It's Hot but It's Sweet.

It's Hot but It's Sweet.


Uap terlihat jelas mengudara dari gelas putih yang digenggam Arashi. Di sampingnya, seorang pria berambut ungu berdiri sambil membantunya melilitkan kembali syal yang sempat kendur, disusul usapan ringan di rambut pirang Arashi.

“Diminum,” ucap Kiros.

Arashi mengangguk mengiyakan.

Ia meniup pelan permukaan minuman itu. Uapnya menipis… lalu seteguk kecil.

“AH! PANAS! It’s hot!” Arashi memajukan bibirnya refleks. Rasa terbakar menjalar, membuatnya membentuk ekspresi-ekspresi aneh. Ia kemudian menoleh ke arah pria di sampingnya, seolah meminta bantuan—dan Kiros menahan senyum.

Mata kuning kecokelatan bertemu dengan binar biru keunguan. Tatapan itu terkunci, jarak menyempit—singkat, sebuah sentuhan di bibir Arashi; lembut dan menenangkan. Cukup lama hingga rasa panas tergantikan oleh sesuatu yang jauh lebih manis.

Saat keduanya tersadar bahwa mereka berada di ruang publik, Arashi segera memalingkan wajahnya. “Apa sih!” protesnya sambil mengusap bibirnya dengan kasar.

“Pahit, pahit!” lanjutnya, mengundang tawa renyah dari Kiros.

Report Page