Hantu Kamar Kos

Hantu Kamar Kos

BLACKOPIUM

Pada malam pertama, Gwen Natasya terbangun karena suara orang mandi.

Bukan suara keran bocor. Bukan pula air dari kamar sebelah yang merembes melalui pipa. Seseorang benar-benar sedang mandi di balik pintu kamar mandinya—menggayung air dengan irama lambat dan teratur.

Byur.

Hening.

Byur.

Gwen meraba ponsel di samping bantal. Pukul 02.13.

Ia duduk dan memandangi pintu putih kusam di seberang ranjang. Cahaya kamar mandi menyala dari celah bawahnya.

Padahal sebelum tidur, Gwen yakin telah mematikannya.

“Maling-kah? kok sempet mandi ya? Maling sopan banget” gumamnya.

Ia turun dari kasur sambil membawa gagang sapu. Begitu pintu dibuka, suara air berhenti.

Kamar mandi itu kosong.

Lantainya kering. Gayung tergantung di dinding. Bak air masih penuh sampai batas noda kekuningan yang melingkar di keramik.

Hanya cermin di atas wastafel yang dipenuhi embun.

Di tengahnya, ada bekas telapak tangan.

Gwen mengusap permukaan cermin dengan ujung kaus.

“Mungkin uap dari pipa,” katanya, meskipun ia sendiri tidak memahami bagaimana pipa dapat membentuk lima jari.

Kos itu memang tua, tetapi nyaman. Bangunannya dua lantai dengan halaman sempit yang dipenuhi pot bunga. Cat hijaunya mengelupas di beberapa bagian. Dari jendela Gwen, atap seng rumah-rumah tetangga tampak saling bertindihan.

Harganya hampir separuh dari kos lain di kawasan tersebut.

Angel, pemilik kos, hanya memberikan dua aturan ketika menyerahkan kunci.

Jangan memasang paku pada dinding.

Jangan membawa tamu menginap.

Gwen menyetujui keduanya tanpa banyak bertanya.

Pada malam kedua, tidak ada orang mandi. Sebagai gantinya, pintu lemari terbuka sendiri tiga kali.

Gwen menutupnya dengan koper.

Menjelang pukul dua, ia mencium aroma bedak yang lembut. Wangi itu mengingatkannya kepada meja rias mendiang neneknya—manis, tua, dan entah mengapa membuat tengkuk terasa dingin.

Kasur di sebelahnya turun perlahan.

Seperti seseorang baru saja berbaring.

Gwen tidak menoleh. Bukan karena takut, melainkan karena mengantuk dan malas meladeni gravitasi yang sedang cari perhatian.

~

Paginya, ia menelepon Radit.

“Nginep sini malam ini.”

“Baru tiga hari pindah, udah kangen?”

“Enggak. Lemari sama kasur gue kerasukan.”

Radit tertawa. “Hantunya cowok atau cewek?”

“Kalau ganteng, gue gak bakal telepon lo.”

“Kurang ajar.”

Radit tiba selepas magrib membawa nasi goreng, minuman kaleng, dan keberanian yang biasanya hanya dimiliki orang yang belum mengalami apa-apa.

Ia memeriksa engsel lemari, saluran air, jendela, bahkan kolong ranjang.

“Diagnosis gue,” katanya sambil bangkit, “kos lo tua.”

“Wah, hebat. Sarjana teknik bangunan lo?”

“Pacar pemilik kos tua.”

“Dih.”

Ketika Radit mandi, Gwen turun membeli es batu di warung depan gang.

Pada saat itulah Odel ~ anak Angel, si pemilik kos, mengetuk pintu.

Gadis enam belas tahun yang menempati kamar di sebelah Gwen itu datang membawa paket milik Gwen yang tadi dititipkan kurir kepada mamanya, Angel. Karena pintunya tidak terkunci, ia mendorongnya sedikit.

“Kak Gwen?”

Pintu kamar mandi terbuka.

Radit keluar dengan rambut masih basah dan sehelai handuk melilit pinggangnya.

Odel membeku.

Radit ikut membeku.

Mereka saling menatap selama dua detik yang terasa terlalu panjang.

“Maaf!” Odel buru-buru memalingkan wajah.

“Gue pacarnya Gwen,” jelas Radit, refleks merapatkan handuknya. “Bukan maling yang habis mandi.”

Odel meletakkan paket di lantai. Sebelum berbalik, pandangannya sempat melewati bahu Radit.

Di dalam cermin kamar mandi, seorang perempuan berdiri tepat di belakangnya.

Perempuan itu mengenakan kaus tidur merah milik Gwen. Rambutnya menjuntai menutupi wajah. Kedua tangannya bertumpu pada bahu Radit, meskipun Radit tidak merasakan apa pun.

Odel mundur hingga menabrak kusen.

“Kak Gwen tadi keluar, kan?”

“Iya.”

“Terus yang di belakang Kakak siapa?”

Radit menoleh.

Tidak ada siapa-siapa.

Ketika ia kembali memandang pintu, Odel sudah berlari menuju tangga.

~

Gwen pulang beberapa menit kemudian dan menemukan Radit telah mengenakan celana, duduk di tepi kasur dengan wajah yang tak lagi tertarik menertawakan bangunan tua.

Setelah mendengar ceritanya, Gwen malah terkekeh.

“Odel masih kecil, Mungkin salah lihat.”

“Dia sampek pucat.”

“Karena lihat lo cuma pakai handuk.”

“Bisa jadi.”

"Mana sini liat." Gwen memegang titit Radit dari luar.

"Kan tadi udah, ntar malem aja, gue mau nonton"

Mereka makan sambil menonton film komedi. Tidak ada lemari terbuka. Tidak terdengar suara air. Aroma bedak pun tidak muncul. Menjelang tengah malam, kamar itu terasa biasa saja.

Radit mulai percaya bahwa Odel memang salah melihat.

Gwen mulai percaya gangguan dua malam sebelumnya tidak akan kembali.

Hujan turun ketika film berakhir. Derasnya menelan suara kendaraan dari jalan raya. Gwen berdiri hendak merapikan bungkus makanan, tetapi Radit menarik tangannya hingga ia jatuh pelan ke sampingnya.

“Kangen enggak?” tanya Radit.

“Sedikit.”

“Sedikit itu berapa?”

Gwen menjawab dengan kecupan singkat di bibirnya.

Radit menahan tengkuk Gwen sebelum perempuan itu sempat menjauh. Ciuman kedua berlangsung lebih lama. Tawa kecil Gwen lenyap di antara napas mereka. Jemarinya menyusuri rambut Radit yang masih menyimpan aroma sampo.

Perlahan tapi pasti, keduanya melepas pakaian. Kasur di kos itu bergoyang teratur tapi bukan oleh sosok yang kasat mata, melainkan dua insan yang sedang menjalin cinta (anjay mabar).

Di luar, hujan memukul kaca. Di dalam, jarak di antara keduanya perlahan hilang. Radit melepaskan ketegangannya di mulut Gwen, yang kemudian dijilat habis oleh Gwen tanpa sisa.

Lampu dipadamkan, keduanya tidur tanpa pakaian sambil berpelukan.

Malam menutup kamar itu rapat-rapat, memberi mereka kehangatan yang selama tiga hari tidak pernah Gwen temukan di sana.

Setelahnya, Gwen berbaring dengan kepala di dada Radit. Tubuhnya lelah, tetapi pikirannya terasa ringan.

“Kasihan ya hantu disini,” bisiknya.

“Kenapa?”

“Jadi obat nyamuk.”

Radit tertawa pelan. “Tidur.”

Gwen memejamkan mata.

Entah berapa lama kemudian, ia terbangun karena sisi kasur di belakangnya bergerak turun.

Sebuah lengan melingkar di pinggangnya.

Hangat. Berat. Ujung jari-jarinya menyentuh perut Gwen seperti pelukan seseorang yang takut ditinggalkan.

Gwen tersenyum tipis.

“Dit, geser. Sempit.”

Tidak ada jawaban.

Kemudian terdengar suara Radit dari lantai, di sisi lain ranjang.

“Gwen.”

Suaranya sangat pelan.

Mata Gwen terbuka.

“Jangan menoleh,” lanjut Radit. “Gue di bawah sini.”

Napas Gwen tertahan.

Lengan yang memeluk pinggangnya mengencang.

Dari tepi kasur, tangan Radit muncul perlahan. Ia bersembunyi di lantai, wajahnya pucat di bawah cahaya ponsel.

Gwen ingin bergerak menghampirinya, tetapi seseorang di belakangnya merapatkan tubuh. Rambut panjang menyentuh tengkuk Gwen. Aroma bedak memenuhi udara.

“Sejak kapan?” Gwen berbisik.

“Tadi gue bangun karena lo berdiri di depan kamar mandi,” jawab Radit. “Pas gue panggil, lo enggak jawab. Terus gue lihat… lo masih tidur.”

Suara tawa kecil terdengar tepat di belakang telinga Gwen.

Sama persis dengan tawanya sendiri.

Di seberang ruangan, pintu lemari terbuka.

Cermin yang menempel di bagian dalamnya menghadap ranjang. Dari pantulannya, Gwen dapat melihat siapa yang sedang memeluknya.

Perempuan itu dalam keadaan telanjang dan memiliki wajah Gwen.

Namun, senyumnya terbentang terlalu lebar. Kedua matanya hitam, seperti lubang yang dilubangi ke tempat lain.

Di bawah dagunya terdapat bekas lebam menyerupai jerat.

Perempuan dalam cermin menggerakkan bibir.

“Radit.”

Suara yang keluar adalah suara Gwen.

Radit mundur. Punggungnya menabrak dinding.

Sosok itu melepaskan pelukannya, lalu bangkit di atas kasur dengan gerakan patah-patah. Wajah Gwen yang dipakainya bergetar, mengendur, kemudian berubah menjadi wajah perempuan asing.

“Ais,” terdengar suara Odel dari balik pintu. “Jangan ambil mereka!”

Gagang pintu berguncang. Angel mencoba membukanya menggunakan kunci cadangan, tetapi pengait dari dalam masih terpasang.

Sosok itu menoleh.

Radit memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menarik Gwen dari kasur. Mereka jatuh bersama ke lantai.

Ais merangkak menyusuri seprai. Rambutnya menyapu kasur. Senyumnya telah hilang, digantikan tatapan seorang perempuan yang begitu kesepian hingga kesepiannya berubah menjadi marah.

Radit menendang pengait pintu.

Sekali.

Dua kali.

Pada tendangan ketiga, sekrupnya terlepas. Pintu terbuka dan mereka berhamburan ke koridor.

Angel segera membanting pintu kamar.

Dari dalam terdengar tiga ketukan.

Tok.

Tok.

Tok.

Setelah itu, sunyi.

~

Mereka duduk di ruang tengah hingga matahari terbit. Angel membuatkan teh yang tak disentuh siapa pun.

“Ais menyewa kamar itu tujuh tahun lalu,” ujar Angel akhirnya. “Pacarnya sering menginap diam-diam. Suatu pagi laki-laki itu pergi setelah mereka bertengkar. Tiga hari kemudian, kami menemukan Ais di kamar mandi.”

“Kenapa Ibu masih menyewakan kamar itu?” Gwen menatapnya tajam.

“Sudah lima tahun tidak ada gangguan.”

“Karena lima tahun enggak ada yang bawa pacar menginap,” sahut Odel.

Angel menunduk. “Ais tidak mengganggu orang yang tidur sendirian. Paling hanya suara air atau membuka lemari. Tapi kalau ada pasangan…”

“Ia ingin menjadi salah satunya,” lanjut Odel.

Radit menggenggam tangan Gwen.

Masak gue Threesome sama hantu? pikir Radit dalam hati.

~

Pagi itu juga mereka mengemasi barang. Gwen tidak meminta uang sewa kembali. Baginya, kehilangan satu bulan uang kos masih lebih murah daripada kehilangan wajah sendiri.

Sebelum pergi, Odel menyerahkan ponselnya.

“Aku sempat foto Kak Radit kemarin,” katanya. “Bukan sengaja. Kepencet waktu aku kaget.”

Foto itu memperlihatkan Radit berdiri di depan kamar mandi dengan handuk melilit pinggang. Wajahnya tampak bingung.

Di belakangnya, Ais berdiri mengenakan kaus merah milik Gwen.

Gwen memperbesar gambar tersebut.

Ais tidak sedang memandang kamera.

Ia sedang menatap Radit sambil tersenyum.

“Itu sebelum gue datang,” kata Gwen.

Odel mengangguk.

Gwen hendak menghapus foto itu, tetapi layar tiba-tiba bergeser sendiri. Kamera depan terbuka.

Ada lima orang di ruang tengah muncul di layar yang sedang mereka amati bersama: Gwen, Radit, Angel, dan Odel.

Serta seorang perempuan di antara Gwen dan Radit.

Ais kini tidak lagi memakai wajah Gwen.

Ia memakai wajah Radit.

Dan tangannya sedang menggenggam tangan Gwen.


Report Page