I'M Shocked

I'M Shocked

Inkara Jade @yjieji


Tangis dan hujan mengiringi proses pemakaman anak sulung dari keluarga Dilys yang meninggal dengan tragis bersama bekas tusukan yang di temui di tubuh anak itu.


Kepala keluarga dari Dilys family sudah meninggal beberapa tahun lalu, dan meninggalkan istri serta anak anak nya yang hidup dalam kemewahan.


Nama anak sulung itu adalah Jasper Robert Dilys (Jameson), anak tiri dari Harvy Cassius Dilys dan Violet Adeline. Jasper ini mempunyai saudari Tiri yang bernama Inkara, Inkara adalah anak kandung dari Harvy dan istri nya yang sudah meninggal belasan tahun yang lalu.


Jasper di temukan di ruang makan dengan mulut yang terbuka serta banyak bekas tusukan di perut nya, dan itu membuat Jasper kehabisan darah dengan cepat.


Saat keluarga inti Dilys sudah kembali ke rumah mereka, banyak teman teman Jasper yang berada disana. Inkara masuk ke dalam rumah mereka dan menyapa dengan singkat, saat sedang berjalan ke lantai atas ada seseorang yang menahan langkah nya


"Iya?"


Orang itu menunduk sebentar dan tersenyum tipis "Saya Randall, dulu saya saudara tiri nya Jasper"


Inkara mengangguk paham, dia berfikir pasti orang ini datang untuk memberi bela sungkawa, apalagi dia pernah menjadi saudara tiri Jasper


Inkara turut memperkenalkan dirinya sendiri dan mencoba berjalan kembali ke kamar nya


"Maaf, sebentar Inkara" Seseorang yang menyebut dirinya Randall itu kembali menahan nya


"Iya? Ada yang bisa saya bantu?" Randall langsung mengangguk dengan cepat, dia mengeluarkan telepon genggam nya dan memberi kan benda itu ke tangan Inkara dengan cepat dan sedikit memaksa


Inkara memperhatikan telepon genggam itu dengan seksama, ntah kenapa tiba tiba hidung nya bisa mencium bau aneh. Sebelum menanyakan sesuatu yang masuk kedalam penciuman nya, Randall buru buru meminta nomor telepon Inkara dengan cepat


"Untuk apa?"


Randall dalam hati mencoba sabar dan berbicara kembali, sungguh gadis ini sangat amat susah untuk di ajak interaksi


Padahal tanpa Randall tahu, sifat Inkara yang sebelumnya tidak seperti ini


Setelah lumayan lama ya walaupun 4 menit, akhirnya Randall berhasil mendapatkan nomor telepon Inkara


Setelah empat hari nya Jasper telah meninggal dunia, Randall mengirim pesan ke Inkara



ㅤㅤㅤㅤㅤㅤInkara


Randall :

Kara

Selamat malam

Maaf mengganggu malam mu


ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤInkara :

ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤIya ka Randall?

ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤada apa ka?


Randall :

Boleh aku berbincang bincang sedikit dengan mu?


ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤInkara :

ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤboleh ka, di sini atau bertemu?


Randall :

Bertemu saja, di Tortilla Restaurant


ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤInkara :

ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤokie dokie


Sampailah dimana hari mereka bertemu di Tortilla Restaurant


Setelah keduanya memesan makanan yang terdapat di daftar menu, Randall memulai percakapan mereka


"Bagaimana hubungan mu dengan nyonya Dilys?"


Inkara menaikkan salah satu alis nya dengan pandangan mata yang langsung tertuju ke mata Randall


"Nyonya Dilys? Aku tidak yakin akan menyetujui sebutan nyonya Dilys untuk nya, nyonya Dilys hanya satu, ibu ku" Inkara memalingkan pandangan nya saat melihat waiters datang dan membawa minuman mereka


Randall mengucapkan terimakasih untuk waiters itu. Randall mulai paham arti dari kalimat Inkara tadi dan mengangguk pelan.


"Kurang baik ya? Aku juga pernah-"


"Memang kurang baik, bahkan sangat amat tidak baik" Inkara memotong ucapan Randall dan meminum milkshake pesanan nya


Randall menghela nafas dan kembali melanjutkan ucapan nya yang sempat terpotong


"Aku pernah ada di posisi mu, bunda ku meninggal, dan ayahku menikahi Nyonya Violet, saat ayah ku meninggal, dia mencari suami baru yang siap menampung rasa ingin kaya abadi nya dan ambis anak nya berada di keluarga kaya"


Inkara mengangguk paham sambil menunjukkan sorot mata nya yang sedikit sayu


"Violet adalah perusak rumah tangga orang tua ku, dan sama seperti mu, saat mama ku mati, dia berhasil menjadi istri papa yang baru"


"Hahh, sebenarnya aku tahu semua sifat buruk dan aib dari seorang nyonya violet ini, tapi tetap saja, semasa papa ku hidup dan sudah menikahi nya, kepercayaan papa untuk ku hilang" senyuman nya mengembang tanpa kerutan mata, seperti senyuman yang di paksakan


Randall mengangguk mengerti dan menyodorkan milkshake Inkara agar gadis itu kembali minum


"Terimakasih" Randall tersenyum saat Inkara mengucapkan kata terimakasih kepadanya untuk pertama kali


"Pernah sadar sesuatu tidak? Mengapa saat dia sedang merusak rumah tangga orang tua kita masing masing, tiba tiba bunda ku dan mama mu meninggal" Randall mulai membicarakan hal yang sedikit serius


"Ofc pernah, aku suka berfikir jika hal ini menyangkut dengan nyonya violet, bisa saja kan karna ingin mempunyai suami kaya dia menyingkirkan istri nya?" Randall yang mendengar jawaban Inkara mulai tersenyum lebar


"Ahh jadi kau sepemikiran dengan ku ternyata"


Saat waiters tortilla restaurant kembali dengan makanan yang mereka pesan, Randall dan Inkara langsung menyantap makanan itu dengan perlahan sambil di selingi beberapa obrolan di antara mereka


"Aku dapat informasi jika Jasper itu sebenarnya korban pembunuhan kan ya?" Inkara mengangguk membenarkan pernyataan dari Randall


"Iyap, dia memang di bunuh, hah padahal aku ingin dia mati dengan racun yang sudah ku beri, tapi dia malah di temukan dengan bekas tusukan" Inkara mengucapkan kalimat itu dengan santai sambil memasukkan potongan steak ke dalam mulutnya


Randall langsung membulatkan kedua mata serta mulutnya, terlihat ekspresi terkejut nya yang sangat sangat di luar batas


"Jadi karna itu dia tidak membalas pergerakan ku dan malah meminta tolong agar di selamatkan sebelum aku tusuk? Woahh I'm shocked" Randall meminum lemon tea nya sambil menyenderkan punggung lebar nya ke kursi


Sekarang gantian, Inkara yang menjatuhkan pisau dan garpu di piring nya sambil terkejut "JADI YANG MENU-" Randall dengan cepat menutup mulut Inkara sambil tersenyum malu ke arah beberapa pelanggan lain


Untung saat itu, pelanggan lain yang datang tidak lebih dari 5 orang


"Kecilkan suara mu, aku terkejut, aku kira gadis seperti mu tidak bisa berteriak"


Beda dari Inkara yang tadi hanya membalas pertanyaan Randall dengan malas, sekarang muncul sisi Inkara yang berbeda


"Maaf maaf, hah harus nya kita kerja sama saja saat ingin membunuh anak itu tau, agar aku tidak merasa sia sia saat sudah memberi nya racun" Inkara mengembangkan pipi nya sambil terus memakan steak nya itu


"Tapi Inkara, apa alasan mu meracuni anak itu?"


Inkara menaikkan bahu nya sekilas "simple, dia menyebalkan, Jasper dalang dari perencanaan menjebak mama ku yang membuat ia di benci oleh papa"


Randall mengangguk paham "kalo aku, hahh dia di suruh ibu nya untuk membunuh ayah, dan dia melakukan nya, tapi tidak hanya itu, sebelumnya ayah ku juga sempat di siksa"


"Ibu dan anak sama sama menyebalkan" Randall membenarkan ucapan Inkara


"Bagaimana kalau kita bekerja sama untuk menyingkirkan nyonya sok kaya itu, sebelum harta papa ku benar benar jatuh ke tangan nya"


"Ide bagus, tapi apa yang akan kudapatkan nanti?" Inkara mengetuk ngetukan jari nya ke dagu


"4 rumah serta 6 mobil warisan ku?"


Randall tersenyum dan menyodorkan tangan nya


"Okey deal! Sekarang waktunya kita memikirkan cara menyingkirkan nyonya itu"


Inkara terdiam sebentar "tapi.. Jujur, aku tidak mau masuk penjara walaupun pernah meracuni saudara tiri ku"


"Jangan pusing in hal itu, aku punya seseorang yang sangat di andalkan yang bisa membebaskan kita dari hukum yang berlaku" Randall mencoba meyakinkan Inkara


"Ok, deal ka"

"Dilys, Dilys mohon balasannya, ganti" mereka menggunakan walkie talkie daripada telepon genggam untuk saling berkomunikasi


"Dilys disini, ganti"


"Bagus, aku masuk lewat halaman belakang, ganti" Randall menaiki tembok pembatas rumah Inkara dengan gesit


"Baik Dallas, aku akan menunggumu di dekat tangga, ganti"


"Baik Dilys-"

"Ehh sebentar, ini kode rumah mu apa?"


Inkara yang mengendap ngendap ingin menuruni tangga nya terpaksa berhenti sambil menahan kesal "tanggal ulang tahun ku" dengan berbisik


"Ulang tahun mu?"


"Iya cepat!!"


"Yaa! Bagaimana bisa cepat jika saja aku tidak mengetahui tanggal ulang tahun mu, dasar pintar" Inkara terkekeh saat mendengar nada kekesalan Randall


"1504" Randall langsung memasukkan kode itu dan Yap, dia berhasil masuk


"Dallas, target sedang berada di ruang TV, ahh sepertinya nyawa nya akan habis di lantai bawah ini sama seperti anak kesayangan nya"


Saat Inkara dan Randall sudah saling melihat masing masing dan mulai mendekati nyonya Violet, tiba tiba nyonya Violet menengok dan melihat mereka sambil tersenyum


"Aku sudah feeling jika kau dan anak ini akan merencanakan sesuatu untuk ku" dia mengambil telepon nya dan mencoba memencet tombol nomor telepon kantor polisi untuk melaporkan Inkara dan Randall


"Keren nyonya, feeling mu sangat amat benar" Randall buru buru menutupi kedua mata nyonya violet dengan tangan kosong dan Inkara berhasil mengambil telepon milik ibu tiri nya itu lalu membuang nya dan tertawa keras


"Kau bisa membawa nya ke gudang di bawah tangga?" Inkara bertanya ke Randall


Dan dengan senang hati Randall menyeret nyonya violet kedalam gudang dan mengikat nya di tiang beton yang ada di dalam sana


"Aku sebenarnya sudah tau jika kalian adalah dalang dari pembunuhan anak ku" Mata nyonya violet terpancar penuh dendam dan amarah menatap keduanya bergantian


Inkara tersenyum manis sambil menepuk kepala nyonya violet seakan akan dia adalah anak kecil "oh! Pintarnya sudah bisa menebak nya dengan benar, anak pintar anak pintar"


Randall menarik rambut nyonya violet dan menatap kedua mata itu dengan tajam "aku juga tahu, kau membunuh bunda dan ayah ku, hahh kau adalah ratu iblis"


Nyonya violet membalas ucapan Randall "dan kalian adalah pemimpin setan"


Inkara berdiri dengan tegap, di ikuti dengan Randall yang juga berdiri dengan sedikit menyender di pintu gudang di bawah tangga rumah Inkara


"Ohhh~, ka Randall, dia memuji kita lohh" ekspresi yang di buat buat Inkara membuat nyonya violet semakin terbakar api


Randall mengambil pisau milik nya yang sebelum nya di gunakan untuk menusuk anak dari nyonya violet, dia ingin mereka mati di pisau yang sama


"Kau dan anak mu sudah terlalu jahat, nyonya, kau merebut kebahagiaan ku dan Inkara, kau membunuh sosok ibu kami, harusnya kau paham kenapa kami ingin melakukan hal yang sama untuk mu"


Randall mengusap pipi nyonya violet dengan lembut sebelum menekan kedua pipi nyonya violet yang masih lumayan kencang dengan mendekatkan pisau nya main main ke mulut nyonya violet


"Jangan sampai kau berani melukai ku anak sialan" Inkara yang jengah langsung membenturkan kepala nyonya violet dengan keras ke tiang beton yang ada di belakang nya


Dan itu membuat nyonya violet sedikit pusing "oh!! Kamu pusing? Ayo minum obat nya dulu"


Dengan paksa dia memasukkan Minuman racun ke dalam mulut nyonya violet dan menahan mulut nya agar tidak terbuka


"No no noo, anak pintar harus meminum obat nya sampai habis, tenang tenang ini tidak akan membuat mu mati, hanya membuat linglung saja kok"


Saat Randall hampir menusukkan pisau nya ke dada bagian jantung milik nyonya violet, tiba tiba terdengar sirine polisi


Nyonya violet tersenyum kemenangan sambil berusaha menunjukkan jam tangan nya yang memang bisa memanggil polisi seperti alarm sos


Buru buru Inkara dan Randall melepas nyonya violet dan membuang peralatan mereka ke depan TV, nyonya violet langsung lari keluar dengan tergopoh gopoh


Randall dan Inkara melukai wajah serta beberapa bagian tubuh mereka masing masing dan mengikat tangan mereka di tiang beton itu lalu terduduk lemas

"POLISI, POLISI, TOLONG AKU, AKU SEMPAT HAMPIR DI BUNUH, TOLONG"

Polisi yang datang malah langsung menyergap nyonya violet dan memborgol nya


"Kami menangkap mu nyonya"


"Tidak.. TIDAK!! AKU YANG MEMANGGIL KALIAN DENGAN TOMBOL SOS"


"Tidak, kami akan menangkap anda"


Nyonya violet berlari ke dalam rumah dan di ikuti beberapa polisi yang ikut mengejarnya


"Lihat, mereka yang tadi hampir membunuh ku, dia juga sebelum nya membunuh anak ku pak"


Inkara dan Randall menatap para polisi itu dengan tatapan sayu


Polisi polisi itu tidak mempercayai ucapan nyonya violet dan membawa nyonya violet dengan cepat ke dalam mobil polisi


Dan ada satu polisi yang di tinggal untuk membebaskan ikatan Randall dan Inkara


"Akting kalian dan pemikiran cepat kalian sangat keren, jujur" polisi itu menatap kedua nya secara bergantian sambil tersenyum


Randall mengangguk dan melihat Inkara yang sedang di bukakan tali nya "ah jadi anda yang di bilang teman nya ka Randall yang bisa membantu kami?"


"Benar, senang bekerja sama dengan kalian, satu mobil Bugatti sepertinya harga yang cocok"


Inkara melihat polisi itu dan menganggukkan kepala nya "boleh, kau bisa memilih langsung dari garasi keluarga ku"


Flashback~

"Tapi kalo semisal perempuan tua itu memanggil polisi gimana ka? Kau tau kan aku tidak ingin merasakan dinginnya ruang penjara"


Randall menampilkan senyuman nya sambil menunjukan isi telepon nya ke Inkara, dia menunjukan isi chat nya dengan salah satu teman nya yang memang berpangkat tinggi di lembaga kepolisian


Inkara mengangguk paham dan berhasil menenangkan dirinya kembali


Flashback end~

"AKU TIDAK SALAH, AKU TIDAK MAU, AKU TIDAK INGIN BERADA DISINI"


Inkara dan Randall sekarang berada di kantor pusat ke polisian sebagai saksi dan korban


"Sayang nya dia tidak bisa di penjara kan apalagi di adili oleh hukum karna dia gila"


Randall melirik inkara yang sedang memperhatikan Nyonya violet dengan seksama


"Tidak apa, pindahkan saja ke rumah sakit jiwa"

"Inkara, ayo kembali, kau harus menepati janjimu untuk membayar ku dengan rumah dan mobil milik mu"


Inkara memutar matanya dengan malas dan menoyor kepala Randall main main


"Iya iya, tapi sebentar ka" Inkara mendekati ranjang rumah sakit jiwa milik nyonya violet yang sedang tertidur akibat suntikan penenang, dia memasukkan silet tajam ke dalam kantong baju milik nyonya violet


"Selamat tinggal nyonya, pastikan nyawa mu pergi oleh ulahmu sendiri"


Setelah beberapa hari, dan inkara serta randall semakin dekat, mereka mendapat kabar jika nyonya violet menyayat pergelangan nya sendiri dan dia sudah mati

Report Page