Generasi Z dan Implementasi K-13

Generasi Z dan Implementasi K-13


Tulisan ini adalah publikasi ulang dari tulisan Mochamad Makruf di harian Jawa Pos, 15 April 2016.


Bagaimana tujuan pendidikan nasional memanusiakan manusia (humanizing human being) diimplementasikan di era Generasi Z? Generasi yang lahir di atas tahun 2000-an dan terbiasa hidup dengan IT, generasi yang mahir browsing internet, bergabung berbagai media sosial, dan ber-gadget.

Dengan tuntutan zaman saat ini—otak generasi semakin pandai, agresif, dan harus siap berkompetisi ketat—apakah implementasi kurikulum lama KBK 2004 ataupun KTSP 2006 yang mengedepan siswa pasif dan hafalan masih berlaku? Jawabnya tidak lagi.

Mengapa? Paparan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh di Press Workshop Implementasi Kurikulum 2013 pada 14 Januari 2014 menunjukkan, berdasarkan riset PISA (The Program for International Student Assessment) pada 2009, hampir semua siswa Indonesia ternyata menguasai pelajaran matematika, IPA, dan bahasa dengan level hanya sampai 3.

Sementara penguasaan siswa negara lain sampai level 4, 5, dan 6. Negara lain itu Singapura, China, Jepang, Hongkong, Korea Selatan, dan Thailand. Matematika level 6 tertinggi diraih China, disusul Singapura. IPA dan bahasa level 6 tertinggi dicapai Singapura.

PISA didirikan pada 1997 oleh Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD) yang berpusat di Paris. Organisasi ini beranggota departemen pendidikan 59 negara.

Tujuan organisasi ini adalah studi membandingkan pencapaian pendidikan di seluruh dunia. Caranya memberikan tes literasi untuk tiga kompetensi membaca (bahasa), matematika, dan ilmu pengetahuan alam (IPA) kepada para siswa. Apakah para siswa bisa menerapkan tiga ilmu yang dipelajarinya itu untuk menyelesaikan masalah di sekitarnya?

Pada 2011, TIMSS (Trends in International Mathematic and Science Study) melakukan riset kepada siswa di Singapura, Taiwan, Korea Selatan, Jepang, Turki, Malaysia, Thailand, Saudi Arabia, Maroko, dan Indonesia soal penguasaan IPA di SMP/MTS kelas VIII.

Hasilnya, Indonesia berada di level rendah di atas Maroko. Itu karena lebih dari 95 persen siswa Indonesia hanya mampu menguasai IPA sampai level menengah saja. Sementara 40 persen siswa Taiwan mampu mencapai level tinggi.

Mengapa penguasaan tiga kompetensi mata pelajran siswa negara asing itu lebih tinggi dibanding siswa negeri ini? Itu karena metode pembelajaran para siswa asing tersebut lebih mengedepankan observasi (research) dan kreativitas di lapangan dibanding ilmu hafalan.

Menurut riset Jeff Dyer (2011) berjudul Innovators DNA yang diulas di Harvard Business Review, dua pertiga kemampuan kreativitas seseorang diperoleh melalui pendidikan dan sepertiga sisanya dari genetik. Jadi, pembelajaran berbasis kecerdasan tidak akan memberikan hasil signifikan (hanya peningkatan 50 persen). Sebaliknya pembelajaran berbasis kreativitas berdampak signifikan (peningkatan sampai 200 persen).

Kemampuan kreativitas, menurut Dyer, diperoleh melalui 5 M. Yaitu mengamati (observing), menanya (questioning), mencoba (experimenting), menalar (associating), dan membentuk jejaring (networking).

Dengan fakta tersebut, perlu dirumuskan kurikulum berbasis pembelajaran yang mengedepankan pengalaman personal melalui proses mengamati, menanya, menalar, dan mencoba (observation-based learning) meningkatkan kreativitas para siswa.

Selain itu, para siswa dibiasakan bekerja dalam jejaring melalui collaborative learning. Jadi, networking melalui collaborative learning itu penting agar interaksi sosial dan EQ (emotion quotient) siswa tetap terasah.

Karena itu, Kemendikbud saat itu mulai mengimplementasikan Kurikulum 2013 (K-13) pada tahun pelajaran 2013–2014. Indonesia harus berubah. Generasinya harus lebih pandai atau selevel dengan generasi negara tetangga. Implementasi K-13 dirasa cocok untuk memenuhi tuntutan pendidikan Generasi Z.

Tapi, faktanya, selama tiga tahun ini, K-13 belum 100 persen terimplementasi di jenjang pendidikan SD, SMP, dan SMA. Padahal, menurut blueprint Kemendikbud era Mohammad Nuh, target 100 persen K-13 pada 2015. Namun, pergantian Mendikbud ke Anies Baswedan membuat target 100 persen K-13 mundur lagi jadi 2019.

Apakah K-13 urgen diterapkan? Saat menjadi mahasiswa, penulis terpilih sebagai peserta program Pertukaran Pemuda Indonesia-Australia. Penulis ditempatkan di Queensland dan magang kerja (work placement) di Millmerran State School P10 sebagai asisten guru bahasa Indonesia. Penulis turut mengajar siswa kelas 1 dan 2.

Saat pelajaran IPA, siswa diberi tugas oleh gurunya untuk mengamati dan mengambil benda-benda di sekitar rumah masing-masing. Mereka harus menjelaskan benda temuannya itu di kelas, di depan teman-temannya.

Penulis melihat sendiri seorang siswa menjelaskan dengan gamblang sebongkah batu kali di depan teman-temannya. Para murid berkelompok-kelompok melingkar seperti diskusi. Bukan sejajar menghadap guru seperti di Indonesia.

Metode pengajaran observasi dan aktif seperti K-13 sudah diterapkan di SD-SD Australia pada 1993. Indonesia baru menerapkannya pada 2013. Jadi, Indonesia tertinggal 20 tahun dibanding Australia. Bila Generasi Z bangsa ini tidak mau tertinggal, implementasi 100 persen K-13 harus segera diwujudkan.


Sumber: Jawa Pos


——————————

Websis for Edu adalah konsultan untuk adopsi dan integrasi teknologi dalam pendidikan.

Dapatkan berita terkini, tips-tips praktis, serta fakta-fakta menarik seputar pendidikan dan teknologi dengan mengikuti channel Telegram @PendidikanAbad21