Inilah Kesesatan Jamaah Tabligh

Inilah Kesesatan Jamaah Tabligh

Publisher

Sebelum membaca artikel ini, alangkah baiknya membaca Jamaah Tabligh, Antara Kenyataan dan Pengakuan agar lebih sempurna faidahnya. Barakallahu fikum.


Sudah ma’lum bahwa jama’ah tabligh (disingkat JT) memiliki 6 dasar atau rukun dakwah, yang di atas 6 rukun inilah para pengikut JT dibai’at dan diatas rukun inilah dilaksanakan dakwah JT, barangsiapa yang keluar dari 6 rukun ini maka dia dianggap keluar dari JT. Enam rukun itu adalah:

  1. Kalimat thayyibah, yaitu Laa ilaha illallah, Muhammadarrasulullah.
  2. Menegakkan shalat
  3. Menuntut ilmu dan dzikir
  4. Memulyakan kaum muslimin
  5. Ikhlas
  6. Keluar di jalan Allah (Khuruj fi sabilillah)

Pembahasan 6 rukun JT ini bisa dibaca di dalam buku saya “Menguak Kesesatan Jama’ah Tabligh" (MKJT) dari halaman 13-43.

Didalam mendakwahkan 6 rukun ini, JT memiliki jurus kalimat rahasia sehingga dengan jurus ini mereka mampu menjerumuskan banyak manusia ke dalam kesesatan JT. Apa kalimat rahasia itu? Kalimat rahasia itu adalah: 

“SEGALA SESUATU YANG MENYEBABKAN MANUSIA LARI, YANG MENYEBABKAN MANUSIA BERPECAH BELAH, ATAU BERSELISIH DI ANTARA DUA ORANG, MAKA HARUS DITINGGALKAN KARENA MERUPAKAN PENGHALANG DAKWAH JT, PEMUTUS DAKWAH JT, PENGHANCUR DAKWAH JT.”

Maka dengan prinsip inilah dakwah JT bisa berkembang pesat di seluruh dunia melalui bid’ah khuruj model JT. Contoh pelaksanaan kalimat rahasia JT dapat kita lihat ketika para da’i JT sedang berdakwah, padahal mereka belum waktunya berdakwah.

Maka setiap da’i JT dibekali supaya memegangi kalimat rahasia ini. Ketika orang JT mau membahas rukun pertama dari rukun 6 rukun JT, mereka juga harus menerapkan 6 jurus ini. Sudah maklum di kalangan Ahlussunnah Wal Jama’ah bahwa kalimat tauhid, yaitu kalimat Laa ilaaha illaallah itu mengandung tiga macam tauhid, yaitu Tauhid Rububiyyah, Tauhid Uluhiyyah, dan Tauhid Asma’ was Sifat.

Apabila da’i Ahlussunnah membahas kalimat tauhid ini maka mereka membahas dan menyampaikan semua tiga macam tauhid tadi, sehingga jelas dihadapan kaum muslimin siapa ahli tauhid yang sebenarnya dan siapa ahli syirik yang sebenarnya.

Hal ini sangat berbeda dengan kelompok JT ketika membahas hanya kepada tauhid Rububiyyah saja, karena ini relatif aman dari munculnya perselisihan dan perpecahan.

Sedangkan pembahasan Tauhid Uluhiyyah, maka ini tidak boleh dibahas karena di sana ada Salafy yang sangat anti pada kesyirikan. Salafy yang tidak membolehkan untuk mengadakan Syaddurihal (perjalanan safar/bepergian) ke kuburan, tidak boleh thawwaf di kuburan, tidak boleh bertawassul dan istighatsah kepada orang sholih yang sudah mati, sementara selain Salafy mereka membolehkan. Maka JT tidak berani membahas Tauhid Uluhiyyah ini karena menyebabkan perselisihan dan perpecahan.

JT juga tidak berani membahas tauhid yang ketiga, yaitu Tauhid Asma’ was Sifat karena di sana ada sekian golongan atau kelompok yang berbeda yang tidak bisa dipertemukan, ada kelompok Asy’ariyah, ada kelompok Maturidiyah, ada kelompok Jahmiyah, ada kelompok Hululiyyah (ajaran Phanteisme, menyatunya Allah dengan makhluk atau Wihdatul Wujud -dalam bahasa Jawa- dikenal dengan ungkapan Manunggaling Kawulo lan Gusti).

Belum lagi disana ada kelompok Salafy yang menentang semua kelompok diatas sehingga JT tidak berani mambahas masalah tauhid ini karena akan menimbulkan perselisihan dan perpecahan.

Demikian juga ketika JT mau mambahas rukun lainnya , rukun ilmu misalnya maka jurus kalimat rahasia ini wajib dipegangi. JT membagi ilmu itu menjadi dua, yaitu ILMU FADHA'IL dan ILMU MASA’IL (ilmu fiqih).

Ilmu yang pertama yakni Ilmu Fadha'il (atau yang lebih dikenal dikalangan mereka Fadhilah 'Amal) dianggap lebih aman untuk membahasnya dari timbulnya perselisihan dan perpecahan. Sementara Ilmu Masa’il sangat sarat timbulnya perselisihan dan perpecahan -menurut mereka- karena mereka mendahulukan khuruj daripada thalabul ilmi (mencari ilmu).

Maka orang JT tidak berani membahas ilmu masa’il dan masalah ilmu masa’il (ilmu fiqih) ini diserahkan kepada Ulama’ negeri (wilayah) tersebut. Orang JT cukup dengan ilmu Fadha'il saja. Dan begitu seterusnya, yaitu semua wajib dihindari.

Sungguh kalimat rahasia JT ini sangat bertentangan dengan prinsip dakwah Ahlussunnah Wal Jama’ah.

Konsekuensinya, seorang da’i JT harus bisa bermuka banyak dengan mendiamkan kesyirikan yang ada di hadapannya, mendiamkan kebid’ahan dan kesesatan yang ada di hadapannya. Bahkan JT juga menjadi penolong dari perbuatan kemungkaran : "Ketika ada orang yang merokok, mereka malah membelikan; ketika ada yang mabuk, mereka malah menyiapkan gelasnya; dan ketika ada orang yang mencukur jenggotnya, mereka yang menyiapkan siletnya (pisau cukur).

Padahal Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Dan janganlah kamu mencampur adukkan yang hak dengan yang batil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui.” (QS.Al-Baqoroh : 42)

Adapun da’i Salafy Ahlussunnah Wal Jama’ah, dia menerangkan kepada umat Islam bahaya-bahaya kesyirikan, macam-macamnya, menyeru kepada umat untuk menjauhi syirik dan pelakunya sehingga menjadi jelas dan terang di hadapan umat antara syirik dan tauhid, antara ahli syirik dan ahli tauhid.

Da’i Salafy Ahlussunnah Wal Jama’ah juga menerangkan kepada umat bahaya-bahaya bid’ah, macam-macam bid’ah, dan siapa yang disebut ahli bid’ah. Diterangkan kepada umat pentingnya mempelajari dan mengamalkan sunnah, sehingga dengan itu jelaslah di hadapan umat siapa ahli bid’ah dan siapa ahli sunnah, yang keduanya berbeda dan tidak bisa disatukan.

Da’i Salafy juga menerangkan kepada umat bahaya perbuatan mungkar dan maksiat dan bahaya tidak ditegakkannya amar ma’ruf nahi mungkar (diringkas dari kitab Al-Qhuthbiyyah Hiyal Fitnah Fa’rifuha karya Asy-Syaikh Ibrahim Ibnu Sulthon Al-Adnany, hlm. 7-12)

Sumber: Buku Jamaah Tabligh, Antara Kenyataan dan Pengakuan

Bersambung ke INILAH KESESATAN JAMAAH TABLIGH (2)

Dari kisah-kisah kelabu Jama’ah Tabligh, pembaca akan tahu betapa kebencian mereka kepada al-haq dan pembawa al-haq, dalam keadaan banyak Muslimin tersihir dengan keindahan “lipstik” jama’ah ini. Mari kita ikuti kisah-kisah mereka, semoga Allah subhanahu wa ta'ala senantiasa merahmati kita dan mengaruniakan hidayah-Nya kepada kita.Amiin.

1. CELAAN JT TERHADAP ULAMA’

Jama’ah Tabligh mempunyai dua majelis: majelis pertama adalah tiap selasa malam yang merupakan majelisnya orang-orang yang baru datang dari Khuruj (baca : berkelana/mengembara dari masjid ke masjid,red) dan majelis kedua adalah majelis orang-orang yang hendak berangkat khuruj. Kemudian Amir (baca : Pemimpin,red) mereka menghadirkan salah seorang yang baru datang dari khuruj untuk membangkitkan semangat khuruj orang-orang JT yang mau khuruj.

Maka terjadilah dialog antara amir JT dengan JT yang baru datang dari khuruj tersebut.

Amir JT: Berapa hari anda khuruj?

Fulan JT: Saya khuruj selama 4 bulan fi sabilillah

Amir JT: Masya Allah! Ke mana saja khurujnya?

Fulan JT: Ke Jazirah 10 hari, di Afrika 20 hari, di Eropa 1 bulan, di

Amerika selatan 1 bulan, dan 1 bulan di Asia Timur, India dan Pakistan

Amir JT: Masya Allah! Kamu adalah seorang da’i seperti awan yang bergerak mendatangi manusia di negaranya (kampungnya) dan memberi minum langsung kepada mereka, berbeda dengan para Ulama’, mereka itu seperti sumur atau mata air, kalau kalian kehausan harus menempuh sekian mil perjalanan untuk mendatangi sumur tersebut, terkadang sesampai di sana belum tentu bisa langsung minum karena sumurnya tidak ada timbanya dan kalaupun ada timbanya kalian akan susah payah menimbanya, baru bisa meminumnya.

Perhatikan baik-baik kisah buatan amir JT ini, semoga Allah merahmati kita. Ketika ada “Thalabul Ilmi” (penuntut ilmu), mereka sampaikan kisah ini agar orang tersebut tidak jadi menuntut ilmu dan mengutamakan menjadi da’i yang mereka bilang seperti awan yang menurunkan hujan itu lebih afdhal dari sumur atau mata air. Padahal kalau sedikit kita mengarahkan pikiran pada perbedaan awan yang sedang menurunkan hujan dan sumur atau mata air, maka kita mengatakan tidak seperti awan yang dikatakan amir JT di atas.

Hujan dari awan seringnya hanya menumbuhkan rumput makanan ternak saja, juga sering hanya menumbuhkan rumput musiman. Berbeda dengan air sumur atau sumber mata air yang diambil orang untuk minum, untuk mencuci, memberi minuman ternak, menyiram tanaman. Sumur dan mata air bisa digunakan untuk orang mukim maupun musafir, diminum oleh manusia dan binatang ternak karena kualitasnya bagus, tidak berbau, rasanya enak, dan warnanya pun jernih.

Dengan ini bukankah pembaca dapat membedakan antara air hujan dengan air sumur? Kalau kurang jelas, pembaca bisa membuktikan dengan cara mengambil segelas air hujan yang menggenang di depan atau di samping rumah anda, kemudian ambillah segelas air sumur, kemudian sejajarkan keduanya. Kemudian, jika Anda disuruh minum, mana yang akan Anda minum?

Itulah pengakuan dari Amir JT yang menjelaskan kepada kita tentang keadaan kualitas JT seperti air keruh yang digandrungi oleh orang-orang yang menyukainya. Bercampur di dalamnya antara kebaikan dan kejelekan, antara hidayah dan kesesatan, antara kebatilan, kemungkaran, kemaksiatan.

Kisah ini merupakan isyarat & pelajaran kepada segenap kaum muslimin serta sebagai pemberitahuan tentang keadaan dan kualitas JT, yaitu ibarat minuman kotor bercampur penyakit & racun yang lebih ganas dari sekedar penyakit terganas di dunia ini. Karena seganas apa pun penyakit badan itu hanya merusak badan saja dan tidak merusak hati. Badan yang hancur masih bisa diharapkan selamat dari berbagai kesesatan di dunia dan ancaman neraka di akhirat, sedangkan kebid’ahan dan kesesatan adalah penyakit hati yang berbahaya bukan hanya di dunia, tetapi bisa berlanjut sampai di Jahannam, na’udzubillah minadlalalati wannar. Badan sakit, tetapi hatinya sehat jauh lebih baik daripada sebaliknya.

Baca juga INILAH KESESATAN JAMAAH TABLIGH (BAGIAN 1)

2. CELAAN JT TERHADAP THALABUL ILMI (PENUNTUT ILMU)

Dikisahkan ada seorang JT yang bertemu dengan seorang yang hendak berangkat thalabul ilmi, maka terjadilah dialog di antara keduanya:

JT: Mau kemanakah wahai saudaraku?

Thalib: Saya mau berangkat thalabul ilmi.

JT: Untuk apa thalabul ilmi?

Thalib: Supaya mengerti halal dan haram?!

JT: Subhanallah! Anda belum mengerti halal dan haram. Padahal kucing saja mengerti halal dan haram.

Perhatikan wahai kaum muslimin, semoga Allah merahmati kita semua, kalau hewan saja sudah mengetahui halal dan haram maka tidak ada gunanya Allah mengutus para Rasul dan tidak ada gunanya Allah menurunkan Al-Qur'an, sementara Allah dan Rasul-Nya telah mewajibkan pada setiap kita untuk thalabul ilmi (menuntut ilmu). Beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda:

“Menuntut ilmu agama wajib bagi setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah, Abu ya’la, Thabrani, dan dishahihkan oleh Asy Syaikh Al-Albany)

3. CELAAN JT TERHADAP MUSLIMIN YANG TIDAK MAU IKUT KHURUJ

Telah berkata amir JT ketika memberi semangat kepada orang-orang JT yang hendak khuruj meninggalkan kampungnya, meninggalkan pekerjaannya, keluarganya, dan anak-anaknya:

Wahai saudaraku, kalau kalian letakkan gula dan teh di dalam gelas, tetapi tidak kamu aduk maka kalian tidak akan merasakan manisnya teh tersebut. Demikian juga setiap manusia itu memiliki iman di dalam hatinya, mereka tidak akan merasakan manisnya iman tersebut kecuali mereka khuruj bersama JT.

Subhanallah…!! Ucapan amir JT ini benar-benar celaan terhadap para Ulama dan kaum muslimin karena kita mendapati para Ulama, thalabul ilmi, kaum muslimin laki-laki dan wanita, mereka semua tidak khuruj, hanya JT saja yang khuruj untuk mengamalkan ajaran Budha yang dimasukkan ke dalam Islam oleh JT.

Juga ucapan ini bertentangan dengan hadits shahih:

Tiga hal apabila ada pada seseorang maka ia akan merasakan manisnya iman yaitu seseorang yang menjadikan Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya lebih dia cintai dari selain keduanya, seseorang yang mencintai orang lain dia tidak mencintai kecuali karena Allah, dan seseorang yang membenci kekafiran setelah Allah subhanahu wa ta’ala menyelamatkannya sebagaimana dia membenci jika dilempar ke neraka setelah Allah subhanahu wa ta’ala menyelamatkannya.” (HR.Muslim)

Tiga kisah ini diterjemahkan dengan ringkas dari kitab Al-Quthbiyah Hiyal Fitnah fa’rifuha karya Asy-Syaikh Abu Ibrohim Ibnu Sulthon Al Adnany hal 13-15.

KHURUJ atau keluar di jalan Allah ini adalah ajaran baru yang diada-adakan oleh Kelompok Jama'ah Tabligh yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan para sahabat beliau ridhwanullah ‘alaihim ajma’in.

Ajaran khuruj (baca: berkelana/mengembara dari satu masjid ke masjid lain,red) ini merupakan ajaran Budha dan Brahma, sama sekali bukan bagian dari ajaran Islam. Maka berhati-hatilah wahai kaum muslimin jangan sampai kalian tertipu oleh penyesatan Kelompok Jama'ah Tabligh ini, segeralah kembali kepada As-Sunnah Nabi yang dengannya akan mencapai keselamatan di dunia dan akhirat.

Terhadap khuruj ini, telah berkata Asy Syaikh Taqiyuddin Al Hilaly rahimahullah: “Sesungguhnya umat terdahulu dari kalangan penganut ajaran Brahma dan Budha, mereka beribadah dengan khuruj (melancong), yakni manusia diwajibkan untuk keluar meninggalkan keluarganya dan berkelana di muka bumi dengan menempuh perjalanan panjang, harus sabar di atas penderitaan perjalanan, di atas rasa lapar dan haus, sabar berjalan di atas betis, tidak boleh naik kendaraan, sabar berselimutkan debu dalam perjalanan, makan harus sedikit, berjalan di bawah teriknya matahari dan dinginnya cuaca, serta derasnya hujan. Ini semua adalah ajaran Budha (bukan dari Islam sedikit pun)."

Ajaran ini pernah dilakukan oleh seorang penganut ajaran Brahma yang bernama Budza. Dia adalah anak orang kaya di India, dia melancong dengan meninggalkan anak dan istrinya, berjalan selama lima tahun sampai ketika di puncak kelemahannya, dia berhenti di bawah sebuah pohon. Di puncak rasa lapar dan haus serta telah merasakan pedihnya panas dan dingin, maka ketika itu dia merasa berhasil menuju puncak hakikat, tujuan tertinggi yang tidak bisa diperoleh oleh semua (sembarang) orang.

Ketika itu terbukalah baginya pintu-pintu hikmah dan mengerti segala sesuatu yang asalnya tidak tahu (padahal ini adalah kejahilan/kebodohan, bukan ilmu dan bukan hikmah sama sekali). Si Budza pun segera pulang menuju kampungnya dan manusia menyambutnya sebagai tokoh agama yang sukses (mencapai hakikat), sedangkan pohon tempat berteduhnya mereka beri nama ‘pohon hikmah’ karena di bawah pohon ini si Budza dianggap mendapatkan sumber-sumber hikmah dan ilmu.

Adapun dalam sunnah Nabi, keluar itu adalah dalam rangka berjihad berperang melawan orang-orang kafir, bukan sekedar melancong seperti Budha tersebut.

Beliau (Asy Syaikh Taqiyuddin rahimahullah) juga berkata: “Lisan halnya Kelompok Jama'ah Tabligh berkata “Tidak wahai Rasulullah, perkaranya tidak seperti yang engkau katakan, bahkan melancong (khuruj) itu disyari’atkan di jalan Allah. Bahkan seorang ahli ibadah meskipun telah melaksanakan semua yang diwajibkan maupun yang telah disunnahkan, tetapi dia belum khuruj maka agamanya tetap kurang.

Sesungguhnya ucapan ini puncak penyimpangan dari Kelompok Tabligh. Barangsiapa yang telah mengetahui bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam telah menghapus ibadah melancong ini dan dia tetap mengamalkannya maka dia telah menentang Allah dan Rasul-Nya dan akan menjadikan orang hina.

Khuruj, kalau tidak mau dikatakan sebagai ajaran Budha/Brahma, maka ini adalah perkara baru dalam agama yang diada-adakan yang sangat berbahaya baik di dunia maupun di akhirat.

Al Imam Al-Bukhari rahimahullah meriwayatkan hadits bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

Akan didatangkan suatu kaum di antara kalian kepadaku dan saya (Rasulullah) berada di Telaga Haudh, kemudian kaum itu terusir dariku, aku katakan: Ya Allah, sahabatku!” Maka dikatakan: Sesungguhnya kamu tidak mengerti apa yang mereka lakukan (terhadap agamamu) sepeninggalmu, maka aku katakan: Celaka! Celaka!.” (HR. Bukhari)

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Maka malaikat menyeret mereka dengan wajahnya (wajah di bawah). Aku tanyakan: mau diseret ke mana? Dikatakan: ke Neraka.” (HR Bukhari)

Maka hadits ini menunjukkan bahwasannya Nabi shallallahu alaihi wasallam berada di Telaga Haudh (telaga beliau yang airnya mengalir dari Al-Kautsar). Barangsiapa yang meminumnya seteguk saja, dia tidak akan merasakan haus untuk selamanya. Artinya, dia akan mengalami kebahagiaan dengan meminum air telaga tersebut, gelasnya sebanyak bintang di langit, warnanya lebih putih dari susu, rasanya lebih manis dari madu.

Kemudian ada Jama’ah (sekumpulan) orang mendatangi telaga Nabi shallallahu alaihi wasallam itu (Haudh), mereka telah dikenal dari bekas wudhunya karena wajah mereka bercahaya dari bekas wudhunya di dunia. Ketika mereka telah berada di puncak siksa kehausan dan ketakutan, tiba-tiba datang malaikat menyeret mereka di atas wajah-wajah mereka dan diusir ke belakang. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam  bertanya: 

Ke mana mereka akan minum?” Maka dijawab: “Ke Neraka.” Rasulullah ﷺ bersabda lagi: “Ya Allah, berilah Syafa’atku kepada mereka karena mereka adalah ummatku!” Allah menjawab, “Engkau tidak mengerti bid’ah apa yang mereka lakukan sepeninggalmu. Mereka telah mengganti dan mengubah agama yang engkau tinggalkan.” Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berlepas diri dari mereka dengan mengatakan: “Celaka mereka! Celaka mereka!

Wahai Firqah Tabligh! Bertaqwalah kepada Allah. Ingatlah bahwa sebentar lagi kalian akan berdiri di hadapan Allah. Sesungguhnya dengan khuruj itu, kalian telah memfitnah manusia. Dengan khuruj itu kalian telah melalaikan anak, istri, saudara-saudara dan kedua orang tua kalian. Padahal khuruj itu jika kalian tidak mau mengatakan telah mengambil ajaran Brahma, maka sesungguhya khuruj itu adalah ajaran Bid’ah yang paling menyesatkan.

Khuruj adalah ajaran dasarnya para penyembah berhala di India. Bahkan semua bentuk kesyirikan ada pada mereka (ajaran Brahma), kemudian kalian adopsi. Sesungguhnya perbuatan ini merupakan tindakan kriminal terjelek di muka bumi karena kalian telah merusak agama Allah ﷻ yang telah sempurna. Tidakkah kalian takut kepada Allah yang sebentar lagi kalian akan dikumpulkan di hadapan-Nya? Sesungguhnya kami sangat mengkhawatirkan kalian, maka jagalah diri kalian (dari bahaya neraka). Sekarang adalah dunia, besok adalah akhirat, sebentar lagi kalian akan berpindah dari dunia dan akan melihat hasil perbuatan jelek kalian. Kalian akan menyesali dengan penyesalan yang tidak berguna ketika kalian melihat hasil perbuatan bid’ah yang kalian kerjakan ini (yaitu khuruj).

Segeralah kalian berpaling (bertaubat) menuju dakwah kepada Sunnah Nabi shallallahu alaihi wasallam, suruhlah diri kalian dahulu untuk mengikuti As-Sunnah dan berlepas diri dari bid’ah khuruj, dan jauhilah mazhab aqidah Maturidiyah Mu’aththilah karena aqidah Maturidiyah termasuk di antara mazhab yang menolak sifat Allah subhanahu wa ta’ala sehingga mereka disebut Mu’aththilah.

Beliau (Asy-Syaikh Taqiyuddin rahimahullah) juga berkata dalam kitab As-Sirajul Munir halaman 61: “Apa yang telah mendorong kalian wahai pengikut Jama’ah Tabligh? Wahai para taklid buta!! Apa yang telah mengeluarkan kalian untuk (khuruj) yang bid’ah ini, yang dengan khuruj itu kalian telah melalaikan keluarga? Ketika dinasihati kalian malah mencari-cari dalih pembenar kebatilan kalian, keluarnya kalian bersama (rombongan Tabligh) seperti unta, sapi, dan kambing. Bahkan keluarnya unta, sapi, dan kambing itu lebih baik daripada keluarnya kalian karena keluarnya binatang itu sangat bermanfaat terutama kepada penggembala atau pemilik ternaknya."

Sementara keluarnya kalian (khuruj) hanyalah menyebarkan dan membuat kerusakan di muka bumi, telah merusak agama, merusak jiwa dan harta. Bertaubatlah kepada Allah ﷻ ! Keluarlah kalian dari kesesatan kalian itu dan ikutilah sunnah Rasulullah ﷺ dan para sahabat beliau! Tinggalkanlah ajaran Budha itu! Sesungguhnya Islam itu telah sempurna. Bahkan tidak butuh lagi dengan ajarannya Nabi Musa dan Nabi Isa ‘alaihimassalam, apalagi dengan ajaran Brahma dan Ajaran Budha.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

Andaikata Nabi Musa hidup niscaya tidak pantas baginya, melainkan mengikutiku.” (HR. Baihaqi Dalam kitab Syu’abul Iman bab: Dzikru Hadits Jami’il Qur’an Juz 1 hal 99. cet Darul Kutub Ilmiyyah Beirut-ed)

Sumber: Buku Jamaah Tabligh, Antara Kenyataan dan Pengakuan, Karya Abu Umamah Abdurrohim bin Abdul Qohhar Al Atsary


Sumber:

  1. https://www.atsar.id/2020/01/inilah-kesesatan-jamaah-tabligh-1.html
  2. https://www.atsar.id/2020/01/inilah-kesesatan-jamaah-tabligh-2.html

Disunting tanpa mengurangi maknanya.

Report Page