Feminisme dalam JKN

Feminisme dalam JKN

Euis R
Ibu - Ibu pekerja di Desa Ranggang sedang menyusun kayu arang yang siap di pasarkan.
Bekerja di BPJS Kesehatan dan berada jauh dari rumah tinggal itu menjadi hal yang biasa bagi seorang Duta BPJS Kesehatan. Kita di beri waktu , ruang dan kesempatan untuk mengkayakan diri dengan wawasan dan pengalaman yang tidak bisa di beli dengan rupiah. Ditugaskan di daerah, memberi ruang bagi saya untuk mengkayakan diri dengan wawasan akan kondisi masyarakat yang ada di wilayah setempat. Sabtu Minggu saat rehat dari rutinitas, manfaatkan waktu singkat untuk melipir ke pedesaan. Desa dengan segala keunikannya memberikan kita keragaman informasi dan memberi makna tentang sebuah proses kehidupan bagi setiap orang yang berada di kawasan tersebut. Penghargaan individu terhadap alam , nilai- nilai kemanusiaan serta upaya untuk bertahan hidup dalam segala keterbatasan lazim kita temukan di desa. Ekosistem yang terbentuk di pedesaan merupakan rangkaian proses panjang dan terbentuk dari tarik ulur dinamika kehidupan sosial masyarakat. Ekosistem ini merupakan salah satu bagian dari Sistem besar JKN yang saat ini kita kawal , kita di tuntut untuk peka dalam melihat dan membaca kebutuhan masyarakat dalam suatu ekosistem. Perempuan merupakan subject utama dalam sebuah komunitas. Perempuan dalam segala keterbatasannya mampu memberikan kontribusi yang besar terhadap arus ekonomi kehidupan.

Tungku Pembakaran Kayu Alaban Di Desa Ranggang


Foto ini diambil saat menelusuri desa Ranggang. Desa Ranggang terletak di wilayah Kecamatan Takisung, berjarak kurang lebih 15 Km dari Kota Pelaihari Kab Tanah Laut Propinsi Kalimantan Selatan, dapat di tempuh dengan kendaraan sepeda motor sekitar 20- 30 menit. Di Desa Ranggang akan banyak kita temui Tungku-tungku pembakaran kayu arang. Pembakaran Kayu arang di hasilkan dari proses pembakaran Kayu Alaban / Halaban (Vitex pinnata) , proses pembakaran ini memerlukan waktu sekitar 7 sampai dengan 10 hari. Kayu di susun dan di tumpuk sedemikian rupa agar saat proses pembakaran dapat matang sempurna di dalam sebuah tungku pembakaran yang tingginya mencapai tiga sampai empat meter. Kayu yang sudah di masukkan ke dalam tungku kemudian dibakar dengan nyala api dan setelah melalui proses pembakaran akan di bongkar pada hari ke 8 sampai dengan hari ke 10. Kemudian kayu yang sudah menghitam di keluarkan , di susun dan di packing dengan menggunakan karung. Uniknya dari semua proses pengolahan kayu arang ini, melibatkan banyak kaum wanita. Pekerjaan ini bukanlah hal yang mudah, panas menghadapi api pembakaran, resiko terhirup debu sisa pembakaran, serta nilai yang mereka dapatkan tidak seberapa. Namun Para ibu -ibu ini dengan sigap dan telaten melalui setiap proses tahapan pembakaran kayu hingga proses packing. Tidak peduli, panasnya bara api dan banyaknya rona hitam arang yang turut menghias bagian pipi para ibu-ibu.
Kondisi tersebut menyadarkan kita akan peran perempuan , Perempuan sebagai bagian dari ekosistem JKN sangat berpengaruh terhadap kontribusi jalannya program JKN di sebuah komunitas. Di perlukan sebuah pendekatan yang unik dan berbeda dalam memastikan satu keluarga dapat terjamin kesehatannya. Setiap kebijakan dalam program JKN hendaknya mampu memperhatikan kondisi lokalitas dan sudut pandang gender. Dalam hal ini berkaitan dengan feminisme di dalamnya menyangkut hak dan martabat sebagai seorang perempuan. Karena Perempuan bukan menjadi Objek melainkan subject dalam jalannya sebuah pembangunan berkelanjutan di program JKN.

Report Page