In Between the Lines

In Between the Lines

Aveline Cordelia

Bagi Oliver, Maible adalah garis batas yang tak pernah ingin ia lewati. Mereka sudah bersahabat sejak masa seragam sekolah yang kedodoran hingga kini sama-sama sibuk dengan urusan perkuliahan. Maible adalah tipe gadis yang hafal betul berapa sendok gula di kopi Oliver, tahu lagu apa yang akan diputar Oliver saat sedang stres, dan menjadi orang pertama yang akan mengomeli Oliver jika pria itu lupa makan.

Bagi dunia, mereka adalah pasangan sahabat yang sempurna. Namun bagi Oliver, Maible adalah siksaan manis yang ia nikmati setiap hari.

Sore itu, hujan deras mengguyur kota. Mereka berteduh di kedai kopi kecil langganan mereka. Maible duduk di hadapannya, sibuk menyesap cokelat panas sambil menatap rintik hujan di luar jendela. Rambut cokelat tembaganya yang sedikit basah berantakan di sekitar bahunya, dan pendar lampu kedai yang hangat terpantul indah di bola matanya.

"Nanti malam jangan lupa kerjakan tugas Pak Aris, Ol," ujar Maible tanpa mengalihkan pandangannya dari jendela. "Aku tidak mau dengar kamu diomeli lagi besok pagi."

Oliver tersenyum tipis, menyandarkan dagunya di atas lipatan tangan. "Iya, Mbok. Galak amat."

"Aku serius," Maible menoleh, membuang napas pelan lalu menyandarkan kepalanya di atas meja, menatap Oliver dari jarak yang sangat dekat. Hanya terpisah oleh dua cangkir minuman yang mengepulkan uap. "Kalau bukan aku yang mengingatkanmu, siapa lagi?"

Kalimat itu sederhana, tapi entah mengapa terasa menghantam dada Oliver begitu telak.

*Kalau bukan aku, siapa lagi?*

Oliver menatap wajah Maible. Ia hafal setiap inci dari wajah itu, tahi lalat kecil di dekat alis kirinya, tawa renyahnya saat Oliver melakukan hal konyol, dan bagaimana matanya akan menyempit lucu saat ia sedang berpikir keras.

Jatuh cinta pada sahabat sendiri adalah sebuah jebakan. Tidak ada tanda peringatan, tidak ada ledakan kembang api yang tiba-tiba. Perasaan itu merayap pelan, menumpuk dari ribuan perhatian kecil, hingga suatu hari Oliver terbangun dan menyadari bahwa ia tidak bisa lagi melihat Maible hanya sebagai kawan berbagi cerita.

Ia menginginkan lebih. Ia ingin menjadi alasan Maible tersenyum di pagi hari, ingin menjadi orang yang memegang tangannya saat dunia terasa terlalu berat, dan ingin menjadi satu-satunya pria yang berhak memeluknya.

Namun, rasa takut selalu lebih besar dari keberaniannya. Mengaku berarti mempertaruhkan sepuluh tahun persahabatan mereka.

"May," panggil Oliver pelan.

"Hm?"

"Kalau... kalau misalnya suatu saat aku punya pacar, kamu bakal gimana?" tanya Oliver, mencoba mengetes ombak dengan pertanyaan klasik yang sudah ribuan kali berputar di kepalanya.

Maible mengangkat kepalanya sedikit, menatap Oliver dengan alis terangkat. Hening sejenak di antara suara hujan yang menghantam kaca.

"Ya... selamat?" jawab Maible, walau ada jeda ragu dalam suaranya. Senyum tipis yang ia berikan mendadak terasa sedikit dipaksakan. "Memangnya kenapa? Kamu lagi suka sama seseorang?"

Oliver menatap lurus ke dalam mata Maible, mencari celah atau tanda sekecil apa pun di sana. "Kalau orang itu kamu, gimana?"

Suara hujan di luar seolah mendadak meredup.

Maible terpaku. Jarinya yang memainkan pegangan cangkir terhenti seketika. Matanya membesar perlahan, memantulkan keterkejutan yang nyata.

"Ol... kamu bercanda, kan?" bisik Maible parau.

Oliver tidak tertawa. Ia tidak mengalihkan pandangannya. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Oliver membiarkan seluruh rasa sayang, kerinduan, dan keputusasaan yang selama ini ia sembunyikan terlihat jelas di matanya.

"Aku tidak pernah seberani ini untuk bercanda, May," suara Oliver terdengar lembut, namun sarat akan keseriusan. Ia mengulurkan tangannya perlahan di atas meja, ragu-ragu, sebelum akhirnya meletakkan jemarinya di atas punggung tangan Maible yang dingin.

Maible tidak menarik tangannya.

"Aku mencoba, May. Sumpah, aku sudah mencoba bertahun-tahun untuk cuma jadi sahabatmu," lanjut Oliver, napasnya sedikit berat. "Tapi aku gagal. Setiap kali kamu tersenyum, setiap kali kamu memanggil namaku... aku selalu sadar kalau aku tidak pernah melihatmu sebagai sahabat. Kamu selalu jadi orang yang ingin kumiliki."

Atmosfer di antara mereka berubah sepenuhnya. Garis batas yang selama ini menjaga mereka runtuh begitu saja dalam hitungan detik.

Maible menunduk, menatap genggaman tangan Oliver di atas tangannya. Pipinya perlahan merona merah. Ia menarik napas panjang, lalu perlahan membalikkan telapak tangannya, membalas genggaman jemari Oliver dengan erat.

Saat Maible kembali mendongak, ada genangan air mata tipis di sudut matanya, tapi bibirnya mengukir senyuman paling tulus yang pernah Oliver lihat.

"Kenapa lama sekali, Bodoh?" bisik Maible pelan, suaranya bergetar. "Aku sudah cape menunggu kamu menyadarinya."

Oliver tertegun, sebelum akhirnya sebuah tawa lega pecah dari bibirnya. Di luar, hujan masih turun deras membasahi bumi, tetapi di sudut kedai kopi itu, sebuah cerita baru yang telah lama tertunda akhirnya resmi dimulai.


Report Page