KEWAJIBAN ILTIZAM

KEWAJIBAN ILTIZAM

AN MU'ASASAH

Allah Subhanahu wa Ta’ala memang benar-benar telah memuliakan kaum Muslimin hanya dengan Islam. Sebagaimana Amirul-Mukminin ‘Umar Ibnul-Khaththab راضي الله عنه telah berkata: “Sesungguhnya Allah telah memuliakan kami dengan Islam, dan jika kami mencari kemuliaan selain Islam, maka pasti, Allah akan menghinakan kami”.

Demikianlah, jika kaum Muslimin iltizam (berpegang teguh) dengan agama ini, niscaya kita menjadi umat paling mulia, bahkan menjadi penguasa di muka bumi, sehingga umat-umat yang lain akan takluk dan tunduk. Sebaliknya, jika kaum Muslimin merasa hina dan merasa rendah dengan Islam, niscaya kita menjadi umat yang terhina, terbelakang dan menjadi umat tertindas, yang bergantung kepada umat yang lain.

Adapun kemuliaan itu, tidak akan diraih, kecuali dengan benar-benar kembali kepada agama yang haq dan iltizam dengannya. Oleh karena itu, Rasulullah ﷺ telah memperingatkan agar kita tidak melakukan sesuatu yang menujukkan tasyabbuh (meniru-niru) orang lain, seperti meniru kaum musyrikin, kuffar, Yahudi, Nashrani, Majusi, Persia dan selainnya.

Lihatlah! Tatkala Nabi ﷺ tiba di Madinah, kemudian beliau mendapatkan para penduduk Madinah merayakan dua hari raya Jahiliyah, maka beliau ﷺ mengingatkan: "Sesungguhnya Allah telah mengganti hari raya kalian dengan dua hari raya yang lebih baik, yaitu ’Idul-Fitri dan ‘Idul-Adh-ha. Begitu juga ketika Rasulullah ﷺ melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura, maka beliau ﷺ berkata di hadapan para sahabatnya: Selisihilah (berbedalah dengan) Yahudi, berpuasalah kalian sehari sebelumnya, atau sesudahnya."

Perhatikan juga, ketika para sahabat membuat penetapan kalender sebagai pijakan mu’amalah keseharian kaum Muslimin, maka serta merta para sahabat tersebut meninggalkan kalender Masehi, Farisi dan selainnya, kemudian sepakat menetapkan kalender Hijriyah sebagai dasar perhitungan, yaitu dimulai dari hijrahnya Nabi, dari Mekkah ke Madinah. Penetapan ini dibuat, dengan maksud agar tidak tasyabbuh dengan orang-orang kuffar. Mengapa para sahabat sampai berbuat demikian?

Jawabnya, karena para sahabat memahami, bahwa tasyabbuh hanya akan mendorong sikap penghormatan dan kecintaan kepada orang-orang kuffar. Dan barang siapa yang mencintai mereka, pasti akan binasa.

Allah Azza wa Jalla berfirman:

Rasulullah ﷺ selalu memperingatkan umatnya untuk tidak bersikap tasyabbuh dengan orang-orang kafir. Di antaranya, orang-orang Yahudi dan Nashara membangun masjid-masjid (tempat beribadah mereka) di atas kuburan, maka beliau ﷺ memperingatkan para sahabatnya: "Allah telah melaknat Yahudi dan Nashara, karena mereka telah menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid, maka janganlah kalian menjadikan kuburan sebagai masjid."

Rasulullah ﷺ juga melarang umatnya dari sikap ghuluw (berlebih-lebihan) dalam memuji diri Nabi, karena beliau ﷺ mengetahui bahwa kaum Nashara telah berbuat ghuluw kepada Al-Masih Isa ibnu Maryam, sehingga pada puncaknya, kaum Nashara menjadikan Isa sebagai ilah (sesembahan) selain Allah.

Beliau ﷺ bersabda: "Janganlah kalian bersikap berlebih-lebihan kepadaku sebagaimana kaum Nashara telah berlebih-lebihan kepada Isa ibnu Maryam. Saya hanyalah seorang hamba, maka katakanlah hamba Allah dan utusan-Nya."

Begitu pula Rasulullah ﷺ mengingatkan agar kita tidak tasyabbuh (meniru) orang-orang kafir dalam masalah makan dan minum. Rasulullah ﷺ melarang makan dan minum dengan tangan kiri, karena hal ini merupakan tasyabbuh dengan setan dan kaum kuffar. Dan beliau memerintahkan makan dan minum dengan tangan kanan.

Dalam penampilan zhahir, Rasulullah ﷺ melarang memotong jenggot dan membiarkan kumis, karena kebiasaan ini juga merupakan sifat orang-orang kafir. Rasulullah ﷺ bersabda: Biarkanlah jenggot dan potonglah kumis, selisihilah Yahudi dan Musyrikin"

Dalam keseharian, seperti pakaian, cara berjalan, duduk, pemberian nama dan sebagainya yang merupakan syi’ar, juga tidak luput dari perhatian Rasulullah ﷺ , agar umatnya tidak tasyabbuh dengan orang-orang kuffar. Ingatlah, bahwa kita diperintahkan hanya dengan Islam, bukan dengan yang selainnya, karena Islam telah sempurna dan tidak memerlukan adanya tambahan. Allah Azza wa Jalla berfirman:

Sehingga tasyabbuh dengan orang-orang kuffar, berarti menunjukkan adanya kekurangan dalam Islam. Maka mencari kesempurnaan melalui orang-orang kafir, masuk dalam perbuatan kufur nikmat. Allah telah menyempurnakan dan mengistimewakan Islam di atas agama yang lain, sebagaimana tersirat dalam Al-Qur`an:

Oleh karena itu, wajib bagi setiap muslim, baik secara individu maupun secara menyeluruh, baik sebagai rakyat maupun penguasa untuk berpegang teguh dengan Islam, menjaganya dengan kuat. Jika kaum Muslimin tidak mau iltizam dan tidak merasa termuliakan dengan Islam, niscaya kaum Muslimin akan menjadi orang-orang yang hina dan terhinakan.

Fenomena tasyabbuh dengan orang-orang kafir yang nampak dewasa ini di kalangan kaum Muslimin pada masa sekarang ini, salah satu contohnya dalam masalah bahasa. Padahal menggunakan bahasa milik orang-orang kafir tidak diperbolehkan, kecuali ada kebutuhan yang bersifat dharuri (terpaksa). Dan keharusan bagi kita, yaitu membiasakan dengan bahasa Al-Qur`an.

Perhatikan juga kalangan anak-anak muda muslim, banyak yang lebih menyukai memakai topi di kepalanya daripada mengenakan peci. Padahal topi merupakan pakaian dan syi’ar kuffar. Kita tidak memiliki kepentingan untuk mengenakannya. Begitu pula bermacam tulisan asing yang menempel di pakaian anak-anak dan para pemuda muslim, padahal jika diterjemahkan, tulisan-tulisan tersebut mengandung arti dan syi’ar agama mereka. Sungguh memprihatinkan.

Menghadapi kenyataan ini, semestinya kita waspada dan memperingatkan adanya bahaya yang mengintai aqidah umat. Jika kaum Muslimin melakukan tasyabbuh, akan menyusahkan manakala ingin membedakan antara kaum Muslimin dan orang-orang kafir. Padahal, kaum Muslimin adalah sebaik-baik umat yang telah dimuliakan Allah di muka bumi. Kaum Muslimin memiliki kemulian, kehormatan dan keagungan, dengan syarat senantiasa iltizam terhadap ajaran Nabi ﷺ .

Renungkanlah kembali firman Allah Azza wa Jalla :

Di antara faktor yang dapat menggiring kepada tasyabbuh, misalnya seorang muslim sering melakukan perjalanan ke negeri kafir.

Manakala seorang muslim sering berkunjung ke sana, kemudian melihat yang ada pada di negeri orang-orang kafir tersebut, maka sangat mungkin mendorong terjadinya tasyabbuh. Oleh karena itu, seorang muslim jangan bersafar ke negeri kuffar, kecuali jika benar-benar ada kebutuhan mendesak dan bersifat darurat. Bila telah sampai di sana, maka harus tetap bangga dengan Islam, senantiasa menjaga akhlak dan adab Islam, serta jangan sampai terpengaruh dengan adat dan kerusakan moral mereka.

Faktor lain yang dapat memunculkan tasyabbuh, misalnya adanya campur baur antara kaum Muslimin dengan orang-orang kafir. Interaksi ini terjadi karena kedatangan atau kehadiran orang-orang kafir di negeri muslim. Maka, setiap muslim harus berhati-hati, jangan sampai terpengaruh dengan adat dan kebiasaan yang mereka bawa. Bahkan sedapat mungkin kita menyeru dan mendakwahi mereka supaya mengenal dan masuk Islam.

Begitu juga adanya acara-acara dan siaran-siaran media elektronika yang menggambarkan dan menampilkan adat, kebobrokan moral, keseharian yang menyimpang dan bertolak belakang dengan adab-adab Islam, dapat menimbulkan efek di kalangan kaum Muslimin dan Muslimah, sehingga meniru dan berperilaku dengan kebiasaan mereka, dalam semua aspek kehidupan.

Rasulullah ﷺ sering memperingatkan umatnya agar selalu menjauihi tasyabuh dan tidak mengekor prilaku mereka dalam hadits-haditsnya di antaranya

Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal. Sampai-sampai, ketika mereka masuk ke lubang biawak pun, kalian juga akan mengikutinya."

Demikianlah peringatan Rasulullah ﷺ. Dan hendaklah kita berpegang teguh dengan agama yang mulia ini, menjauhi tasyabbuh dan terus memperingatkan bahaya perbuatan meniru kepada perilaku orang-orang kafir. Mudah-muadah Allah senantiasa menolong dan membimbing kita ke arah jalan yang lurus dan diridhai-Nya.

Report Page