Fairy Tales Are Real
"Once upon a time" was a beautiful lie we told to ourselves to soften the edges of a lonely reality. Semua berhenti setelah lembar terakhir bergulir, menjadi penutup dengan akhir yang 'bahagia'. Happily ever after, they said. Tapi rasanya tak muncul di kehidupan nyata. Dongeng itu cuma keajaiban yang dituangkan untuk membawa kita masuk ke dunia angan-angan. Sebentar saja, setelah itu kembali.
Then, there was you.
You didn't come like a fairy godmother with a magic wand nor a princess in a carriage. Tapi rasanya eksistensi sederhana saja membawa 1001 rasa yang tak bisa dijelaskan lewat lembaran buku dongeng sebelum tidur. Tanpa keajaiban, tanpa karakter tambahan, tanpa angan-angan, semuanya mulai berwarna.
I discovered that the real magic wand is the way you hold my hand when the world feels too loud. "I'm here," dua kata seribu mantra terkandung dalamnya. Our carriage is nothing more than our fotsteps walkinag in the rhythm. Sempurna. Terlihat lebih simpel dari dongeng, namun sebenarnya bisa lebih kompleks dari kelihatannya.
I finally understood, dongeng bukan tentang ketiadaan monster, melainkan tentang bagaimana mereka membuat semuanya terlihat indah karena cinta. Tidak butuh kereta kencana untuk pulang, karena rumah tak selalu tentang 'bangunan'. Bisa saja seseorang.
So, let them say that miracles are myths. Aku lebih tau sekarang. Fairy tales are real. Mereka diam-diam hidup di tengah momen kebahagiaan, sekalipun yang terkecil dalam hidup kita.