HAKIKAT PENCIPTAAN

HAKIKAT PENCIPTAAN

Penulis : Abu Nabba
Bismillahirrahmanirrahim

Shalat tidak akan diterima tanpa Rukun-rukunnya, Rukun-rukun shalat tidak akan diterima tanpa Wudlu, wudlu pun harus di perhatikan Rukun-rukunnya karena tanpa rukun itu wudlu tidak akan diterima. Sementara Wudlu tanpa Tauhid tidak akan pernah bisa diterima. Tauhid pun mempunyai rukun. Benarkah?

Tauhid terdiri dari 2 persaksian, yaitu
1. Laa ilaaha : Tidak ada tempat ketaatan, penghambaan, kerelaan, sandaran, pengharapan.
2. Ilallaah : Kecuali kepada Allah semata (saja).

HAKIKAT PENCIPTAAN.

Segala ilmu harus mempunyai ushul, dan Ushul dari kita semua diciptakan adalah untuk beribadah hanya kepada Allah. Allah Azza wa Jall berfirman

وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku. (Adz-Dzariyat 51:56)

Sebagaimana pemahaman orang-orang awam, bila dikatakannya "Harus belajar", pemikiran mereka pasti hakikatnya ke sekolah, mulai dari tasnya, seragamnya, topinya, bukunya, gurunya, upacaranya. Begitu juga jika dikatakannya "Beramal" hakikatnya infaq dan infaq menurut mereka tertuju kepada "Sumbangan" masjid. Begitupula dengan Ibadah, mereka selalu berhakikat "Shalat". Padahal jikalau pemikirannya tidak dangkal, dalam doa iftitah pun Allah sudah membedakan antara "Inna shalāti, Wa nusūkiy" sesungguhnya shalatku, sembelihan ku (ibadahku)" itu tandanya ada tugasnya masing-masing.

Amalan yang pertamakali di hisab di akhirat adalah Shalat. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya amal yang pertama kali dihisab pada seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya. Maka, jika shalatnya baik, sungguh ia telah beruntung dan berhasil. Dan jika shalatnya rusak, sungguh ia telah gagal dan rugi. Jika berkurang sedikit dari shalat wajibnya, maka Allah Ta’ala berfirman, ‘Lihatlah apakah hamba-Ku memiliki shalat sunnah.’ Maka disempurnakanlah apa yang kurang dari shalat wajibnya. Kemudian begitu pula dengan seluruh amalnya.” (HR. Tirmidzi, ia mengatakan hadits tersebut hasan.) [HR. Tirmidzi, no. 413 dan An-Nasa’i, no. 466]

Hanya karena hadits nabi ﷺ itu mereka melalaikan pondasi Agama (Tauhid). Sementara sebelum akhirat ada alam Barzakh. Pertanyaan alam Barzakh itu adalah iman, dan nomor pertamanya adalah Tauhid. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ. Dari Al-Bara’ bin ‘Azib, Rasulullah ﷺ bersabda, “Jika seorang muslim ditanya di dalam kubur, ia akan berikrar bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, maka inilah tafsir ayat: ‘Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.’ ” (HR. Bukhari, no. 4699)

Shalat termasuk dari Iman. Siapa yang memisahkan Iman dan Shalat dia telah kafir. Dari Imam Muslim Rahimahullah mengatakan Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya at-Tamimi dan Utsman bin Abu Syaibah keduanya dari Jarir. Yahya berkata, telah mengabarkan kepada kami Jarir dari al-A'masy dari Abu Sufyan dia berkata, saya mendengar Jabir berkata, "Saya mendengar Nabi ﷺ bersabda: "Sungguh, yang memisahkan antara seorang laki-laki dengan kesyirikan dan kekufuan adalah meninggalkan shalat'."

Dalam surat Adz Dzariyat, Allah menyuruh kita untuk beribadah kepada Allah, sementara karena pengetahuan manusia terbatas dan supaya tidak menjadi Ikhtilaf didalamnya untuk itulah Allah mengutus para Rasul sebagai pembawa syari'at supaya manusia tahu etika sopan santun beribadah kepada Allah. Allah jelaskan lagi kepada Rasul-Rasul Nya untuk disampaikan kepada Manusia. Allah Azza wa Jall berfirman

وَمَآ أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِىٓ إِلَيْهِ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ فَٱعْبُدُونِ

Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Muhammad), melainkan Kami wahyukan kepadanya, bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Aku, maka beribadah lah kepada Aku. (Al-Anbiya 21:25)

Akan tetapi diantara manusia pun mengaku semuanya itu menyembah Allah, maka Allah rinci surat Al Anbiya itu kedalam surat An-Nahl ayat 36. Allah Azza wa Jall berfirman

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِى كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ ٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَٱجْتَنِبُوا۟ ٱلطَّٰغُوتَۖ

Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), “Beribadahlah kepada Allah, dan jauhilah Thagut”. (An-Nahl 16:36)

Dan Allah tutup itu semua dengan menjelaskan pada surat Al Baqarah ayat 256.

لَآ إِكْرَاهَ فِى ٱلدِّينِۖ قَد تَّبَيَّنَ ٱلرُّشْدُ مِنَ ٱلْغَىِّۚ فَمَن يَكْفُرْ بِٱلطَّٰغُوتِ وَيُؤْمِنۢ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱسْتَمْسَكَ بِٱلْعُرْوَةِ ٱلْوُثْقَىٰ لَا ٱنفِصَامَ لَهَاۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas (perbedaan) antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat. Barang siapa ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sungguh, dia telah berpegang (teguh) pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui. (Al-Baqarah 2:256)

Setelah membaca surat Adz Dzariyat ayat 56, dilanjutkan dengan membaca Surat Al Anbiya ayat 25, lalu An-Nahl ayat 36 secara beriringan, kita akan mengerti maksud "Tali buhul yang sangat kuat" itu, yaitu Tauhid. Demikian menurut Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu, Ibnu Mas'ud Radhiyallahu Anhu Ikrimah rahimahullah, As Sa'adi Rahimahullah dan Ibnu Katsir Rahimahullaah.

Dalam surat Al Baqarah ayat 256 adalah penutup segala rincian Allah setelah Allah menjelaskan dalam surat-surat dan ayat-ayat sebelumnya, maka dari itu Allah mengatakan "Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas (perbedaan) antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat". Sehingga tidak ada keterangan lain setelahnya.

Jadi landasan utama atau rukun pertama dari setiap rukun adalah Mengkufuri Thaghut lalu dia beriman kepada Allah. Seseorang harus bersuci (Thaharah) terlebih dahulu sebelum shalat, begitupula dengan semua Ibadah harus menyingkirkan semua jenis kesyirikan semurni-murninya lalu diperisilahkan untuk melakukan Hakikat agama ini. Rukun pertama dari Wudlu adalah Islam, Rukun dari Shalat yang pertama adalah Islam, rukun pertama dari Zakat adalah Islam, rukun pertama dari Haji adalah Islam, dan setiap Rukun rukun dalam setiap amal ibadah adalah Islam. Sementara rukun Islam pun mempunyai rukun, dan rukun yang pertama adalah Dua kalimat Syahadat, dua kalimat syahadat yang pertama adalah Tauhid, Rukun Tauhid adalah beriman kepada Allah saja yang berarti tidak melakukan kesyirikan. Sementara untuk mengetahui Iman kepada Allah, Allah rinci kembali dengan adanya Rukun Iman. Rukun iman sejatinya hanya satu, yaitu rukun iman kepada Allah saja, sedangkan rukun iman kepada Malaikat, Kitab-kitab Nya, Para Rasul, Hari akhir, dan Qada juga kadar adalah rincian untuk mengetahui Iman kepada Allah. Maka Ibnul Qayyim Rahimahullah mengatakan "Tidaklah seseorang dikatakan Mukmin sampai dia mengimani semua rukun iman".

Rukun iman bukan seperti Islam, seperti contoh, sebelum Allah menurunkan perintah shalat lima waktu, kaum mukminin itu diuji dengan goncangan hebat mengenai Tauhid selama belasan tahun, di akhir-akhir masa tinggal di Makkah, Rasulullah ﷺ diajak oleh Jibril 'Alaihissalam untuk Isra mi'raj, lalu diturunkannya lah perintah shalat lima waktu, setelahnya Zakat. Saat berada di Madinah Allah perintahkan untuk berpuasa Ramadhan. Dengan penuh hiruk-pikuk kehidupan, perdebatan, Jihad dan penaklukan, ujian dari orang-orang munafik, hingga semuanya Rasulullah ﷺ berhasil dengan sempurna lolos dari semua ujian itu, maka Allah hadiahi Makkah kembali ke tangan kaum muslimin, dan akhirnya diberikanlah perintah Haji.

Itulah rukun Islam, berbeda dengan rukun iman, rukun iman itu satu paket, harus berjalan beriringan. Tidak ada satu saja seseorang itu belum bisa dikatakan beriman.

Kita yang awalnya muslim dituntut untuk menjadi seorang Mukmin, dimana hanya Mukmin lah Allah halalkan surga. Kenapa? Karena orang fasik (Akbar), musyrik itu menganggap bahwa dirinya sebagai Muslim. Untuk membedakan mana muslim mana Musyrik kita semua di tuntut untuk beriman kepada Allah. akan tetapi diantara kaum muslimin ada yang benar-benar menjalankan rukun Islam dengan baik, maka Allah rinci rukun iman menjadi 5 adapula yang mengatakan 6, supaya orang-orang bisa membedakan mana mukmin mana Munafik. Allah Azza wa Jall berfirman

وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَقُولُ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَبِٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ وَمَا هُم بِمُؤْمِنِينَ

Dan di antara manusia ada yang berkata, “Kami beriman kepada Allah dan hari akhir,” padahal sesungguhnya mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman. (Al-Baqarah 2:8)

Fastabiqul Khoirot mulanya Mengesakan Allah

Report Page