EPILOG
Beberapa tahun kemudian, Julian kembali ke Toko Buku Aksara Lama.
Papan namanya sudah dicat ulang, meski warna hijaunya tetap kusam. Pot tanaman di dekat pintu kini lebih besar. Lonceng kecil di atas pintu masih berbunyi saat seseorang masuk, sama seperti dahulu.
Julian berdiri sebentar di depan toko.
Dulu ia datang ke tempat itu dengan dada penuh kecurigaan. Ia melihat Erlina bersama seseorang, lalu membiarkan ketakutannya menulis cerita yang bahkan belum tentu benar.
Hari ini, ia datang membawa sebuah buku.
Bukan buku tentang mesin waktu.
Bukan cerita tentang seseorang yang kembali untuk membuat hidupnya sempurna.
Di sampulnya tertulis satu kata.
KEMBALI
Julian membuka pintu.
Lonceng kecil berbunyi.
Bu Ratih masih duduk di balik meja kasir, meski rambutnya kini jauh lebih putih. Ia memakai kacamata baca dan sedang menempelkan label harga pada buku-buku baru.
“Cari buku apa, Mas?” tanyanya tanpa mengangkat wajah.
Julian tersenyum.
“Saya mau titip satu.”
Bu Ratih menoleh.
Butuh beberapa detik sebelum wajahnya berubah seperti sedang mengingat sesuatu.
“Kamu yang dulu dari media, ya?”
“Iya, Bu.”
“Yang nulis artikel tentang toko ini?”
“Iya.”
Bu Ratih tersenyum lebar. “Saya masih ingat. Tulisan kamu bikin beberapa orang datang cuma buat lihat toko ini. Ada yang bilang mau cari tempat diam.”
Julian tertawa kecil.
“Masih banyak yang datang buat itu?”
“Masih.” Bu Ratih menatap rak-rak buku di sekeliling mereka. “Orang-orang berubah, tapi mereka tetap butuh tempat untuk pulang.”
Julian memandangi toko itu.
Ia dulu mengira pulang berarti kembali ke tempat yang belum rusak. Kembali ke rumah sebelum semua orang menua. Kembali ke masa ketika Erlina masih duduk di sebelahnya. Kembali ke dirinya yang belum melakukan terlalu banyak kesalahan.
Namun waktu tidak bekerja seperti itu.
Waktu tidak mengembalikan orang-orang kepada versi yang kita inginkan.
Ia hanya memberi kita hari ini, lalu meminta kita menjalaninya sebelum berubah menjadi kemarin.
“Apa judul bukunya?” tanya Bu Ratih.
Julian meletakkan buku di atas meja.
“KEMBALI.”
Bu Ratih membaca sampulnya pelan.
“Cerita tentang apa?”
Julian berpikir sebentar.
“Cerita tentang seseorang yang terlalu lama ingin mengulang hidupnya,” jawabnya. “Sampai akhirnya dia sadar, mungkin yang dia butuhkan bukan jalan untuk kembali. Tapi keberanian untuk tinggal.”
Bu Ratih menatapnya, lalu mengangguk kecil.
“Itu cerita yang banyak orang butuh.”
Setelah keluar dari toko, Julian tidak langsung pulang.
Ia berjalan menyusuri trotoar yang dulu menjadi tempat ia berdiri di bawah hujan. Jalan itu sudah lebih ramai sekarang. Ada kedai kopi baru di sudut, toko pakaian yang menggantikan warung fotokopi, dan halte kecil yang dicat lebih cerah.
Kota terus berubah.
Orang-orang terus pergi.
Beberapa pulang dengan wajah yang sama. Beberapa pulang dengan nama yang berbeda. Beberapa tidak pernah kembali sama sekali.
Di ujung jalan, Julian melihat sebuah toko alat tulis.
Ia masuk tanpa alasan khusus.
Di dalam, ia membeli sebuah buku catatan bersampul cokelat tua. Polos. Tanpa gambar. Tanpa tulisan. Persis seperti buku yang dulu pernah ia berikan kepada Erlina.
Ia memegang buku itu cukup lama.
Bukan karena masih berharap Erlina datang dan menerimanya.
Bukan karena ia ingin memperbaiki sesuatu yang sudah selesai.
Ia hanya teringat pada satu pelajaran yang pernah ia pahami terlambat: halaman kosong bukan sesuatu yang harus ditakuti.
Halaman kosong tidak menuntut jawaban.
Ia hanya menunggu seseorang cukup berani untuk jujur.
Rumah Julian kini lebih sunyi daripada rumah masa mudanya.
Tidak ada lagi suara mama dari dapur setiap pagi. Tidak ada koran papa di meja makan. Tidak ada sandal yang diletakkan sembarangan di dekat pintu.
Namun rumah itu tidak lagi terasa seperti tempat yang menghukumnya.
Di ruang tamu, Julian menyimpan satu foto papa dan mama. Bukan foto formal. Bukan foto saat ulang tahun atau hari raya.
Foto itu diambil tanpa sengaja.
Papa sedang tertawa karena mama salah membeli cabai. Mama terlihat kesal, tetapi sudut bibirnya naik sedikit. Di meja ada teh hangat dan kantong belanja dari pasar.
Momen biasa.
Momen yang dulu mungkin tidak akan Julian perhatikan.
Kini, justru itulah yang paling ia jaga.
Julian menaruh buku catatan cokelat di meja.
Lalu ia duduk di kursi yang dulu sering dipakai papa.
Cahaya sore masuk dari jendela. Debu kecil bergerak pelan di udara. Dari rumah tetangga, terdengar suara anak-anak pulang sekolah.
Julian membuka buku catatan itu.
Halaman pertama kosong.
Ia mengambil pulpen.
Tangannya sempat berhenti.
Dulu, ia akan menulis tentang apa yang harus diubah. Tentang siapa yang harus diselamatkan. Tentang hari mana yang ingin ia ulang.
Hari ini, ia menulis:
Hari ini aku pulang lebih awal.
Hari ini aku masih merindukan mereka.
Hari ini aku masih punya hal-hal yang tidak bisa kuperbaiki.
Tapi hari ini, aku tidak lagi menganggap hidupku gagal hanya karena masa lalu tidak kembali seperti yang kuinginkan.
Julian berhenti.
Ia menatap halaman itu.
Tidak ada tulisan lain yang muncul di bawahnya.
Tidak ada pesan dari putaran sebelumnya.
Tidak ada pintu menuju hari-hari lama.
Hanya suara jam dinding yang berdetak.
Dulu, Julian membenci suara itu.
Karena setiap detiknya mengingatkan bahwa waktu sedang membawa sesuatu pergi.
Sekarang, ia mendengarnya dengan cara berbeda.
Setiap detik bukan hanya membawa sesuatu pergi.
Setiap detik juga memberi seseorang kesempatan untuk hadir sebelum semuanya berlalu.
Julian menutup buku.
Di meja, ponselnya bergetar.
Sebuah pesan dari nomor yang tidak ia simpan.
Erlina: Selamat atas bukunya. Aku sudah baca.
Julian memandangi pesan itu cukup lama.
Dadanya masih terasa hangat ketika membaca nama itu. Ada bagian dari dirinya yang masih mengingat taman, toko buku, dan semua kata yang dulu terlambat diucapkan.
Namun kali ini, ia tidak buru-buru menjadikan satu pesan sebagai pintu untuk kembali ke sesuatu yang sudah selesai.
Ia membalas pelan.
Julian: Terima kasih sudah membaca.
Tiga titik muncul.
Lalu satu pesan terakhir masuk.
Erlina: Terima kasih juga. Akhirnya kamu menulis sesuatu yang tidak mencoba membuat orang tinggal.
Julian tersenyum.
Ia meletakkan ponsel di atas meja tanpa menunggu balasan berikutnya.
Di luar, sore bergerak menuju malam.
Waktu tetap berjalan.
Begitu juga Julian.
Bukan untuk kembali.
Melainkan untuk pulang.