Harapan yang Ditemukan

Harapan yang Ditemukan

K, Arutala.
Rupa sang perempuan dalam cerita, A'eshivara Adélied.

Flashback On, 2019.

Malam ini aku pulang ke rumah setelah sekian lama tidak pulang, sungguh, aku merindukan rumah dan juga orang tuaku. Ketika sampai di gang komplek, aku justru mendengar suara pemadam kebakaran dan melihat orang-orang berkerumun.

"Bu, rumah siapa yang terbakar?" Tanyaku pada Ibu-ibu di depanku.

"Rumah Pak Diatmiko dan Bu Hanum, Nak."

Aku terkejut, hatiku remuk, dan pikiranku bercabang. Itu.. rumahku dan orang tuaku, tempat dimana keluargaku tinggal. Aku tidak pernah menyangka kejadian ini akan menimpa diriku, rumahku terbakar habis dan aku tidak tahu bagaimana keadaan orang tuaku.

Bergegas aku berlari menghampiri petugas polisi, "Pak, dimana orang tua saya?" Tanyaku dengan nada tersendat karena menangis.

"Maaf, Dek. Tidak ada jasad yang ditemukan di dalam rumah tersebut. Ada kemungkinan bahwa orang tuamu diculik sebelum kebakaran terjadi." Jawab salah satu petugas polisi itu.

"Maksudnya bagaimana, Pak? Kenapa bapak berpikir seperti itu?" Tanyaku tidak percaya.

"Terdapat noda darah di dalam rumah. Mobil orang tua kamu juga terdapat di garasi. Tidak ada tanda-tanda bahwa mereka meninggalkan rumah dengan menggunakan kendaraan pribadi. Saya akan membantumu untuk menemukan orang tuamu. Tenang saja, ya."

Siapa yang bisa tenang jika mendapatkan kabar seperti ini? Rasanya.. tidak ada. Ketika itu, duniaku terasa hancur. Pulangku kali ini disambut dengan hal yang tidak pernah aku sangka, kepedihan mendalam. Entah dimana orang tuaku sekarang, tetapi aku merasa tidak ada lagi alasan untuk hidup.


Flashback Off, 2023.

Seorang perempuan terlihat sedang melamun di dalam Kafe Teras Kita, perempuan itu tampak sedang menunggu kedatangan seseorang. Namun, tidak dapat dibohongi sorot matanya menunjukkan bahwa ia sedang menyimpan kerinduan mendalam, entah terhadap siapa, tidak ada yang tau sampai perempuan itu menceritakannya sendiri.

Seorang laki-laki berjalan masuk dan menghampiri perempuan itu. "Var, udah nunggu lama?" Ujar laki-laki itu sembari melambaikan tangannya di depan perempuan itu, "maaf, ya, gue lama. Soalnya tadi masih ada hal yang harus diurus di Kantor."

"Eh, Sam. Belum, kok, gue baru 20 menitan di sini. Santai aja." Sahut perempuan itu dibarengi dengan senyumannya, "udah pesen sesuatu?"

"Belum, Var. Kita pesen dulu aja, ya, biar lebih enak ngobrolnya." Ucap laki-laki itu, yang kemudian dibalas anggukan oleh lawan bicaranya.

Akhirnya, dua insan itu memutuskan memesan sesuatu untuk menemani obrolan mereka. Jika dilihat dari raut wajah mereka, itu bukanlah sesuatu yang enteng untuk diperbincangkan.

"Jadi gimana, Samudra? Udah ada kabar belum soal orang tua gue?" Perempuan itu, A'eshivara Adélied, melontarkan pertanyaan pada kawannya, Ethaniel Samudra, untuk mengawali obrolan malam itu.

"Temen kantor gue nemu orang yang namanya mirip sama orang tua lo, Var. Ciri-cirinya pun sama, mereka juga bilang soal pembobolan rumah dan penculikan. Cuma gue enggak tau pasti, itu mereka atau bukan." Balas Samudra dengan suara tegasnya.

"Jadi, mereka dimana, Samudra?"

"Janji sama gue, Ra. Jangan kaget pas denger jawaban gue, ya?" Pinta Samudra kepada perempuan itu. Sebenarnya, ia tidak enak hati untuk mengucapkannya, tapi apa boleh buat? Dia harus tetap mengatakannya.

"Iya, gue janji." Ucap Vara dengan yakin.

"Mereka dirawat di RS Pelita Harapan. Kondisi mereka tidak dalam keadaan bagus, Ra. Banyak memar di tubuh mereka." Balas Samudra dengan suara pelan.

Bagaikan tersambar petir, kabar itu cukup untuk mengacaukan pikirannya. Meskipun ia belum tau apakah itu orang tuanya yang selama ini ia cari atau bukan. Namun, ia hanya dapat berharap.

"Sam, gue mau ketemu mereka. Entah itu orang tua gue atau bukan, gue harus mastiin sendiri." Ucap Vara dengan nada bergetarnya. Keputusannya bulat, tidak ada orang yang dapat menghentikannya.

"Iya, besok pagi pukul 08.00 WIB kita kunjungi mereka. Lo tunggu di rumah aja, biar gue jemput."

Obrolan mereka berakhir sampai di situ. Mereka kembali ke rumahnya masing-masing. Tidak dapat dipungkiri, Vara memiliki harapan besar untuk bertemu dengan keluarganya kali ini, ia sudah menunggu cukup lama.

                                ****

Kicauan burung mulai terdengar, angin sepoi-sepoi menerbangkan daun-daun dari pohon, mentari pagi sudah terlihat dari ufuk timur. Kini, Vara dan Samudra sudah berada di parkiran RS Pelita Harapan, ketika dalam perjalanan pun mereka tidak banyak berbicara.

Laki-laki itu menepuk pundak perempuan yang berada di sisinya, "Ra.. kita udah sampai. Mari masuk." Ucapnya dengan lembut.

"Eh, iya. Ayo! Mereka berada di ruang berapa, Sam?" Sahut perempuan itu.

"Kamar Anggrek nomor 13. Ruangannya terletak di lantai dua."

                                ****

Banyak ketakutan yang berkecamuk di kepalaku. Aku takut akan kenyataannya. Banyak kata bagaimana yang terpikirkan di kepala. Aku takut.. jika itu memang orang tua yang selama ini aku cari. Namun, aku juga takut kalau itu bukan mereka. Masih banyak ketakutan-ketakutan lain, hingga aku tidak menyadari bahwa.. aku sudah di depan pintu ruangan.

Samudra mengusap pundakku pelan, sorot matanya seolah mengatakan, "Gapapa, Ra. Tenang aja, ya, ada gue di sini." Aku mengambil nafas pelan dan memberanikan diri memasuki ruangan itu, baunya seperti rumah sakit pada umumnya, bau obat.

Mataku berkaca-kaca, mulutku seolah dibungkam, dan aku tidak dapat mengatakan apa-apa. Sekarang, tepat di hadapanku, terlihat dua insan tua yang tengah terbaring tidur. Tubuh mereka dibalut dengan kain kasa, matanya terpejam dengan tenang. Mereka tidak menyadari kehadiranku dengan Samudra. Akhirnya.. aku menemukan mereka.

Tuhan, terima kasih atas kebaikanmu untuk mempertemukanku dengan mereka. Samudra.. terima kasih atas bantuanmu, tanpamu Samudra, mungkin aku menemukan mereka ketika sudah di dunia lain. Teruntuk Mama dan Papa, terima kasih sudah bertahan hidup sampai Vara menemukan kalian.


Report Page