Day-1 jadi panitia MPLS
Putih Abu-AbuPagi itu, lapangan sekolah bersinar lembut. Angin berkabar pelan, seolah menyambut hari pertama MPLS yang katanya akan berjalan lancar. Katanya.
Para siswa baru yang merupakan peserta MPLS sudah berkumpul di lapangan yang cukup terik hari ini, menggunakan seragam SMP mereka dengan topi toga buatan dan name tag khas MPLS yang umum dikenakan. Sementara di sisi lapangan, para panitia berdiri dalam lingkaran kecil, berkumpul. Bukan untuk membahas strategi, briefing, menyusun rencana, tapi mencari mikrofon yang hilang dan menggemparkan grup panitia di pagi senin yang sudah hectic ini.
Tak seperti suasana sekolah yang terlihat cerah, ceria seperti awal cerita yang penuh harapan, panitia MPLS justru lesu, mereka rasanya kehilangan yang lebih penting dari semangat dan mungkin akal sehat.
Chaeyoung menatap mereka, matanya berkobar, seakan semenit yang akan datang bisa membuat dunia kebakaran. "sumpah, SIAPA. YANG. PEGANG. MIK. TERAKHIR??" tanya Chaeyoung dengan penuh penekanan.
tak ada jawaban, Lia yang di sebelahnya bukan membantu malah sibuk menyeruput es teh dengan santai, seolah berada dalam piknik. "Kalo ilang yaudah lah, namanya juga manusia." ucapnya.
Kepala Chaeyoung nyaris meledak, "Ini lu kalo gua ilangin juga marah gak?"
"Jangan gitu sama bini gua." ucap si (bucin) Soobin melindungi.
Bae Jinyoung selaku si Sie. Acara yang harus bertanggung jawab atas semuanya menggaruk kepala frustasi, "Tadi gua titip ke Jeno, njir, soalnya gua ada panggilan alam."
Jeno yang namanya disebut menyahut, "Hmm... terakhir gua pegang kayaknya di sini... atau... kantin... atau... ruang Osis ya? apa gua bawa ke ruang PMR ya? ya pokoknya masih di sekolah lah."
Yang lain mendengarnya ikut greget, rasanya ingin sekali menarik rambut Jeno hingga ia botak, pasti banyak yang berfikir demikian.
“Jadi lo naroh mik itu kayak naroh botol minum?” Hwang Hyunjin akhirnya bersuara, HT di tangannya seolah siap dilempar ke kepala Jeno.
“Bro... fokus dikit kek...” tambah Sunwoo di sampingnya. “Mik sekolah ilang, lo biasa aja.”
Soobin, datar seperti biasa, hanya berkata, “Gue gak heran.”
Jeno mengangkat tangan tanpa tenaga. “Gue kan manusia juga, guys.”
Jinyoung yang mendengarnya emosi, "Terus kita apa njir?? naga??"
“Masalahnya, Jen...” Sunwoo mendekat pelan, nadanya datar tapi mengancam. “Lo manusia... tanpa otak.”
Hyunjin tertawa. “Itu. Setuju gue.”
Chaeyoung ingin menangis di tempat. “Yang bener kek guys.” lalu si Ketua pelaksana memutar otak, mencari alternatif, "Mik lain gak ada ya? atau habis dipake buat upacara? ada lagi ga sih cadangan?"
Jinyoung si korlap menjawab, "Gak ada, udah dipake semua yang di lapangan, yang cadangan ga ada batrenya."
Di tengah kekacauan kecil itu, Lia tetap kalem, suaranya ringan seperti kapas.
“Yaudah pake toa aja, Chaeng.”
“...toa?” Chaeyoung memelototkan mata.
Hwang Hyunjin menoleh. “Iya. Kalau lima menit lagi gak ketemu, lo pidato dari atas gerobak siomay. Pakai toa satpam. Gue serius.”
“Dukung,” ucap Sunwoo singkat.
“Gue jaga gerobaknya,” sambung Soobin.
Lee Jeno, yang seharusnya merasa bersalah, malah bergumam:
“Gue mau batagor sekalian...”
Chaeyoung terduduk di tempat.
“Ya Allah... beneran gue ketemu anak-anak waras gak sih di kepanitiaan ini.”
"Tapi serius bisa pake speaker toa aja, daripada gak ada sama sekali." Saran si Chaewon yang akhirnya memberi pencerahan waras.
"Iya deh, buruan. ntar batre kamera nya keburu abis!" protes Chaeyeon si Pdd abadi.
"Yang suruh lu daritadi foto-foto mulu siapa, setan!" nyinyir Junkyu.
Seselang beberapa waktu, Jinyoung dan Sunwoo berlari mengambil speaker toa dari ruang guru, kepunyaan anak eskul pramuka. Cukup terburu-buru karena kepala sekolah sudah mulai ngomel, begitu pun dengan guru-guru lain yang meminta panitia segera memberi arahan awal kepada peserta.
Belum sempat Chaeyoung mengeluarkan katanya setelah berdiri si podium lapangan, suara ibu-ibu terdengar menggelegar dari speaker.
"Eh bujugg, Emik siape enih, ngapa ngejogrog di mari..." begitu yang terdengar si speaker, suara yang sangat familiar buat panitia dan guru-guru, dengan logat betawi yang begitu khas terdengar sangat akurat di telinga kami. Itu suara milik ibu kantin tercinta.
(Eh waduh, ini mik siapa diem disini...)
Mata semua orang membelatak kaget, terutama panitia, tentunya. Ada jeda terdiam sesaat, lalu dipenuhi dengan kebingungan dari peserta, beberapa juga terdengar samar tawa, tapi yang paling terasa adalah tatapan penuh penjelasan dari para guru. Sedangkan panitia menatap tajam ke arah Jeno, seakan memakinya dalam diam, juga keheranan bagaimana bisa mikrofon itu sampai ke kantin.
"Jeno..." lihir Giselle, sepertinya akan meledak detik itu juga. Dengan begitu, Jeno dan Jinyoung lari terbirit-birit ke kantin, tentu untuk mengambil mikrofon itu sebelum suara suara lain hadir. Dengan kejadian yang begitu transparan di saksikan oleh semua orang, tawa pecah di tengah lapangan.
Tawa lepas yang tak bisa ditahan.
Mereka bukan lagi panitia. Bukan ketua, bukan korlap, bukan keamanan. Hanya sekelompok anak SMA yang kacau tapi bahagia.
Mikrofonnya memang kembali.
Tapi akal sehat... sepertinya sengaja dibiarkan hilang.