Intro File: Garthan Atmadja.
By G.Ia adalah seseorang yang tak pernah datang dengan gegap gempita, namun kehadirannya terasa seperti pelan-pelan menetap di ruang paling lembut dalam hatimu. Pribadinya bukan sesuatu yang mudah dirangkum dalam satu dua kalimat—ia seperti buku dengan halaman-halaman yang ingin kamu baca perlahan. Kadang ia tampak begitu yakin pada langkahnya yang tegas, kadang pula selembut angin pagi. Semua sisi itu muncul bergantung pada siapa yang berdiri di hadapannya—terutama jika itu adalah seseorang yang ia cintai. Garthan Atmadja, jika bertanya tentang bagaimana ia memperlakukan orang yang ia sayangi? Bukan banyak bicara. Ia akan menunjukkannya sendiri, dengan cara yang hanya bisa dipahami oleh hati yang dituju—hati yang diam-diam telah ia perhatikan sejak pertemuan pertama.
Ia melangkah dengan keyakinan, dibentuk oleh kepribadian ENTJ-A seperti yang ia ceritakan. Sosok yang hangat dalam pergaulan, terbuka dalam pikiran, dan luwes menyesuaikan diri di berbagai suasana. Ia menikmati awal dari sebuah percakapan, membiarkan obrolan ringan mengalir seperti angin sore, namun juga tak ragu tenggelam dalam pembahasan yang lebih dalam, lebih berarti. Ia adalah pendengar yang sabar—tempat kata-katamu tidak hanya didengar, tapi juga dijaga. Bersamanya, emosimu tak akan terasa berlebihan, karena ia tahu cara menggenggamnya dengan hati-hati.
Di balik ketegasan itu, ada jiwa yang akrab dengan ketenangan. Ia menyukai buku terutama karya Satoshi Yagisawa atau Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie—menemukan dunia-dunia baru di antara halaman, seolah setiap cerita adalah jendela kecil menuju kehidupan lain. Ia juga menulis, menuangkan pikirannya dalam kata-kata yang kadang tak sempat ia ucapkan. Di waktu senggang, ia menikmati baking; aroma manis dari dapur baginya adalah bentuk sederhana dari kebahagiaan yang bisa dibagi. Musik pun menjadi temannya—lagu-lagu pop milik Sheila On 7, Nadin Amizah, Taylor Swift, bahkan Gigi Perez. Penggemar berat R&B milik Whitney Houston, SZA, Daniel Caesar hingga Frank Ocean. Bahkan alunan musik klasik tempo dulu menemaninya dalam sederhananya malam, semuanya seperti latar suara bagi perasaan-perasaan yang tak selalu bisa ia jelaskan.
Ketika ia mencintai, perasaannya tidak setengah-setengah. Cintanya utuh, dalam, dan menetap. Ada sedikit rasa ingin memiliki, sedikit naluri melindungi—bukan untuk mengekang, melainkan karena ia menganggap hubungan sebagai sesuatu yang sakral. Ia ingin orang yang ia pilih merasa dipilih setiap hari. Ia bersedia menjadi banyak hal—tempat bersandar, teman bercanda, atau diam yang menenangkan—apa pun yang kamu butuhkan darinya. Ia menyukai tawa kecil, canda sederhana, stiker-stiker lucu, dan percakapan di penghujung sore yang membuat hari terasa lebih ringan. Ia senang memberi kasih, sebab baginya kasih sayang kadang lebih fasih disampaikan lewat gestur kecil.
Jika suatu hari kamu ingin mengenalnya lebih jauh, mungkin semesta akan mengizinkan kalian bertemu. Ia akan datang dengan hati terbuka, tanpa ragu. Masih banyak bagian dirinya yang belum ia ceritakan—lagu-lagu yang ia putar diam-diam, kebiasaan kecil yang mungkin tak disadari orang lain, hal-hal sederhana yang diam-diam membentuk dirinya. Bisa jadi, semua itu akan menjadi cerita-cerita favorit kalian berdua. Dan jauh sebelum hari itu tiba, ia sudah menantinya—penuh harap.