian, maka usirlah mereka dengan panah dan janganlah
kalian menyerang mereka sehingga kalian diperintahkan."
Demikianlah ketetapan militer yang sangat jitu yang bererti hendaklah kaum
Muslim membentengi mereka di tempat-tempat mereka agar orang-orang
musyrik mendapatkan kerugian dari serangan yang mereka lakukan. Kita
mengetahui dari ilmu militer saat ini bahawa seorang yang menyerang memerlukan tiga atau tiga kali lipat dari jumlah yang biasa dilakukan sehingga
serangannya betul-betul efektif; kita mengetahui bahawa jumlah pasukan
musyrik tiga kali lipat dibandingkan dengan tentera Muslim. Kaum musyrik di
lihat dari segi jumlah sangat memadai untuk memenangkan peperangan, dan
persenjataan mereka lebih lengkap dari persenjataan kaum Muslim. Jumlah
haiwan yang mereka miliki pun sama dengan jumlah mereka, sedangkan tiap
tiga orang Muslim berperang di atas satu tunggangan.
Keadaan saat itu sangat menguntungkan kaum musyrik. Tanda-tanda
kemenangan tampak menyertai bendera kaum musyrik, tetapi kemenangan
peperangan bukan kerana kebesaran jumlah pasukan dan persenjataan yang
lengkap. Terkadang peperangan justru dimenangkan oleh unsur spirituil yang
tidak kelihatan. Spirituil tentera dan keimanannya tentang persoalan yang
dipertahankannya serta keinginannya untuk mendapatkan dua kebaikan:
kemenangan atau kematian dan hasratnya yang tinggi untuk meneguk madu
syahadah, semua itu dapat mengubah seorang tentera menjadi makhluk yang
tidak terkalahkan. Boleh jadi ia akan merasakan kematian tetapi jauh dari
kekalahan. Demikianlah keadaan pasukan Muslim.
Sementara itu debu-debu berterbangan di atas kepala pasukan yang bertempur
dan kaum Muslim mencurahkan tenaga yang keras dalam peperangan itu.
Ketika dua pasukan saling bertemu dan bertempur, Nabi saw melihat mereka,
lalu Nabi saw menyaksikan pasukannya terjepit. Pasukan yang berjumlah
sedikit dengan persenjataan yang tidak lengkap itu kini ditekan oleh orang
kafir. Dalam keadaan demikian, Nabi saw meminta pertolongan kepada
Tuhannya: 'Ya Allah, kirimkanlah bantuan dan pertolongan-Mu. Ya Allah,
wujudkanlah janji-Mu kepadaku. Ya Allah, jika kelompok ini dihancurkan, maka
Engkau tidak akan disembah setelahnya di muka bumi." Renungkanlah,
bagaimana kesedihan Nabi saat terjadi peperangan itu. Oleh kerana itu, kita
dapat memahami mengapa Nabi saw meminta agar pasukannya dimenangkan.
Pemimpin pasukan tertinggi Muhammad bin Abdillah keluar berperang di jalan
Allah SWT dan saat ini kematian sedang mengitari kaum Muslim, lalu apa yang
difikirkan oleh Nabi saw pada keadaan yang sulit tersebut? Pemikiran Nabi saw
melebihi hal yang sekarang dan menuju pada hal yang akan datang, dan yang
menjadi fokus Nabi adalah penyembahan Allah SWT di muka bumi: "Ya Allah,
jika kelompok ini dihancurkan, maka Engkau tidak akan disembah setelahnya di
muka bumi." Nabi tidak terlalu mengkhuatirkan kehancuran kaum Muslim kerana Nabi justru mengkhuatirkan sesuatu yang lebih besar dari itu. Yang beliau khuatirkan
adalah penyembahan kepada Allah SWT akan berhenti di muka bumi. Oleh
kerana itu, Nabi meminta tolong kepada Tuhannya dan mengingatkan kembali
kepada Tuhannya dan Allah SWT lebih tahu dari hal itu. Kemudian turunlah
bala tentera malaikat yang dipimpin oleh Jibril.
Allah SWT berfirman:
"(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu
diperkenankan-Nya bagimu: 'Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala
bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.'
Dan Allah tidak menjadikannya (mengirim bantuan itu), melainkan sebagai
khabar gembira dan agar hatimu menjadi tenteram kerananya. Dan
kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa
lagi Maha Bijaksana." (QS. al-Anfal: 9-10)
Setelah itu Nabi saw menghampiri sahabat Abu Bakar dan berkata: "Sampaikan
berita gembira wahai Abu Bakar, sesungguhnya telah datang kepadamu
bantuan dari Allah SWT." Turunnya para malaikat merupakan cara untuk meneguhkan kaum Muslim dan berita gembira kepada mereka. Mukjizat itu bukan terletak pada penyertaan para malaikat dalam peperangan, namun melalui nas-nas ditegaskan bahawa peranan malaikat tidak lebih dari sekadar membawa berita gembira dan
memberikan dukungan moril serta memenuhi hati dengan ketenangan. Kami
kira bahawa Allah SWT ingin agar para malaikat menyaksikan manusia-manusia
malaikat yang mempertahankan akidah tauhid. Demikianlah Allah SWT mewahyukan kepada malaikat bahawa Dia bersama mereka. Oleh kerana itu, hendaklah orang-orang yang beriman merasa tenang dan kebenaran akan tertancap pada hati mereka sedangkan orang-orang kafir pasti akan merasakan ketakutan.
Allah SWT berfirman:
"(Ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat:
'Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang telah beriman.' Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan
ke dalam hati orang-orang kafir, maka penggallah kepala mereka dan
pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka. (Ketentuan) yang demikian itu
adalah kerana sesungguhnya mereka menentang Allah dan Rasul-Nya; dan
barang siapa menentang Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya Allah
amat keras seksaan-Nya. Itulah (hukum dunia yang ditimpakan atasmu),
maka rasakanlah hukuman itu. Sesungguhnya bagi orang-orang yang kafir itu
ada (lagi) azab neraka." (QS. al-Anfal: 12-14)
Lalu orang-orang kafir pun mengalami kekalahan. Setelah peperangan itu,
terbunuhlah tujuh puluh kafir dan tujuh puluh tawanan dari mereka dan
sebahagian pasukan melarikan diri. Runtuhlah tokoh-tokoh kebencian dan
kelaliman di peperangan tersebut. Hancurlahlah Abu Jahal, pemimpin pasukan,
dan pahlawan-pahlawan Mekah kini terkapar.
Rasulullah saw berdiri di depan bangkai-bangkai orang-orang kafir dan berkata:
"Wahai Utbah bin Rabi'ah, wahai Syaibah bin Rabi'ah, wahai Umayah bin Khalf,
wahai Abu Jahal bin Hisam, apakah kalian menemukan apa yang dijanjikan
oleh tuhan kalian kepada kalian. Sungguh aku telah menemukan apa yang
dijanjikan Tuhanku." Orang-orang Muslim berkata: "Ya Rasulullah, apakah
engkau memanggil kaum yang sudah mati?" Rasulullah berkata: "Kalian tidak
mengetahui apa yang aku katakan kepada mereka, tetapi mereka tidak mampu
menjawab perkataanku." Rasulullah saw tinggal tiga malam di Badar kemudian
beliau kembali ke Madinah. Di depan beliau terdapat tawanan-tawanan perang
dan ganimah.
Kaum Muslim sangat menanggung beban berat dengan banyaknya tawanan
perang. Mula-mula Rasulullah saw bermusyawarah dengan sahabat Abu Bakar
dan Umar. Abu Bakar berkata: "Ya Rasulullah, mereka adalah keturunan dari
saudara-saudara dan keluarga, dan aku melihat lebih baik engkau mengambil
fidyah (tebusan) dari mereka sehingga apa yang engkau ambil tersebut
merupakan kekuatan bagi kita terhadap orang-orang kafir, dan
mudah-mudahan Allah SWT memberi petunjuk kepada mereka sehingga mereka
menjadi tulang punggung kita."
Kemudian Rasulullah saw menoleh kepada Umar bin Khattab sambil berkata,
"bagaimana pendapatmu wahai Ibnul Khattab?" Lelaki itu berkata: "Demi Allah,
aku tidak sependapat dengan apa yang dikatakan Abu Bakar tetapi aku
berpendapat, seandainya aku mampu untuk bertemu dengan salah seorang
kerabatku, maka aku akan memukul lehernya, dan seandainya Ali mampu bertemu dengan keluarganya, maka ia pun akan memukul lehernya begitu
Hamzah sehingga Allah SWT mengetahui bahawa tidak ada di hati kita
kelembutan kepada kaum musyrik."