Flashback of The First Happiness.

Flashback of The First Happiness.

Rakaluh Alja Debustala.
Have fun with memories.

Hujan yang mengguyuri area jajahan ilmu tampak lah deras, banyak siswa siswi yang berteduh untuk menghindari tetesan air mata dari sang langit. Berbeda dengan satu laki-laki yang sedang berdiri tegak di tengah hujan, dia Rakaluh Alja Debustala.

Baginya, hujan itu adalah anugerah terindah yang harus di abadikan setiap saat, dia tidak peduli dengan tatapan orang-orang yang menganggap nya aneh di kala hujan mengguyur dunia dengan deras namun dia tidak menampik untuk berpindah agar meneduh.

"Bro! Naik cepetan!"

Suara itu berhasil membuat Rakaluh terbangun dari dunia prasa, dia membuka matanya dan melihat ke arah sebrang, ternyata itu Jafin sang raja kuda besi.

"Elahh, lo nganggu aja dah." Rakaluh berceloteh tak setuju kepada Jafin, karena telah merusak hawa kenyamanannya tadi.

"Ya lo ngapain anjir, orang neduh semua lo nya malah keasikan di guyur hujan."

Rakaluh naik ke atas motor sembari menerima helm dari tangan kekar temannya itu, "jalan dulu, ntar gue jelasin."

Kuda besi itu berjalan perlahan-lahan lalu mulai menunjukkan kebolehannya. "Jafin, hujan itu anugerah yang mesti di abadikan setiap saat dia turun, bagi orang hujan itu malapetaka, tapi bagi gue hujan itu malah memberikan keberuntungan buat gue."

"Keberuntungan apa yang lo maksud?"

Rakaluh tersenyum dan menjawab pertanyaan temannya itu, "keberuntungan gue bisa ngeliat langit netesin air matanya."

"Lo ngomong apa dah, Rak."

Jafin lebih memilih untuk fokus kembali pada kontur jalan yang di lewati, sedangkan Rakaluh dengan hikmat menutup matanya lalu merasakan prasa hujan.


Kontrakan itu sudah terlihat di depan mata, dengan segera motor milik Jafin di giring masuk ke dalam pekarangan. "Rak, turun."

Rakaluh membuka matanya dan melihat sekeliling, ternyata dia sudah sampai, "lah anjir, dah sampe??"

"Melamun lagi lo."

Rakaluh turun dengan keadaan yang sangat-sangat basah, dia membuka helmnya dan membawa benda itu masuk bersama dengan dirinya.

"Raka lo apa-apaan!?"

Baru saja dia memijakkan kakinya, teman-temannya sudah berteriak melihat keadaan dirinya yang basah kuyup.

"Kaget, gausah barengan gitu lah!"

"Ya lo kenapa basah kuyup, kaya bebek abis mandi aja!!?" Raditya bersuara, dia tidak habis pikir dengan sahabatnya yang satu ini.

"Gue nikmatin prasa hujan, bukan mandi bebek." Rakaluh berjalan santai dan melemparkan helm ke arah Julian, untung saja Julian cepat tangkap.

"Untung lebih tua." Ucap Julian.


Kontrakan Ilir Rintik.

Itu adalah nama kontrakan yang di tinggali oleh 7 orang laki-laki, mereka mengontrak karena sudah sepakat akan bersekolah jauh dari rumah, orang tua mereka pun setuju-setuju saja dengan ide dari anak-anak mereka. Dan terjadilah tanda tangan sah untuk mengontrak disini.

"Ini kontrakan gue rame banget, pulang sono ke kontrakan masing-masing."

Rakaluh keluar dari kamarnya sambil mengusak-usak kasar rambutnya yang basah.

"Yeuu, orang baru aja beli MCD, emang lo gamau?" Tanya Mudhaffar.

"Lo nanya gue mau apa gak? Ya maulah, kaga usah di tanya lagi."

Rakaluh mengaringkan handuk kepalanya dan berjalan menuju ruang tengah untuk duduk bersama teman-temannya, dan menyantap makanan bersama.


(Continue)


Report Page