Dosen yang ANTI WAHABI...

Dosen yang ANTI WAHABI...

v.gd/wahabi


بسم الله الرحمن الرحيم

Ada kisah, seorang dosen yang anti wahabi. Yang pada garis besarnya Beliau terjebak fitnah orang2 yang suka menebar fitnah.

Kalau ahli ilmu saja masih bisa terjebak dalam fitnah, bagaimana dengan kita2 yang hanya ahli taklid buta? Beragama dengan rumus opo jare.

Tulisan berikut hanya untuk yang mau jujur dalam belajar mencari ilmu dan kebenaran, jika tidak maka tidak akan pernah bermanfaat.

Tugas kita adalah terus belajar, mau belajar, tinggalkan bicara dan beramal tanpa ilmu, tinggalkan taklid buta atau kita akan "binasa". Belajar mengenal agama Islam dengan benar sehingga gak mudah bilang "Wahabi madzhab baru di Saudi" atau kalimat semisal. Itu karena kita TIDAK KENAL agama sendiri. Kenalnya hanya dalam bingkai organisasi dan fanatik kepadanya.

Biarlah dituduh wahabi tapi paham apa itu SUNNAH, daripada ngaku ahlussunnah tapi hidup penuh BID'AH...


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bila seorang fasik datang kepadamu membawa sebuah berita maka telitilah, agar kamu tidak mencela suatu kaum dengan kebodohan, sehingga kamu menjadi menyesal terhadap apa yg kamu lakukan.” [QS. Al Hujurat 6]

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ ‏ "‏ إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ مَا فِيهَا يَهْوِي بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ ‏"‏ ‏

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam bersabda: "Sesungguhnya hamba mengucapkan kalimat tanpa diteliti yang karenanya ia terlempar ke neraka sejauh antara timur dan barat." [HR. Muslim 7482/2988] [Bukhari 6477]

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُونُوا۟ خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَآءٌ مِّن نِّسَآءٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا۟ بِٱلْأَلْقَٰبِ ۖ بِئْسَ ٱلِٱسْمُ ٱلْفُسُوقُ بَعْدَ ٱلْإِيمَٰنِ ۚ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim." [QS. Al Hujurat 11]

 أَنَّهُ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْغِيبَةُ قَالَ ‏"‏ ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ ‏"‏ ‏.‏ قِيلَ أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِي أَخِي مَا أَقُولُ قَالَ ‏"‏ إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدْ بَهَتَّهُ

Rasulullah pernah ditanya, "Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan ghibah?" beliau menjawab: "Engkau menyebut tentang saudaramu yang ia tidak sukai." Beliau ditanya lagi, "Bagaimana pendapatmu jika apa yang ada pada saudaraku sesuai dengan yang aku omongkan?" Beliau menjawab: "Jika apa yang engkau katakan itu memang benar-benar ada maka engkau telah berbuat GHIBAH, namun jika tidak maka engkau telah berbuat FITNAH." [HR. Abu Dawud 4874] [At Tirmidzi 1934]

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم " مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لأَحَدٍ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَىْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ، قَبْلَ أَنْ لاَ يَكُونَ دِينَارٌ وَلاَ دِرْهَمٌ، إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ، وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ "

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Siapa yang pernah berbuat aniaya (zhalim) terhadap kehormatan saudaranya atau sesuatu apapun hendaklah dia meminta kehalalannya (maaf) pada hari ini (di dunia) sebelum datang hari yang ketika itu tidak bermanfaat dinar dan dirham. Jika dia tidak lakukan, maka (nanti pada hari qiyamat) bila dia memiliki amal shalih akan diambil darinya sebanyak kezholimannya. Apabila dia tidak memiliki kebaikan lagi maka keburukan saudaranya yang dizholiminya itu akan diambil lalu ditimpakan kepadanya". [HR. Bukhari 2449, 6534]

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏ "‏ لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَتَّاتٌ ‏"‏ ‏

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidak akan masuk ke dalam surga orang yang suka menyebarkan fitnah." [HR. Abu Dawud 4871] [Bukhari 6056] [Muslim 291/105] [At Tirmidzi 2026]

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏ "‏ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا، أَوْ لِيَصْمُتْ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلاَ يُؤْذِ جَارَهُ.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya ia berkata baik atau diam, dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, janganlah ia menyakiti tetangganya." [HR. Bukhari 6475] [Muslim 173/47] [Abu Dawud 5154] [Ibnu Majah 3672]

👉 Jaga Lisan, InsyaAllah Selamat...


Kisah Pertama

Kisah Dosen Universitas Islam Madinah Asal Mesir yang Anti Wahabi

Bismillah...

Ini adalah kisah yang sungguh mengagumkan. Ketika Universitas Islam di Madinah baru saja dibuka oleh Syaikh bin Baz rahimahullahu, tentunya beliau membutuhkan banyak ulama dari penjuru dunia Islam. Sedangkan metode Syaikh bin Baz adalah beliau melakukan pendekatan kepada seluruh kelompok tanpa membedakannya. Siapa saja yang masuk ke rumah syaikh, bermulazamah kepada beliau, pasti tahu bahwa inilah manhaj Syaikh Abdul Aziz bin Baz.

Namun beliau tidak pernah berkata suatu yang batil atau bahkan mengajak kepada kebatilan. Beliau juga tidak pernah mengingkari pelaku kebatilan dengan cara keras. Sebaliknya, beliau bersikap ramah, bergurau, mengunjungi mereka, tersenyum, memberikan hadiah dan memberikan bantuan kepada mereka atas setiap hal yang mendatangkan manfaat bagi Islam dan kaum muslimin.

Inilah metode dan manhaj Syaikh bin Baz. Barangsiapa mengatakan selain ini maka ia telah berdusta. Beliau selalu menasehati, mengajak kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar..

Tetapi dengan penuh kelembutan, kesantunan, hikmah, bijaksana dan murah senyum.


Diantara para masyaikh yang didatangkan untuk mengajar di Universitas Islam Madinah adalah masyaikh ahli qiro’ah dari Mesir, diantara mereka adalah Syaikh Abdul Fattah al-Qadhi.

Beliau termasuk salah seorang ulama yang mengoreksi mushaf terbitan Mujamma’ al-Malik Fahd.

Syaikh Abdul Fattah ini termasuk ulama yang tidak ada tandingannya di zaman ini dalam ilmu qiro’ah dan ulumul Qur’an. Beliau adalah ulama yang pengetahuannya tentang ilmu Qur’an bagaikan samudera.


Sebelum berangkat ke Madinah, orang-orang Mesir sudah memperingatkan beliau bahwa dia akan mendatangi kaum (Wahhabi) yang bersifat begini dan begitu. Berhati-hatilah dalam berbicara dengan mereka, karena jika tidak mereka tidak akan memaafkanmu.

Akhirnya Syaikh pun berangkat ke Madinah. Di Madinah, beliau sangat waspada dan berhati-hati, hanya saja beliau orang yang tempramental, walau pandai berdebat, tetapi jika beliau murka, akan keluar dari mulut beliau perkataan yang tidak layak.

Semoga Alloh merahmati beliau.


Singkat cerita, beliaupun diberi jadwal mengajar di Jami’ah dan mulai mengajar. Pada suatu waktu di tengah mengajar, secara tidak sadar beliau mengucapkan “wan-nabi” (demi Nabi).

Orang-orang Mesir memang memiliki kebiasaan bersumpah dengan nama Nabi Shallallahu ’alaihi wa Sallam. Tiba-tiba seorang mahasiswa berdiri dan berkata :

“ Ya Syaikh! Anda telah bersumpah dengan nama Nabi, padahal beliau bersabda : “Barangsiapa yang bersumpah dengan selain Alloh maka ia telah kafir atau musyrik” (Diriwayatkan Tirmidzi)

Syaikh tiba-tiba langsung berubah seperti orang gila, marah-marah dan berkata, “Saya kafir ?! Saya Musyrik?! Saya yang mengajarkan al-Qur’an kepada kalian dan kalian mengatakan saya kafir atau musyrik ?!!”

Emosi beliaupun mulai naik dan berbicara kasar memaki-maki mahasiswa tersebut. Beliau mengatakan mahasiswa tersebut dengan ucapan buruk, dikatakan bodoh lah, tidak punya adab, tidak punya sopan santun, dan lain sebagainya.

Padahal mahasiswa tadi hanya menyampaikan sabda Rasulullah, “Barangsiapa bersumpah dengan selain nama Alloh maka dia telah kafir atau musyrik”.


Akhirnya terjadi keributan keras di kelas antara mahasiswa dan Syaikh sehingga kelas menjadi ricuh dan gaduh. Dengan kemarahan yang masih meluap-luap, syaikh langsung keluar dari kelas sembari berteriak-teriak,

“Kamu mengkafirkan saya?! Padahal saya adalah syaikh para ahli qiro’ah di Mesir! Apakah pada usia ini saya sudah menjadi kafir?! Setelah beruban seperti ini menjadi musyrik?!…” Beliau terus menceracau macam-macam…


Syaikh Abdul Aziz al-Qori’, ketua panitia pengawasan penerbitan mushaf bertemu beliau dijalan, dan bertanya kepadanya, “ada apa ya syaikh? ada apa?”

Syaikh Abdul Fattah menjawab, “Anda tidak tahu apa yang dikatakan mahasiswa itu ? Mereka mengatakan saya telah kafir! Mengatakan saya begini dan begitu!”

Syaikh Abdul Aziz berkata, “Sudahlah ya syaikh, mereka itu hanya mahasiswa, masih anak-anak. Mereka tidak bermaksud mengkafirkan anda, mereka cuma ingin menasehati anda. Mungkin hanya salah ucap saja”

Syaikh Abdul Aziz yang menceritakan kisah ini kepada saya (Syaikh Muhammad Duwaisy) mengatakan bahwa beliau berupaya menenangkannya, dan akhirnya beliau mengajaknya untuk naik ke mobil beliau dan mengajak ke rumahnya.

Yang jelas, hari itu adalah hari terburuk bagi Syaikh Abdul Fattah. Beliaupun memutuskan untuk mengakhiri kontraknya mengajar di Jami’ah dan mempacking barang-barangnya untuk segera pulang ke Mesir, karena beliau mendengar bahwa kaum ini (Wahhabi) tidak akan memaafkan jika ada seseorang berbuat salah, mereka akan menghukumnya dengan hukum yang sangat keras.


Semenjak pagi Syaikh bin Baz sudah mendengar kejadian tersebut. Beliau pun menelpon Syaikh Abdul Aziz al-Qori untuk menjemput Syaikh Abdul Fattah dan membawa beliau ke kantornya.

Keesokan harinya, Syaikh Abdul Aziz dan Syaikh Abdul Fattah mendatangi kantor Syaikh bin Baz. Syaikh Abdul Fattah mengira bahwa dirinya akan diberhentikan dan dipecat. Beliau membayangkan bahwa Syaikh bin Baz akan mengatakan, “Wahai Abdul Fattah,sesungguhnya kamu melakukan kesalahan yang besar, karena itu tidak ada tempat di sini bagi orang yang bersumpah dengan selain nama Alloh dan mengajarkan hal itu kepada anak didik kami di Universitas.”

Kira – kira coba anda bayangkan apa yang dilakukan Syaikh bin Baz?! Ketika Syaikh Abdul Fattah tiba, Syaikh bin Baz langsung bangkit menuju pintu, padahal beliau orang yang buta, dalam rangka menyambut dan menyalami Syaikh Abdul Fattah, beliau berkata : “ Bagaimana kabar anda ya Syaikh Abdul Fattah ? Bagaimana keadaan Anda ? Bagaimana di Jami’ah, senangkah Anda tinggal di sini? tinggal di Madinah?…”

Kemudian Syaikh bin Baz mempersilakan Syaikh Abdul Fattah duduk di samping beliau, lalu berkata kepadanya : “ Ya Syaikh, anda kan tinggal sendirian di Madinah, bagaimana jika kami menikahkan Anda di sini agar Anda merasa nyaman dan ada yang melayani Anda?”

Syaikh Abdul Fattah terheran-heran, sebab tadi malam beliau mengira bahwa hari ini adalah hari terakhirnya di kota Nabi Madinah. Namun Syaikh bin Baz sepertinya mengubah tema pembahasan dan sama sekali tidak membahas ucapan keliru Syaikh Abdul Fattah.

Beliau sama sekali tidak mengatakan, “anda telah salah, tidak faham sedikitpun! ahli bid’ah! orang sesat! miskin!!!…” Tidak, Syaikh bin Baz sama sekali tidak mengatakan demikian, karena hal ini adalah tidak pantas.

Syaikh Abdul Fattah sebenarnya adalah orang yang mudah untuk menerima kebenaran. Hanya saja perlu cara dan teknik tertentu agar beliau bisa menerima kebenaran dengan mudah.

Syaikh bin Baz terus saja menyenangkan hati beliau, bergurau dengannya dan sampai akhirnya Syaikh bin Baz berkata kepadanya, “ Wahai Syaikh, para mahasiswa itu terkadang tidak faham bagaimana cara berbuat sopan di hadapan para masyaikh. Karena itu seharusnya Syaikh bisa bersikap bijak terhadap mereka dan bersabar atas perlakuan mereka.”

Syaikh kemudian menjelaskan kepada beliau, “ Anda wajib mengajarkan kepada mereka sopan santun, menjadikan mereka terdidik, bertindak bijak terhadap mereka, tidak mudah emosi akan kesalahan yang ada pada mereka. Anda sendiri pasti tahu bahwa Anda adalah orang yang lebih pandai dari kita semua. Kita harus bersabar menghadapi mereka dan berdiskusi dengan mereka dengan cara yang hikmah.”

Akhirnya Syaikh Abdul Fattah melunak hatinya dan mengatakan “Baiklah Syaikh”, karena beliau tahu bahwa tindakannya kemarin adalah sangat tidak pantas.


Syaikh Abdul Aziz al-Qori, yang menceritakan hal ini kepada saya mengatakan, “Setelah itu kami keluar dari kantor dengan rasa penuh hormat dan kemuliaan. Kami pun beranjak keluar dari area Jami’ah. Kemudian saya bertanya kepada Syaikh Abdul Fattah, “Anda mau pergi ke mana wahai Syaikh?”

Syaikh menjawab, “Saya ingin pulang ke rumah.”

Saya berkata, “Baiklah, saya akan mengantarkan Anda ke rumah.”

Kemudian Syaikh Abdul Fattah naik mobil bersamaku, kemudian beliau menoleh kepadaku dan berkata, “Wahai Syaikh Abdul Aziz al-Qori, saya punya permintaan.”

Saya menjawab, “ Apa permintaan Anda?”.

Beliau menjawab,

“Orang-orang Wahhabi ini, saya ingin membaca buku-buku mereka.”

Saya berkata, “baiklah”.

Setelah itu saya pilihkan beberapa buku karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan beberapa ulama lainnya, lalu kuberikan kepada beliau. Setelah itu beliau membacanya selama seminggu penuh tanpa henti siang dan malam.”

Syaikh Abdul Aziz al-Qori melanjutkan, “Sepekan kemudian saya mengunjungi beliau dan bertanya padanya, “Bagaimana buku-buku yang telah Anda baca? Bagaimana pendapat Anda tentangnya?”

Beliau menjawab,

“Demi Alloh! Kalian semua adalah benar dan dulu Saya yang salah. Adapun orang-orang ahlus sunnah yang saya temui, mereka jauh sekali dari praktik yang terdapat dalam buku-buku ini. Saya sekarang sudah mengetahui kebenaran tersebut. Demi Alloh ! Saya dulu meyakini bahwa kalian adalah orang-orang yang begini dan begitu… mudah-mudahan Alloh mengampuniku.”


Wahai saudara-saudaraku…

Apa yang mendorong beliau untuk membaca kebenaran dan puas menerimanya?! Jawablah pertanyaanku…

Tentunya ini semua dengan adab, kelemah lembutan, akhlaq yang mulia, kesabaran, sopan santun dan memenuhi kewajiban hak-hak seorang muslim, bukannya malah tindakan menghajr, membenci, mengucilkan dan lain sebagainya.

Wahai saudara-saudaraku…

Inilah akhlaq seorang alim besar, yang saya yakin bahwa saya dan anda bersepakat akan keilmuannya

Adakah kita mau mengambil dan memetik faidah ini?!

Maukah kita bercermin kembali, sudahkah akhlaq kita mencerminkan akhlaqnya para salaf yang shalih?!

Ataukah kita malah gemar menghujat, mencemooh, mencela, mengucilkan, bahkan sampai menvonis bid’ah secara serampangan?!

Memang benar kiranya ucapan Syaikh al-Albani, bahwa “ ajarkan aqidah kepada ummat dan ajarkan akhlaq kepada salafiyyin”.

Karena memang sebagian saudara kita salafiyyin butuh untuk lebih mempelajari akhlaq yang mulia.


Sumber: Facebook & dakwahpos



Kisah Kedua

Inilah Wahhabi Yang Dianggap Sesat Oleh Ulama-Ulama Maroko


Wajib diketahui oleh setiap kaum Musimin dimanapun mereka berada bahwasanya firqoh Wahabi adalah Firqoh yang sesat, yang ajarannya sangat berbahaya bahkan wajib untuk dihancurkan.

Tentu hal ini membuat kita bertanya-tanya, mungkin bagi mereka yang PRO akan merasa marah dan sangat tidak setuju, dan yang KONTRA mungkin akan tertawa sepuas-puasnya.. Maka siapakah sebenarnya Wahabi ini??

Bagaimanakah sejarah penamaan mereka??

Marilah kita simak dialog Ilmiah yang sangat menarik antara Syaikh Muhammad bin Sa’ad Asy Syuwai’ir dengan para masyaikh/dosen-dosen disuatu Universitas Islam di Maroko


Salah seorang Dosen itu berkata:

“Sungguh hati kami sangat mencintai Kerajaan Saudi Arabia, demikian pula dengan jiwa-jiwa dan hati-hati kaum muslimin sangat condong kepadanya, dimana setiap kaum muslimin sangat ingin pergi kesana, bahkan antara kami dengan kalian sangat dekat jaraknya. Namun sayang, kalian berada diatas suatu Madzhab, yang kalau kalian tinggalkan tentu akan lebih baik, yaitu Madzhab Wahabi.”

Kemudian Asy Syaikh dengan tenangnya menjawab:

Sungguh banyak pengetahuan yang keliru yang melekat dalam pikiran manusia, yang mana pengetahuan tersebut bukan diambil dari sumber-sumber yang terpercaya, dan mungkin kalian pun mendapat khabar-khabar yang tidak tepat dalam hal ini.

Baiklah, agar pemahaman kita bersatu, maka saya minta kepada kalian dalam diskusi ini agar mengeluarkan argumen-argumen yang diambil dari sumber-sumber yang terpercaya, dan saya rasa di Universitas ini terdapat Perpustakaan yang menyediakan kitab-kitab sejarah islam terpercaya. Dan juga hendaknya kita semaksimal mungkin untuk menjauhi sifat Fanatisme dan Emosional.”

Dosen itu berkata :

“Saya setuju denganmu, dan biarkanlah para Masyaikh yang ada dihadapan kita menjadi saksi dan hakim diantara kita.”

Asy Syaikh berkata :

“Saya terima, Setelah bertawakal kepada Allah, saya persilahkan kepada anda untuk melontarkan masalah sebagai pembuka diskusi kita ini.”

Dosen itu pun berkata :

“Baiklah kita ambil satu contoh, ada sebuah fatwa yang menyatakan bahwa firqoh wahabi adalah Firqoh yang sesat. Disebutkan dalam kitab Al-Mi’yar yang ditulis oleh Al Imam Al-Wansyarisi, Beliau menyebutkan bahwa Al-Imam Al-Lakhmi pernah ditanya tentang suatu negeri yang disitu orang-orang Wahabiyyun membangun sebuah masjid, “Bolehkan kita Sholat di Masjid yang dibangun oleh orang-orang wahabi itu ??” maka Imam Al-Lakhmi pun menjawab: “Firqoh Wahabiyyah adalah firqoh yang sesat, yang masjidnya wajib untuk dihancurkan, karena mereka telah menyelisihi kepada jalannya kaum mu’minin, dan telah membuat bid’ah yang sesat dan wajib bagi kaum muslimin untuk mengusir mereka dari negeri-negeri kaum muslimin “.

(wajib kita ketahui bahwa Imam Al-Wansyarisi dan Imam Al-Lakhmi adalah ulama ahlusunnah)

Dosen itu berkata lagi :

“Saya rasa kita sudah sepakat akan hal ini, bahwa tindakan kalian adalah salah selama ini,”

Kemudian Asy Syaikh menjawab:

”Tunggu dulu..!! kita belum sepakat, lagipula diskusi kita ini baru dimulai, dan perlu anda ketahui bahwasannya sangat banyak fatwa yang seperti ini yang dikeluarkan oleh para ulama sebelum dan sesudah Al-Lakhmi, untuk itu tolong anda sebutkan terlebih dahulu kitab yang menjadi rujukan kalian itu !”

Dosen itu berkata:

”Anda ingin saya membacakannya dari fatwanya saja, atau saya mulai dari sampulnya ??”

Asy Syaikh menjawab:

”Dari sampul luarnya saja.”

Dosen itu kemudian mengambil kitabnya dan membacakannya:

”Namanya adalah Kitab Al-Mi’yar, yang dikarang oleh Ahmad bin Muhammad Al-Wansyarisi. Wafat pada tahun 914 H di kota Fas, di Maroko.”

Kemudian Asy Syaikh berkata kepada salah seorang penulis di sebelahnya:

“Wahai syaikh, tolong catat baik- baik, bahwa Imam Al-Wansyarisi wafat pada tahun 914 H. Kemudian bisakah anda menghadirkan biografi Imam Al- Lakhmi??”

Dosen itu berkata: “Ya.”

Kemudian dia berdiri menuju salah satu rak perpustakaan, lalu dia membawakan satu juz dari salah satu kitab-kitab yang mengumpulkan biografi ulama. Didalam kitab tersebut terdapat biografi Ali bin Muhammad Al-Lakhmi, seorang Mufti Andalusia dan Afrika Utara.

Kemudian Asy Syaikh berkata :

“Kapan beliau wafat?”

Yang membaca kitab menjawab: “Beliau wafat pada tahun 478 H

Asy Syaikh berkata kepada seorang penulis tadi:

“Wahai syaikh tolong dicatat tahun wafatnya Syaikh Al-Lakhmi” kemudian ditulis.

Lalu dengan tegasnya Asy Syaikh berkata : 

“Wahai para masyaikh….!!! Saya ingin bertanya kepada antum semua …!!! Apakah mungkin ada ulama yang memfatwakan tentang kesesatan suatu kelompok yang belum datang (lahir) ??? kecuali kalau dapat wahyu???”

Mereka semua menjawab :

“Tentu tidak mungkin, Tolong perjelas lagi maksud anda !”

Asy syaikh berkata lagi :

“Bukankah wahabi yang kalian anggap sesat itu adalah dakwahnya yang dibawa dan dibangun oleh Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab????

Mereka berkata :

“Siapa lagi???”

Asy Syaikh berkata: 

“Coba tolong perhatikan..!!! Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab lahir pada tahun 1115 H dan wafat pada tahun 1206 H, …

Nah, ketika Al-Imam Al-Lakhmi berfatwa seperi itu, jauh RATUSAN TAHUN lamanya sebelum syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab lahir.. bahkan sampai 22 generasi ke atas dari beliau sama belum ada yang lahir.. apalagi berdakwah..

KAIF ??? GIMANA INI???”  (Merekapun terdiam beberapa saat..)

Kemudian mereka berkata:

“Lalu sebenarnya siapa yang dimaksud Wahabi oleh Imam Al-Lakhmi tersebut ?? mohon dielaskan dengan dalil yang memuaskan, kami ingin mengetahui yang sebenarnya !”

Asy Syaikh pun menjawab dengan tenang :

“Apakah anda memiliki kitab Al-Firaq Fii Syimal Afriqiya, yang ditulis oleh Al-Faradbil, seorang kebangsaan Francis ?”

Dosen itu berkata:

“Ya ini ada”

Asy Syaikh pun berkata :

“Coba tolong buka di huruf “wau” .. maka dibukalah huruf tersebut dan munculah sebuah judul yang tertulis “Wahabiyyah“

Kemudian Asy Syaikh menyuruh kepada Dosen itu untuk membacakan tentang biografi firqoh wahabiyyah itu.

Dosen itu pun membacakannya:

Wahabi atau Wahabiyyah adalah sebuah sekte KHOWARIJ ABADHIYYAH yang dicetuskan oleh Abdul Wahhab bin Abdirrahman bin Rustum Al-Khoriji Al-Abadhi, Orang ini telah banyak menghapus Syari’at Islam, dia menghapus kewajiban menunaikan ibadah haji dan telah terjadi peperangan antara dia dengan beberapa orang yang menentangnya. Dia wafat pada tahun 197 H di kota Thorat di Afrika Utara. Penulis mengatakan bahwa firqoh ini dinamai dengan nama pendirinya, dikarenakan memunculkan banyak perubahan dan dan keyakinan dalam madzhabnya. Mereka sangat membenci Ahlussunnah.

Setelah Dosen itu membacakan kitabnya Asy Syaikh berkata :

“Inilah Wahabi yang dimaksud oleh imam Al-Lakhmi, inilah wahabi yang telah memecah belah kaum muslimin dan merekalah yang difatwakan oleh para ulama Andalusia dan Afrika Utara sebagaimana yang telah kalian dapati sendiri dari kitab-kitab yang kalian miliki. Adapun Dakwah yang dibawa oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab yang didukung oleh Al-Imam Muhammad bin Su’ud-Rahimuhumallah-, maka dia bertentangan dengan amalan dakwah Khowarij, karena dakwah beliau ini tegak diatas kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih, dan beliau menjauhkan semua yang bertentangan dengan keduanya, mereka mendakwahkah tauhid, melarang berbuat syirik, mengajak umat kepada Sunnah dan menjauhinya kepada bid ’ah, dan ini merupakan Manhaj Dakwahnya para Nabi dan Rasul.

Syubhat yang tersebar di negeri-negeri Islam ini dipropagandakan oleh musuh- musuh islam dan kaum muslimin dari kalangan penjajah dan selain mereka agar terjadi perpecahan dalam barisan kaum muslimin.

Sesungguhnya telah diketahui bahwa dulu para penjajah menguasai kebanyakan negeri-negeri islam pada waktu itu,dan saat itu adalah puncak dari kekuatan mereka. Dan mereka tahu betul kenyataan pada perang salib bahwa musuh utama mereka adalah kaum muslimin yang bebas dari noda yang pada waktu itu menamakan dirinya dengan Salafiyyah. Belakangan mereka mendapatkan sebuah pakaian siap pakai, maka mereka langsung menggunakan pakaian dakwah ini untuk membuat manusia lari darinya dan memecah belah diantara kaum muslimin, karena yang menjadi moto mereka adalah “PECAH BELAHLAH MEREKA, NISCAYA KAMU AKAN MEMIMPIN MEREKA ”

Sholahuddin Al-Ayubi tidaklah mengusir mereka keluar dari negeri Syam secara sempurna kecuali setelah berakhirnya daulah Fathimiyyah Al-Ubaidiyyin di Mesir, kemudian beliau (Sholahuddin mendatangkan para ulama ahlusunnah dari Syam lalu mengutus mereka ke negeri Mesir, sehingga berubahlah negeri mesir dari aqidah Syiah Bathiniyyah menuju kepada Aqidah Ahlusunnah yang terang dalam hal dalil, amalan dan keyakinan.


Sumber : Blog Abang Dani

Lihat : Meluruskan Sejarah Wahabi, Versi Arab


Lucu apa geli?

Ada tuduhan kepada Ibnu Taimiyah, bahwa beliau adalah seorang wahabi!

Sungguh aneh, bahkan sangat lucu. - jika tidak ingin dikatakan bodoh - Ibnu Taimiyah yang lahir tahun 661 H - 728 H dituduh sebagai wahabi, dengan kata lain sebagai pengikut Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab yang lahir jauh sesudahnya yaitu pada tahun 1115 H - 1206 H?. Siapa yang mengikuti dan siapa yang diikuti? Dengan menggunakan logika berpikir yang paling sederhana pun tuduhan itu akan terlihat sangat menggelikan!

La kok semua dituduh wahabi? Jika kita berpegang dg Alquran dan Sunnah shahih, murnikan tauhid jauhi syirik, kembali ke sunnah jauhi bid'ah, tinggalkan amalan-2 modifikasi, kembali pada apa yang Nabi ajarkan saja, maka kita akan di"cap" wahabi. Cobalah, dijamin manjur dan mujarab.

Ada yang saking bencinya, menuduh dan memfitnah katanya "sekte" Wahabi mengubah kitab2 klasik para ulama. La hadits DHA'IF saja ga dipake, kok memalsukan kitab...

Bersabarlah... Lebih baik dituduh wahabi tapi paham sunnah dari pada ngaku ahlussunnah tapi penuh bid'ah...


Buku-buku

Berikut beberapa buku-2 Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab yang mana Beliau hanya mengajak umat meninggalkan syirik dan bid'ah menuju tauhid dan Sunnah.

Mungkin bisa dijadikan rujukan jika masih ngotot menebar fitnah tentang dakwah beliau dengan menyebutkan kitab ini halaman ini beliau menyuruh begini dan di halaman itu berkata begitu... :)

Jadi nanti waktu sidang akhirat punya bukti akurat, valid dan kredibel... :)


Beberapa buku Beliau:

* Tiga Landasan Utama (or ini) (ini)

* Kitab Tauhid (atau ini) (ini)

* Kasyfu Subuhat

* Empat Kaidah (or ini)

* Masaailu al Jahiliyyati

* 10 Pembatal Keislaman (or ini)

* Ushul Sittah

* Keutamaan Islam

*


Aku Dituduh Wahabi

* Pujian dalam Hujatan - OR

* Aku Dituduh Wahabi

* Awalnya Benci, Akhirnya Jatuh Hati


"Dasar Wahabi"

* Bagimu yang mau berpikir

* Yuk mikir, jangan taklid buta


Jangan latah menuduh wahabi... Karena tuduhan kita akan dipertanggung jawabkan kelak... Satu lawan satu di hari penghisaban... Sungguh akan rugi sekali...

Wahabi buatan israel, wahabi suka begini dan begitu. Si A menuduh B wahabi, si B menuduh C wahabi, ketika ditanya apa itu wahabi? Gak paham. Saudi negeri wahabi (: ketawa :), tapi semua orang sangat betah dan nyaman di sana, banyak fasilitas gratis tanpa pandang bulu.


JIKA MASIH SAJA ADA YANG MENEBAR FITNAH, MAKA BERSABARLAH DAN KATAKAN TERIMA KASIH TELAH BERBAGI PAHALA... 👆



رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Dzat yang Maha Pemberi (karunia). [QS. Ali Imran: 8]

اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ، صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ

Ya Allah, Dzat yang memalingkan hati, palingkanlah hati kami kepada ketaatan beribadah kepada-Mu! [HR. Muslim 2655/6751]

اللَّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

Ya Alloh, yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” [HR. At-Tirmidzi 3522, Ahmad, Al-Hakim]

يَا مُثَبِّتَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ

Wahai Engkau yang Maha Meneguhkan hati, teguhkanlah hati kami di atas agama-Mu . [Shahih Ibnu Majah]

رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الْأَبْرَارِ

Wahai Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami, maafkanlah kesalahan-kesalahan kami, dan matikanlah kami sebagai golongan orang-orang shalih. [Ali ‘Imran, 3: 193]


Fitnah Wahabi...

👉 Berkata jujur, itu fitnah

👉 Fitnah Syiah

👉 Saudi pun difitnah

👉 Fitnah kepada Saudi

👉 Jawaban fitnah wahabi

👉 Murnikan ibadah



Yang dituduh Wahabi, mengajak memurnikan Islam. Jauhi perbuatan syirik dan bid'ah, kembali kepada Tauhid dan Sunnah. Mengajak beramal sesuai tuntunan dan pemahaman sahabat, karena merekalah ummat terbaik yang menyaksikan turunnya Wahyu.

Yang menuduh Wahabi, menambah dan memodifikasi Islam, tak mau menjauhi syirik dan bid'ah. Beramal dengan rumus yang penting baik menurut standarnya masing-masing.

Lantas siapakah yang lebih dekat dengan kebenaran?


https://s.id/bekalterbaik


Report Page